Gadis Naik Bujang (part 9) - Membuka Jendela Lebih Lebar

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 September 2016
Gadis Naik Bujang (part 9) - Membuka Jendela Lebih Lebar

Membuka Jendela Lebih Lebar

 Karya : Shanti Agustiani

 

Selama di rumah sakit Meridian banyak membacakan buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan nasional. Ia menghibur Lana dengan bacaan buku-buku tokoh ternama serta sebuah buku tentang Jendela Johari. Meridian masih suka membicarakan isi semua buku yang sudah dibacanya.  Buku-buku itu seperti taman yang baru ia kunjungi, melompat dari halaman satu ke halaman berikutnya seolah melintasi dunia dengan sepuluh jari, begitu dekat, begitu cepat. Taman ilmu yang akarnya adalah keingintahuan mendalam dan perpanjangan dahannya adalah cinta pustaka yang ditularkan serta ilmu yang tak habis-habisnya dibagikan.
Meridian mengambil kaca pembesar detektifnya dan melihat mata Lana dalam-dalam dengan kaca pembesar itu.“Lana, aku melihat sisi tersembunyi dalam dirimu, jika itu menghalangimu untuk lebih maju, sudikah kamu membukanya sedikit saja?”
“Tak sudi!” sahut Lana sekenanya....
Ah... Lana pasti bercanda, nyatanya ia telah membuka semua masa lalunya yang kelam kepada Meridian. Atau mungkinkah gadis tomboy itu masih menyembunyikan sebagian besar masa lalu dan beban perasaan pahitnya?
Begitu mereka pulang sekolah, Meridian mampir ke rumah Lana. Lagi-lagi Meridian mulai mengajak Lana membicarakan tentang teori Jendela Johari yang sangat menarik hatinya. Adalah Jendela Johari, jendela kepribadian yang ada di setiap diri kita, di mana ada sisi terbuka, sisi tersembunyi, sisi buta dan sisi yang tidak diketahui siapa pun kecuali Tuhan. Mana daerah terbuka? Adalah sifat, sikap dan bakat yang nampak terang benderang bagi diri kita dan orang lain. Mana daerah tersembunyi? Adalah bagian dari sifat, sikap dan bakat yang kita tutup-tutupi dan kita rahasiakan dari orang lain. Mana daerah buta? Yaitu sifat, sikap dan bakat yang terlihat oleh mata orang lain tetapi tidak terlihat oleh mata kita sendiri. Mana daerah tak diketahui? Yaitu bakat terpendam serta takdir masa depan yang tidak diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. Di mana setiap orang sesungguhnya bisa membuka jendela terbukanya lebih lebar lagi dengan banyak introspeksi, menyalurkan bakat terpendam, meminta saran dan masukan dari orang lain, serta meminta petunjuk Tuhan.
Lana mulai bete ketika Meridian mengajak buka-bukaan tentang empat sisi Jendela Johari itu dalam diri mereka masing-masing. Tetapi ia tak dapat mengelak keinginan Meridan yang sangat disayanginya. Jadi dimulailah sesi wawancara psikologis itu yang dimulai dengan komitmen untuk saling percaya dan saling menumbuhkan antar sahabat itu.
“Milana Meiritia Graha...atau Lana, apakah kau janji berkata jujur pada sahabatmu?”
“Ya aku berjanji, Meridian Hutan Cemara...begitu juga kamu, janji jujur pada sahabatmu Milana?”
“Ya tentu saja!” ucap Meridian yakin. Sesi pertanyaan dimulai dari Merdian untuk Lana.
“Lana, apakah kau memaafkan papamu, ya atau tidak?”
“Ya, aku memaafkannya”
“Apakah kau menyayangi papamu sekarang?”
“Ya, aku sedikit meyayanginya...tapi tentu saja aku tetap lebih sayang mama”
“Ehm...bagus...pertanyaan selanjutnya, apakah Lana menyayangi Meridian?”
“Sangat”
“Sangat?”
“Ya...dan aku takut...”
