Jamilah Bukan Jameelah

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 September 2016
Jamilah Bukan Jameelah

JAMILAH BUKAN JAMEELAH

 

karya : Shanti Agustiani

 

Pagi buta di dusun yang kokok ayamnya bersahut-sahutan dan masih berselimut kabut, seorang gadis mulai berpamitan kepada orangtuanya pergi mengadu nasib ke ibukota. Gadis itu memang nekad, ia menolak dikawinkan dengan juragan batik yang memang lebih pantas menjadi ayahnya ketimbang menjadi suaminya. Lebih-lebih juragan bangkotan itu hanya tertarik pada kegadisannya untuk merasainya sebagai istri keempat dengan alasan mengikuti jejak kanjeng nabi. Tentu saja Jamilah, nama gadis itu tidak mau. Ia memilih ke kota dan mencari pekerjaan yang lebih baik demi meringankan beban orangtuanya, si Mbok Pinah buruh tani, agar lepas dari jebakan rentenir lintah darat juragan batik itu.

“Nduk.... Mbok sedih kalau kamu nekad ke kota...” ujar si Mbok Pinah menggenggam erat-erat jemari putri semata wayangnya.

“Wis lah mbok....Jamilah akan cari kerja...Supaya kita terbebas dari hutang dengan rentenir itu”, ujar Jamilah memantapkan dirinya sendiri. Sementara bapaknya yang sudah tua dan sakit-sakitan hanya bisa berlinang air mata di atas kursi tua reyot. Bapak hanya mengangguk sambil terus membaca tasbih dalam genggaman tangannya yang keriput. Bapak sudah tak mampu lagi pergi ke sawah. Hanya si Mbok  Pinah yang masih kuat bekerja sebagai buruh tani dari sawah milik juragan batik itu.  Jamilah mengerti, jika ada 100 tahun perpanjangan usia buat orangtuanya dan dirinya pun tak akan sanggup melunasi hutang yang kian membengkak dengan bunga, daun, dan rantingnya yang terus bertumbuh dan bercabang itu. Itulah sebabnya Jamilah nekad pergi ke ibukota dengan harapan bisa sedikit meringankan beban orangtuanya dan terlepas dari bayang-bayang lingkaran setan rentenir yang lebih menyukai kesengsaraan panjang baginya dan orangtuanya.

Usai mengusap airmata Si Mbok Pinah, Jamilah berangkat naik bus pertama yang penuh sesak dengan pedagang asongan. Ia sendiri membawa sekresek singkong, untuk dijual di jalan atau untuk bekal makannya nanti jika sudah tak bisa mencari sesuap nasi. Di perjalanan ia sempat tertidur, dan tiba-tiba seorang lelaki duduk di sampingnya padahal tadinya tempat duduk itu diisi seorang perempuan setengah baya. “Ohh penumpang sebelahku sudah berganti saat aku tertidur tadi,” pikir Jamilah. Lelaki di sebelahnya dengan jaket tebal dan kacamata mengajaknya berbincang-bincang.

“Mau ke mana mbak?”

“Mau ke ibukota, cari kerja Pak”

“Siapa namanya?”

“Jamilah Pak...”

Laki-laki itu nampak tersenyum dengan dahi yang sedikit ke atas dan seketika menatap Jamilah lekat-lekat, ”Jamilah,.... whow.... kebetulan mbak.”

“Kebetulan apa ya Pak?”

“Saya mencari pegawai wanita, untuk ditempatkan di asrama wanita, tugasnya bantu-bantu membersihkan asrama sekaligus masak kalau bisa. Kamu bisa masak?”

“He he.... Injih bisa Pak... kalau cuma jangan lodeh, nyayur bening atau sop-sopan saya bisa...”, jawab Jamilah malu-malu.

“Ah cocok kalo gitu... saya suka jangan lodeh.... asal jangan kau permainkan aku,” Laki-laki itu tertawa dan Jamilah manggut-manggut tersenyum. Lelaki itu nampak tersenyum puas, sesekali ia membaca sebuah buku catatan yang dipegangnya, lalu menoleh kepada Jamilah, “Jadi bagaimana, kamu mau kerja di asrama wanita?”

Jamilah terheran-heran atas keberuntungan yang terlalu cepat ini, belum sampai ke Ibukota, baru di separuh perajalanan ia sudah mendapatkan pekerjaan. Gadis itu berbinar-binar dan mengangguk dengan senyum sumringah, “Injih Pak, terima kasih... saya mau pekerjaan itu... asalkan halal pasti mau!” ujar Jamilah bersemangat.

