Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 15 Desember 2016   10:50 WIB
Cincin Ibu

Cincin Ibu

Karya: Shanti Agustiani

Hari ini lima belas Desember, celengan bagong berwarna biru lusuh terkelupas yang kusimpan di bawah dipan semenjak kelas satu sekolah dasar itu telah kupecahkan, brakkk! Aku menghitung lembar demi lembar recehan yang terkumpul, jumlahnya ada delapan ratus lima puluh lima ribu lima ratus rupiah. Itu belum cukup untuk menebus pengorbanan ibunda yang telah bertaruh nyawa, merelakan jiwa-raga dalam sembilan bulan pelindungan kokoh rahimnya yang berujung pada trauma pendarahan yang membuat bibirnya membiru dan wajahnya sepucat rembulan. Belum lagi ketika bayi itu rewel dalam pelukan, lelah dan sakit ibunda tak lagi dirasa.

Hari ini pun aku masih dalam pengasuhan dan kasih sayangnya, dan baru tersadar akan jasa beliau yang tak pernah bisa kubalas dengan sempurna. Yakni ketika malam itu aku melihat matanya bersinar memantulkan kejora yang meredup, memandangi cincin peninggalan ayahnda. Ketika ayam jantan pertama berkokok pagi hari, cincin itu dilepaskannya dengan sabun dan siang hari ibu membawanya ke rumah penyelesaian masalah tanpa masalah, pegadaian. Aku menguntitnya diam-diam sepulang sekolah. Aku tahu, itu semua demi aku, demi kelangsungan sekolahku. Setelah aku mengeluh bahwa sepatu kiriku selalu menganga meskipun berulang kali dijahit; bahwa namaku selalu disebut di kelas sebagai siswa yang belum melunasi uang buku.

“Weni Sukmawati, kamu belum membayar uang buku. ‘Kan sudah ibu ingatkan beberapa bulan lalu, jika satu hari menjelang ujian semester kamu belum bayar juga dengan sangat menyesal kamu tidak bisa mengikuti ujian,” begitu kata Bu Ria, petugas tata usaha yang mengurusi administrasi keuangan sekolah. Memang dana BOS telah tersedia bagi pendidikan gratis hingga jenjang SLTA, kami tidak dipungut SPP. Tetapi untuk penyediaan buku yang lengkap sesuai kurikulum, kami harus membayarnya. Setelah itu beberapa temanku berbisik-bisik sambil melirik ke arahku, mereka tertawa-tawa, entah apa yang lucu, namun hatiku seperti tersayat sembilu. Apalagi jika mereka dengan sengaja menginjak sepatuku yang menganga, lantas berkata, “Eh … maaf, sengaja! Habis sepatumu ketawa sembarangan sih ….” ujar mereka sembari nyengir kuda.

Aku menyadari cincin itu sangat berharga bagi Ibu. Itu satu-satunya hadiah peninggalan ayah, tanda cinta yang megah, yang menghasilkan buah kasih sayang yaitu anak manusia yang sangat cantik dan baik hati dengan rambut panjang hitam legam dan kulit kuning keemasan, itulah aku, Weni. Eh…bukan bermaksud sombong, tetapi itulah sanjungan nini, aki, paman dan bibiku setiap kali kami berlebaran di kampung. Kembali ke soal cincin, aku tak mau ibuku sampai gagal menebus cincin kenangan itu agar kembali ke jari manisnya pada tanggal dua puluh dua Desember, tanggal jatuh tempo. Bukankah itu juga hari ibu? Itu pasti saat yang tepat bagiku yang mencoba memberi sedikit kebahagiaan buat ibu.

Aku lelah berjalan, tetapi semua toko tidak menginginkan pegawai freelance, ‘kan tidak mungkin aku membolos demi bekerja, itu akan sangat mengecewakan ibu. Aku terus melangkah, menengok ke kanan-kiri pada papan-papan billboard dan kaca jendela toko, siapa tahu ada pengumuman lowongan. Lelah berjalan sesorean, aku duduk di emperan dekat sebuah salon kecantikan. Lima menit berlalu memandangi orang berjalan lalu lalang, tiba-tiba ada yang menyentuh bahu kananku, ia menanyakan sedang apa aku di depan salonnya.

