Janji Buat Ayah

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 September 2016
Janji Buat Ayah

JANJI BUAT AYAH

Karya : Shanti Agustiani

 

Kukayuh sepeda ini tanpa lelah, meskipun dengan dengus nafas yang tak teratur lagi serta degup jantung yang semakin lelah memompa aliran darah. Tetapi aku tidak ada apa-apanya dibanding dia yang lebih dulu memberi teladan kepadaku. Lelaki kurus berbalut tulang dengan topi  dan kaus lusuh menentang panasnya terik matahari dan debu jalanan ibukota, mengayuh becak selalu bersemangat. Sedangkan aku kini, tak sekurus dia dan nafasku masih menggelora dengan target nyata menuntaskan sebuah janji.

 

“Apa kau pegang janji itu?” tanyanya lirih.

 

“Ya, aku lelaki, aku memegang janji!”, kataku mantap saat itu.

 

Tak peduli tatapan mata mereka yang menatap dengan wajah nyinyir ke arahku. Mereka yang membunyikan klakson berulangkali saat merasa sepedaku mulai menghambat laju kendaraan roda empat dengan warna-warni metalik berkilau yang seakan mengejek sepeda onthel tua ini. Aku sungguh tak peduli. Karena aku lelaki dan aku memegang janji!

 

“Hai kau... Jokotole! Apa nggak bisa nyicil sepeda motor, malu-maluin aja ada sepeda butut parkir di gedung kuliah semegah ini!”, si nyiyir Franky mulai bikin aku geram dengan gaya sok kuasanya itu. Memangnya kampus ini miliknya sehingga melarang sepedaku parkir di sini? Apa urusannya menyuruhku nyicil motor segala? Aku cinta sepeda onthelku, sebab di dalam setiap irama pedalnya ada nafas semangat yang membara.

 

Aku rasa percuma saja jika aku harus buang-buang waktu baper dengan kata-kata si nyinyir Franky sedangkan waktuku tinggal sedikit saja bersisa untuk menepati sebuah janji. Segera saja aku buka laptop, memperbaiki beberapa point yang telah dicorat-coret dosen pembimbingku. Oh Tuhan, hidupku berpacu dengan waktu yang hanya tinggal sebulan perbaikan ini. Kira-kira sudah 11 kali  bab Analisisku dihiasi coretan merah di sana-sini. Kali ini tidak boleh ada coretan sedikitpun. Bahkan tidak dari lipstik merah yang sempat menggodaku dengan senyum tipisnya di depan pintu ruang kelas malam. Aku bukan banci, sesekali aku memang tergoda lipstik  merah, tetapi jika aku belum memenuhi janjiku, maka lipstik merah adalah racun! Sama gilanya dengan coretan merah dosen pembimbingku!

 

Usai memperbaiki skripsi, kembali kukayuh sepedaku menuju gedung rektorat, di mana dosen pembimbing bersemayam, semoga ada...semoga dia ada kali ini! Dosen yang tak boleh ditelepon mahasiswanya itu semoga masih asyik di ruangan ber-AC-nya kali ini.

 

Kuketuk pintu setebal 5 inchi itu. ”Assalamu’alaikum!” Hening tak ada jawaban...ketuk lagi...ketuk lagi hingga tiga kali. Ketika aku berhenti mengetuk dan berdiam sambil memejamkan mata dan berdoa, tiba-tiba terdengar derit pintu di buka. Sang asisten membuka dan mempersilahkan masuk. Kulihat Profesor tua kepala botak itu sedang serius memelototi laptopnya, seolah tak menggubris kehadiranku.

 

“Duduklah!” katanya tanpa menoleh sedikitpun

 

“Prof,  ini bab 4 sudah saya perbaiki mohon diperiksa.” Ujarku dengn penuh harap. Akhirnya ia menoleh dan mengambil kacamata minusnya. Lama ia pandangi bab 4 ku dengan dahi mengkerut, setelah beberapa menit....”ACC!” ujarnya tanpa ekspresi.

 

Oh yess!!” Seketika aku ciumi tangan Profesorku dengan penuh khidmad. Tak peduli lagi bau minyak rambut yang masih tersisa licin di jemari gendut itu. Alhamdulillah....akhirnya jadi juga aku mendaftar sidang skripsi dan segera kupenuhi janjiku pada Ayah. Akan kupersembahkan sebuah toga dan selembar ijazah berisi pernyataan “Lulus dengan nilai Cum Laude!” Akan kusampirkan di atas pusaranya.

***