Gadis Naik Bujang (part 10) - Pulang Kampung bersama Mama

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Gadis Naik Bujang (part 10) - Pulang Kampung bersama Mama

Pulang Kampung bersama Mama

 

Karya: Shanti Agustiani
 
Hari demi hari dilalui Merdian bersama teman-temannya di Sekolah Menengah Pertama Lintas Budaya penuh suka-duka yang silih berganti menjadikan mereka semakin dewasa dalam bersikap. Selama hampir dua semseter. Milana masih tetap seperti biasanya sebagai sosok tomboy dan suka menggertak anak lelaki yang usil padanya atau pada Meridian, Rambutnya pun masih cepak dan wajahnya tanpa riasan bedak. Yang berbeda sekarang adalah Milana kini menerima sisi perempuan dari dalam dirinya, yang sangat lembut dan peka terhadapa perasaan orang lain. Terlebih terhadap mamanya yang sangat dicintainya, ia kini lebih telaten mengajak wanita setengah baya itu berkomunikasi walau hanya berhasil mendengar sepatah dua patah kata, itu sudah merupakan kemajuan yang menggembirakan.
Melihat kemesraan ibu dan anak itu Meridian jadi ingat akan mamak dan abah-nya di kampung. Liburan ini Meridian hendak pulang kampung tetapi Meri lupa jalan pulang, apalagi waktu itu ia terbang menggunakan burung besi dan tak sempat menandai hutan-hutan serta tanah yang dilaluinya dengan batu kali, mana mungkin ia pulang sendirian? Tetapi dari kejauhan sana, sepertinya Ratu Ode dengan kemampuan telepatinya mendengar akan kerinduan Meri dan mengirimkan tiket burung besi untuk Meri melalui utusan merpati pos.
“Jadi Ratu tahu rencanaku liburan pulang kampung?” tanyanya keheranan kepada merpati pos yang tiba-tiba datang menyeruak di jendela kamarnya ketika ia baru saja bangun tidur, saat itu masih pagi sekali.
Burung merpati itu mengangguk dan memberikan tiket burung besi ke atas tangan Meri yang masih terbengong-bengong  melongokkan kepala dari jendelanya. “Ah terima kasih Merpati Pos sayang..., makanlah  roti sarapanku ini, kau pasti lapar setelah melalui pulau-pulau dan samudra yang sangat luas!”, ujarnya sambil memberikan remah-remah roti dan merpati pos itu segera mematuki sarapannya dengan lahap. Sementara Meridian bersorak-sorak kegirangan berlari menemui nenek Sumi yang sedang merajut baju hangat, “Nenek Sumi....Meri mau liburan di kampung, Meri pulang kampung!”
“Oya?! Kapan kau berangkat cucuku?,” tanya nenek sambil membetulkan kacamatanya.
“Hari ini juga Nek...lihatlah tiketku, burung besi akan mengantarku hari ini juga pukul 9 pagi. Tiket ini dikirim Ratu Ode untukku. Nenek nanti nyusul ke sana ya?! Pasti mamak senang kalau nenek mau berlibur di kampungku!,” celoteh Merdian bersemangat sembari berputar-putar dan kembali menghampiri merpati pos untuk berterima-kasih. Usai merpati itu terbang pulang, Meridian kembali menghampiri nenek Sumi.
“Waduh Cu.... alangkah senangnya jika nenek bisa berlibur di kampungmu, tapi nenek tidak bisa... Nenek merasa terlalu tua untuk sebuah perjalanan panjang... Biar nenek disini saja mengurus kucing Molly sekeluarga dan taman bunga yang harus dirawat setiap hari. Mereka bisa mati jika nenek tinggalkan dalam waktu lama...”
“Aih nenek... iya dah...tolong doakan Meri ya Nek, agar Meri selamat sampai tujuan!”
“Tentu....pasti nenek doakan Meri dan juga keluarga Meri di kampung. Nenek ikut bahagia jika kalian kembali berkumpul di masa liburan panjang ini.”
Maka berangkatlah Meri pagi itu terbang bersama burung besi yang dulu membawanya ke Pulau Harapan. Sekarang ia akan pulang kembali ke Pulau Hutan Cemara, di mana mamak dan abahnya tinggal. Rindu nian ia pada omelan mamaknya saat mencari kutu rambutnya. Ah sekarang kutu-kutu itu sudah dibasmi nenek Sumi. Tak ada yang tersisa lagi untuk dipitas oleh jemari mamak. Meri juga merindukan hutan cemara dan seisinya, termasuk kepada Ratu Ode, Peri penjaga Hutan Cemara yang baik hati dan selalu memperhatikannya.