Jamilah belum sampai ke ibukota. Lelaki itu sudah mengajaknya turun dari bus di hampir tiga perempat jalan menuju ibukota. “Bapak... saya kira ini belum sampai ibukota”, ucap Jamilah sembari menebar pandangan ke sekelilingnya. Ia pernah diajak ke ibukota oleh pamannya beberapa tahun lalu dan sebenarnya ia berencana akan tinggal menumpang di rumah pamannya yang sudah sepuh dan sakit-sakitan itu. Tempat perhentian ini memang sudah ramai oleh gedung dan pabrik tetapi memang bukan ibukota.

“Memang belum mbak... kita disini saja.... Asrama wanita itu ada di sini... hampir dekat dengan ibukota...,” ujar si lelaki dengan santai dan terus berjalan diikuti oleh Jamilah yang masih menenteng singkongnya, belum ada yang laku di perjalanan tadi.

Lelaki itu lalu memanggil kusir andong, dan menyuruh Jamilah naik lebih dulu ke atas andong itu. Jamilah mulai merasa sedikit takut,  tetapi ini sudah manjadi tekadnya, harus dapat kerja! Jamilah menurut menaiki andong itu yang membawanya berjalan jauh dan lambat selama dua jam lebih ke sebuah tempat yang lebih sepi, jauh dari keramaian. Lelaki itu memberinya sebungkus gado-gado yang dibelinya di pinggir jalan. Dengan gemetar ia mulai makan, dalam hati ia berdoa agar perjalanan andong ini memang menuju ke tempat seharusnya ia bekerja.

“Mbak...ayo turun... Ini asramanya!” seru lelaki itu lebih dulu melompat turun. Andong itu berhenti di sebuah gedung tua bertuliskan  ‘Asrama Wanita Janji Joeang’. “Hmmm jadi ini asramanya?”, ucap Jamilah dalam hati, “Ah ini benar-benar asrama wanita, beruntung aku sempat belajar membaca.”

Di halaman asrama itu sudah menunggu beberapa orang dan sekolompok wanita yang duduk di teras. “Ayo sebelum masuk kita berfoto dulu!” Lelaki yang membawa Jamilah mengambil kamera dari dalam tasnya dan para wanita di suruhnya berjejer dengan Jamilah diposisikan di tengah. Jamilah terheran-heran dengan sambutan calon pembantu yang seperti ini. Tetapi karena ia belum pernah bekerja di tempat orang sebelumnya, ia menurut saja.  Jamilah juga heran melihat keadaan asrama yang seperti kapal pecah, porak poranda, seolah para wanita di dalamnya sudah tidak peduli lagi pada keadaan lingkungannya. Pun penghuninya hanya tinggal bebarapa gelintir wanita murung tanpa cahaya di mata mereka. Jamilah mengajak berkenalan tetapi para wanita itu hanya memalingkan wajah. Sungguh aneh, asrama wanita apa ini? Tanyanya dalam hati. Ya hanya dalam hati karena Jamilah pegawai baru yang merasa tidak pantas banyak bertanya.

Akhirnya Jamilah memilih langsung bekerja membersihkan asrama itu sedikit-sedikit. Ia belum beristirahat sama sekali, tetapi sangat gemas dengan keadaaan porak poranda di asrama itu. Dus-dus, buku-buku, bekas makanan dan minuman, bahkan pakaian wanita banyak berserakan di lantai. Dengan sigap ia menata dan membersihkan semua itu, mengepel lantainya sembari menembang menghibur dirinya sendiri.

Di ruang baca, Jamilah sempat melihat sebuah potongan koran berisi berita-berita politik yang tak dimengertinya. Tiba-tiba matanya tertuju pada foto wanita yang terpajang di selembar koran. Pada judulnya tertera “Jameelah, ketua gerakan wanita “Janji Joeang”. Foto wanita itu entah kenapa begitu mirip dengan wajahnya. Jamilah heran dengan semua kebetulan ini, kebetulan dapat pekerjaan tanpa susah payah mencarinya, kebetulan wajah yang mirip, kebetulan nama yang juga hampir sama dengan wanita itu. Hanya mungkin status mereka lah yang jauh berbeda, Jamilah hanyalah pembantu rumah tangga yang buta dengan situasi politik di negerinya.

Malam hari Jamilah yang kelelahan tertidur di antara tumpukan lipatan pakaian yang dipungutinya di lantai ruang baca dan lorong-lorong kamar. Di kamarnya yang diterangi lampu lima watt, belum sampai ia nyenyak ia tertidur tiba-tiba pintu kamarnya digedor dengan sangat keras.

