Lautan Rindu

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Lautan Rindu

Lautan Rindu

Karya : Shanti Agustiani

 

Laut selalu membuat Dinar ingin kembali dan kembali bermain di pantai. Bukan indahnya lagi yang menawan hati Dinar, bukan pula karena teman-temannya mengajak mencari siput kecil untuk dijadikan mainan. Atau pun karena penantian panen tenggiri oleh nelayan di pinggir pantai. Tetapi karena di garis pantai itu ada perpisahan yang belum tuntas diucapkan. Ada pesan yang terbawa gelombang sehingga Dinar ingin menuntaskan pesan itu agar hidupnya tak dihantui oleh sebuah tanda tanya besar semenjak bapak berlayar sebulan lalu dan tak pernah kembali lagi sehingga kini.

Ya kala itu bapak pergi melaut seperti biasa, berpamitan pada mamak dan berjalan beriringan dengan Dinar yang akan menuju sekolah SD Inpres-nya. Mereka berpisah pada simpang jalan yang menuju pantai dan hutan pesisir pantai.

“Nak, Bapak berangkat... jaga dirimu baik-baik ya... dan jagalah mamakmu juga!” Bapak berpamitan namun Dinar merasa aneh mengapa bapak berpamitan dengan kalimat sepanjang itu, biasanya beliau hanya bilang, “Nak Bapak berangkat!”

Pulang sekolah Dinar merasa lebih aneh lagi karena mendung hari itu kelihatan lebih berat daripada biasanya, hujan seperti hendak runtuh tumpah ruah dari atas langit, pastilah badai sangat besar di lautan sana. Membuat perasaan Dinar makin tak karuan hari itu. Di tengoknya kamar mamak, ternyata beliau sedang khusuk memanjatkan doa usai sholat Djuhur. Dinar menyusul mengambil air wudhu dan sholat di samping mamak. Lalu lamat-lamat dipanjatkannya do’a untuk keselamatan bapaknya, “Ya Allah tolong jaga Bapakku,...jangan biarkan ia nekad mencari tenggiri untukku di antara badai dan hujan. Katakan padanya aku bisa makan tempe hari ini!”

Satu bulan berlalu, dan bapak tak kunjung pulang, perahunya raib, juga rekan seperahunya. Mereka tak ada yang kembali meskipun hanya berupa jasad.

Semenjak itu Dinar selalu bilang kepada mamak akan menyusul bapak ke lautan dan permintaannya itu baru diiyakan setelah Dinar tamat SMP beberapa tahun kemudian. Itu pun dengan berbagai syarat, “Baiklah nak...tapi Mamak mohon...perhatikanlah cuaca. Jika cuaca kira-kira buruk jangan sekali-kali kau turunkan perahumu. Jangan biarkan mamak sendirian menunggumu di gubug ini, cuma kamu satu-satunya harapan hidup Mamak.”

Dinar mengangguk dan memeluk mamak dengan kasih sayang, “Aku janji Mak... aku akan menjaga Mamak selamanya!”

Maka melautlah Dinar, sendirian. Ia sengaja tak mengajak teman karena matanya hanya menyapu lautan bukan untuk mencari ikan. Dinar mencari jejak-jejak bapaknya yang belum ditemukan sampai sekarang, siapa tahu ia bisa bertemu sekedar kaus oblong, sarung kotak-kotak biru, atau sandal jepit swallow yang selalu dikenakan bapak saat melaut. Namun sejauh mata memandang hanya ada lautan biru yang semakin melukiskan rasa rindu yang terpendam.

Sementara semakin lama perahunya semakin jauh sehingga Dinar kesulitan menemukan arah yang pasti untuk dapat kembali. Di hilir ia malah menemukan pusaran air dan karena rasa penasarannya, Dinar mendekati pusaran air itu, namun tiba-tiba perahunya tak terkendali dan terbawa arus pusaran air yang semakin lama semakin membuat perahunya berputar-putar tak karuan hingga tubuhnya terpental jatuh ke dasar lautan. Arus itu terus menyeretnya ke dalam gua bawah tanah yang kedap air. Dinar terbatuk dan memuntahkan air yang sempat ditelannya. Antara sadar dan tak sadar ia menemukan anak tangga di dalam gua itu yang diikutinya dengan langkah tertatih-tatih. Sampai di puncak tangga ia merasakan sumber cahaya dari atas sana yang ternyata merupakan pulau yang sangat indah, negeri khayalan yang benar-benar nyata!

