Gadis Naik Bujang (part 11) - Menuju Titik Temu Meridian

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Oktober 2016
Gadis Naik Bujang (part 11) -  Menuju Titik Temu Meridian

Menuju Titik Temu Meridian

 Karya : Shanti Agustiani

 

 

 

Tiga  tahun berselang, dalam susaana bersahabat dan saling menumbuhkan di Sekolah Menengah Lintas Budaya.  Para gadis remaja dan pria remaja tanggung yang tadinya banyak salah tingkah pelan-pelan mulai menyesuaikan diri menjadi pria dan wanita yang beranjak dewasa. Mereka bersaing secara sehat dengan mengukir prestasi demi prestasi yang membanggakan. Tak terkecuali Meridian yang berturut-turut menjuarai kompetisi Bahasa Asing dan Putri Persahabatan.

Sedangkan Milana semakin jago dalam taekondwo, membuat para lelaki semakin ciut hati menghadapinya. Badu yang usil pun semakin berkurang kejahilannya, karena ia kini lebih bangga dengan prestasinya sebagai juara bertahan lari jarak menengah 1000 meter. Ia lebih fokus untuk meningkatkan prestasinya menuju tingkat nasional daripada menjahili teman.

Demikian pula para orangtua sangat bangga dan bahagia atas kemajuan yang dicapai anak-anaknya. Mama Milana berangsur-angsur sembuh semenjak pernikahan ke dua di Pulau Hutan Cemara, sesekali ia datang ke kota Asa menemui anak gadisnya. Mamak dan Abah Meridian bangga atas prestasi anaknya yang membuktikan bahwa anaknya layak menjadi calon pemimpin Hutan Cemara. Mereka mendengar prestasi hal itu lewat merpati pos. Begitu juga Ratu Ode yang langsung menghadiahkan beasiswa studi lanjut ke Greenwich untuk Meridian.

“Greenwich? Bukankah itu kota di Inggris?”

“Ya... dan itulah kota titik nol mu, kau harus mengenali kota itu dan belajar di sana untuk mengasah dan menambah ilmu!” ujar Ratu Ode suatu kali tatkala mengunjungi Meridian pada mimpi malamnya setelah pesta kelulusan tiba.

 “Bunda Ratu... tentu aku senang sekali dengan tawaran itu, apakah aku akan berangkat dengan burung besi?”

 “Maafkan aku Meridian...tapi burung besi sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan yang jauh. Aku hanya menyediakan sebuah perahu untukmu....”

 “Perahu? Bukankah aku harus menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk sampai ke sana?”

 “Jauh atau dekat, kau akan sampai ke tujuan jika kau meyakininya! Apa kau percaya itu?” tanya Ratu Ode lagi.

 “Ya... baiklah aku percaya....aku yakin ada kekuatan yang besar yang bisa menyelamatkanku di mana pun dan kapan pun atas kehendak-Nya...”

“Benar... aku memang bukan penguasa tertinggi. Aku hanya penguasa Hutan Cemara, Kau harus mencari Tuhanmu sendiri, aku tak berhak mendiktemu...,” ujar Ratu Ode bijak, “Dan maafkan aku jika aku hanya bisa memberi uang saku berupa tiga permata ini.... Meridian .... jangan khawatirkan orangtuamu sebab aku sudah memberitahu mereka mengenai rencana studi lanjutmu...”

“Baiklah Bunda Ratu... semoga aku tak mengecewakanmu!”

Meridian bangun dari mimpi yang seperti nyata itu dan mendapati tiga buah permata di atas tempat tidurnya, permata itu berwarna biru, hijau dan merah masing-masing sebesar genggaman bayi dengan bentuk tak beraturan seperti belum diasah dengan baik. “Ohhh ini pasti permata dari Ratu Ode....” kata Meridian dalam hati dan menyimpan tiga permata itu dalam ranselnya, segera ia berkemas untuk melakukan sebuah perjalanan yang sangat panjang.

