Gadis Naik Bujang (part 13) - Ini Inggris, Meridian!

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Gadis Naik Bujang (part 13) -  Ini Inggris, Meridian!

Ini Inggris, Meridian!

 Karya : Shanti Agustiani

Perahu kecil itu kembali dikayuh Meridian dengan penuh semangat, dari kejauhan ia membaca ‘Portland Harbour’ di dermaga asing itu. “Ohhh benar ini Inggris!” serunya kegirangan. Sesampainya di dermaga, ia bertemu seorang wanita asing yang baru turun dari sebuah kapal pesiar mewah. Meridian memberanikan diri mengajaknya bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Ia menanyakan bagaimana ia dapat menukar permatanya dengan mata uang pound sterling, Meri hendak menjual permatanya supaya bisa memiliki uang saku. Wanita itu menawarkan diri untuk memeriksa permata Meri dan akhirnya ia sendirilah yang memutuskan membeli permata itu. Meridian tak menghitung seberapa pound yang diperolehnya yang penting ia punya uang saku sekarang. Dan ia percaya bahwa pembeli asing itu tidak menipunya, bahkan wanita yang memperkenalkan diri sebagai staf kerajaan Inggris itu mengantarnya ke sebuah masjid di kota London ketika Meridan menanyakan masjid.

“Ada 1500 masjid di Inggris dan 420 berada di London, kau ingin diantar ke masjid yang mana?”, tanya Nyonya Marianne, pembeli permata hijaunya.

“Aku ingin yang ke masjid terindah di kota ini, jika kau tak keberatan Nyonya...”, jawab Meridian dengan hati gembira.

“Hmmm baiklah aku akan mengantarmu ke London Central Mosque!”, Nyonya Marianne membukakan pintu mobil sedan putihnya untuk Meridian. Mereka menyusuri jalan raya kota London yang padat, penuh bangunan pencakar langit yang lebih banyak daripada kota Asa. Meridian yang masih lelah dari perjalananya yang panjang dan bergelombang, tertidur di dalam mobil Nyonya Marianne dan nyonya itu membiarkan gadis itu beristirahat. Ia memahami kelelahan Meridian. Terlebih lagi, meski dengan setengah tak percaya, Meri telah menceritakan padanya tentang perjalanan ajaibnya yang hanya dilakukan sendirian dengan menggunakan perahu motor kecil.

“Nak...bangunlah kita hampir sampai!” sekitar satu setengah jam mereka sampai ke Masjid Raya London. Meridian terbangun dan melihat kubah bulat berwarna kuning keemasan yang menonjol di antara gedung-gedung di sekitarnya.  Hatinya bersorak gembira dan mencium tangan Nyonya Marianne sebagai tanda terima kasih, “Nyonya terima kasih Anda sudah mengantarkan Meridian ke sini!”

“Baiklah gadis manis, selamat menemukan tempat ibadahmu! Semoga keberuntungan selalu bersamamu!” ujar Nyonya Marianne sembari meninggalkan Meri sendirian di halaman masjid raya.

Meri kini merasa sangat lapar, bekalnya telah habis, sehingga ia memutuskan untuk ke kantin yang ada di sebelah masjid itu. Ia ingin membeli makanan, barangkali sepotong burger dapat membuatnya kenyang.  Maka ia membeli burger itu, baru beberapa gigitan si pedagang memeriksa pound sterling yang diberikan Meridian dengan alat pendeteksi. Penjual itu berteriak marah padanya, “Hei kamu, anak gelandangan kumal, jangan coba-coba menipu ya... kamu membayar saya dengan uang palsu!”

“Ta...tapi...saya tidak bermaksud begitu... uang itu dari Nyonya Marianne!”, sahut Meridian tergagap.

“Ini uang palsu saya sudah memeriksanya pada alat pendeteksi ini, kau bisa dipenjara jika mengedarkan uang palsu!” Penjual burger itu terlihat sangat marah dan bersiap-siap memukul Meridan dengan sepotong kayu.

