Memeluk Rembulan

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 November 2016
Memeluk Rembulan

Memeluk Rembulan

 

Karya: Shanti Agustiani

Desa unik ‘Seroja’ terdiri dari para pengrajin dan seniman yang memiliki keahlian berbeda-beda, ada yang pandai menari, menyanyi, tilawah, samrah, pelukis, sastrawan dan pengukir patung dewa-dewi. Di masa pemilihan kepala desa periode tahun ini, mereka bersepakat bahwa siapa pun yang mampu melukis rembulan dengan indah di atas kanvas serta menjelaskan penghayatan lukisan dikaitkan dengan arah pembangunan desa akan dipilih menjadi kepala desa ‘Seroja’.  Ya kali ini biar giliran pelukis yang menjadi pemimpin, supaya tidak dimonopoli oleh profesi tertentu.

Maka dimulailah malam pemilihan itu, ketika bulan purnama bersinar penuh membuat langit begitu bercahaya, para kandidat kepala desa mulai melukis di atas kanvas masing-masing. Kali ini ada 3 kandidat yang mencalonkan diri yaitu Dude, satu-satunya pemuda lajang, Kang Tedjo dan Kang Suherman. Dude melirik seniman pelukis di sebelah kanannya, Kang Tedjo yang melukis bulan dengan sangat abstrak, bulan itu memang indah kelihatannya tetapi nampak sangat tidak nyata, “Ah bulan khayalan!” ujar Dude dan kembali menatap goresan lukisannya sendiri yang bergaya naturalisme, ia berupaya menangkap rembulan ke dalam kanvas senyata mungkin sebagaimana aslinya.  Tak lama kemudian Dude menoleh lagi ke seniman di sebelah kiri, Kang Suherman melukis rembulan dengan gaya kubisme, maka Dude pun mendesah dalam hati, “Hmmm bulannya Kang Suherman ini lebih mirip mainan lego!” Dude menambahkan warna pada kanvas agar bulannya semakin hidup, kali ini Dude merasa cukup tenang karena ke dua saingan kandidat kepala desa itu nampaknya tidak bisa menangkap rembulan secara utuh dan lengkap sebagaimana aslinya.

Orang-orang bersorak di bangku taman menyemangati mereka, ada pula yang duduk di atas rumput beralaskan tikar anyaman sembari membolak-balik jagung bakar dan bercanda bersama keluarga. Mereka semua antusias menyaksikan jalannya pemilihan kepala desa dengan slogan jujur dan adil. Tiga kandidat kades tersebut memiliki fans masing-masing, Dude yakin banyak remaja dan pemuda yang mengidolakannya, bukan hanya karena kepiawaiannya melukis tetapi juga karena Dude masih muda, masih kuat dan masih single sehingga Dude bisa lebih fokus mengurusi desa ini.

“Ayo Bang Dude, kamu pasti bisa!” sayup-sayup Dude mendengar suara yang dikenalinya. Dude menoleh, ternyata itu suara Meilan, gadis keturunan China yang pandai menari tarian tradisional Tiongkok, Dude sangat menyukai gadis itu bahkan sempat jatuh cinta, tetapi sayang sang gadis tak mau diajak pindah agama, sehingga hubungan Dude dengannya tak berlanjut ke jenjang yang lebih serius, Dude memutuskan untuk sekedar bersahabat dengan gadis itu, sahabat yang cukup mesra.

Sebenarnya lukisan Dude sudah selesai saat ke dua saingannya masih sibuk melengkapi warna. Namun tiba-tiba sekelebat bayang Meilan hinggap di imajinasi Dude, entah kenapa tangan Dude seperti dihipnotis untuk melukis gadis itu menari di bawah bulan purnama lengkap dengan pakaian tradisional hanfu berwarna merah darah, begitu kontras dengan putihnya cahaya rembulan, indah memikat. Seperti seseorang yang jatuh cinta, Dude menghabiskan sisa-sisa cat minyaknya untuk melukis gadis penari Tiongkok di bawah rembulan. Dude memang jatuh cinta, pada lukisannya, bukan pada Meilan lagi!