Meridan lantas berpamitan kepada nenek Sumi dan Milana, sedangkan kepada orangtuanya Ia hanya sempat menulis surat dan mengirimkannya lewat merpati pos ke kampung. Seperti yang dikatakan Ratu Ode, orangtuanya sudah merestui keberangkatannya. Mereka sangat sedih tetapi ikhlas melepas gadis pembawa kesejukan itu, “Cucu... sebenarnya nenek merasa sangat sedih dan berat melepasmu...” ujar nenek Sumi dengan wajah kuyu dan menitikkan airmata.

Meridian memeluknya dan berbisik, “Maafkan cucumu nek... tetapi ini amanah yang harus saya jalankan dengan baik!”, Meridian pun tak kuasa menahan air mata haru.

Nenek Sumi memberikan sebuah tasbih ke tangannya, “Berdoalah selalu agar Tuhan menyelamatkan perjalananmu, nenek hanya bisa memberikan tasbih ini!”. Meridan menerimanya dan mencium tangan nenek Sumi. Tiba-tiba Milana datang dengan sepedanya, nampak tubuhnya lebih berkeringat pertanda ia telah mengayuh sepedanya secepat angin. Sebelumnya Meri telah berpamitan lewat telepon kepada Milana dan mamanya.

“Meri... apa tega kamu meninggalkan sahabatmu?”, tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

“Milana... maafkan aku. Aku akan kembali ke sini jika bekal ilmuku sudah cukup, dan kita masih bisa berkirim surat!” ujar Meridian sembari memeluk Milana, “Kau akan bisa bersahabat dengan orang lain selain aku!”

“Ya kau benar Meridian, mestinya aku tak bergantung padamu...”. Milana akhirnya mengikhlaskan keberangkatan sahabat yang sangat dicintainya itu yang sudah dianggap sebagai pengganti adiknya yang telah meninggal dunia.

Milana dan nenek Sumi mengantar Meridian ke pelabuhan. Di sana sudah ada sebuah perahu motor dengan kamar kecil beratap di tengah-tengahnya yang telah dipersiapkan Ratu Ode dengan tulisan “Perahu Meridian”. Perahu itu dilengkapi dengan peta dunia dan kompas penunjuk arah. Betapa kecilnya perahu itu sehingga membuat hati Milana miris, khawatir akan keselamatan sahabatnya. Tetapi Meridian dengan yakin turun dan menaiki perahu itu dengan senyuman lebar penuh keyakinan.

“Nek apakah  ia akan selamat dengan perahu sekecil itu?” tanya Milana kepada nenek Sumi.

“InshaaAllah... Dia akan selamat sebab Allah menyayanginya demikian juga seluruh alam,” ujar nenek Sumi meyakinkan Milana dan dirinya sendiri.

Usai mengucapkan salam perpisahan, Meridian segera menaiki perahunya dan mulai mendayung. Ada pula mesin perahu yang siap dinyalakan dengan tangan Meri sendiri, mengenai hal ini sudah ia pelajari dan praktikkan di kampungnya sendiri. Meridian telah mahir mengemudikan perahu motor, Ratu pun mengetahui hal itu. Tak ada pengemudi yang akan menemani perjalanannya, hanya ia sendirian.

Perahu dikayuhnya hingga ke garis pantai, lalu Meridian mulai menyalakan mesin motor perahu. Ia melihat dari kejauhan Milana dan Nenek Sumi saling berpelukan dan melambaikan tangan ke arahnya, Meridian pun melambaikan tangan kepada mereka, semakin lama mereka berdua semakin kecil dan akhirnya menghilang. Meridian benar-benar sendirian sekarang, bekal yang dibawanya hanyalah setumpuk roti dan camilan dari nenek Sumi dan satu galon air minum dari Milana. Apakah itu cukup? Semoga!

***