“Saudari Jamilah... cepat keluar!” Terdengar suara laki-laki dari luar kamar memanggil namanya. Mata Jamilah sesungguhnya teramat berat dan kantuknya masih sangat terasa, tetapi suara dari luar itu terdengar semakin keras, gedorannya hampir merubuhkan pintu dan telah membuat jantungnya berdebar. Jamilah membuka pintu kamarnya. Alangkah kagetnya gadis itu ketika melihat banyak lelaki berseragam dengan membawa senjata laras panjang di depan kamarnya. Salah satunya bahkan membawa borgol yang langsung dipakaikan di kedua tangan Jamilah.

“Saudari Jamilah , Anda ditahan sehubungan kasus 30 September,” ujar salah satu lelaki berseragam itu.

“Apa maskud Bapak? Saya baru saja bekerja di sini... saya cuma pembantu!”

“Anda bisa menjelaskan hal itu di persidangan, sekarang Anda ikut kami!”

Jamilah berteriak histeris, ia melihat para wanita di dalam gedung itu juga ikut ditangkap bersama dirinya. “Bapak...jangan tangkap aku.... Aku Jamilah...bukan Jameelah!” serunya berteriak, ia tersadar akan hubungan penangkapan ini dengan berita yang dibacanya di koran tadi. Namun pasukan berseragam itu itu tidak menggubris teriakkannya. Mereka tetap menyeret Jamilah  ke dalam mobil jeep dengan dikawal pasukan bersenjata.

Di perjalanan Jamilah sempat melihat lelaki yang membawanya untuk bekerja di asrama wanita itu sedang duduk di warung kopi sambil memperhatikan rombongan pasukan penangkap wanita itu. Jamilah kembali berteriak, “ Bapak... bapak... tolong.. Jamilah ditangkap!” teriaknya sambil menangis dengan suara yang telah parau dan serak. Kerongkongannya telah kering tetapi teriakannya sia-sia saja, lelaki itu hanya asyik menikmati kopinya yang hangat. Sayup-sayup terdengar bentakan salah seorang pria berseragam, “Diamlah wanita sadis! Kau yang menarikan tarian 'Harum Bunga' itu 'kan? Kau sudah menyileti kelamin lelaki abdi negara dan kini kau berteriak-teriak minta dibebaskan, sungguh memalukan!” Mendengar gertakan itu tiba-tiba kepala Jamilah terasa sakit dan matanya berkunang-kunang, ia pingsan.

Esok pagi di hampir seluruh media koran dan radio, panglima tertinggi mengungkapkan dalam pidatonya tentang sekelompok wanita yang telah melakukan kejahatan. Panglima tertinggi itu mengatakan bahwa kaum wanita yang tergabung dalam kelompok 'Janji Joeang' tidak mencerminkan sebagai wanita yang seharusnya mendidik keluarga, memegang kesetiaan terhadap bangsa, agama dan negara, sehingga layak dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya. Generasi muda kita harus diselamatkan agar tidak terjerumus ke dalam kerusakan moral kaum kontrarevolusioner.

 

***

 (mengenang 30 September, menikmati dongeng sejarah)

 

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Sementara tulisan-tulisan yang terpilih banyak mempesona pembaca berkat pemilihan katanya, karya Shanti Agustiani ini sukses mengecoh, hal yang menjadikan tulisannya sangat layak dibaca sampai akhir. Judul yang ia pilih menarik, bisa menjadi pancingan yang cukup kuat. Dari sini saja pembaca bisa penasaran. Begitu dibaca mungkin yang ada di benak kita seperti yang sudah banyak diceritakan dalam sinetron atau cerpen senada, tentang gadis desa yang memilih kabur karena tidak mau dijodohkan dengan pria tua kaya. Dia ke kota dengan bekal seadanya lalu bertemu dengan pria yang mendadak baik lalu menawarinya pekerjaan. Mungkin sebagian dari kita akan langsung menebak ah mungkin si Jamilah akan berakhir di tempat pelacuran atau menjadi tenaga kerja wanita tetapi Shanti secara pelan menggiring pembaca ke akhir yang sungguh di luar dugaan. Jamilah kena tangkap aparat karena diduga terlibat kasus pemberontakan 30 September. Sedih bagi Jamilah tetapi ini adalah karya yang cerdas, Shanti!

    • Lihat 1 Respon

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Unpredictable nih endingnya, oke banget!

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Trims untuk semua apresiasi dan kritik atas cerpen saya. Semoga bisa lebih baik lagi dalam berkarya!

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    sipp Agus Geisha...terimakasih sarannya!

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    bu guru, tulisannya gede-gede. jikalaulah bu guru berkenan, tulisannya dengan ukuran normal. terlebih jika tulisannya agak panjang.