Terhempas Dua Badai

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Oktober 2016
Terhempas Dua Badai

TERHEMPAS DUA BADAI

Karya : Shanti Agustiani

Aku adalah elang yang tersesat dan sekarat setelah sayap-sayapku patah ketika aku mencoba bertahan dihempas putaran angin cumulonimbus. Ketika peristiwa itu terjadi bukan hanya sayap-sayapku yang patah, pun sayap sebuah burung besi buatan manusia yang sedang terbang rendah dan tiba-tiba berputar-putar  terjebak badai dahsyat itu.  Burung besi itu menurut kabar membawa 239 penumpang, dan semuanya tewas seketika! Bagaimana tidak tewas, angin itu menyeret si burung besi hingga kehilangan arah sehingga burung besi itu seperti gasing mabuk untuk kemudian jatuh tercecar di lautan dan sisa patahannya lagi  terhempas bebatuan pantai, sedangkan aku yang terbang di sisinya ikut terseret arus putaran angin hingga jatuh ke sebuah jurang.

“Kini kau sendirian, tak ada yang peduli padamu! Apakah arwah para penumpang itu akan menemani masa-masa menjelang kematianmu?”, ujar sebuah suara , aku menoleh ke sana ke mari mencari arah sumber suara itu tetapi tak menemukan, ternyata itu adalah suara ketakutanku sendiri yang memantul di dinidng-dinding jurang yang terjal, “Kau sendirian!”

“Sendirian!”

“ S e n d i r i a n!”

Suara itu memang benar, kini aku hanya bisa berdialog dengan diriku sendiri. Tak ada yang melihatku di sini apalagi menolongku. Bahkan bila perut bumi kekenyangan sekali pun, ia tak akan memuntahkan isi perutnya hanya demi membuatku tersembul ke permukaan bumi. Dua hari lamanya aku bertahan dengan mematuki cacing-cacing di sekitarku. Mungkin esok gantian mereka yang mematuki tubuhku yang semakin lemah tak berdaya ini. Ya, kakiku telah bengkok, dan kedua sayapku telah patah. Aku bertahan  untuk sebuah kematian yang terhormat.

Tiba-tiba aku teringat pada Tuhan, baru setelah ditimpa kemalangan ini. Betapa jarangnya aku berzikir, hidupku pongah dan sok kuasa, siapa pun yang tak sealiran akan kuterkam dengan cakar elang dan paruhku yang tajam mencengkeram.

Kutolehkan kepalaku ke atas, sekilas aku melihat langit di atas sana seperti ada sepasang mata elang yang sangat besar sedang tak berkedip mengawasiku. Mungkinkah itu mata Tuhan? Mataku terpejam dan aku memohon kepada-Nya, “Tuhan angkatlah aku, atau berikanlah badai sekali lagi, biar aku mati sekalian dan masuk surga, surga pinggiran sekali pun tak mengapa, kumohon!”

Usai mengucapkan doa itu aku terlelap dan tiba-tiba tersentak beberapa menit kemudian. Aku mendengar suara gemuruh di angkasa. Seperti suara raksasa sedang marah yang membuat jantungku hampir copot! Suara gemuruh sahut-menyahut di angkasa yang mulai menghitam, ketika semua awan bergumul bersatu padu hendak melahirkan curahan hujan yang sangat deras. Hujan itu membuat jurang tempatku berada ikut tergenang. Ditambah lagi gulungan air dari laut yang tiba-tiba muncul menggulung apa pun bagai lidah raksasa dengan sekali telan.  Ajaibnya aku masih hidup, di saat-saat itulah aku merasakan cinta kasih-Nya. Ketika tiba-tiba aku menemukan tumpangan sayap burung besi yang menjadi perlindungan dan perpanjangan usiaku. Sayap burung besi itu memiliki selah-selah yang menjepit tubuhku sehingga aku marasa hampir mati, mataku berkunang-kunang dan pingsan.

Mataku terbuka pelahan oleh cahaya menyilaukan, “Apakah aku di surga?” tanyaku kebingungan.

“Tidak... Anda berada di rumah sakit hewan!” ujar seorang lelaki berseragam biru telor asin.

“Selamat Tuan Elang, anda telah menemukan sayap pesawat yang hilang dan membawanya kembali pada kami!” seru seseorang lagi.

Pintu kamar ruangan rumah sakit terbuka, berbondong-bondong mereka menghujaniku dengan kilatan-kilatan lampu blits kamera, dan beberapa memberondongiku dengan berbagai pertanyaan.

“Di mana Anda menemukan sayap pesawat itu?”

“Apakah Anda mengangkutnya sendirian?”

“Setelah prestasi luar biasa ini apakah Anda bersedia dicalonkan sebagai walikota elang?”

Tentu semua itu membingungkan! Mereka lebih peduli sayap burung besi daripada sayapku, sungguh manusia pecinta benda!

Aku tak jadi ke surga tapi beginilah cara Tuhan menolongku, dengan membiarkanku terhempas badai, dan terhempas lagi untuk yang ke dua kali. Ini juga yang membuatku tak patut bersombong hati manakala manusia-manusia itu memuji-mujiku. “Ku mohon biarkanlah aku beristirahat memulihkan sayap dan tenagaku, dan percayalah… aku bukan pahlawan!”. Aku memang bukan pahlawan, aku justru merasa sebagai pecundang yang hendak bertaubat. Semoga mata elang di langit biru itu mengampuniku.

 

***

  • view 190