Pangeran Sastra dan Abang Relawan

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 September 2016
Pangeran Sastra dan Abang Relawan

Pangeran Sastra dan Abang Relawan

 

Karya : Shanti Agustiani

 

Seikat bunga mawar merah dengan pita biru dan sebait kata-kata puitis di atas kertas ucapan selamat ulang tahun itu memang menawan. Ujar tulisan itu, “Kekasih, selamat menambah waktu bersamaku, sang pecinta setiamu, dari waktu ke waktu, harum bunga mawar ini mungkin akan pudar, tetapi tidak dengan cinta kita. Dari yang selalu memujamu”. Aku tersenyum dan menata bunga itu di atas vas meja makan keluarga.  Lalu mulai membalas kartu ucapan itu dengan tulisan penaku yang aku kirimkan lewat kantor pos telepati di tapal batas imajinasi.

“Begitu berat hidup ini tanpa kehadiran seorang pemuja seperti dirimu. Sungguh aku bukan wanita yang berbahagia tanpa kata-kata indah setiap hari darimu. Jika aku sakit kau tak lupa mengirim bunga dan obat hati kata-kata cinta nan syahdu. Jika aku sedang lelah kau hadirkan bayangmu meluncur dari alam sana yang melontarkan canda tawa pelepas penat. Jika aku sedang tak ingin berkata-kata engkau selalu menyuapiku sedikit demi sedikit dengan perhatian-perhatian kecil, sehingga jiwaku tak kekeringan makna. Ketahuilah kekasih, aku tak bahagia bersamanya. Ia hanya datang dan pergi seperti angin lalu pulang makan, tidur , ngorok , bangun, mandi lalu pergi lagi. Tanpa kemesraan, tanpa kata-kata yang indah. Tidak ada seikat bunga mawar dalam hidup kami apalagi puisi cinta, sekedar basa-basi yang melegakan hati pun jarang diucapkannya. Sedangkan engkau tidak begitu. Engkau selalu ada waktu untuk mengibur hatiku. Dengan gagah engkau menuruni tali-temali yang menbahayakan jiwamu hanya demi menemuiku di sini, bersenda gurau denganku yang menikmati setiap detil perhatianmu. Aku perempuan sepi tanpa hadirmu, pangeran impian!

“Lupakanlah hari-hari sepimu dulu, kekasih....Kini ada aku, Pangeran Sastra. Engkau boleh menulis semua kegundahanmu padaku, apa saja, akan aku dengarkan, aku simak baik-baik dan akan sama–sama kita petik hikmahnya.”, ujar sang pangeran menenangkan kegundahanku, “Tak perlu ragu pada batas-batas rima dan diksi, apalagi sekat-sekat aliran, Tuliskanlah apa saja, termasuk segala sumpah-serapahmu padaku”

Mendengar itu aku terkesima, air mata mengalir satu-satu di pipiku.  Hingga akhirnya segala topeng kebaikan hidupku pudar.... Aku menampakkan asliku padamu, melucuti satu demi satu pakaian kebesaranku yang penuh riasan tata-krama. Aku ingin tumpah ruahkan seluruh perasaan dan beban hidupku di hadapanmu. Maka aku menangis sejadi-jadinya.

“Coba jelaskan padaku, kenapa wanita harus selalu mengalah? Menjadi nomor dua? Tidak didengarkan pendapatnya? Bahkan dianggap sebegai penyebab bagi segala akibat pincangnya sebuah keluarga? Apa kau tidak tahu bebanku? Meski kerjaku kini hanya di rumah, mengalah demi karir suami yang cerah. Namun pengorbananku tidak dihargai sama sekali. Aku merasa terhina!” ujarku meluapkan segala amarah kepada pangeran Sastra.

"Bagaimana kau merasa terhina kekasih?"

“Ya, dia telah menyuruhku berhenti bekerja semenjak kelahiran anak pertamaku. Alasannya agar aku fokus ke anak saja. Yang lebih menyakitkan hati, katanya pekerjaan ku itu hanya buang-bunga waktu saja. Bayangkan pekerjaanku sebagi teller bank waktu itu ia anggap hanya buang-buang waktu?! Pikiran idiot macam apa itu? Kau bisa bayangkan bukan sebuah bank tanpa teller bank? Bagaimana dia mau ambil gaji karyawannya tanpa acc  dari seorang teller bank? Jangankan menghargai hal itu, ulang tahunku pun ia tak ingat lagi. “, ungkapku tak menahan lagi beban emosional yang kupendam selama ini.

“Tapi soal sarannya agar dirimu fokus ke anak itu benar ‘kan?” tanya Sang Pangeran perlahan.

