Menembus Langit Jannah

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Desember 2016
Menembus Langit Jannah

Menembus Langit Jannah

 

 Karya: Shanti Agustiani

 

 

“Oh langit, jika mereka yang mengetuk keras pintumu sehingga memekakkan telinga para penghuni surga,…masih terbukakah secuil jannah bagiku?” Jannah perempuan muda berusia 17 tahun, masih remaja, perutnya menggelembung, lemparan batu dan cambuk telah merajamnya, telak dalam penghakiman, mati dalam penistaan. Ia bisu, sehingga hanya isi surat terakhir itulah yang bisa dimaknai oleh Rayani, ibu angkatnya, dalam sembab air mata dan rasa sakit di dada. Anak angkatnya telah mati dihakimi massa, dengan bersimbah darah tanpa air mata, wajah kukuh lurus dalam tatap mata terakhirnya.

Anak dara itu ditemukannya di pasar kembang setahun lalu, kala itu sang dara masih berjualan cincin batu akik, Rayani tak sengaja melihatnya sedang diganggu sekelompok pemuda mabuk yang mulai menggerayangi cincin dan tangan Jannah, meski tangan itu telah dibalut lengan panjang dari gamis dan pashmina hitam yang menutupi tubuhnya yang kurus.  Rayani melihat itu dari kejauhan dan segera memanggil satpam untuk mengusir para pemuda itu, mereka lari namun sempat menggenggam seraup cincin akik yang kala itu harganya masih menjulang tinggi. Jannah berteriak dengan suara tidak jelas seperti “Ngik…Ngik…”dengan wajahnya yang pucat pasi dan gerakan gemetar membereskan semua cincin jualannya yang tersisa, peluhnya deras membasahi gamis panjangnya.

Rayani mendekati Jannah dan memberikannya air minum. Jannah duduk dan menerima air minum itu dengaan setetes air mata haru di pipinya. Ia menuliskan kata-kata pada secarik kertas, “Terima kasih Ibu, maaf saya tidak dapat berbicara… Anda sangat baik…”. Rayani tersentuh pada air muka Jannah yang bening dan teduh, ia merindukan seorang anak yang bisa menemaninya sepinya setelah suaminya berpulang beberapa tahun lalu. Ingin sekali ia mengangkat Jannah sebagai anaknya jika gadis manis berlesung pipi itu tak memiliki orangtua.

“Orangtuamu di mana Nak?”

“Aku tak punya ayah, sebab ibuku seorang pelacur yang telah meninggal setahun lalu. Mohon doakan aku dan ibuku.”, tulisnya di sebuah kertas.

Rayani tersenyum seolah Jannah telah menjadi takdirnya, “Ikutlah bersamaku Nak… kau akan aku sekolahkan di kampungku! Jadilah anak angkatku, kau mau?”

Rayani melihat wajah Jannah bingung sejenak, ia menunjukkan cincin jualannya dan juga tempat tinggalnya di petak sebelah kompleks pelacuran. Ia jelaskan bahwa itu adalah petak kamar yang disewanya dua ratus ribu per bulan.

“Tak mengapa, kita bisa berjualan sisa cincinmu di kampung, dan jika kau masih ada tunggakan sewa, biarlah Ibu yang membayarnya”

“Aku tak punya tunggakan Ibu, baiklah aku ikut bersamamu, semoga Allah ridha atas keputusan ini”, tulis Jannah pada akhirnya yang membuat perasaan Rayani berbunga-bunga bahagia. Rayani memeluk Jannah dengan kasih sayang yang muncul begitu saja tanpa diminta, segera ia membantu Jannah berkemas dan membelikan tiket kereta untuknya. Mereka bergandengan tangan membawa banyak jinjingan barang masuk ke gerbong kereta kelas ekonomi yang penuh sesak oleh penumpang dan pedagang asongan.

Setahun lalu, Jannah didaftarkan oleh Rayani pada program paket C untuk mengejar ketinggalannya yang tak tamat SLTA, lagipula tak ada sekolah yang mau menampung gadis bisu seperti Jannah meskipun Rayani meyakini bahwa gadis itu sangat cerdas dan berbakat. Maka di sela-sela waktu luang Jannah membantu Rayani menunggui toko busana muslimah di pasar kampung. Cincin yang tersisa pun dipajangnya di toko itu. Tak ada perilaku yang mengecewakan selama Jannah bersama Rayani, gadis itu jujur dan tahu benar bagaimana menempatkan diri, Rayani pula yang mendorong gadis itu agar bergaul dengan rekan sebayanya supaya tidak kuper, tentunya dengan tetap menjaga diri.

