Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 8 Oktober 2016   23:29 WIB
Celoteh Ubur-Ubur

CELOTEH UBUR-UBUR

 

Karya: Shanti Agustiani
 
Engkau memang indah wahai terumbu karang. Sehingga para penyelam menyatakan jatuh cinta pada laut sebenarnya lebih dikarenakan melihat dirimu yang memesona dengan pernak-pernik perhiasan menormu itu. Sedangkan aku si ubur-ubur kecil transparan yang seperti ada dan tiada menyengat kaki-kaki penyelam itu dengan rasa cemburu. Aku tahu seharusnya aku tidak berlebihan seperti ini, tidak menyengat sembarang orang. Harusnya aku hanya menyengat dia, dia yang telah menendangku dari kehidupan sebagai manusia yang berjenis perempuan. Ya meskipun aku lupa-lupa ingat, kalau tidak salah aku ini reinkarnasi dari wanita yang ditendang dan diabaikan sang penyelam itu. Entah bagaimana muasalnya aku sendiri lupa sehingga ketika laki-laki itu melemparkan aku ke lautan tiba-tiba aku berubah menjadi ubur-ubur, bukan menjadi putri duyung yang rupanya lebih bagusan sehingga layak dijadikan legenda. Aku? Apa ada yang suka membaca cerita ‘legenda ubur-ubur’? Aku pun menyadari bahwa ubur-ubur dan kawanannya tidak akan pernah bisa bersaing dengan terumbu karang atau para ikan hias berwarna-warni yang menghiasi kedalaman lautan untuk menjadi bahan pemotretan dan selfie para penyelam alay itu. Biarlah kami menyingkir, atau jika rindu mendapat perhatian kami ramai-ramai menyengat kaki mereka supaya mereka menyadari keberadaan kami.
Masih mengenai reinkarnasi, samar-samar mulai kuingat kembali peristiwa masa lalu semenjak kedatangan penyelam dengan kaki gempal selama beberapa hari di lautan kami. Akhirnya aku meyakini bahwa kaki-kaki itulah yang telah menendang diriku jauh ke lautan dari kehidupan sebelumnya.. Maka di hari ke-3 ia menyelam, kami pun sepakat beramai-ramai mengerjai kaki-kaki gempalnya, kami yang berjumlah ribuan ubur-ubur menyengatnya dalam satu waktu dengan tentakel kami sehingga lelaki itu hampir pingsan. Rupanya ia tak tahan dengan zat kima yang kami suntikkan sekaligus ke tubuhnya. Aku mulai panik, biar bagaimana pun bukan maksud kami membunuh orang. Sedangkan kawananku tidak terlalu peduli akan hal itu sendainya saja aku tidak berteriak,”Berhentilah kawan, cepat tolong lelaki ini, dia pingsan dan akan mati di laut ini jika tidak segera ditolong!”
“Tapi...kau yang menyuruh kami tadi menyengatnya...”, ujar mereka heran.
“Iya.... memang... tapi aku tak menduga sampai seperti ini. Cepat...eh...panggil pasukan ubur-ubur raksasa untuk membantu!”, jawabku panik.
Beruntung ada sekawanan ubur-ubur raksasa yang lewat ikut membantu kami menarik jala yang ditebarkan dari atas kapal nelayan. Seorang lelaki penyelam lain datang dari permukaan air menuju kami. Ia membantu memasangkan jala ke tubuh lelaki yang kukenal itu dan berterimakasih kepada kami. “Kalian hebat, terima kasih sudah menyelamatkan temanku!” katanya sambil menunjukkan jempol persahabatan kepada kami. Kawananku bubar namun aku masih mengikuti penyelam yang membawa lelaki itu ke permukaan air laut untuk memastikannya masih selamat.
Aku terus mengamatinya sehingga si lelaki gempal diangkat ke atas kapal dan diberi pertolongan dengan menekan perutnya beberapa kali sehingga ia terbatuk dan memuntahkan air laut yang sempat ditelannya. Hingga akhirnya aku mendengar lelaki itu berkata, “Karin...hah..di mana aku? Aku tadi melihat Karin di dasar lautan!” seru lelaki itu kepada temannya.
“Siapa Karin?”
“Istriku! Mana dia...aku ingin minta maaf padanya!”
“Istrimu sudah wafat, kau sendiri yang bilang padaku.”
“Tapi aku melihatnya di dasar lautan...”
“Itu ilusi...dari rasa bersalahmu!”
“Ya aku memang sangat bersalah. Aku mabuk waktu membuangnya ke lautan. Dan aku harus menyerahkan diri ke polisi. Agar aku tak dibayang-bayangi arwah Karin lagi...”
“Baiklah kawan...aku akan antar kamu!” ujar lelaki itu sambil mengeringkan tubuh temannya dengan handuk kering.
Ya...aku baru ingat sekarang bahwa nama manusiaku dulu adalah Karin. Jadi baru sekarang ia menyesali perbuatannya? Baru setelah hampir mati? Anak-anak kita... Bayu dan Sekar... bagaimana keadaan mereka? Ah semoga mereka sehat dan tetap bahagia meski aku sudah tak berada di sisi mereka, paling tidak masih ada nenek mereka yang bisa menjadi perpanjangan kasih sayang dan pengasuhanku.
Aku ingat waktu itu lelaki yang bernama Subrata itu meludahiku di depan Bayu dan Sekar yang masih berusia 5 dan 3 tahun. Ia mengatakan tak butuh aku lagi dan aku hanya menangis saat itu. Aku mentaati stigma keperempuananku yang harus selalu mengalah dengan lelaki otoriter sekali pun. Bahkan aku tak memiliki keberanian keluar rumah, sebab aku masih memikirkan anak-anakku. Sebagai pengalih rasa sedih dan depresi berkepanjangan, aku merasa harus makan dan makan untuk menyenangkan hati sehingga tubuhku semakin tambun dan suamiku semakin membenciku. Tetapi aku tetap makan sebagai bentuk persetujuan atas kebenciannya yang semakin menjadi-jadi terhadapku, hingga bobotku mencapai 100 kg lebih. Suamiku semakin jijik padaku, ia tak lebih hanya menganggapku budak tambun.