Tiga jam di atas burung besi, membuat Meridian kelelahan dan tertidur. Ia bangun karena kaget ketika burung besi mulai mendarat dan mencengkeramkan roda-rodanya pada tanah lapang dengan suara benturan yang cukup keras. Tetapi ia bersyukur karena mereka semua, para penumpang burung besi selamat mendarat di Pulau Hutan Cemara.
Turun dari burung besi, Meridian ternyata sudah ditunggu oleh mamak dan abah yang mengetahui kedatangannya lewat pertanda rambut belang Meri yang disampaikan Ratu Ode dan utusan merpati pos.
Mamak dan abah menunggu di sana, mereka mengenakan selendang hasil tenun sendiri, berupa kain tenunan adat yang sangat indah, berbentuk jalinan pohon cemara dengan sulaman benang emas. Rupanya mamak dan abah ingin terlihat cantik dan gagah menyambut kedatangan anak gadis yang dirindukannya. Meridian berlari menghambur ke pelukan mereka berdua, “Mamak...Abah....! Meri pulaaang!”, teriaknya sambil memeluk erat mamak dan abah satu per satu. Sementara Mamak tak kuasa menahan linang air mata bahagia. “Anak gadisku,...akhirnya kau pulang... ujar mamak dengan penuh sayang, “Rasanya tulang-tulangku semakin kuat memanggul beban hidup apa pun saat kau datang!”
“Jadi waktu Meri pergi tulang Mamak sakit?” tanya Meridian.
“Iya... Mamakmu ngilu-ngilu tiap malam karena biasa memeluk dirimu ketika hendak tidur!” ujar abah menggoda mamak.
Mamak hanya tertawa dengan wajah berseri, meskipun mata sayunya telah dihiasi kerutan dan wajahnya penuh garis senyum. Mamak selalu nampak cantik bagi Meridian, begitu pula abah yang selalu nampak gagah perkasa dengan lengannya yang masih kekar kuat membajak ladang dengan tenaganya sendiri. Mereka bergandengan pulang ke rumah panjang.
Di rumah mereka makan hidangan yang disediakan mamak sambil mendengarkan Meridian bercerita tentang nenek Sumi dan semua kebaikannya memberi tempat tinggal dan juga mencarikan sekolah terbaik baginya. Ia juga menceritakan tentang Milana dan keluarganya yang tak kalah baiknya selama ini, serta sahabat-sahabatnya yang lain di Pulau Harapan.
“Aku percaya kau akan selalu dijaga oleh kebaikanmu sendiri karena pantulan ketulusanmu nak... yang selalu memberi kesan kepada orang yang kau jumpai... Itulah sebabnya mereka rela berbaik hati kepadamu. Kebaikan itu memantul!”, ujar mamak menyimpulkan. “Kenapa mereka tak kau ajak berlibur di sini?”
“Nenek Sumi sudah terlalu tua untuk perjalanan yang melelahkan Mak... selain itu beliau harus mengurus kucing Molly dan bunga-bunga di tamannya. Sedangkan Milana ... aku memang belum ajak dia...”
“Nah kalau begitu undanglah Milana dan mamanya... Dia kan sahabat terbaikmu...”
“Iya dia sahabat terbaikku Mak... Orangtuanya sudah lama berpisah, kini Milana tinggal bersama mamanya yang mengalami depressi setelah perpisahan keluarga itu.”
“Apa itu dep...ressi ..., Meri?”, tanya mamak tidak mengerti.
“Emmm apa ya,... seperti orang kehilangan harapan Mak... matanya kosong dan sangat jarang bicara.... “,  sahut Meri berusaha menjelaskan.
“Ohhh kasihan mereka ... apalagi Milana yang harus menanggung bebannya sendirian.... Nah kalau begitu cepat undang mereka...mungkin udara sejuk Hutan Cemara akan baik bagi jiwa mereka...” Mamak mengerling kepada abah meminta persetujuan, dan abah mengangguk setuju, “Boleh saja... undanglah mereka ke sini...udara hutan cemara yang sejuk bisa membantu kesembuhan dari penyakit apa tadi? Dehidrasi?”, tanya abah.
