Maylaka, Kertas Putih yang Memudar

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Desember 2016
Maylaka, Kertas Putih yang Memudar

Maylaka, Kertas Putih yang Memudar

 

Karya: Shanti Agustiani

Maylaka terlahir sebagai putri bungsu keluarga Dayak Iban, di Desa Semajau Mekar yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Ibukota Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Si bungsu yang diberkati dengan kecantikan khas Dayak, kulit putih dan garis senyum yang tegas, serta pipi semerah tomat. Tingkahnya yang periang dan mudah akrab dengan siapa saja, membuatnya menjadi malaikat kecil di tengah keluarga besar Dayak yang tinggal di Rumah Betang itu. We-nya seorang penenun kain adat, sedangkan Pa Maylaka seorang peternak babi yang kadang-kadang berburu di hutan. Mereka penganut kepercayaan Kaharingan.

Maylaka tumbuh menjadi remaja yang cahayanya terlihat di mana-mana, para tetangga menghormati anak tetua adat itu dan menjaga gadis itu ke mana pun ia pergi. Namun kadangkala Mayla luput dari penjagaan mereka, karena langkahnya terlalu cepat dan larinya sekencang angin. Itulah yang terjadi saat Mayla bermain sembunyian bersama teman-teman sepantarannya, sepulang sekolah SMP Negeri satu-satunya di desa itu.  Mayla bersembunyi di tempat yang paling tersembunyi, di dalam sebuah gua bukit yang luput dari perhatian teman-temannya. Karena bosan menunggu, ia pun tertidur di dalam gua itu.

“Ada hiburan Plend …”

“Wow … cantik-mulus!”

Suara-suara itu membangunkan Mayla. Ia ingin berlari tetapi kedua tangannya telah disekap para lelaki itu, tiga orang, dengan mulut berbau tuak yang menusuk hidung. Maylaka menendangi mereka sekuat tenaga, tetapi ia tak berdaya melawan kekuatan tiga orang lelaki yang rupanya para penebang liar itu.

Semuanya terjadi, kertas putih bersih itu telah dikoyak-koyak dengan paksa, tubuhnya berdarah, sebab Mayla penuh perlawanan, dan para lelaki itu tanpa ampun menyakiti tubuh Mayla. Dari selangkangannya mengalir darah segar. Mayla merasa seolah-olah ia telah mati pada saat iu juga.

“Pa … We…. tolong Maylaka!” Sisa teriakan Mayla hanya bergema pada dinding gua. Semua jawaban hanyalah pantulan suaranya sendiri di dalam ruang yang gelap gulita. Mata Mayla berkunang-kunang, ia tak sadarkan diri. Rebah meringkuk di sudut pengap.

Pa Maylaka datang terlambat, ketika anak gadisnya telah tumbang dan terkoyak, luka lahir dan batin. Namun Pa yang datang bersama Lintang kakaknya itu tak terlambat untuk membalaskan amarahnya. Ia sempat menombak seorang lelaki, yang satu lagi ditebasnya dengan sebilah Mandau yang baru diasahnya kemarin. Tetapi lelaki ke tiga sempat melarikan diri, tak terkejar oleh Lintang.

Malangnya nasib Mayla tak terhenti sampai di situ saja, Pa kemudian ditahan oleh aparat kepolisian karena tindakan main hakim sendiri. Sedangkan Maylaka kemudian hamil, ia dirawat We, ibunya. Tetapi Maylaka berkeras hendak menggugurkan kandungannya.

“We ... aku akan pergi ke dukun, aku tak mau anak dari penjahat yang merampas masa depanku ini!”

