Masuk Surga Tanpa Kepala

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 September 2016
Masuk Surga Tanpa Kepala

MASUK SURGA TANPA KEPALA

Karya: Shanti Agustiani

 

Dion terus bermain berputar-putar di belakangku yang sedang memasak sayur dan lauk untuk makan siang.  Anak lelaki semata wayangku itu memang imajinasinya sangat tinggi. Kali ini ia sedang memerankan pilot pesawat tempur yang berputar-putar di udara. Dengan sayap dari karton bekas, ia memasang tali rafia pada karton itu supaya kedua sayapnya bisa menggantung di atas pundaknya. Kadang jika ia lelah , ia akan duduk dan mengambil permainan legonya untuk mulai bongkar-pasang. Atau sekedar menggambar sesuatu di atas kertas. Pokoknya, tak ada menit tanpa aktifitas bagi dia.
“Bunda... Bunda... aku akan jadi pilot ketika besar nanti!”
“Ya boleh-boleh saja, untuk itu kau harus belajar tentang keseimbangan!” sahutku sembari memotong-motong sayuran di dapur.
Padahal barusan  minggu lalu ia mengatakan akan menjadi robot penumpas kejahatan. Itu juga aku amin-kan. Ah jadi apa pun itu yang penting kelak ia bisa bermanfaat bagi banyak orang, sebab orang paling baik dan berkah adalah yang paling bermanfaat bagi banyak orang. Dan jika kelak menghadap Allah akan diridhai masuk surga-Nya!
“Bunda...kenapa Bunda selalu bolehkan aku jadi apa saja?” tanya Dion penasaran.
“Iya...karena kamu akan lebih tahu apa cita-citamu yang paling baik jika kau mau mencoba dan belajar apa pun yang kau inginkan. Kelak dewasa tinggal pilih, mana cita-cita yang paling baik di antara yang baik!”
“Bunda... aku di sekolah suka juga menyanyi, kata bu Guru suaraku bagus!” katanya lagi sambil mulai menyanyi-nyanyi kecil.
“Ya boleh...kau pun boleh jadi penyanyi, Bunda tidak melarang!” sahutku santai sambil terus memasak.
Asyik... aku banyak cita-cita Bundaku nggak marah. Bobi kasian cuma disuruh belajar dan belajar, besok gede harus jadi dokter. Bobinya ngambek dimarahi melulu sama mama dan papanya”, ujar Dion lagi bercerita tentang tetangga seumurannya, teman sepermainannya sehari-hari. Dalam hati aku berpikir ini anak kecil-kecil sudah mulai rumpi juga sama urusan tetangga.”Dion denger dari mana?” Ups kepo juga aku ini.
“Kan Bobinya kemaren nangis, Dion dengerin...”
“Mungkin bukan itu maksud mama dan papa Bobi... Udah ah... nggak baik kalau kita ikut campur urusan orang” ujarku yang mulai merasa tidak enak ngomongin tetangga sebelah.
Tapi jadi dokter itu memang hebat kan’ bunda? Gitu juga jadi presiden, gitu juga jadi gubernur. Kan mereka yang pinter-pinter pada mau jadi dokter, presiden, gubernur....”
Hmmm.... Sepertinya anak ini mulai mengajak diskusi serius. Jadi kumatikan sejenak kompor yang menyala. Duduk di kursi makan dan menuangkan minuman jeruk kesukaannya. “Ya Dion.....jadi dokter, jadi gubernur atau jadi presiden itu memang hebat. Tetapi jadi pilot, penyanyi, pengrajin, penyemir sepatu, penulis cerita, wartawan, serta semua profesi yang lain pun tak kalah hebat!”
“Begitukah Bunda?”
“Iya benar... Selama pekerjaan mereka itu halal dan mereka cintai, itu semua hebat! Apalagi jika pekerjaan itu bermanfaat bagi banyak orang. Allah paling suka sama orang yang bermanfaat!