“Tambun...bersihkan rumah ini, sebentar lagi ada tamu spesial!” katanya menyentakkan lamunanku yang tengah menyiapkan makanan di meja makan untuknya..
“Siapa?”
Lelaki itu tidak menjawab, hanya makan dan minum sebentar lalu pergi lagi tanpa pamit. Tak kusangka ia pulang larut malam dengan sebotol anggur dan menggandeng perempuan yang sedang mabuk. Mereka berdua masuk ke kamar kami. Kamar malam pertama kali. Dan aku hanya melongo di depan pintu tanpa bisa mengatakan apa-apa.
Semenjak malam itu, perempuan pemabuk itu tak pernah meninggalkan kamarku. Aku disuruh suamiku untuk tidur di kamar anak-anak, dan aku menurut dengan rasa sesak tak terkira. Anak-anak bertanya, “Siapa perempuan itu, Bu?”
“Itu mama baru kalian!”
“Mana mungkin, wanita jahat itu bukan mama... ia perampok! Dia merampok kamar Ibu dan merampok Bapak dari kita semua!” ujar Bayu ketus. Sekar yang masih beusia tiga tahun juga nampak sedih dan marah kepada perempuan itu, tangan-tangan kecilnya terus memegangi perutku yang empuk untuk labuhan kepala dan air matanya.
Bayu memang benar, perempuan pemabuk itu telah merampok segalanya, bahkan sprey bersulam mawar merah yang kusulam dengan tanganku sendiri setiap hari menjelang penikahanku, kini telah rusak oleh kuku-kuku panjangnya. Bukan dia bukan perempuan, kurasa sebutan ‘wanita jalang’ lebih tepat untuknya! Kata ‘perempuan’ terlalu bagus karena bermakna per-Empu-an, seorang Empu tidak akan bisa berbuat demikian. Dengan tanpa rasa bersalah, ia tidur setiap hari di atas tempat tidur kami yang di atasnya ada jejak rekam darah dan air mataku yang pada akhirnya kutelan sendirian.
Aku kembali makan dan terus makan, sehingga akhirnya diabetes menyerangku. Aku sakit berminggu-minggu tanpa pertolongan dan pengobatan, tubuhku yang tambun lebih 100 kg semakin hari semakin kurus layu hingga drop ke angka 40 kg. Aku kurus kering, lunglai dan bernanah. Aku meninggal ditemani tangisan panjang kedua anak-anakku di kamar mereka. Wanita jalang itu terbangun dari tidurnya dan berkata, “Brata bangun, pembantumu mati!”. Lalu dengan bengisnya lelaki yang masih menjadi suamiku itu membungkus tubuhku dengan penuh rasa jijik dengan sprey yang telah mereka gunakan. Anak-anakku waktu itu bertanya sembari menjerit, “Mau dibawa ke mana ibu kami?!”
“Mau dikubur!”
“Kenapa tidak beritahu nenek?”
“Aku bisa kubur dia sendirian!”
Anak-anakku masih kecil waktu itu, mereka kebingungan dan tentu saja sangat sedih. Entah setan gila apa yang menguasai Subrata waktu itu sehingga kematianku tidak dikabarkan kepada tetangga dan saudaraku. Lelaki itu menyeret tubuhku ke dalam bagasi mobil dan membawa jasadku bermil-mil jaraknya dari rumah kami. Sampai di lautan yang sepi, jauh dari keramaian, suamiku melemparkan jasadku ke lautan lepas. Tanpa doa dan penghormatan sedikitpun.
Dan entah kenapa begitu tubuhku dilemparkan ke dalam lautan tiba-tiba jasadku semakin menciut menjadi mungil dan transparan. Aku hidup kembali. Sebagai ubur-ubur. Mungkin Subrata penasaran , karena jasadku tak ditemukan oleh siapa pun bahkan oleh polisi sekali pun. Itulah sebabnya ia sering menyelam dan mencari-cari keberadaanku. Untunglah aku bukan ubur-ubur yang pendendam. Nyatanya aku masih berbuat baik kepadanya tadi ketika aku tidak membiarkannya mati tenggelam di lautan.
Kini aku bukan lagi perempuan juga bukan pula lelaki, aku ubur-ubur hermaphrodite. Mungkin hal ini yang membuatku kini merasa lengkap dan tak lagi terpasung oleh bayang-bayang stigma gender yang telah membelengguku, dahulu. Aku sangat menyesali kebodohanku waktu itu, sikap pengalah yang absurd yang membuatku menjadi perempuan yang semakin menikmati dan membiarkan untuk selalu disakiti. Mengalah dan mengalah tanpa kreativitas berfikir untuk membebaskan diri dari perbudakan dalam rumah tangga, seandainya aku lebih kuat waktu itu.... Memang tak ada gunanya sebuah penyesalan. Dan kamu tak mesti menjadi ubur-ubur lebih dahulu untuk menyadari dan mengubah stigma yang membelenggu sikapmu selama ini.
Dalam lamunan penyesalanku, tiba-tiba Terumbu Karang berkata, “kau cantik ubur-ubur!”
“Ah ya...aku memang cantik dan gagah sekaligus, tapi aku tak suka selfie dengan para penyelam!” ujarku sambil berlalu bergabung dangan kawananku.

 

***
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Karya : Shanti Agustiani