“Teeeet”, suara bel tanda waktu berakhirnya sesi melukis dibunyikan oleh panitia. Para kandidat melepaskan kuas masing-masing dan bersiap memberikan penjelasan lukisan kepada masyarakat desa yang menunggu dengan sabar. Mereka mengawal proses pemilihan ini dengan tetap sibuk mengerjakan pekerjaan seninya masing-masing, ada yang sambil main musik, menari, ada yang asyik menyanyi, ada pula yang turut melukis seperti para kandidat kepala desa,

Tiba giliran Dude menjelaskan hasil karyanya, “Inilah lukisan naturalismeku, pada lukisan ini aku berusaha menangkap kenyataan rembulan seutuhnya. Lihatlah bentuknya, warnanya, teksturnya, nampak mirip dengan rembulan yang di atas sana ‘kan? Makna filosofinya adalah kalian akan saya ajak menghadapi dunia nyata bukan sekedar mengkhayal!” Uraian Dude kepada hadirin yang disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai meneriakkan nama Dude, “Hidup Dude, bersama Dude desa Seroja jaya!”, teriak para supporter Dude.

Wajah Dude merona bangga, dilihatnya di seberang sana Meilan tersenyum sangat manis, ia tahu siapa gadis yang terlukis di kanvas rembulan Dude sebab hanya ia gadis keturunan China yang bisa menari Tiongkok dengan piawai, dan wajah teduh gadis pada lukisan itu memang milik Meilan lengkap dengann hanfu merah yang biasa dikenakannya saat menari. Gadis itu memberikan senyuman harapan yang sempat kandas beberapa waktu lalu.

Sekarang giliran Kang Tedjo memberikan ulasan pada lukisan abstraknya, “Lukisan saya memang tidak mirip dengan aslinya, ini aliran abstrak. Lukisan yang berazas pada kemerdekaan imajinasi. Saya paham masyarakat desa ‘Seroja’ semuanya kreatif, jadi perlu membebaskan imajinasi seluas-luasnya, merdeka!” ujar Kang Tedjo disambut dengan teriakan yang sama dari para suporternya, “Merdeka… Imajinasi merdeka bersama Kang Tedjo!” begitulah mereka berteriak gegap gempita.

Lalu terakhir giliran Kang Suherman menjelaskan lukisan kotak-kotak kubisme-nya, “Sebenarnya hampir sama dengan Kang Tedjo, bahwa saya hanya ingin semua orang bebas berimajinasi dan menangkap sudut pandang yang berbeda ke dalam wujud karya apa pun, termasuk lukisan ini. Ini adalah kota-kotak pengetahuan, lingkaran-lingkaran pertemuan khayali, segitiga-segitia kesepakatan yang berimbang, semua ini membentuk rembulan, yang sangat kaya oleh gagasan dan sudut pandang yang berbeda!’ ujar Kang Suherman lagi, “Bentuk-bentuk kotak, segitiga dan lingkaran ini simbol perbedaan yang kita satukan untuk hasil karya bersama yang sempurna!”, riuh rendah para pendukung Kang Suherman bertepuk tangan, ”Kita bisa sempurna, bersama kita bisa!” seru mereka

Esoknya di malam purnama berikutnya, pemungutan suara dilanjutkan dengan mencoblos hasil karya calon kepala desa yang dipotret dan difotokopi kecil-kecil seukuran A4. Ternyata hasil perhitungan suara merosot jauh dari perkiraan Dude, Dude kalah telak dari kang Tedjo dan Kang Suherman, mereka masing-masing meraih 50 dan 30 % suara, sedangkan Dude hanya bisa merngumpulkan 20% suara. Dude sangat malu, gontai melangkah menjauhi TPS itu dan ingin sejauh-jauhnya meninggalkan desa ‘Seroja’. Modal Dude juga sudah habis sekian puluh juta untuk membuat baligo, pamflet, dan poster-poster, juga membayar para supporter selama masa kampanye. Dude tidak puya uang lagi sekarang bahkan kehilangan harga diri. Dude merasa sebagai pecundang.