Dinar terperangah, sayup-sayup ia mendengar suara gendang ditabuh dengan irama yang rancak. Dinar mengikuti sumber suara itu, dari balik semak-semak, akhirnya ia bisa melihat manusia-manusia dengan pakaian terbuat dari daun dan rerumputan. Mereka asyik menari dengan gembira sembari mengelilingi hasil panen ikan mereka yang dibakar satu per satu di perapian.

Sebuah panggung penonton kelas utama menarik perhatian Dinar, karena pada barisan tempat duduk paling depan nampak lelaki yang dikenalinya, yang sangat mirip dengan bapaknya. Dinar yang sangat rindu pada bapak segera menghambur mendekati panggung itu namun dicegat oleh dua orang lelaki bersenjata tombak bambu. Para pengawal itu mencegah Dinar mendekati panggung dengan bahasa yang aneh, “Hujak Kumilooo!”

Dinar memberontak dan berteriak keras agar didengar lelaki di panggung penonton itu, “Bapaak....ini Dinar anakmu..!” serunya keras hingga semua orang menatap ke arahnya.

Lelaki yang disebut bapak oleh Dinar itu pun menoleh dan beranjak turun dari panggung penonton untuk mendatangi Dinar.

“Bapak...ini Dinar Pak...Bapak masih ingat Dinar ‘kan?” tanyanya dengan penuh harap.

Tetapi lelaki itu seolah tak mengerti perkatan Dinar, “Hujakumsiennnerdisin btumrutuktu sudruuuu!” sahutnya dengan bahasa yang tak dipahami Dinar. Sehingga anak remaja tanggung itu kebingungan dengan apa yang terjadi atas diri bapaknya. Ia yakin benar lelaki itu memang bapak kandungnya yang telah dirindukannya bertahun-tahun silam. Apalagi setelah melihat dengan jelas tanda tompel di dahinya yang sangat lebar. Tetapi selama tiga hari tiga malam Dinar berusaha menjelaskan dan meyakinkan bapaknya, tetap saja lelaki setengah baya itu tidak mengerti dan menjawabnya dengan bahasa antah berantah seperti itu.

Usaha Dinar sudah cukup untuk mencoba berkomunikasi. Meskipun Dinar diperlakukan dengan baik, setiap hari diberi makan ikan tenggiri bakar, tetap saja ia merasa usahanya sia-sia. Bapak itu kini telah memiliki keluarga baru. Ia memiliki istri dan dua orang anak yang masih kecil-kecil yang mungkin itu adalah saudara se-ayah Dinar.

Kini ia telah lelah membujuk atau mencoba menjelaskan sesuatu pada lelaki yang dianggap bapak itu. Ia merindukan mamak sehingga selepas shubuh ia langsung berjalan menyusuri pantai untuk mencari-cari perahunya. Di pesisir, ia menemukan perahunya terdampar dalam keadaan sudah rusak dengan bocor di sana-sini. Dinar memperbaiki perahunya dan tak menyadari bahwa sang ‘bapak’ mengikutinya dari belakang. Lelaki itu tersenyum dan membantu Dinar memperbaiki perahunya.

Setelah perahu itu jadi Dinar memeluk lelaki yang sudah mulai menua dengan helaian uban di rambutnya itu, ia menangis dengan tangisan anak lelaki kecil yang sudah lama dipendamnya sendirian. Kini puas ia tumpahkan kepada bahu lelaki itu. Ia ikhlaskan sudah masa lalunya dan menganggap bapaknya terkena amnesia setelah kecelakaan di lautan.

“Aku pulang Bapak..., Mamak merindukanku... Aku bisa merasakan panggilannya setiap malam padaku!”

“Hoorreandiaus unenemiseeemnna, jibailaoolooo” ujar ‘bapak’ Dinar sambil tersenyum. Entah kenapa bapak itu juga terharu dan menitikan air mata.

Dinar berhasil kembali pulang ke pantainya, mamak berlari dari pesisir pantai menyambut kedatangannya. Wanita yang sangat dicintainya itu mengatakan setiap hari menungguinya di pantai, “Kukira kau hilang seperti bapakmu!”

“Tidaklah Mak... Dinar menepati janji!” sahut Dinar dengan senyum bahagia. Ia merahasiakan pertemuan dengan bapaknya di pulau terpencil itu. Setidaknya bapak telah menemukan kebahagiaan baru yang tak tergugat di sana. 

 

  • view 314