Kembang Kertas

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Desember 2016
Kembang Kertas

Gugurnya Kembang Kertas


Karya: Shanti Agustiani



“Apa hari ini akan turun hujan?”
“Memangnya kenapa Buk..?”
“Aku takut kembang kertas kita akan banyak berguguran”
“Tak apa lah Buk…biar Radit menyiapkan tunas penggantinya”

Mayang terdiam muram, pandangannya kosong mengembara di antara kembang kertas yang mulai berjatuhan ditiup angin kencang. Pada kembang kertas itu ada kenangan cinta yang melahirkan Radit Asmara, si kecil yang kini tumbuh menjadi pemuda yang menjaga ibunya. Anak semata wayang dari Bagaskara, lelaki yang meminangnya pada musim kembang kertas itu bersemi. Lelaki itu pula yang rajin merawat tanaman, sementara Mayang sibuk dengan urusan dapur dan membesarkan anak. Bagas sepulang bekerja selalu menyempatkan diri memangkas ilalang di sekitar kembang kertas itu.

Kini pohonnya telah mulai kering gersang, seiring kemarau panjang diselingi hujan. Musim kini memang tak pasti, seperti juga ketidakpastian sebuah janji sehidup semati yang terlanjur diucapkan. Pada pohon itu ada nama Mayang dan Bagas, yang ukirannya semakin pudar dan tak jelas.

Bagas pergi melanglang buana mencari berita paling akurat mengenai situasi politik di negeri yang lucu ini. Ketika berita-berita hoax diamini tanpa diperiksa dulu kebenarannya, dan anehnya para penyebar berita itu dengan mudahnya memberanak-pinakkan berita itu ke mana-mana, ke seantero nusantara. Bagas berjanji akan segera kembali, tetapi semenjak pemilu beberapa tahun lalu tak ada berita lagi mengenai suami berhidung lurus dengan kacamata dan pipi tirus itu, juga mengenai jejaknya, tak ada di mana-mana. Bagas hilang tanpa jejak.

Hari ini, di masa separuh baya yang sepi, Mayang menonton televisi mengenai berita-berita politik yang menjadi sumber mata pencaharian suaminya selama ini. Ada sebuah wawancara yang sangat pedas bersilang pandapat, mereka mengatakan tentang sembilan naga dan politisasi agama, serta para wartawan yang dijadikan asset berita bohong. Tiba-tiba muncul sosok yang menarik perhatian Mayang, lelaki berbaju putih tamu televisi itu, begitu mirip dengan suaminya Bagaskara, Mayang mendekatkan lagi wajahnya ke layar televisi, ia khawatair matanya kurang awas kali ini.
“Lekuk pipi itu, kacamata tebal, dan leher jenjang serta rambut keriting ikal….astagfirullah…itu kan suamiku, Bagaskara!”

Tak ada Radit sore itu, maka Mayang memanggil taksi menuju stasiun televisi, jauhnya berpuluh kilometer dari tempat tinggalnya ditambah macet di mana-mana. Sesampai di sana telah lewat pukul 10 malam. Mayang berlari, menerobos dan mencari sosok reporter tempat bertanya. Tetapi belum sempat ia masuk studio, sesosok lelaki yang dikenalnya berpapasan di depan lift, dicegatnya lelaki yang sedang menggandeng seorang wanita berpakaian ketat putih-seksi dengan bahu terbuka.

“Bagas….kau Bagas kan?” Mayang berlari ke hadapan lelaki itu.
“Siapa….apa? Ohh…. Maaf saya tidak kenal Anda…”

Tetapi Mayang mengikuti terus lelaki itu yang bergegas meninggalkannya tanpa basa-basi. Mayang sempat menarik tangannya dan melihat bekas luka pada lengan sebelah kirinya.
“Jangan bilang kau tak ingat bekas luka ini, ini luka karena kau menebas ilalang dari pohon kembang kertas kita!”

Lelaki itu mengibaskan tangan Mayang dan terus berjalan memasuki area parkir. Wanita di sebelahnya memasang wajah sinis sembari meludahi jalan di sisi kanan, tepat di depan mata Mayang yang tiba-tiba dirubung sejuta kunang-kunang.

Malam berlalu, pagi hari diawali Mayang dengan menebang habis pohon kembang kertas dengan sisa tenaga kemarahannya semalam. Radit menyaksikan dari jendela kamar dengan mata terbelalak.