Pengantin Hoax

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Desember 2016
Pengantin Hoax

Pengantin Hoax

 

 Karya : Shanti Agustiani

 

Hari ini adalah hari pertama Adel menyelidiki Bachri, lelaki kurus jangkung yang sering mengenakan jaket hitam dan kacamata James Bond. Lelaki yang melamar Adel lewat mami ini memang nampak semakin keren dengan motor Harley terbarunya. Ia bilang ia memiliki pekerjaan yang menjanjikan masa depan, yakni sebagai wartawan.  Wartawan apa?

Melihat kemajuan karir Bachri, mami menginginkan agar Adel segera menerima lamaran Bachri. “Tunggu, Mam … ijinkan Adel mengenalnya lebih dulu. Adel toh tak takut dibilang ‘perawan tua’ daripada nikah sama orang yang nggak jelas!”

“Tapi jangan lama-lama Del, usia kamu sekarang ini sudah tiga puluh, sebentar lagi memasuki usia resiko kehamilan, atau malah keburu menopause!”

“Tenanglah Mam … ini hidup Adel …”

Adel bertekad untuk diam-diam menguntit hidup Bachri agar ia bisa menerima lamaran Bachri dengan pertimbangan yang matang, bukan karena kepepet usia. Adel sudah sering kecewa dengan lelaki, dan kali ini ia tak ingin kecolongan lagi. Perasaan kasmaran sudah kadung kering kerontang bersamaan dengan gugurnya kembang harapan pada dua musim di tahun-tahun lalu, ketika Chiko berpindah ke lain hati, semusim berikutnya Jeremy menyuruhnya pindah agama atau putus. Ya … dahan-dahan yang busuk memang harus ditebas habis.

***

 

Motor Harley itu diparkir di sebuah rumah kecil, di ujung gang yang nampak sepi, “Kok seperti rumah penyelundup?” Di sana hanya ada dua buah motor yang parkir termasuk milik Bachri. Adel merapatkan motor skuternya pada sebuah warung kecil di dekat rumah misterius itu. Hmm … jangan-jangan Bachri jualan narkoba!  Pintu rumah itu tertutup rapat, tak ada tanda-tanda liputan berita dari para wartawan, tak ada suara televisi, yang ada hanya suara musik rock yang terdengar samar dari dalam rumah. Adel merapatkan telinganya ke dinding batu rumah itu. Adel pulang, ia belum menemukan data yang berarti. Hanya ada satu data yang ia yakini bahwa Bachri bukan wartawan.

Semalaman Adel searching tentang Bachri, Adel menemukan akun twitter Bachri, yang memajang Harley abu-abu metallic pada sampulnya, pada tweet-nya selalu nampak link-link berita, apakah ini yang dimaksud Bachri? Ia menyebarkan berita murahan penuh kebencian, berita palsu yang semuanya mendiskreditkan tokoh-tokoh penting, serta setting palsu tentang korban suatu rezim, foto-foto yang ditampilkannya semuanya hasil photoshop! Adel geram, giginya gemeretak,  rupanya Harley itu dibeli dari bisnis berita palsu. Tebaran hoax-nya telah meresahkan bangsa, bahkan membuat negeri ini di ujung tanduk kehancuran! Kekerasan dan intoleransi terjadi bagai rentetan petasan yang menular dari daerah satu ke daerah lain.

“Tok … tok … tok … “ Mami Adel mengetuk pintu kamar. “Adel … ada Bang Bachri tuh di depan, ayo temui!”

“Tak sudi Mam!”

“Adel … kenapa?”

“Dia penjahat … dia sebarkan berita kebohongan dan link-nya telah beranak-pinak menjadi berjuta-juta kebencian, dia penghasut, dia makan duit setan!”

“Tapi Adel … dia baik … hutang mami semuanya sudah dia lunasi … kamu tahu kan semenjak papi meninggal, mami kesulitan membayar kreditan kita ….”

“Mami … Kenapa mami nggak bilang sama Adel ?!”

“Kalau Adel tidak mau biar Fadia yang akan menggantikanmu.  Mami malu Adel … mami sudah janji sama Bachri!”

Adel menelan ludah tak bisa berkata-kata lagi, tangis mami yang tiba-tiba meledak membuatnya bungkam seribu bahasa. Ia mengkhawatirkan Fadia yang masih kuliah semester dua itu dan tak rela adiknya menjadi tumbal balas budi.

***

 

Pesta pernikahan akhirnya terjadi juga, bukan Fadia tetapi pernikahan Adel.  Setelah menimbang masa depan Fadia, Adel memutuskan untuk menjadi pengantin pura-pura bagi Bachri yang tertawa sangat lebar di sampingnya. “Mereka, para tetangga dan kenalan mami menyalami kami  dengan decak kagum sembari mengucapkan selamat. Tak ada yang tahu bahwa wartawan di sebelahku ini palsu, dan bahwa senyumku pun palsu. Sedikit demi sedikit aku akan membongkar kedoknya, aku tak rela bangsa ini hancur oleh hasutannya!” Adel membatin sebuah janji pernikahan.

***

 

Bersambung ke bagian 2:

https://www.inspirasi.co/post/details/25825/pengantin-hoax-bagian-2

 

  • view 317