Gadis Naik Bujang (part 12) - Cinta dan Gelombang

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Gadis Naik Bujang (part 12) -  Cinta dan Gelombang

Cinta dan Gelombang

 

 Karya : Shanti Agustiani

 

Perahu Meridian, berkejaran dengan ombak yang kadang lebih besar daripada perahunya. Namun Meri selalu ingat akan sumber kekuasaan tertinggi, meski sampai kini ia belum memantapkan hati untuk memilih agama yang diyakininya akan membawa keselamatan dunia-akhirat.  Meridian dari gadis suku pedalaman yang tadinya hanya meyakini Ratu Ode sebagai penguasa tertinggi. Ketika ia mulai memberanikan diri keluar dari kampungnya dan kini pun ia ke luar negeri dengan perahu kecilnya, ia mempercayai bahwa ada sumber kekuatan terbesar yang lebih besar dari kekuasaan Ratu Ode. Meri teringat suara ngaji nenek Sumi di malam hari saat ia mengalami insomnia, dan menjadi terlelap usai mendengar suara yang menyejukkan hati itu. Ia juga teringat Milana yang rajin ke gereja dan menyanyikan kidung-kidung pujian yang sangat indah. I Gede Badu Oka yang pada hari Raya Nyepi mengajaknya ke pura yang sangat megah dengan aneka sesaji yang terlihat lezat dan tertata apik, Ia pun terpesona dengan Meilan yang identik dengan baju merah dan angpao keberuntungannya itu. Semuanya indah dan bisa jadi semuanya benar dan lurus.  Tetapi untuk sebuah iman perlu keterlibatan hati yang percaya. Meridian mengambil tasbih dari nenek Sumi dan mulai membaca kalimat-kalimat  tauhid yang biasa diucapkan nenek Sumi untuk menenangkan diri: Allahu Akbar....Allahu Akbar.... Allahu Akbar....

Terkadang terbersit keraguan dari dalam hatinya, “Apa aku akan sampai ke Grencwich hanya dengan perahu kecil ini?” ujarnya dalam hati.  Namun akhirnya Meridian pasrah dan menjadi tenang dengan mengucapkan kalimat tauhid.

Saat Meridian kelelahan mengemudi, dimatikannya mesin motor dan dibiarkannya perahunya terombang-ambing ombak lautan sedangkan ia sendiri tertidur pulas. Ketika terbangun Meridian kaget,  tiba-tiba nampak olehnya sekawanan burung-burung yang datang membawakan remah-remah roti serta air yang mereka bawa dari hutan dengan paruh mereka. Air itu diteteskan ke dalam galon air Meridian yang tinggal separuh.

“Hei kalian semua datang, terima kasih kawan!” ujar Meridian gembira dengan kedatangan kawanan burung itu. “Apakah kalian akan menemani perjalananku?” Burung-burung itu menggeleng, salah satu burung pemimpin yakni burung elang dapat berbicara dalam bahasa manusia dan berkata kepada Meridian, “Maafkan kami, sayap kami tak sanggup menempuh perjalanan tanpa istirahat, kami harus selalu mampir ke daratan untuk mencari makan dan minum.”

“Tak apa kawan, kalian sudah sangat membantu dan menghibur hatiku. Pulanglah ke hutan, aku akan baik-baik saja!” kata Meridian tersenyum meyakinkan kawanan burung itu. Lalu mereka semua berbalik pulang.

Biru, biru dan biru, keheningan yang biru tak membuat Meridian kesepian. Ia senantiasa menirukan kalimat-kalimat tauhid yang sering diucapkan nenek Sumi sembari menandai satu per satu biji tasbih yang terbuat dari kayu cendana yang harum semerbak itu. Kadang-kadang Meridian melihat wajah orang-orang yang dicintainya pada laut yang sangat luas itu, bahkan nampak olehnya bayangan wajah Badu yang berlari membawa seikat bunga Edelweis .

“Darimana kamu Badu?” tanya Meri setengah tertidur di perahunya.

“Aku berlari ke gunung dan sekarang aku berlari menyeberangi lautan untuk mengejarmu, terimalah persembahanku Tuan Puteri!”

“Aku bukan Tuan Puteri!”

“Tapi aku melihat tanda bahwa kau puteri yang telah berjodoh denganku!”

“Ngawur kamu Badu, kamu lagi main drama ya?”

Badu memerah wajahnya lalu berlari lagi, lelaki jangkung itu melemparkan edelweiss dari tangannya yang jatuh ke wajah Meridian. Meridian bersin-bersin, seketika gadis itu terbangun dari mimpinya. Ia mengusap-usap wajahnya yang terkena percikan ombak di lautan yang semakin lama semakin membesar, membuat perahunya mulai terayun-ayun ke kiri dan ke kanan, bahkan hampir oleng dan terbalik.