We tak dapat mencegah keinginan anaknya yang keras hati. Akhirnya digugurkanlah kandungan itu, dengan trauma yang berulang, dukun beranak sahabat keluarga Pa membantunya menggugurkan kandungan dengan ramuan pahit dan urutan di perut yang sakitnya lebih sakit daripada dirajam ribuan Mandau. May memilih rasa sakit dan resiko besar kehilangan  nyawanya sendiri di samping nyawa bayinya. Itu karena Maylaka merasa hancur dan tak punya masa depan. Tak ada lagi teman sebaya yang mengajaknya bermain. Tak ada lagi cahaya. Semua gelap seperti di dalam gua di hari naas itu

Aku menengoknya di saat ia masih dalam perawatan. We menangis terus dan bilang kalau Mayla kehabisan banyak darah, We sendiri tak bisa mendonorkan darahnya karena sedang sakit dan lemah. Aku datang untuk mendonorkan darahku pada Maylaka. Ia yang kuanggap sebagai adikku sendiri. Kebetulan darahku cocok denganya, Alhamdulillah.

“Humaira … Humaira …” aku membisikkan nama panggilanku padanya. Matanya yang rapat sedikit berkedip seolah hendak menyahut.  Ia kembali terpejam, dan lamunan membawaku ke masa lalu.

Dulu sewaktu aku KKN di pedalaman tempat Maylaka tinggal, Rumah Betang merekalah tempat kami menginap, Aku, Lia, dan Wina diperbolehkan tinggal bersama mereka, sedangkan yang lelaki tinggal di pos keamanan desa. Mayla kecil membuatku teringat akan kisah Aisyah istri Rasulullah yang dipanggil dengan sebutan ‘Humaira’ karena pipinya yang merah jambu. Begitu pula pipi Mayla.

“Boleh Kak Yanti panggil kamu dengan nama Humaira?”

“Nama itu bagus sekali kedengarannya, sebenarnya nama apa itu?”

Lalu kuceritakan tentang panggilan sayang terhadap istri Rasulullah itu kepada sang gadis kecil berpipi merah jambu, Maylaka-Humaira.

“Dia pasti orang suci ya kak … alangkah beruntungnya!”

Aku tertawa melihatnya merasa bangga dengan panggilan sayang dariku itu. Gadis itu tak bosan-bosannya bertanya banyak hal, ia bahkan membantu kami menyediakan peralatan makan yang bersih, memancing, serta menyiangi ikan patin dan udang batu yang banyak ditemui di hulu sungai. Mereka sekeluarga tahu kami tak akan makan babi.

“Makanlah dengan peralatan makan ini kak …  sengaja kami sediakan untuk pendatang yang beragama Islam. Aku sendiri yang mencucinya dengan air paling suci.”

“Air paling suci?”

“Ya … aku mencucinya di pancuran air tadah hujan. Kami tak menggunakan peralatan makan ini, ini semua khusus buat kakak yang beragama Islam” Maylaka tersenyum seperti malaikat.

Aku terharu dengan penghormatan keluarga Maylaka. Malu aku, karena sebelum aku tiba di lokasi KKN aku telah berprasangka buruk terhadap suku Dayak Iban, aku menyangka semua suku Dayak adalah kanibal pemakan manusia dan tukang santet. Aku sangat merasa bersalah dengan pandanganku yang dibutakan oleh cerita-cerita dari mulut ke mulut. Sehingga sempat mencoba mengundurkan diri dari KKN yang sudah ditentukan lokasinya itu oleh Kaprodi Antropologi Fisipol UNMUL, tempat aku berkuliah. Tetapi ayah mengancam akan menikahkanku dengan lelaki pilihannya jika aku tidak segera menyelesaikan KKN dan kuliahku. Sebab itu aku nekad ke lokasi ini.

Aku menyuruh Mayla makan bersama kami. “Ayo dik … makanlah bersama kami …”

“Emmm … Apakah saya makan dengan piring suci ini?”

“Ya … kau ‘kan juga suci  … kita semua terlahir suci Humaira!”

Lalu gadis itu makan dengan lahapnya dan ia menyukai masakan kami. Sambal tumpang ikan patin bakar dengan nasi hangat dari dandang kayu. We datang menawari kami hidangan pencuci mulut berupa sekeranjang buah hutan ramania yang manis dan segar mirip buah sawo kecik. Saat itu Maylaka masih kelas lima sekolah dasar, tak menduga hidupnya akan layu beberapa tahun setelahnya. Pipi tomat itu kini kehilangan ronanya. Semakin tirus dan pucat pasi.