“Bermanfaat itu artinya duitnya banyak?” tanyanya lagi sembari menerima gelas berisi air jeruk dariku sambil minum ia duduk dan mengambil peralatan gambarnya, pensil 2 B dan selembar kertas folio.
“Nggak lah...menghasilkan uang sedikit atau banyak itu bergantung pada rasa syukur dan cara kita menggunakan uang itu. Percuma duit banyak kalau boros dan foya-foya...hidup seperti itu justru kurang manfaat...”, ujarku memikirkan kata-kata yang mudah dicerna anak seuisanya. “Manfaat itu bisa berarti menyenangkan bagi orang lain, membuat terhibur, membuat orang lain bahagia...tertawa, atau menjadi orang lain lebih bertambah ilmu kala berbicara dengan kita...”
“Oh....ya ya...Bunda...pantesan Dion suka bikin orang lain ketawa. Itu kan tanda-tanda Dion itu bisa bermanfaat.” Ujar Dion dengan senyum lebarnya yang memperlihatkan dua gigi susunya yang telah ompong. Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya. “tuh kan...Dion itu paling bermanfaat buat Bunda karena suka bikin Bunda ketawa lebar....banget!”
Aku membelai kepalanya yang barusan dicukur gaya ABRI. Lalu melanjutkan petuah khas orangtua kepada anak lelaki ku itu, “Yang lebih penting pekerjaan kita itu kelak bisa membawa kita untuk menjadi umat yang amanah, yang dapat dipercaya. Umat pilihan Allah yang akan diberi tiket menuju surga!”
Dion tak menggubris omonganku dan aku tak paham apakah dia mengerti atau tidak kata-kataku yang agak ‘berat’ tadi. Bocah kelas 2 SD itu mengambil kertas folio dan mulai mencorat-coret di sana. Sementara aku kembali berdiri dan menyelesaikan pekerjaan rumahku.
Tiba-tiba Dion kembali menyeletuk, “Bunda suka ya... jadi ibu rumah tangga?”
“Ya Bunda suka, meskipun tanpa gaji dari kepala kantor, tapi bunda dapat gaji dari kepala rumah tangga, ayahmu. He he... jadi anak buah itu bisa sama bermanfaat dan mulia kok... Nggak harus jadi kepala rumah sakit, kepala sekolah, atau kepala pemerintahan untuk merasa terhormat”
“Dion juga nggak mau jadi kepala rumah sakit, jadi kepala sekolah, jadi kepala pemerintahan... Kenapa orang-orang pada berebut ya, Bunda?”
“Siapa?”
“Tuh yang di TV”
“Ah itu drama” sahutku sekenanya sebab ikan asin yang kugoreng bakal gosong jika tidak cepat-cepat dibalik. “Ya...seperti yang Bunda bilang tadi Dion..., pekerjaaan yang paling baik itu adalah pekerjaan yang kita cintai dan bermanfaat, juga yang bisa bikin kita masuk surga...”
“Iya Bunda...Dion juga mau masuk surga tanpa kepala” sahut Dion membuatku kaget dan hampir-hampir ikan asin yang dari wajanku berloncatan ikut kaget mendengar perkataan Dion. Anak itu malah berlari menghambur keluar menghampiri Bobi, anak tetangga sebelah yang memanggil-manggil namanya mengajak Dion main bola.
“Bunda... Aku mau jadi pemain bola dulu!”, teriak Dion dari teras pintu rumah.
 “Iyaa..” sahutku sembari membereskan dapur dan kulihat gambarnya di atas meja dapur serupa makhluk tanpa kepala yang sedang terbang ke sebuah pintu di atas langit, lengkap dengan tulisan cakar ayamnya, “Masuk surga tanpa kepala”
“Horor”, pikirku sambil geleng-geleng kepala. Kukira ia kelak akan menjadi penulis atau ilustrator dengan ide-idenya yang 'gila' dan kreatif itu. Semoga Allah memberkatinya dengan segala talenta yang dimilikinya sehingga ia kelak mendapatkan tiket masuk surga, lengkap dengan kepalanya yang indah.
 
***