“Badu….Badu…jangan lari…tolongin Meri!” Meridian berteriak sampai tersadar bawa ia hanya sendirian di tengah lautan yang bergolak itu. Namun tiba-tiba perahunya terangkat sedemikian tingginya, sehingga Meri berpegangan erat pada perahunya dan memejamkan mata sambil berdoa, “Ya Tuhan... tolonglah aku...jangan biarkan titik nolku habis di tengah lautan ini!”. Perahunya tetap di atas dalam beberapa saat.  Hingga akhirnya Meridian memberanikan diri membuka mata dan melihat di sekeliling perahunya. Ternyata  perahu itu telah berada di atas bahu badan ikan paus raksasa! Pelan-pelan paus itu menurunkan perahu Meridian ketika badai sudah mulai reda. Meridian merasa takjub dan berterimakasih, “Ikan paus raksasa... engkau pasti perpanjangan pertolongan Tuhan buat Meri... terima kasih!”

Ikan paus itu seperti mengangguk dan tersenyum kepada Meridian, lalu ikan paus raksasa itu membuka mulutnya lebar-lebar.

“Apakah kau butuh makanan? Maaf aku hanya punya sepotong roti”, ujar Meridian mengambil sisa bekalnya.

Ikan paus itu menggeleng, ia tidak mau makan roti. Meridian pun heran kenapa ikan paus itu membuka mulutnya dan mata ikan paus itu seperti berlinang air mata menahan suatu beban kepedihan. Meridian memberanikan diri melihat ke dalam mulut ikan paus itu dan ternyata banyak sampah lautan berupa plastik dan ban bekas tersangkut di kerongkongan ikan paus itu. Meridian lalu nekad masuk ke dalam  mulut ikan paus dan mulai mengambil satu per satu sampah plastik dan ban bekas itu. Ia bersihkan mulut ikan paus dengan seksama tanpa rasa jijik dan takut. Ia mendapati gigi ikan paus yang patah, lalu ia bersihkan sisa patahan itu dan menggantinya dengan salah satu permata biru bekal dari Ratu Ode.  Gigi baru yang berharga itu ia tanamkan dengan menekannya dalam-dalam ke gusi ikan paus yang telah ompong.

Rupanya ikan paus itu merasa sedikit sakit dan mengatupkan mulutnya sebelum Meridian sempat keluar dari mulut ikan paus. Meri bahkan tertekan jauh ke dalam kerongkongan ikan paus hingga melesat ke dalam perut sang ikan raksasa.”Hei-hei...apa-apan ini...ayo keluarkan aku!” seru Meridian dari dalam perut ikan paus tetapi  ikan itu tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Jadi Meridian pasrah berdiam di dalam perut ikan paus itu sambil menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Lelah menunggu, Meridian tertidur di dalam perut ikan paus itu, entah berapa hari ia tidur atau pun pingsan. Di dalam tidurnya ia kembali bertemu Badu. Meridian tak mau kehilangan kesempatan ke dua itu, digenggamnya seikat bunga edelweiss persembahan Badu seraya menghampiri lelaki itu yang sedang duduk terpekur dalam lamunan.

“Badu…terima kasih bunganya, Meri suka!”

“Hmmm…katanya tadi kamu bukan puteri..”

“Iya…aku memang bukan puteri, tetapi seorang perempuan biasa seperti aku bukan tidak membutuhkan bunga yang diraih dengan perjuangan seperti ini…”

“Eh…begitu ya?” Badu mulai menoleh dan tersenyum dengan sangat lebar, nampak cahaya di antara giginya yang putih, dan cahaya itu semakin mendekati pipi Meridian yang bersemu merah. Ups…pipi Meridian tiba-tiba merasa panas-dingin, jantungnya berdebar-debar, gigi dan bibir bercahaya itu semakin mendekati pipi Meri yang terdiam mematung, mungkinkah ia jatuh cinta pada Badu? Ups cinta pertama Meridian terlukis dalam hati…dalam mimpi…dalam perut ikan paus! Jadi, jatuh cinta yang macam apa ini?

Meridian silau dengan cahaya yang semakin terang, gadis itu menggeliat dan mulai membuka mata, ternyata bersumber dari sinar matahari dari luar sana. Mulut ikan paus itu mulai terbuka lebar dan menampakkan sebuah dermaga asing yang membuat hati Meridian berbunga-bunga. Ternyata ikan paus raksasa tidak lupa membawa perahu Meri dengan menambatkan tali jangkar ke tubuhnya, sehingga ketika ikan itu berenang perahu Meridan selalu dibawa. Meridan keluar dari mulut ikan paus dan kembali menaiki perahunya.

“Badu, kalau kau berani, kejar aku ke sini!” seru Meridian dengan hati yang masih berbunga-bunga.

 

***

  • view 218