“Takut apa Milana?”
“Aku takut berubah menjadi cowok dan jatuh cinta pada Meridian, karena aku selalu merasa sangat nyaman di sisinya...”
“APA?”
“Ya Meridian... aku sangat takut... jangan-jangan aku lesbi!”
“APA?” Meridian kembali bertanya dengan suara lebih keras karena hampir-hampir ia tak percaya pada pendengarannya kali ini. Tetapi Meridian teringat akan Ratu Ode yang bijaksana, sehingga ia tak menjadi emosional dengan kata-kata Lana.
Meridian menarik nafas dalam-dalam, “Hmm....Milana sayang sahabatku. Makanya...jangan lepaskan bunga kamboja yang kuselipkan di telingamu. Dari foto itu kulihat engkau benar-benar wanita yang sangat cantik dan lembut hati.” Milana terhenyak mendengar kata-kata Meridian, ia kembali mengamati selembar foto cantik sewaktu di rumah sakit yang  disimpan dompetnya hasil jepretan Meridian itu sembari tersenyum simpul. Meridian melanjutkan kalimatnya,” Please... Jangan jadi cowok.... Kau boleh sayang Meridian tapi bukan berarti kau boleh jadikan Meri sebagai sasaran cinta pertamamu ya...Meridian 100% wanita normal lho!”
“Ha ha...iya pasti... Milana juga mau jadi wanita normal kok. Cuma sering gemes aja melihat rambut ikalmu yang belang putih itu. Meridian mirip boneka antik.”
“Nah... kalau Lana pingin jadi wanita normal, kenakan bunga itu di dalam hatimu. Hati yang penuh maaf, tidak mendendam. Dan... ehm... Meridian akan cari cara supaya Milana tidak tergoda sama rambut Meri...”
Percakapan itu mungkin seperti bercanda, mungkin juga menyatakan dengan terang benderang keadaan psikis kedua gadis itu yang sesungguhnya. Siapa yang tahu? Hanya hati mereka masing-masing yang tahu, serta Tuhan sang penggengam hati paling tersembunyi manusia mana pun. Tuhan pula yang telah menjadikan mereka bersabahat sedemikan erat dan melepaskan seluruh sekat-sekat komunikasi.
Esok pagi di Sekolah Menengah Lintas Budaya, datang melangkah ke halaman sekolah seorang gadis berkerudung merah. Apakah dia anak baru? Ah tidak, dia adalah Meridian dengan kerudung baru yang dibelikan nenek Sumi di pasar malam.  Nenek Sumi seorang muslimah sudah lama menyarankan agar Meridian mengenakan kerudung itu meskipun Meridian masih dalam kepercayaan lamanya. Baru sekarang Meridian setuju dan mengenakan kerudung dari nenek Sumi, untuk mencegah pandangan Milana yang suka tergoda pada rambut ikal belang putihnya itu.
Sepulang sekolah seperti biasanya Meridian menggandeng tangan Milana untuk kembali bercengkerama. Hanya Milana yang agak merasa sungkan dan menyesali perkataannya kemarin sore.”Hei.... Apa Meri lupa pernyataan Lana kemarin sore? Meri tidak takut sama Lana ‘kan?”
“Ha ha...kamu masih Milana, kamu bukan pelaku kriminal mana mungkin aku takut?” kata Meridian santai, “Memangnya Lana mau kasih sianida di acara minum teh kita sore ini? Stop bicara yang tidak-tidak Milana... Ingatkah kamu bahwa Melisa selalu berharap agar kakaknya menjadi yang terbaik? Aku yakin Milana tidak akan keberatan memenuhi harapan Melisa, jadilah terbaik di hadapan Tuhan! Milana hanya diam mengingat bahwa pada kornea matanya ada Melisa dan sejuta harapan untuknya. Begitu juga Meridian terdiam mengingat sesuatu dan tiba-tiba intuisinya bertindak, “Oya mana foto kamu kemarin? Boleh aku perlihatkan pada mamamu?”
“Foto tomboy cantik itu?”
“Iya”
“Buat apa? Mama kan nggak pernah respon sama kita?”