“Dude…tunggu!” suara itu lagi, memanggil Dude dengan suara parau yang menyeruak di tengah keramaian, Dude menoleh, benar saja, Meilan dengan wajah berkeringat berlari tergesa mengejar lelaki harapannya.

“Sudahlah Meilan…aku sudah tak punya apa-apa lagi yang bisa dibanggakan!”

“Dude…kau masih punya banyak hal, kau punya iman!” seru suara gadis itu lagi terengah-engah mengiringi langkah Dude yang bergegas.

“Meilan…apa urusanmu dengan imanku?!”, Dude beteriak marah padanya, gadis itu mulai mencampuri urusan pribadi Dude, “Memangnya siapa dia? Kekasih bukan, istri pun bukan!” pikir Dude galau.

“Baiklah Dude…aku hanya mengingatkan bahwa jika kau punya iman harusnya kau tak mudah berputus asa! Dan aku hanya membawakan ini, kuas dan kanvas rembulanmu yang tertinggal. Ingatlah, kau masih punya waktu untuk memeluk rembulan seutuhnya sebelum masa purnama habis digerus waktu yang tak percaya pada komitmen kita!”

Dude akhirnya menerima kanvas dan kuas itu dari tangan Meilan sembari meminta maaf pada gadis bermata sipit dengan bola mata yang hitam legam serta rambut panjang yang selalu dikucir dua itu.

“Maafkan Dude ya..Mei…Dude kasar padamu!”

“Tak apa…Mei mengerti!”

Mereka lantas duduk di sebuah bangku taman, ujung ke ujung bangku, sepeti sepasang kekasih yang sedang marahan. Tetapi Dude sesungguhnya senang masih mendegar suara halus Meilan yang mencoba menghibur dirinya.

“Mmm…menurutmu kenapa Dude tak bisa menangkap rembulan itu dengan baik di kanvasku?”

“Kau sudah menangkapnya dengan baik, tertuang pada lukisanmu yang seperti nyata, sesungguhnya akulah yang paling mengagumi lukisanmu!” ujar Meilan seperti bisikan angin dingin yang mendesis di telinga Dude, begitu menyejukkan.

“Nyatanya tak berarti apa-apa bagi mereka, hanya serupa benda pajangan yang tak memiliki makna apa pun yang mengikat hati mereka!”

“Kenapa kau merasa harus mengikat hati mereka? Biarkan saja hati mereka memiliki tujuan kembaranya masing-masing, tak patut bagi kita menjajah hati orang!” tukas Meilan.

“Kau…bahkan hatimu pun tak mau diikat Meilan!”sahutku setengah marah ketika mengingat hari senja merah saga ketika Meilan menolak menjadi seagama dengan Dude agar bisa dinikahi.

“Kau benar, aku tak mau, itu karena keyakinan bahwa agamaku selama ini baik-baik saja, membawaku hidup damai dan tenang, Aku tak bisa keluar dari zona nyaman agama yang aku anut semenjak lahir!”

“Lalu kenapa kau sekarang datang menemaniku? Apa kau hanya ingin menghadapkanku pada kenyataan yang penuh luka?”

“Aku menemanimu karena aku temanmu, temanmu semenjak kecil, dan itu tak berubah semenjak hadirnya pipit kecil yang menyanyikan kidung cinta, mulai menggoda kita berdua!”

“Aku akan pergi dari desa ini Meilan, siapa tahu di tempat lain diriku lebih dihargai!”

“Lalu bagaimana rembulanmu, apa kau tinggalkan begitu saja?”

“Ambillah untukmu!”

“Sebelum pergi dengarkan aku dulu Dude!’

“Aku mendengarkanmu sejak tadi!”

