Pejuang Pelangi

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Oktober 2016
Pejuang Pelangi

PEJUANG PELANGI

 

Karya : Shanti Agustiani

 

Dokter Mirna memberikan resep paracetamol dan vitamin kepada pasiennya, sembari menasihatinya agar makan makanan yang bergizi seimbang. Pasien dengan pakaian lusuh habis memecah batu itu dijabatnya erat tanpa rasa risih. Seorang wanita dengan pakaian compang-camping yang tak sanggup membayar ongkos berobatnya, sementara kartu berobat gratis tak dimilikinya karena tak memahami prosedur mengurus kartu tersebut.

“Tidak apa-apa ibu…” silahkan ambil saja obatnya, dan beristirahat ya bu…jangan bekerja dulu…”

“Terima kasih mba Dokter, Inshaa Allah kalau saya gajian akan saya lunasi”

“Eh…ibu…ini bukan hutang kok…sungguh saya berniat membantu ibu, jangan dipikir berat-berat!”

“Baik mba dokter, terima kasih banyak, ujar perempuan itu sambil meraih tangan dokter Mirna untuk ia cium sabagai penghormatan. Namun Mirna merasa tak pantas karena merasa lebih muda daripada perempuan itu sehingga tangannya ditariknya dengan santun.

Ruangan dokter 4 kali 4 bercat putih kusam yang menjadi tempat praktek dokter Mirna selama  empat tahun di pedalaman pesisir pantai Berau itu menjadi saksi semua kebaikan dan pengorbanan seorang wanita cerdas yang batal menikah dengan kekasihnya karena memilih tempat itu untuk selamanya. Kekasihnya meninggalkan sang dokter karena harus bekerja di kota dan kini telah menikah dengan gadis lain. Sementara dokter Mirna menanti jodoh terbaiknya di tempat terpencil ini, sembari berempati kepada penduduk pesisir  pantai yang rata-rata bekerja sebagai nelayan dan petani garam, ada pula yang menjadi pemecah batu untuk dijadikan bahan bangunan seperti pasien yang barusan mengunjunginya.

Meski seringkali hanya dibayar dengan ikan atau pun beras, gula dan kopi, bahkan kadang tak dibayar sama sekali, dokter Mirna merasa sangat kaya. Kaya karena bisa menolong orang banyak di kepulauan terpencil di mana akses untuk kesehatan sangat jarang, dan ia menjadi dokter umum satu-satunya di pulau itu. Itu sebabnya Mirna tak pernah tega meninggalkan mereka, meski harus ditebus dengan kehilangan kekasih hatinya.

Sesekali ia berjalan ke pantai, terutama sehabis hujan, di sana dokter Mirna selalu memburu pelangi untuk dijadikan obyek hobi sampingannya, fotography. Pantai panjang berpasir putih, dengan debur ombak menggulung dan pelangi diujungnya adalah obyek yang sangat indah dan menarik hati. Entah mengapa selalu ada kerinduan dalam hatinya untuk menangkap obyek pelangi di ujung pantai itu, air matanya kadang menetes menghayati keindahan setiap warna itu. Di sana ada mejikuhibiniu, merah yang mengingatkannya pada keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, jingga sebagai romantisme, kuning bagi kedamaian, hijau untuk keselarasan, biru untuk imajinasi, nila untuk pemahaman dan ungu untuk kedewasaan. Filosofi hidup Mirna ada pada warna pelangi itu, sehingga ia sangat toleran pada perbedaan setiap orang yang ditemuinya.

Di ujung pelangi itu pula ada senyum ibundanya yang telah meninggal dunia karena kanker payudara bertepatan dengan ulang tahun Mirna yang ke-17. Kematian ibundanya merupakan kado ulang tahun yang sangat pedih, yang membuatnya bertekad untuk menjadi dokter. Bukan dengan tujuan untuk kaya raya, melainkan demi niat tulus hati mengobati mereka kaum margin yang membutuhkan. Ibunya dulu hanya minum jamu-jamu tradisional dan tak sanggup menjalanai perawatan medis karena faktor biaya, Sedangkan ayahnya hanyalah seorang marbot masjid dengan gaji tak seberapa yang telah menyusul ibundanya ke surga setelah mengalami gagal ginjal dua tahun lalu.