“Bukan saya bukan pengedar uang palsu Tuan, saya sendiri rupanya sudah tertipu nyonya Marianne...ia membeli permata saya dengan seikat pound sterling, saya kira itu asli...” , Meridian mulai merasa takut dan sedih, matanya berpendar ke sekeliling mencari-cari pertolongan, tetapi orang-orang hanya lalu-lalang tanpa bertanya apa pun pada Meridian.

“Permata...permata apa?” tanya si penjual burger menyelidik.

“Ya...aku datang dari negeri yang sangat jauh, bekalku hanya beberapa potong roti dan permata untuk kutukar dengan uang mata uang di sini. Tetapi sayang sekali...aku kira nyonya itu sudah berbaik hati padaku, tapi ternyata ia mencurangiku!”, Meridian merunduk sedih dan terisak.

“Hmmm baiklah, kau kuampuni. Tetapi kau harus bekerja mencuci semua peralatan makan ini sebagai ganti burger yang  kau makan!”

“Ya Tuan... saya bersedia,” ujar Meridian sembari mengusap air matanya dan memunguti gelas-gelas kotor serta piring-piring kecil yang bertumpuk di atas meja.

Ketika Meridian sedang asyik mencuci, ia tak melihat penjual burger itu memeriksa ranselnya dan menemukan setumpuk uang pound sterling palsu serta sebuah permata merah delima! “Hmmm, ini yang ini sepertinya asli...” ujar lelaki penjual burger itu dalam hati lantas disimpannya permata merah delima itu ke dalam saku celananya. Usai Meridian mengerjakan tugasnya, Meridian meminta maaf sekali lagi dan berterima kasih kepada lelaki itu yang disambut dengan anggukan dingin, “Awas kau macam-macam lagi ya... Jika kau nakal lagi akan kulaporkan kasus uang palsu ini ke polisi!”

Meridian menangguk dan berkata, “Aku berjanji akan lebih berhati-hati dan tidak tertipu orang lain lagi atau pun tak sengaja menipu orang lain!” ujarnya sambil tersenyum. Lalu berlari menuju masjid raya London yang sangat megah.

Di dalam masjid Meri mengikuti ibadah sholat berjamaah, kala itu tengah hari dan itu adalah sholat Djuhur pertama yang dilakukan Meridian. Usai sholat Meridian berdoa, “Ya Allah... Sejauh ini aku berlayar, sudah banyak ombak mendera dan telah pula angin dan badai mempermainkan perahu kecilku, tetapi selalu datang pertolongan bertubi-tubi untukku hingga aku selamat hingga saat ini atas kuasa-Mu.... Bahkan meski aku sempat tertipu di kota ini, aku bersyukur atas semua pengalaman indah ini!”  Meridian terharu. ”Ternyata Engkau sungguh baik kepadaku!”, ucapnya lagi dalam doa yang lirih.

Dengan tangan gemetaran, Meridian mulai membuka Al Qur’an yang tersedia di masjid itu, tetapi ia tak dapat membaca tulisan arab sehingga hanya membolak-balik kitab suci itu, lalu datanglah seorang perempuan berjubah menyapanya, ”Kemarilah Nak... kau baru belajar Islam?”, tanyanya lembut dalam bahasa Inggris.

”Ya.., aku tak tahu bagaimana membaca kitab suci ini, "  ujar Meridan menjelaskan. Ia melihat dengan seksama perempuan tua berjubah yang menghampirinya dengan ramah. Suara perempuan itu seperti sudah lama dikenalinya begitu pula wajahnya seperti tak asing bagi Meri, sangat mirip nenek Sumi! Hanya saja hidungnya lebih lancip dan kulitnya lebih terang.

“Baiklah, kau perlu membaca terjemahannya lebih dulu!” ujar nenek itu sembari memberikan kitab terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Inggris. Beruntung Meridian sudah menguasai bahasa asing itu sehingga ia dengan mudah memahami kalimat demi kalimat dari kitab suci itu.  Lalu nenek itu kembali bertanya, “Apakah kamu baru masuk Islam?”

“Mmm... kurasa iya... aku memilih Islam sebagai agama baruku!”

