Nenek Gayung

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 November 2016
Nenek Gayung

Nenek Gayung

 Karya: Shanti Agustiani

 

Beberapa tahun lalu sedang ramai-ramainya berita tentang bermunculannya sesosok nenek membawa gayung  yang suka menculik anak kecil, sehingga beberapa orangtua dilaporkan kehilangan anaknya dan tak pernah kembali. Kabarnya anak-anak itu diculik untuk dihisap ruhnya agar si nenek gayung tetap hidup gentayangan. Entah kabar itu benar atau tidak, nyatanya begitu cepat tersiar di mana-mana, di beranda facebook, di bisik-bisik tetangga, bahkan di acara televisi “Gossip Sip” setiap hari minggu pagi.

Tak terkecuali di lingkungan kampung Usman, seorang anak berusia 12 tahun, remaja puber yang masih suka main bola dengan anak-anak di bawah umurnya supaya ia tetap menjadi primadona garda depan. Nyatanya Usman seringkali mencetak gol menembus gawang bambu di tanah lapang bekas bangunan yang dibongkar. Hari itu seperti biasanya Usman kembali mencetak gol dan anak-anak kecil menyalami Usman dengan takzim. Danu fans beratnya mentraktir Usman semangkuk bakso di angkringan bakso milik Lek Miji. Mereka ngobrol hingga senja hari sebab Danu minta diajari trik-trik menendang bola yang jitu.

Usman pulang hampir maghrib, dan entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak ketika melewati pematang sawah yang sangat sepi. Ia sendirian dan berdebar-debar ketika melihat di belakangnya ada sosok perempuan tua yang berjalan tertatih-tatih mengikuti dirinya. Usman langsung lari pontang-panting apalagi perempuan tua itu dilihatnya membawa gayung, “Nenek gayung….!” , seru Usman sambil lari terbirit-birit dan terkencing-kencing di celana Manchester United-nya.

Nenek itu masih saja mengikuti Usman sambil berteriak-teriak dan mengacung-acungkan gayungnya kepada Usman. Tak jelas apa yang diucapkan nenek itu, Usman malah berlari semakin kencang. Saking paniknya Usman tak sadar menginjak lintah, tiba-tiba terasa sakit saja kakinya, tubuhnya menjadi limbung dan akhirnya jatuh terpeleset!

“Us…Us…” suara nenek itu semakin mendekat, Usman tak dapat berkutik lagi, diam mematung di air genangan sawah dengan memejamkan mata dan merunduk berharap nenek itu pergi menjauh.

“Us…aduh…kenapa lari kamu Us? Us… ini nenek parajimu, nenek Markonah…” ujar nenek itu sembari mengulurkan tangannya hendak menolong Usman.

Usman mulai memberanikan diri membuka matanya dan dilihatnya nenek itu memang bukan nenek jadi-jadian, punya kaki dan punya wajah seperti nenek kebanyakan tetapi Usman tidak mengenalinya.

“Nenek…paraji itu apa?” ujar Usman memberanikan diri bertanya.

“Ayo naik dulu!” ujar nenek itu sembari mengulurkan tangannya sekali lagi. Kali ini Usman sudah mulai percaya bahwa nenek itu bukanlah nenek gayung seperti yang diduganya tadi.

Lantas mereka berdua duduk di tepi pematang sawah, di atas sebuah saung tempat petani mengusir burung-burung pemakan padi, “Akulah yang menolong kelahiranmu dulu, apa ibumu tidak pernah cerita?” tanya nenek itu sambil membantu membersihkan kotoran di tubuh Usman dan mencabut lintah yang melekat di telapak kaki Usman. Tak lupa nenek Markonah membersihkan luka bekas gigitan lintah itu dengan sirih yang selalu dibawanya ke mana-mana.

“Ibuku pernah cerita sih…tapi…aku lupa…”

“Nenek teringat dirimu, waktu itu kau susah sekali keluar dari perut ibumu, jadi nenek terus memancingmu dengan air hangat di gayung ini”, ujar sang nenek tersenyum

“Begitu ya nek?” tanya Usman ternganga.

“Iya, bahkan ketika kamu sudah lahir kamu suka mandi dengan gayung hijau ini. Sampai sekarang gayung ini nenek simpan sebagai kenang-kenangan sewaktu keluarga kalian memutuskan pindah ke kampung ini” , ujar nenek Markonah dengan matanya yang berkaca-kaca, “Sekarang nenek datang menemuimu karena rasa rindu dan ingin mengembalikan gayung ini, siapa tahu dengan benda ini kamu bisa mengingat nenek ketika nanti nenek dipanggil Gusti Allah.”

“Iya Nek…Usman berterimakasih atas pertolongan nenek waktu itu dan Usman minta maaf tadi malah lari pas ngelihat nenek!”

“Iya…nenek juga heran, apa wajah nenek ini makin peyot jadi mirip hantu gitu ya Us?”

“Tidak kok Nek…eh…maafkan Usman ya nek…!” pinta Usman terbata-bata, ia salah tingkah

“Ya sudahlah tidak usah dipikir Us… ayo kita pulang ke rumahmu, sudah maghrib ini, nanti ibumu marah!”

Mereka berdua melanjutkan perjalanan melewati pematang sawah. Sampai di rumah ibunya Usman tergopoh-gopoh menghampiri nenek Markonah, kaget bercampur senang, “Mak Markonah….!” Seru Ibu Usman sembari memeluk nenek Markonah.

Ibu Usman menyuruh nenek Markonah tinggal di rumahnya. Di suatu pagi Jum’at yang penuh cerah, Usman hendak mengajak nenek Markonah berjalan-jalan, tetapi Usman heran karena semenjak shubuh nenek Markonah tidak bangun-bangun. Usman pun menghampiri tempat tidurnya dan membangunkan nenek itu, “Nek..nek…bangun! Usman mau ajak nenek jalan-jalan!”

Hening tak ada jawaban, ketika disentuhnya tubuh nenek Markonah terasa kaku dan dingin, Ibu Usman datang dan memegang tubuh nenek Markonah, “Innalilllahi wa inna ilaihi rojuun…nenek Markonah sudah dijemput Allah nak” ujar ibu sambil menitikkan airmata.

Usman berteriak-teriak menangis memanggil nenek Markonah, belum sempat ia membalas jasa, sang nenek penolong itu telah tiada, bahkan ia sempat berprasangka buruk kepada nenek Markonah. Usman menyesal,  sepanjang hidupnya ia masih menyimpan gayung hijau peninggalan nenek Markonah, nenek parajinya.

***