Beruntung Mirna mampu menyelesaikan pendidikan dokternya berkat beasiswa serta bekal tabungan ibunya semasa hidup yang sempat produktif dalam menjahit dan memiliki tabungan pendidikan buat Mirna, serta ayahnya yang selalu menyisihkan lima ratus ribu per bulan dari hasil gaji marbot dan guru mengaji di kampung. Mirna semasa kuliah juga tak malu menjajakan es lilin buatannya sendiri. Kini Mirna merasa harus membalas semua keberuntungan itu dengan pengabdian tanpa batas.

“Mba dokter…” seseorang memanggil dokter Mirna ketika ia sedang asyik memotret pelangi di ujung pantai. Dokter Mirna menoleh dan ternyata suara itu berasal dari seorang lelaki jangkung dengan ransel dan tustel di tangannya, berjalan menghampiri dirinya. Rupanya mereka sedang menangkap obyek yang sama. Mirna tak mengenal lelaki itu, ia menoleh sembari membetulkan slayer bergaris pelangi di kepalanya yang tertiup angin pantai, kenang-kenangan dari ibundanya pada ulang tahun Mirna yang ke -17. Kenangan terakhir.

“Maaf… mengganggu…, nama saya Hadi”, ujar lelaki itu sembari mengulurkan tangannya. Sebenarnya saya sering melihat dokter setiap hari minggu di pantai ini. Namun baru kali ini saya mencoba memberanikan diri untuk menyapa, tidak apa ‘kan mba dokter?”

Mirna tersenyum, “Tentu saja…kenapa harus takut menyapa saya? Apa saya menyeramkan?” tanya Mirna menyambut uluran tangan Hadi.

Hadi seorang reporter majalah kenamaan. Perkenalan dengan Hadi di pantai itu merupakan babak kehidupan baru bagi dokter Mirna. Terlebih mereka memiliki hobi yang sama sehingga timbul benih-benih asmara di antara kedua insan itu.

Tiga minggu setelah perkenalan dirasa cukup bagi Hadi untuk melamar Mirna, “Aku tak bisa mengikuti langkahmu setiap saat Hadi…” ujar dokter Mirna ketika Hadi memberikan cincin untuk melamar gadis berlesung pipi itu.

“Ya aku tahu, aku memang tidak selamanya di pulau ini. Minggu depan aku sudah harus ke luar negeri, minggu depan lagi mungkin aku ke Papua atau ke belahan lain di dunia ini. Tetapi di pulau ini aku telah menemukan pelangiku, jadi aku akan selalu kembali ke sini.”, ujar Hadi meyakinkan hati dokter Mirna.

Akhirnya Mirna mempercayai janji Hadi dan mereka menikah dengan iringan adat-istiadat serta doa penduduk setempat. Mereka memiliki anak yang diberi nama Halilintar. Anak yang tumbuh dan berkembang sedemikan aktif dan luar biasa, sehingga keaktifannya membuat Mirna dan Hadi merasa khawatir karena seringkali Halilintar menyerempet bahaya.

Semakin besar anak mereka, semakin nampak bahwa Halilintar memang sangat berbeda dari teman-teman sepantarannya yang beusia enam tahun. Anak itu berlari lebih cepat, memutar bagaikan gasing, memanjat apa pun yang bisa dipanjat, dan tak betah disuruh duduk diam barang lima detik.

Mirna dan Hadi merasa curiga pada perkembangan anak semata wayang mereka yang mengarah ke hiperaktif bahkan autis. Suatu kali pernah seorang tetangga marah-marah kepada Hadi dan Mirna karena Halilintar bermain-main korek api dan membakar kandang ayam miliknya. Hadi merasa sangat malu dan Mirna harus meminta maaf kepada tetangga itu dan memberikan uang ganti rugi,

“Anak kita kelainan!” begitu Hadi menyimpulkan.