“Kalau begitu bacalah kalimat syahadat!”Nenek berjubah hitam itu membimbing Meridian untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu an-laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Meridian sangat lega setelah mengucapkan dua kalimat syahadat demikan pula nenek berjubah hitam itu. Semakin lama Meri mengamati bahwa perempuan tua itu memang mirip dengan nenek Sumi, apalagi ketika ia tersenyum lebar dan memperlihatkan gigi ompongnya. “Namaku Sumayah, siapa namamau nak? “tanyanya

“Ohh... namaku Meridian.... aku datang dari negeri yang sangat jauh....”, sahut Meridan. Entah mengapa ia seperti melihat nenek Sumi di hadapannya. “Aku akan melanjutkan perjalanan ke Greenwich, bisakah Anda menolongku?”

“Baiklah... aku akan mengantarmu ke sana  setelah kita makan. Kita akan naik kereta ke sana. Kebetulan cucuku tinggal di sana dan kau akan kusekolahkan bersama cucuku. Apakah kau punya ijazah?” Meridian mengangguk, ia semakin yakin bahwa nenek Sumayah memang jelmaan nenek Sumi dengan segala respon cepatnya itu.

“Aku memiliki ijazah Sekolah Menengah Lintas Budaya, namun uang sakuku hanyalah berupa permata yang tinggal sebuah, permata merah delima.” Meridian merogoh ranselnya untuk memperlihatkan ijazah dan permata miliknya. Namun tiba-tiba wajahnya pucat karena permata merah delima sudah raib entah ke mana. Lalu ia ingat pada penjual burger yang memarahinya tadi, jangan-jangan....”Nek...permataku hilang, aku kira aku tahu siapa pencurinya!”

“Permatamu hilang? Siapa pencurinya nak?”

Meridian bergegas ke luar masjid, menuju area parkiran dan mencari-cari penjual burger itu, nenek Sumayah mengikutinya. Tetapi Meri sudah tak menemukan batang hidung lelaki itu lagi, hilang bersama tenda, meja dan kursi plastiknya.

“Tadi ada di sini nek...lelaki penjual burger itu..."

“Sudahlah... dia sudah pergi dan melarikan diri bersama tendanya!” ujar nenek Sumayah.

Meridian terduduk lemas, “Habis sudah...aku tak punya apa-apa lagi!”, keluhnya dengan wajah muram. Lalu Meri menceritakan kejadian berturut-turut yang dialaminya seharian .

“Kau masih punya Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa.... jangan bersedih, akan ada gantinya bagi jiwa yang bersabar. Akan ada ganjaran pahit bagi mereka yang telah menipu dan menyakiti hati sesama manusia!”

“Tapi aku tak punya apa-apa lagi untuk makan... apalagi sekolah...” , sahut Meridan.

“Rejeki Allah akan ada di mana-mana, kini kau bersamaku, aku yang akan menjamin biaya hidup dan sekolah lanjutanmu!”

“Sekali lagi aku menyusahkan orang lain... dulu aku dibiayai nenek Sumi dan sekarang oleh Anda... nenek Sumayah...”

“Jangan ragu dan jangan merasa menjadi beban wahai gadis manis, kau berada pada orang yang tepat. Allah menunjukkan jalanmu bersama bimbinganku!” ujar nenek Sumayah tersenyum dan memeluk Meridian.

Meridian mulai tersenyum dan merasa cepat akrab dengan nenek pembimbing syahadatnya itu. Hatinya terasa hangat dan nyaman berada di dekat nenek Sumayah seperti berada di dekat nenek Sumi. Ia memang harus percaya pada orang yang menunjukkan kebenaran dan kebaikan padanya. Kini siklus percaya dalam situasi penuh resiko itu kembali berulang dalam kehidupan dan pendewasaan dirinya. Meskipun dalam perjalanannya kali ini ia telah tertipu dua orang asing, tetapi tak menghalanginya untuk percaya kepada nenek Sumayah yang telah mengislamkan dirinya.