“Ya kalau itu memang benar.... Cuma jangan ditambah-tambahi dengan menghina pekerjaanku dong!” ucapku ketus.

“Iya... iya... aku mengerti kok. Pekerjaanmu dulu itu sangat mulia dan berharga, kau sangat dibutuhkan banyak nasabah, tetapi si kecil bayi yang baru lahir itu lebih membutuhkanmu daripada semua orang. Sebab engkau adalah malaikat penolongnya di dunia. Jika ASI-mu tak kau berikan, jika pengasuhanmu kau pasrahkan kepada orang lain. Bisakah si kecil yang sekarang sudah balita itu tertawa sesenang sekarang? Sesehat dan secerdas sekarang? Bisakah kasih sayang orang lain menggantikanmu?”pangeran Sastra bertanya lembut sekali dengan suara baritonnya.

“Tidak... hanya aku ibunya yang paling menyayanginya dan hanya aku yang paling tahu bagaimana cara mengasuhnya!”

“Nah... begitu... itu sebabnya posisimu sekarang jauh lebih mulia daripada profesi apa pun di dunia”, ujarnya sembari tersenyum manis. Kelembutan hati dan pengertian Pangeran Sastra-ku memang tak tertandingi. Aku bahagia bersamanya, dan aku ingin selamanya berpasangan dengan jiwanya. Aku sungguh terhibur dan telah ikhlas menerima peranku sebagai ibu rumah tangga.

 

                                                                                           ***          

 

Keesokan harinya, di pagi kamis yang gerimis. Ingin kutulis sepucuk surat lagi pada Pangeran Sastra-ku. Namun entah kenapa rasanya badanku linu-linu, demam. Begitu pula balitaku, Andini, badannya hangat dan rewel. Kuamati di lipatan-lipatan lengannya muncul bintik-bintik merah, mungkinkah demam berdarah? Aku tak jadi menulis surat dan membuat sms pendek kepada suamiku yang sedang bekerja “Bang, aku dan Andini sakit, badan Andini berbintik-bintik merah”

Rasanya begitu kaku sekujur tubuh ini, susah bergerak dan begitu berat berdiri. Ditambah lagi keadaan Andini yang juga kepayahan dengan gerahnya badan dan tangisnya sendiri. Sebotol susu yang kuberikan hanya diminumnya sedikit untuk kemudian dilemparkan dan kembali meraung-raung membuat kepalaku terasa mau pecah. Gerangan apa yang terjadi pada kami? Apakah aku terkena kutukan karena mengkhianati suamiku bermesraan dengan Pangeran Sastra hampir setiap hari? Tak seberapa lama setelah smsku, datang mobil suamiku, “Ayo cepat kita ke rumah sakit. Sini  biar Abang bantu bereskan pakaian dan susu yang mau dibawa, Dinda kasih tahu saja berapa takar susunya, biar Abang yang buat!” , ujar suamiku dengan gerak cepatnya ia membawa kami ke rumah sakit terdekat.

Betapa leganya suamiku sigap menolong kami, ia menggendong Andini sekaligus memapah langkahku yang terasa berat. Tak banyak kata memang, tapi nyata ia suami relawan, rela berjuang hidup dan kurang istirahat demi menafkahi kami, serta rela menempuh segala resiko pekerjaan yang dipimpinnya di bidang instalasi listrik, entah apa reskio jabatannya itu aku tak seberapa tahu karena ia sangat jarang menceritakan soal pekerjaaannya padaku dan aku pun tak pernah bertaya. Seketika aku menyadari kekeliruan cara pandangku  dan sikap burukku selama ini pada suamiku.

Tiga hari di rumah sakit suamiku menunggui kami bergantian dengan keponakanku. Ia rela kehilangan waktu dan membatalkan beberapa proyeknya demi menunggui kami berdua, sesekali HP-nya berdering dan kadang mimik wajahnya gelisah. Namun tetap saja ia kembali memperhatikan kami berdua. Bolak balik ia membersihkan kotoran Andini, membuatkan susu, dan memapah tubuhku untuk melangkah ke toilet rumah sakit.. Ia juga berkali-kali menanyakan kepada dokter yang memeriksa kami mengenai langkah-langkah pemyembuhan demam berdarah kami. Ia memang bukan suami yang romantis dan menawan tetapi  ia  terbukti relawan. Aku sangat menyesal telah berprasangka buruk padanya selama ini.