“Jangan bilang begitu, anak kita memang berbeda, tetapi itu bukanlah suatu anomali. Aku bersyukur dititipi Halilintar oleh Yang Kuasa, semoga kau begitu juga!”, sahut Mirna.

“Tapi dia menyusahkan banyak orang!” tukas Hadi dengan nada marah. “Ya sudah silahkan didik anakmu baik-baik jika kau merasa sanggup mendidiknya! Aku akan meliput berita!” ujar Hadi sembari membereskan pakaian dan peralatan kameranya.

Mirna tak hendak membalas ucapan Hadi yang menyakitkan hatinya. Ia bertekad untuk menjaga anak titipan Tuhan itu dengan lebih baik lagi, dengan penuh cinta meski saat ini Hadi tidak menghargai upayanya. “Pelangi akan tetap pada warnanya, bukan untuk melebur, tetapi untuk saling melengkapi,” ucap Mirna dalam lubuk hatinya yang dalam menghadapi sikap suaminya itu.

Hadi pergi, berbulan-bulan tiada kembali, tanpa kabar berita. Mirna berusaha mencari informasi dari sahabat suaminya, serta kantor majalah tempat Hadi bekerja. Hanya dijawab, “Hadi sedang meliput berita besar dan mungkin memerlukan waktu yang lama untuk meliputnya.”

Dokter Mirna sedih namun tetap tabah dan selalu kuat bagi Halilintar. Dengan telaten ia mengajari anak lelakinya untuk berbicara dan berkonsentrasi. Sampai keluar kata-kata yang tertata dari mulut Halilintar, “Ayah mana, Bunda?”

 “Ayah sedang memotret pelangi dari negara lain, nak…”

 “Apakah pelangi negara lain itu lebih indah?”

“Tidak, semua pelangi sama indahnya!”

“Jadi kenapa tidak fotoin pelangi yang di pantai kita saja, Bunda?”

“Ya…Bunda yakin suatu saat ayahmu akan kembali. Kita akan berburu lagi pelangi yang sama!”

“Asyik!” seru Halilintar sambil memegangi foto ayahnya.

Dokter Mirna kembali menerima pasien, mengobati mereka dengan tulus sekaligus menjaga dan mengawasi Halilintar yang masih hobi berlari berputar-putar seperti gasing. Nikmat bahagia baginya adalah melihat pasiennya sembuh dari sakit dan anaknya tumbuh menjadi anak yang ceria. Ia juga selalu mendoakan suaminya agar kembali menangkap pelangi yang sama, supaya lelaki itu sadar bahwa Halillintar adalah pelengkap keutuhan pelangi yang selama ini mereka cari.

***


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Yang menarik dari cerpen ini adalah ‘nada’ yang terkandung di dalamnya. Ditulis dengan alur yang runut, bahasa yang mengalir lancar, inspirator Shanti Agustiani sesungguhnya mengangkat banyak kegetiran yang terjadi dalam hidup Mirna. Pun demikian, Shanti membungkus optimisme Mirna dalam gaya yang sederhana dan seperlunya sehingga tulisan terkesan alamiah, apa adanya, tidak menggurui.

    Berbagai masalah dan kehilangan dalam kehidupan Mirna adalah proses kehidupan anak manusia yang bisa terjadi pada siapa saja. Pencakupan latar dan dialog yang pas menjadikan tulisan ini mengesankan dengan caranya sendiri. Jempol buat Shanti!

    • Lihat 1 Respon

  • Titiek Setyani
    Titiek Setyani
    11 bulan yang lalu.
    that's great. Teach me be better as you

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Syukur Alhamdulillah...

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Terimakasih buat teman2 yg selalu menginspirasi shg saya berusaha memperkaya tulisan2 saya di inspirasi.co.

  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Nice Tulisannyaaaaa .... Professional Story Writter's

    • Lihat 1 Respon