“Depressi Abah..”
“Nah iya itu dispersi!” sahut abah masih salah mengucapkan istilah yang asing baginya itu, Meridian tertawa geli.
Atas kehendak baik kedua oranguanya, Meridian mengundang Milana lewat merpati pos. Abah menyediakan huma kecil yang terletak di samping rumah Meri untuk tempat tinggal mereka berdua selama liburan.
Alangkah gembira hati Milana mendapat undangan liburan di kampung Meridian, lengkap  dengan peta tempat tinggalnya. Milana memberitahukan hal itu kepada mamanya. Dan ternyata mama Milana setuju, ini sejalan dengan saran psikiater yang merawat mama Milana agar mereka bepergian ke tempat yang sejuk dan asri, di mana udara segar akan menjadi terapi yang alami yang dibutuhkan mama Milana.
Mereka pun datang dengan sambutan yang hangat dari seluruh keluarga Meridian. Abah bahkan mencoba mengajak bercanda mama Milana yang diam seribu bahasa itu, “Ah ini mama Milana...cantik juga, tidak kalah sama anak gadisnya!”, seru abah menggoda. Mamak nampak jengkel dan menyikut lengan suaminya itu.
“Ah kan Abah cuma bercanda, mamak jangan cemburu gitu dong...”kata abah membela diri Merdian tertawa menggandeng lengan mama Milana yang sudah dianggap mama ke dua baginya, “Mohon abaikan yang tua-tua keladi ya Ma...” Katanya kepada mama Milana sembari mempersilahkan mereka berdua duduk.
Mamak menghidangkan udang galah bakar untuk mereka, lengkap dengan minuman yang terbuat dari jahe dan buah-buah kering yang direndam dalam air hangat khas sajian daerah mereka. Milana tanpa malu-malu menyantap hidangan itu dengan lahap, ia makan paling banyak, “ Aduh masakan mamak enak sekali... belum pernah aku makan selezat ini! Aku kuatir setelah liburan di sni berat badanku akan berkali-kali lipat bertambah!”, ujarnya seraya kepedasan usai mencocol udang dengan sambal terasi bakar.
“Tenanglah Milana... minuman jahe ini akan membakar lemakmu!” ujar Meridian. “Esok pagi kita akan berjalan-jalan ke Hutan Cemara dan pegunungan, untuk mengurangi sedikit timbunan lemak di pinggulmu!”. Milana bersorak sedangkan mamanya hanya tersenyum simpul.. Nampaknya ia mulai merasakan kehangatan keluarga ini di dalam hati kecilnya.
Demikianlah liburan mengasyikkan itu mereka lalui dengan gembira. Meri, Milana dan mamanya, mereka bertiga setiap hari berjalan-jalan menyusuri hutan cemara, menapaki pegunungan yang rindang, dan menikmati jernihnya air terjun di hutan. Mereka berjalan tanpa alas kaki,. Mama Milana cocok dengan udara kampung yang sejuk di sana, juga dengan penduduk kampung yang menerima mereka dengan sangat ramah. Beberapa minggu kemudian mama Milana sudah mau berkomunikasi menanggapi keramahan penduduk kampung.
“Para gadis.... sini mampir ke gubugku!”, seru seorang tua adat mengajak mereka untuk mampir ke rumah panjangnya. Nampaknya tetua adat itu sudah menyediakan air pegunungan yang sejuk untuk mereka serta potongan tebu yang siap disantap . Rupanya ia melihat mereka dari jauh yang kelihatan lelah usai berjalan kaki menyusuri hutan.
Tua itu sudah mendengar tentang mama Milana dari mamak. Mendengar kisah sedih mereka, hati Tua pun terpaut, ia rajin membuatkan ramuan obat tradisonal untuk obat mama Milana. Mama Milana pun menurut jika Tua itu memberikan jus mengkudu atau rebusan daun yang pahit, mama menenggak ramuan itu sampai habis.  Kali ini pun demikian, Tua memberinya segelas air rebusan daun sirsak. Sambil menyaksikan mama meneguk ramuan itu sedikit demi sedikit, Tua membaca jampe-jampe pengusir roh jahat yang dianggapnya sedang bersarang di tubuh mama Milana. Entah jampe-jampe itu atau jus pahitnya yang berkhasiat, yang jelas hari demi hari tubuh mama Milana semakin sehat dan caranya berkomunikasi mulai tanggap.