Sebagai puncak rasa sesalku aku putuskan menulis sepucuk surat terakhir kepada Pangeran Sastra, ingin kusampaikan kehendakku untuk lepas dari jerat asmaranya, aku akan menuliskan kata-kata perpisahan. Dari pembaringan ranjang rumah sakit aku menulis, “Pangeran...aku sangat menyesal kata-kata perpisahan ini akhirnya kutuliskan. Maafkanlah kata-kata tak pantas dariku tentang suamiku waktu itu. Sebenarnya dia, suamiku itu ada baiknya juga... Buktinya ia rela menunggui kami di rumah sakit ini dan meninggalkan proyek-proyek kerjanya yang sangat penting. Nyata dia lebih mementingkan kami, keluarganya. Meskipun ia tetap tidak romantis dan manis. Tetapi di saat–saat genting kerelaan itu lebih mengungkapkan cinta kasih yang sesungguhnya. Lupakanlah kisah kita, karena aku hendak setia pada suamiku saja.”

Tiba-tiba bayangan Pangeran Sastra muncul di tepi ranjang pembaringanku. Rupanya ia telah membentangkan temali telepatinya lebih panjang lagi sehingga sampai ke rumah sakit ini, untunglah saat itu sepi. Suamiku sedang di luar ruangan.

“Hei kau datang!”, seruku kaget dengan suara tertahan.

“Ya aku tahu kamu sakit. Maafkan aku tak banyak membantumu, kekasih...”

“Tak apa... Suamiku sudah sangat membantuku,” sahutku tersenyum bangga.

“Ya.... aku tahu suamimu dapat diandalkan. Dan mengenai hal yang kau tuliskan barusan... Sungguh kau tak perlu minta maaf padaku... minta maaflah pada suamimu. Bisa jadi ia jarang berkata-kata karena butuh pancingan darimu. Ucapkan kata yang indah dan manis setiap hari padanya. Engkau bukan melulu yang diberi, kau juga bisa untuk selalu memberi”, ucapannya sekali lagi menghangatkan jiwaku.

“Perubahan apa yang kurahapkan jika aku bermanis-manis setiap hari padanya?”

“Kau tidak perlu menunggunya berubah, berpikir dan merasalah dengan cara dan penghayatan yang baru. Mungkin begitu lebih baik. Maaf bukan aku mengajarimu. Aku hanya berusaha menyampaikan kebenaran”, ujarnya lagi.

“ Lantas, apakah kau akan pergi untuk selamanya setelah pertemuan kita ini?”

“Tidak, aku aku bersamamu selamanya tanpa kau harus merasa mengkhianati suamimu”

“Bagaimana bisa?”

“Ya... aku akan merasuk ke jiwamu, aku akan menjadi dirimu sendiri atas seijin tubuhmu ini...”

Aku tak mengerti benar apa maksudnya, tetapi kepalaku mengangguk dengan ikhlas menyuruhnya masuk. Sesaat kemudian, Sang Pangeran Sastra untuk pertama kallinya memegangi tanganku yang mulai hangat, pelan-pelan ia mengecup dan memeluk tubuhku yang tiba-tiba basah oleh keringat. Ia merasukiku, keringat mengucur deras dari tubuhku. Pintu kamar ruanganku dibuka, suamiku datang. Melihat aku bermandikan keringat, lelaki setengah baya itu tergopoh-gopoh menghampiriku sembari mengelap tubuhku dengan handuk kecil yang dibasahi air.   “Oohh...mungkin ini efek minum obat demam tadi, tukas suamiku sembari mengelap seluruh tubuhku, “Lihatlah Dinda... keringatmu segede jagung. Kau akan sembuh setelah ini”, ujarnya lagi. Andini tertidur di sebalahku, ia pun nampak mulai berkeringat.

Benar saja kata suamiku, beberapa jam kami tertidur pulas dan setelah bangun tubuhku terasa lebih ringan dan lebih sehat. Andini pun sudah mulai lahap disuapi bubur bayam. Setelah diperiksa sekali lagi oleh dokter kami diperbolehkan pulang. Dalam perjalanan pulang aku merasa berbeda dari biasanya, dalam tubuhku kini ada jiwa sang Pengeran Sastra, aku teringat bahwa aku harus meminta maaf kepada suamiku, “Bang... maafkan Dinda ya... selama ini mungkin kurang memperhatikan Abang...sementara Abang telah berkorban banyak kepada kami...”, ujarku sambil menggenggam tangan suamiku.

Suamiku hanya tersenyum mendengar kata-kataku, ia mengusap pipiku yang hangat merona bahagia. Aku merasa lebih berdaya, lebih percaya diri dari sebelumnya. Aku pun tak punya keraguan lagi untuk menulis apa pun dalam bentuk puisi, cerpen, novel atau karya sastra lainnya. Aku seorang ibu, aku juga menjadi penulis lepas sekarang ini. Di dalamku ada sang pangeran yang kadang-kadang menyatakan dirinya kembali, mencandai hidupku. Suami relawanku tak cemburu.

 

                                                                                          ***          
 

  • view 304