Air Putih ditambah Gula, Coklat, Susu dan Sedikit Kopi

Air Putih ditambah Gula, Coklat, Susu dan Sedikit Kopi

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Renungan
dipublikasikan 07 November 2016
Air Putih ditambah Gula, Coklat, Susu dan Sedikit Kopi

Air Putih ditambah Gula, Coklat, Susu dan Sedikit Kopi

 

Saya dulu pernah menjadi anak-anak dan banyak permintaan saya yang kadang-kadang bikin geleng-geleng kepala orangtua saya.  Misalnya ketika saya meminta sesuatu, saya masih susah membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan saya definisikan sebagai harapan ditambah dengan bunga-bunga harapan yang bisa terus berkembang biak tanpa batas. Sedangkan kebutuhan merupakan kehendak tuntasnya suatu masalah pokok. Seringkali keinginan bukanlah menjadi kebutuhan yang sesungguhnya. Orang menjadi tahu apa kebutuhan sesungguhnya jika ia memahami diri sendiri serta masalah yang sedang dihadapinya dalam upaya menjadi manusia yang berkembang optimal, fisik mau pun psikis.

Sebagai contoh adalah suatu kisah flashback masa kecil saya yang agak manja dan berorientasi pada diri sendiri. Pernah ketika saya haus dan tubuh saya masih terlalu kecil untuk mengambil air, saya menyatakan kebutuhan saya kepada ibu saya.

“Ibu…aku minta minum…”

“Minum apa, air putih?”

Aku mengangguk mengiyakan, sementara ibu mengambil air putih saya membayangkan alangkah enaknya jika air putih itu ditambah gula dan susu coklat, jadi saya buru-buru mengatakan kepada ibu, “Air putih tetapi pakai gula….”

“Air gula?” tanya ibu tak mengerti

“Ya, ditambah susu dan coklat itu lebih asyik!” sahutku lagi tanpa rasa bersalah.

Ibuku mendelik dengan mengatakan, “Eala…bocah! Dari tadi bilang aja minta dibikinkan susu coklat!” ujar ibuku dengan nada sedikit tinggi, namun tetap membuatkan susu yang saya inginkan. Padahal kebutuhan saya adalah air minum manakala kebutuhan itu berkembang menjadi air susu maka kebutuhan seketika bisa berubah menjadi keinginan yang bertambah dan terus bertambah tanpa batas, jika dituruti.  Menelepon itu kebutuhan tetapi memiliki smartphone yang canggih dengan kamera selfie yang OK itu adalah keinginan. Semakin dewaasa saya semakin mengerti dan membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Bahwa manusia tak bisa serta merta menuruti keinginannya yang tak memiliki batas, sementara ia lupa pada kebutuhan pokok mendasar yang harus dipenuhinya sebagai manusia yang berkembang secara optimal fsiik mau pun psikis.

Masalah di negara kita sedemikian kompleks, mulai dari masalah kemiskinan, korupsi, kenakalan remaja, pengangguran, kriminalitas, dan epidemi berbagai penyakit menular dan masih banyak lagi yang perlu dientaskan.  Tuntutan dari para pendemo 4 November kemarin juga timbul karena masalah.  Salah satunya yang menjadi issue  sentral adalah masalah penistaan agama yang dituduhkan kepada salah satu calon Gubernur Basuki Tcahaja Purnama atau Ahok.

Demo memang berjalan damai hingga senja hari, namun di antara ribuan massa itu pasti ada yang tidak tahu “masalah” yang dihadapi bersama ini. Saya katakan lagi “ada” tetapi bukan “semua”, nyatanya ada penyusup, ada provokator yang telah melakukan pengrusakan materil dan penganiayaan terhadap oknum polisi. Tentunya kemungkinan akan adanya oknum-oknum penyusup yang ikut-ikutan ini seharusnya sudah dipertimbangkan semenjak awal, dengan indikasi si pengajak benar-benar kenal siapa orang yang diajak serta meyakinkan bahwa mereka sudah tahu “masalah” yang mereka hadapi bersama, sehingga tidak ada yang ke luar jalur.

Jika fokus pada masalah, hal ini tidak akan berlarut-larut dan berkepanjangan, apabila masalah terselesaikan (Ahok minta maaf, Buni Yani sebagai pengunggah video mengakui kutipan transkripnya ada yang salah/dipotong, proses hukum berlanjut) maka hal ini tidak akan berbuntut panjang. Dimulai dengan damai diakhiri dengan damai. Oknum-oknum yang tak tahu ‘masalah’ atau yang ‘tak mau tahu masalah’ itulah yang membuatnya berkepanjangan, mereka enggan mendengarkan dengan hati berbagai pihak yang memberi masukan dan keterangan bahwa tuntutan masalah mereka satu per satu telah dituntaskan.  Mereka bahkan hendak mengembangkan bunga-bunga harapan tanpa batas sebagaimana nampak pada beberapa oknum yang menggulirkan keinginan tendesius ke arah upaya merombak habis-habisan tatanan pemerintahan saat ini, hingga adanya issue  upaya melengserkan RI 1. Di medsos hal ini sudah bukan merupakan rahasia lagi karena para oknum tersebut terang-terangan memprovokasi untuk melalukan makar.

Bukankah kita biasanya selalu sabar menanti kinerja aparat hukum yang berwenang? Terlalu sabar malah, sehingga kadang kasus-kasus korupsi tak kunjung selesai hingga bertahun-tahun, sampai lama-kelamaan tenggelam dan dilupakan orang. Lantas mengapa kali ini kita menjadi sangat tidak sabar? Ahok itu toh manusia ciptaan Allah? Di mata hukum ia punya hak membela diri serta hak atas azas praduga tak bersalah.  Sedangkan saya dan kita semua pun tak luput dari salah dan dosa yang sangat mungkin telah menistakan agama kita sendiri karena perilaku kita yang melenceng dari Ruh Al Quran yang mengabarkan Islam sebagai pemberi rahmat bagi seluruh alam.  

Syahdan ketika saya pulang kampung, ibu saya sering meledek dengan pertanyaan, “Nak mau minum air putih? Ditambah gula, susu coklat dan barangkali sedikit kopi?” Aku tertawa,  ah ada-ada saja ibuku ini yang selama hidupnya telah berusaha memenuhi keinginanku yang beraneka-ragam. Tetapi dengan ledekan itu aku selalu diingatkan bahwa kebutuhan tak sama dengan keinginan, apalagi jika keinginan itu berbenturan dengan keinginan manusia lain yang berbeda arah pandangannya, sudah pasti menimbulkan chaos.

Akhir kata, saya memohon maaf dengan tulus apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan atau membuat pembaca tersinggung, itu karena saya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Dan jika ada kebenaran, tentunya hanya dari Allah semata. 

 

(catatan: thumbnail merupakan kolaborasi kata-kata dari penulis dengan desain gambar dari Dani Kaizen)

 

 

  • view 412