“Hei Milana.. gadis manisku...boleh tidak mamamu ini menemani hidup Tua yang seorang diri ini?” tiba-tiba Tua menanyakan hal itu sambil tersenyum melirik mama Milana yang semakin hari semakin sehat dan nampak cantik berseri. Tua memang baru ditinggal mati istrinya lima bulan lalu.
“Aih Tua genit...!” kata Meridian tertawa.
“Ha..ha... terserah mamanya saja Tua... kalau mama bilang iya dan lebih sehat bersama Tua, pastinya aku sebagai anak cuma bisa merestui...”, sahut Milana.
Ternyata Tua adat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Beberapa hari kemudian ia datang membawa hantaran hasil bumi sebagai tanda lamaran. Mamak terheran-heran melihat Tua datang melamar, dikiranya Tua hendak melamar anak gadisnya, “Ehhhh enak saja kau..... gadisku itu sekolah  jauh-jauh bukan untuk menikah muda dengan Tua... Dia masih harus sekolah tinggi, sebab dia akan jadi pemimpin negeri ini... Kau tak percaya? Tanya saja pada Ratu Ode!” ujarnya memarahi Tua.
“Eh bukan... aku bukan hendak melamar gadismu... Aku ini datang hanya untuk mamanya si Milana..!” ujar Tua menjelaskan.
“Wahh,,. kalau itu...aku tidak akan ikut campur. Hei Milana... panggil mamamu katakan padanya bahwa Tua ini datang melamar!” seru mamak kepada Milana yang juga kaget dengan kedatangan mendadak Tua beserta hantaran kelapa, beras, ubi dan jagung, serta tak ketinggalan tebu kesukaan para gadis itu.
Mama Milana datang dari huma kecil dengan memakai riasan kembang yang dipetiknya dari hutan. Nampak sangat memikat hati pria yang tak tahan lama-lama sendirian itu. Ia segera mengutarakan maskud kedatangannya, “Ehm...mama Milana.... ehm...siapa nama mama Milana sebenarnya ya?”
Mama Milana tersenyum dan menyebutkan namanya, “Nama pendekku Alusia ...Tua.”
“Alusia... cantik nian kau hari ini! Begini...aku ingin melamarmu sabagi istri... bisakah kau terima, kumohon!”, pinta Tua seraya membungkukkan tubuhnya dan mengintip bibir mama Milana kira-kira menjawab apa. Sungguh tak disangkanya mama Milana mengangguk dan menggandeng tangan Tua. Meridian, Milana, mamak dan terakhir abah yang baru datang dari ladang menyaksikan hal itu cuma bisa melongo panjang... sedangkan Tua senyum-senyum bahagia melambaikan tangan kepada mereka semua. Tak tahan ia pun mulai menari-nari dengan gembira, berputar mengelilingi calon istrinya.
“Horee,...mamaku akan menikah!” tiba-tiba Milana berteriak melompat menciumi mamanya.
“Tua...tolong jaga mamaku baik-baik ya Tua. Jangan lukai dia sekali lagi!,”  pinta Milana penuh harap kepada Tua adat kampung calon bapak tirinya itu.
“Beres, gadis tomboy! Ah... mana mungkin Tua ini melukai mamamu...seeokor nyamuk pun tak boleh melukainya. Kau tahu ‘kan .... Tua ini sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan mamamu. Tua bakal sayang dia seumur hidup!”, demikian janji Tua meyakinkan hati Milana.
Akhirnya seluruh kampung merestui pernikahan sakral itu. Mereka berlomba-lomba mempersembahkan pesta yang berkesan untuk kedua mempelai. Ada yang memasak, mendirikan panggung, mengatur susunan acara, dan tak lupa juru rias kampung yang mendandani kedua mempelai serta pengiring pengantin yang cantik-cantik, Milana dan Meridian. Mereka rela dirias dengan cat warna-warni yang terbuat dari pewarna makanan alami yang diaduk dengan adonan tepung terigu. Meridian dan terlebih Milana bahagia tak terkira di hari pernikahan mamanya. Mereka berharap agar mama sembuh total dan semakin sehat jiwa-raga dengan pernikahan ke dua ini. Semoga..
 
***
 
 
 
 

  • view 380