Semua berjalan wajar dan indah sampai pada beberapa hari lalu. Sungguh tak disangkanya langit tiba-tiba mendung dan gelap gulita, pekik teriakan orang-orang mengalahkan suara halilintar yang bersahut-sahutaan saat orang-orang sekampung mengerumuni rumah Rayani. Telah berhari-hari mereka nyinyir dan menasihati Rayani mengenai anak angkatnya yang telihat berbeda dari biasanya, perut anak gadis itu pun semakin hari semakin besar. Jannah digossipkan sedang hamil di luar nikah.

“Ada apa dengan perutmu, Nak?” tanya Rayani pada suatu sore.

“Aku sakit ibu…!” tulis Jannah pada helai kertasnya saat itu. Usai menjelaskan keadaaan dirinya dengan sesingkat itu, Jannah muntah-muntah, segumpal darah juga nampak pada muntahannya, luput dari pandangan Rayani.

Ketika rombongan orang sekampung datang ba’da Isya, saat itu sebenarnya Jannah sedang tertidur lelap, Rayani tergopoh-gopoh menghampiri pintu dan membukanya setelah digedor-gedor dengan sangat keras.

“Ibu Rayani, serahkan anak angkatmu kepada kami. Ia hamil di luar nikah, Ia harus menjalani hukuman atas perilakunya yang mempermalukan agama dan kampung ini!” ujar Kepala Desa bersama orang-orang berjubah di samping kiri dan kanannya. Di belakang mereka orang-orang sekampung berteriak-teriak membawa obor dengan wajah marah semerah api.

“Jannah sedang istirahat, dia sakit dan esok akan kuperiksakan ke kota….”
“Bawa sini atau kami akan menjemputnya sendiri!”

Sebelum Rayani sempat menjawab, menyembul wajah pucat dari balik kamar menyeruak berlari memeluk Rayani, Jannah terengah-engah terperanjat atas rombongan manusia yang penuh amarah di halaman, di antara halilintar yang bersahut-sahutan, belum turun hujan, tetapi langit seakan ikut merenda amarah mereka.

“Ini dia si anak pelacur itu, Rayani…aku tahu dia anak pelacur, pantas saja ia mengikuti jejak ibunya, mempermalukan kampung kita saja!”

“Tidak….tak mungkin begitu, Ia kujaga baik-baik…pergaulannya juga baik!

“Biar kami hukum anak jalang ini, supaya bisa menjadi pelajaran bagi anak remaja lainnya!”

“Tidak…biarkan saya sendiri menghukumnya!” Rayani berteriak-teriak sembari memeluk Jannah. Tetapi tangan-tangan besar dan kasar itu melepaskan pelukan mereka dan mengikat tubuh lemah Jannah pada sebuah pohon randu di tanah lapang dekat rumah Rayani. Di sana orang-orang sekampung menyaksikan penghakiman itu dengan teriakan-teriakan hina, “Wanita jalang! Anak pelacur! Si bisu sundal!”, dan semua kata-kata kotor lainnya ringan terucap dari mulut-mulut yang biasa bergosip sambil bertasbih itu.

***

Rayani pingsan menyaksikan anak angkat yang dicintainya dilempari batu dan dicambuki hingga berdarah-darah. Ia sempat melihat tatap lurus mata sang dara yang tak bergeming dan tanpa air mata. Begitu ia sadar, Rayani menjumpai wajah pucat pasi itu telah beku, diam dan bisu untuk selamanya, Jannah meninggal dunia. Ia melarang orang-orang yang hendak menguburkan jenazah Jannah sebelum memeriksakan keadaan Jannah ke rumah sakit di kota. Sesungguhnya ia berharap Jannah hanya mati suri.

Namun suatu berita mengejutkan menyentak hati Rayani begitu dokter menjelaskan hasil diagnosanya, Jannah bukan sedang hamil, ia memang sedang sakit, gadis itu menyimpan tumor di perutnya, yang semakin lama semakin membesar. Kini segalanya kini telah terlambat, sang dara tengah menembus langit jannah usai tak kuasa membendung fitnah.

Hari ini 22 Desember tepat di hari ibu, Rayani kembali ke kampungnya hanya untuk meminta beberapa pemahat membuatkan patung seorang gadis memegang surat berupa prasasti di depan rumahnya, di samping kuburan Jannah sebelah pohon randu tempat penghakiman berdarah itu. Bunyinya, “Aku Jannah, akan menembus langit yang kau paksakan agar terbuka lebar bagiku. Semoga engkau sanggup melindungi anak-anakmu dari fitnah yang keji.” Setelah semua itu, Rayani pergi meninggalkan kampung halamannya untuk selama-lamanya.