Didalam kereta menuju Greenwich, Meridian penasaran dengan uang palsu yang diterimanya, lalu uang itu diserahkan kepada nenek Sumayah, dan nenek meneliti uang itu dengan kacamata bacanya, “ Yaa…ini semua palsu. Masih ada lagi?” tanya nenek Sumayah.

“Meridian merogoh dompet kecil di dalam tasnya dan menemukan satu gulungan uang kertas pound sterling lagi dalam dompet itu beserta sebuah surat! Meri membuka dan membaca surat itu. Tenyata surat dari Nyonya Marianne, bunyinya, “Meridian sayang, maafkan aku menipumu dengan uang palsu tetapi uang di dalam dompet kecil ini adalah asli. 500 pound sterling asli untukmu, kukira cukup untuk beberapa bulan hidup di Inggris. Jika kau masih menagih, percayalah aku akan bayar permatamu dengan mencicil. Asalkan kau tak lapor polisi!”

Nenek Sumayah juga ikut membaca surat itu dan berguman, “Penipu yang masih mencoba berbaik hati!”

“Iya ya nek…ini sungguh aneh, Meri tak mengerti apakah harus marah atau merasa beruntung karena penipu itu menyisakan uang asli ini!”

”Begituah manusia, mencoba membersihkan diri dengan kebaikan yang setengah-setengah. Setengah baik setengah buruk, Sesungguhnya, jika ia tahu bahwa perbuatan menipu itu buruk, maka kebaikan yang separuh lagi itu hangus, tak perlu dihargai!” ucap nenek Sumayah dengan nada marah.

“Robin Hood itu baik nek, membagikan uang kepada fakir miskin, hanya caranya salah, dengan merampok harta orang lain!” celetuk Meridian teringat pada buku cerita yang pernah dibacanya di perpustakaan.

“Itu tetap tak baik!”, hardik nenek Sumayah membuat hati Meri sedikit kaget, lalu nenek Sumayah menjelaskan, “Kebaikan itu adalah totalitas mulai dari niat, sikap dan cara melakukaannya. Kebaikan itu bernilai pada prosesnya!” ujarnya lagi, “Apa kau mengerti Meridian?”

“InshaaAllah Meridan mengerti, Nek!” sahut Meridian sembari berpikir keras mengenai kata-kata nenek Sumayah barusan. Ini adalah pelajaran moralitas pertama yang diterimanya dari seorang nenek di Inggris.

Kereta mereka semakin laju menembus keramaian kota dan melintasi sungai-sungai di Inggris yang sangat indah. Meridian bertekad suatu saat nanti ia akan mengajak nenek Sumi, mamak, abah, Milana, dan juga Badu ke sini, menyusuri sungai Thames sambil melihat gedung-gedung dengan arsitek kuno campur modern khas Inggris. Keretanya telah hampir sampai ke titik temu Meridian, Greenwich yang sangat elegan, titik nol derajat meridian!

Meridian akan menempuh pendidikan di Greenwich dan juga belajar lebih banyak tentang Islam sebagai agama yang baru saja dianutnya. Ia berjanji dalam hati, agama yang dianutnya tidak akan membuatnya menjauh dari sahabat-sahabatnya yang berbeda agama. Ilmu yang diraihnya akan digunakan untuk kebaikan dunia. Semoga Tuhan meridhai niatnya.  

Mengenai orang jahat dan orang baik.  Mereka orang-orang jahat itu mungkin berada di sekitarmu sehingga kau bisa tertipu dan tersakiti seperti yang dialami Meridian. Tetapi orang baik akan selalu baik, tak terpengaruh pada kejahatan yang orang lain lakukan padanya. Dan kebaikan itu harus total, bernilai baik pada prosesnya seperti yang dijelaskan oleh nenek Sumayah.

Seseorang yang kebaikannya total pun perlu lebih berhati-hati dan tidak begitu saja percaya pada orang yang baru dikenalnya. Hati dan logika yang terasah akan mampu membedakan antara yang tulus dan yang modus. Kamu juga kan?! Selamat menjadi dewasa, para gadis naik bujang!

***

  • view 254