Pangeran bukan Pangeran

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Oktober 2016
Pangeran bukan Pangeran

Pangeran bukan Pangeran



Puteri Raja yang satu ini memang tidak mau sembarangan menerima pinangan orang. Maduloka namanya, ia adalah puteri bungsu kerajaan “Jayalah” yang paling mandiri karena mampu menghasilkan uang dengan usaha dagangnya sendiri, tidak bergantung pada kekayaan kerajaan ayahnya.


Kau tahu bukan? Kelapa sawit itu bisa dijadikan produk minyak goreng, pelumas, mentega, pomade, cream kulit dan masih banyak lagi produk turunan kelapa sawit yang tidak bisa disebutkan satu per satu di sini. Dan semua produk itu disuplai dari kebun kelapa sawit milik sang puteri.


Suatu hari datang pangeran dari Barat Laut yang datang mengendarai kuda putih bersama dua pengawalnya tak sengaja bertemu sang puteri di perkebunan kelapa sawit. Mereka berkenalan dan nampak sekali bahwa pangeran itu terpesona dengan kecantikan Maduloka.


“Anda cantik sekali, apa kebun sawit ini milik ayah anda?”


“Bukan…ini milikku sendiri!


“Ohh jadi kebun sawit ini milik Tuan Puteri? Hebat…Saya juga memiliki usaha yang besar di barat laut sana berupa kilang minyak yang tak habis-habisnya. Emmm …barangkali Tuan Puteri berkenan, menikahlah dengan saya sehingga kita bisa menyatukan harta kekayaan kita berdua, dan kita akan menguasai dunia!” ujar pangeran yang bernama Samudra itu.


“Apa?” Putri Maduloka terbelalak, pikirnya kurang asem juga nih pangeran, baru kenalan sudah ngajak nikah. Apalagi dia berpikiran bahwa Maduloka setipe kaum kapitalis yang suka menjajah dunia.


“Hmm…begini ya Pangeran Samudra, meskipun engkau tampan dan kaya, tidak menjamin Maduloka mau menikah denganmu…kecuali…”


“Kecuali apa Tuan putri?”


“Kecuali kau pinjamkan kuda ini sebentar kepadaku, dan kuda ini memberitahukan kebaikanmu padaku, mungkin aku setuju…”


“Silahkan, bahkan jika kita jadi menikah, biarlah kuda kesayanganku ini jadi milikmu, Tuan Puteri!”


“Asyikkk, ayo kuda putih yang tampan, kita jalan-jalan sebentar!’


Putri Maduloka segera menaiki kuda dengan tangkasnya, sementara pangeran dan pengawalnya menggelar tikar sembari makan bekal mereka dan menunggui Putri Maduloka berkuda.


Sementara itu, di perjalanan, sang putri kelelahan dan mengajak sang kuda turun ke danau untuk minum air. Ketika kuda putih itu mendekati air danau, yang nampak pada pantulan air bukanlah seokor kuda, melainkan seraut wajah putih bule yang tampan, mirip Keanu Reeves. Putri terbelalak melihat pantulan air itu, ia berseru, “Eh…wajahmu kuda... kok di air mirip Keanu Reeves! Jangan-jangan…kamu kuda jelmaan ya?” Lalu puteri ingat cerita pangeran katak, diciumnya pipi kuda putih itu dengan lembut. Tiba-tiba segumpal asap putih menyelimuti kuda itu dan menyusut mengubah bentuk sang kuda putih menjadi seseok pria tampan persis wajah lelaki di pantulan air danau tadi. Maduloka kaget dan hampir jatuh sempoyongan.


Dengan sigap lelaki di hadapannya memegangi tubuh sang puteri lalu memapah gadis itu duduk di sebuah batu yang landai.


“Aku adalah pangeran Samudra Reeves yang sebenarnya, lelaki tadi hanyalah pengawalku yang memanfaatkan ilmu sihir.


“Apa kau juga mau menguasai dunia seperti dia?”


“Tidak, aku malah mau menyisihkan hartaku untuk fakir miskin dan anak terlantar...”


“Itu bagus Keanu…eh Pangeran Samudra, aku terpesona, aku mau menikah denganmu...”


“Tapi aku belum melamar!”


“Sekarang jaman emansipasi, tak masalah perempuan melamar lebih dulu!”


Akhirnya pengawal yang menyamar sebagai pangeran itu ditangkap dengan mudah ketika tertidur akibat kekenyangan dan kelamaan menunggui Puteri Maduloka di kebun sawit. Sedangkan pangeran dan puteri menikah dan berbagi kebahagiaan dengan kaum papa, selamanya!

 

****

  • view 274