“Non, lagi ngapain? Kok ngelamun aja dari tadi?” seorang pria dari salon kecantikan itu menanyaiku.

“Eh … em … tidak apa-apa Om. Oh ya saya sedang mencari pekerjaan part time. Saya masih sekolah jadi hanya bisa meluangkan waktu beberapa jam untuk bekerja.”

“Nah … kebetulan nih, Om juga lagi butuh pegawai part time . Bahkan kalau kamu mau kamu boleh hanya mengerjakannya satu jam per hari. Gajinya lumayan lho ….”

“Em … boleh saya pelajari dulu pekerjaannya Om?” Lelaki itu mengangguk senang dan menyuruhku masuk ke salonnya. Wow … itu suatu keberuntungan bagiku, segera aku bergegas menyambut pekerjaan pertamaku.

Lelaki berwajah bulat dengan hidung besar jambu itu menyuruhku masuk ke ruangannya. Katanya aku hanya mengerjakan pekerjaan ringan yaitu memijat kaki para pelanggan salon. Ah, pekerjaan ringan ini sebenarnya terlalu berat buatku karena aku tak pernah memijat kaki siapa pun juga. Bahkan aku tak pernah memijat kaki ibuku sendiri. Tak terasa leleh air mata di pipiku mengingat baktiku yang belum seberapa. Dengan ramah lelaki itu menawarkan diri sebagai testee supaya aku belajar menjadi pemijat yang handal. Ia membawaku pada sebuah ruangan beraroma tajam bunga lavender yang aku benci. Tiba-tiba pintu ruang kamar tempat pemijatan kaki itu ditutup dan dikunci lelaki setengah baya itu. Aku langsung menjerit memohon agar pintu kamar dibuka. Tetapi lelaki bertubuh gendut itu menghalangiku dan meminta agar aku belajar memijat plus-plus.

“Tidak … jangan salah, saya bukan perempuan yang bisa anda perlakukan seenak udel!” aku sangat marah dengan kelakuan bejad lelaki itu. Untunglah aku masih ingat jurus tapak suci yang aku tekuni di masa sekolah dasar Muhammadiyah. Dengan gerak cepat dan sigap aku menghindari tangannya yang hendak merenggut baju seragam putih abu-abuku. Aku melompat ke samping lalu Ciaaat…! Sekali tendangan kaki kiriku mengenai bawah selangkangannya, membuat wajahnya mengkerut kobong seperti tahu bulat yang terlalu lama digoreng. Aku merenggut kerah baju kaosnya, kukatakan padanya agar segera membuka pintu atau harus kutendang sekali lagi. Dengan menggerutu ia menuruti kemauanku. Begitu pintu terbuka, aku berlari secepat kilat lebih cepat dari ketika aku menjuarai lari jarak jauh beberapa bulan lalu. Aku lari dengan emosi yang membuncah.

Sesampai di rumah sudah adzan maghrib. Ibu sedang membereskan jahitannya dan rupanya jarinya tertusuk jarum. Aku menghambur ke pelukan ibu dengan air mata yang tercurah pada bahunya. Aku hisap darah di ujung telunjuk ibu lalu menutupnya dengan kain sisa. “Maafkan aku ibu, hari ini aku tidak membantu ibu menjahit, jari ibu sampai terluka!” aku masih sesunggukan.

“Weni, memangnya ada apa denganmu nak? Perasaan Ibu sedari tadi kok ndak enak ya? Kenapa kamu ndak cerita kalau ada masalah?” Ibu sibuk bertanya padaku tentang apa yang terjadi sesorean ini.

Aku menceritakan semuanya. “Ibu, maafkan Weni … cincin Ibu bagaimana? Weni belum bisa mengumpulkan uang seharga tebusan cincin Ibu di pegadaian. Hanya ada tabungan celenganku yang tidak seberapa ini Bu …, “ aku lantas menyerahkan uang celengan delapan ratus lima puluh lima ribu lima ratus rupiah itu ke genggaman tangan Ibu.

Ibu memelukku kian erat. Meski di luar sana mulai turun hujan hatiku hangat oleh pelukannya. Lirih ia bisikan ke telingaku, “Weni, di dunia ini tak  ada yang lebih berharga dibanding dirimu dan keselamatanmu nak. Cinta lebih mahal daripada cincin tanda cinta.”

 

***

Karya : Shanti Agustiani