“Begini, apakah benar semua orang memiliki suara hati?”

“Hmmm ya… kira-kira begitu. Semenjak shubuh sehingga lelap di peraduan malam. Suara-suara itu menemaniku berbicara tanpa ada yang mendengarnya selain aku dan Tuhan-ku.”

“Ya aku pun demikian. Aku juga mendengarkan suara hatiku saat menolakmu menjadikan diriku seagama denganmu, maafkan, itu hak pribadiku sebagai pemilik suara hati.”

“Baiklah…itu hak pribadimu Meilan!” Dude mulai menghargai prinsip hidup Meilan yang kuat.

“Suara hati karunia Tuhan yang menuntun pada kebaikan prinsip hidup. Mungkin masyarakat desa ‘Seroja’ memiliki harapan ideal yang berbeda dengan pandanganmu, bukankah itu wajar?”

“Sangat wajar Meilan, aku pun tidak ngotot dalam hal ini, biarlah mereka menentukan nasib desa ini. Aku akan pergi!”

“Lalu kau apakan mereka yang 20% itu? Mereka yang sama haluan pandangannya denganmu dalam upaya memajukan desa ini? Dan di antara mereka ada aku,” ujar Meilan dengan wajah sendu, mata hitamnya semakin hitam membayangi hati Dude. Hitam yang mengalahkan cahaya purnama malam itu, sebab cahaya bola matanya itu langsung menghujam ke jantung Dude yang gamang dengan  keputusannya sendiri.

“Entahlah semua ini masih gelap bagiku, kalian bisa mengikuti Tedjo!”

“Dude…ketika semua hal nampak gelap, lihatlah ke dalam dirimu, dengarkan suara hati, dan lihat cahaya yang melekat pada suara hatimu. Cahaya itu akan semakin besar dan menampakkan rembulan yang seutuhnya jika kita bersama!”

“Kita bersama?” tanya Dude tak mengerti, apakah maksudnya dia mau Dude menikahinya meskipun beda agama?

“Bukan hanya kau dan aku Dude…tetapi kita semua, meskipun warna kita berbeda, suara hati kita menyuarakan pilihan hidup yang berbeda, bukan mustahil bagi kita bekerjasama untuk mencapai kebahagiaan!”

“Meilan…aku sudah bahagia meilihatmu mempertahankan warnamu!”

“Syukurlah Dude, aku juga bangga pada sikap ksatriamu, aku yakin kau bukan pria pengecut atau pecundang!”

Dude terpekur, ia putuskan untuk bertahan di desa yang sangat ia cintai ini, ia mengakui semua yang dikatakan Meilan ada benarnya. Suara hati karunia Allah yang menuntun pada kebaikan prinsip hidup yang diasah dengan Pengetahuan dan Tabayyun... Jadi apa sebab kau tak percaya hati nurani? Bukankah itu bekal dari Allah bagi hidup yang akan kau pertanggungjawabkan sendiri? Kala semuanya nampak gelap lihatlah cahaya dari dalam diri, Rembulan akan menampakkan sinar yang lebih terang! Dude akhirnya mengijinkan semua orang memerdekakan suara hati masing-masing untuk saling rangkul dan bekerja sama, tak harus sama warna dan agama atau aliran. Berbeda untuk saling melengkapi. Dude memutuskan untuk bertahan demi membangun desa ‘Seroja’.

Malam telah larut saat percakapan kedua insan itu terhenti oleh kesibukan pemikiran masing-masing. Meilan yang kelelahan tertidur di ujung bangku taman dengan bahu tangan kirinya sebagai bantal. Saat itu rasanya ingin sekali Dude merangkul Meilan, di bawah purnama yang menjadi saksi cinta dua anak manusia yang tak dapat dipersatukan karena perbedaan agama. Dude akhirnya memeluk lukisan rembulannya, sambil menyanyikan kidung ‘Juwita Malam’ yang membuat Meilan semakin terlena.

 

***