“Kak Yanti …” akhirnya aku mendengar suaranya yang lirih .

“Humaira … kau sudah sadar?!” Cepat-cepat aku memegang jemari lentiknya yang hendak menggapaiku. “Minum ya dik …?”

Maylaka meminum seteguk air dari botol mineral yang kuberikan kepadanya.

“Jangan panggil aku Humaria lagi … aku bukan wanita suci sekarang”

“May… kamu suci… kita suci semenjak lahir …”

“Tetapi mereka telah menodaiku … dan aku telah membunuh anakku sendiri karena dendam.” Menetes air mata Mayla, jatuh ke pipinya yang semakin pucat dan pudar.

“Mayla … kau sedang trauma berat … mungkin kakak akan melakukan hal yang lebih bodoh darimu jika kakak mengalami seperti yang May alami. Berbicaralah pada Tuhanmu dan katakan keluh kesahmu, kukira Dia akan mengerti dan mengampuni.” Maylaka hanya terdiam membisu dalam pandanganya yang kosong. Aku memeluknya dan menangis bersamanya.

Setelah kupertimbangkan banyak hal, Mayla kini dalam pendampinganku, ibunya menyerahkan gadis itu kepadaku ketika aku mengajaknya ke kota, melihat dunia yang baru. Mayla yang telah putus harapan memang membutuhkan dukungan penuh untuk bangkit. Aku mengajaknya terus belajar dan mengikuti program kejar paket C. Ia harus tetap cerdas meskipun luka itu masih terasa menyakitkan baginya dan menjadi cacat batin permanen seumur hidup Mayla.

Setelah beberapa tahun masa penyembuhan trauma, gadis yang telah berubah menjadi pendiam itu kini menjadi salah satu pengasuh sebuah panti asuhan di mana aku menjadi pengurus inti.  Pada awal pekerjaaanya aku mengatakan padanya, “anggaplah anak-anak ini sebagai pengganti anakmu yang telah tiada”

"Aku takut suatu saat timbul rasa benci pada mereka kak ... Anak itu seperti menghantui hidupku"

"Kalau begitu anggaplah mereka masa kecilmu yang hilang ... Doa mereka akan mengembalikan kebahagiaanmu pelan tapi pasti!" Maylaka mengangguk, setiap hari kutemani ia menyapa anak-anak panti asuhan. Kebahagiaan terletak pada apa yang telah kita berikan bagi mereka yang membutuhkan. Aku percaya itu dan adikku Maylaka pasti bisa berproses menjadi cahaya yang membahagiakan anak-anak yatim piatu itu, sekaligus membahagiakan dirinya sendiri. Ia harus mampu bangkit dari keterpurukan.

Maylaka memang perlahan-lahan kembali bercahaya, ia kembali menjadi ‘Humaira’. Kepada anak-anak panti asuhan yang meminta perhatian, ia seperti melihat dirinya sendiri. Keceriaan mereka mengembalikan keriangan hatinya. Kesedihan memang harus dihabiskan lebih dulu, sebelum ia mampu melukis ulang kertas yang telah koyak dan pudar agar menjadi karya cipta yang terbarukan.

 

***

 

  • view 315

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Walau secara teknik penulisan cerpen Shanti Agustiani ini terbilang standar namun tulisan ini kuat dalam hal mengangkat kebudayaan Dayak dan pesan tentang wanita yang kental terasa dalam kebanyakan tulisan kreator ini. Pemasukan adat istiadat Dayak berikut budaya yang melekat dengan suku tersebut layak diacungi jempol. Yang paling miris tentu saja nasib Maylaka yang menjadi korban perkosaan yang pada akhirnya menggugurkan kandungannya saat usia masih sangat belia. Ia memang bagaikan kertas putih yang memudar. Sungguh bijak akhir cerpen ini dimana Maylaka memilih mengabdi di panti mengasuh anak yang bisa menjadi pelipur lara sekaligus tonggak kebangkitannya dari keterpurukan. Bagus, Shanti!

    • Lihat 1 Respon