“Sudahlah tunggu ya...aku hanya ingin tahu reaksinya.” Merdian mengambil selembar foto dari tangan Milana dan berlari mengetuk pintu kamar mama Lana. Tak seberapa lama pintu terbuka dan seorang perempuan dengan wajah kusut masai keluar dari sana. Meridian meminta ijin untuk masuk, wanita itu mematung, mama Lana hanya diam membisu sekilas melihat Meri dan kembali lagi khusyuk diam memandangi rumput dan pohon kecapi dari jendela kamar. Perlahan Meri mendekati kursinya dan memberikannya air minum dari atas meja yang sedari tadi tidak disentuhnya. Mama Lana meminumnya seteguk.
“Mama...ini foto Milana! Cantik kan?” tanya Meridian sambil tersenyum. Milana membuntuti dan mengintip mereka dari balik pintu kamar mamanya.
Tak terduga mama Lana tersenyum sangat indah. Wanita itu, meskipun dengan gurat kesedihan di wajahnya sesungguhnya masih nampak cantik dan menarik, apalagi jika ia tersenyum tulus seperti itu.
Mama Lana beringsut dari kursinya dan menyibakkan seprai tempat tidurnya. Dari bawah tempat tidur itu ia mengambil sebuah kotak. Dibukanya kotak itu dan di sana tersimpan foto-foto masa lalu keluarga Lana. Ada foto Milana kecil bersama adiknya Melisa, serta mama dan papanya. Setumpuk foto tentang keluarga bahagia, setidaknya yang terekam dalam foto-foto itu. Milana menghampiri mereka penasaran pada apa yang ditunjukkan mamanya kepada Meridian. “Ah...itu fotoku waktu kecil...kenapa mama menyembunyikannya?” tanya Milana dengan raut wajah sedih.
Mama Lana hanya menggeleng, Lana memeluknya sembari menangis tersedu. Mama tetap diam dan menggeleng.
“Lana...mungkin mama hanya ingin melupakan harapan dari masa lalu kalian...” Kata Meridian.
“Ya...kau benar... Meridian. Tapi Milana tidak akan pernah lupa akan semua kenangan indah kita Ma...” ujarnya sembari memeluk mamanya erat. Lalu ia menoleh pada Meridian, “Please panggil aku Milana sekarang, Lana sudah tamat! Lana hadir untuk melupakan, sedangkan Milana tak pernah lupa”
Meridian merangkul kedua perempuan itu dengan kasih sayangnya, serupa sayap-sayap dari surga yang mampu menghangatkan hati kedua wanita yang luka itu. Lalu sembari melihat-lihat lembaran foto-foto keluarga itu Merdian berkata, “Milana kecil ternyata sengat cantik dan imut... Milana, sebagaimana kau ingin disebut dengan nama itu... aku bahagia jika kini engkau mengakui bahwa dirimu adalah perempuan sejati, itu bagus! Menjadi perempuan tidak berarti lemah... Perempuan adalah pendamping lelaki yang menyempurnakan bagiannya yang kurang.  Kita setara dengan mereka, seperti Yin dan Yang... dan kata nenek Sumi seperti Rahman dan Rahim.”
“Ya Meri, sahabatku yang manis dan bijak. Aku Milana... Aku perempuan... Aku kuat....tidak lemah!” Milana menitikkan air mata, ia tersenyum puas menyadari pembaharuan jati dirinya. Seolah-olah sedang mengenakan baju baru dengan pernak-pernik yang disusunnya sendiri dengan memilih kemilau cahaya yang lebih terang. Tak ada yang perlu ditakutkan dari sebuah pengakuan.
Mereka berdua, para gadis itu telah menyusuri banyak waktu bersama-sama. Tumbuh menjadi gadis remaja memang tidak mudah, apalagi jika di masa itu dukungan orangtua sangat kurang. Masa penuh badai dan topan. Masa penuh kegalauan. Masa pencarian jati diri. Namun dengan kebersamaan dan komunikasi yang saling menumbuhkan antar sahabat, semua hambatan dan tantangan pasti bisa diatasi.

***

  • view 296