Gadis Naik Bujang (part 8) - Sayap-Sayap dari Tuhan

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 September 2016
Gadis Naik Bujang (part 8) - Sayap-Sayap dari Tuhan

SAYAP-SAYAP DARI TUHAN

 Karya : Shanti Agustiani
Meridian setia mengunjungi Lana setiap sore di rumah sakit, kadang-kadang ia membawa bunga yang dipetiknya dari taman rumah biru. Lana menyukai bau bunga Kamboja yang dipetik Lana sore ini, baunya yang tajam mengingatkan tentang kasih sayang mama sewaktu masih sehat dulu suka menanam bunga dan meletakkan bunga-bunga kamboja di atas wadah berisi air. Di tengah-tengah meja makan keluarga.
“Bagaimana dengan mamaku Meri, siapa yang menjaganya di rumah?” tanya Lana.
“Tenanglah, setiap pulang sekolah aku sempatkan mengunjunginya, ternyata ada tetangga depan rumahmu yang bersimpati padanya, Bi Inah. Beliau yang selalu menjaga mamamu!”
“Ohhh....”, Milana tersenyum dan merasa tenang, “Bi Inah dulu memang asisten rumah tangga kami, tetapi semenjak Papa pergi, kami tak sanggup lagi membayar gaji Bi Inah. Jadi ia hanya sesekali datang ke rumah sekedar bersilaturahmi.  Bi Inah memang baik hati ...”
“Ya syukurlah Lana, di Pulau Harapan ini masih banyak orang yang baik tanpa mengharapkan balas jasa sepeti Bi Inah”
“Dan seperti kamu juga”, sahut Lana sambil menjawil lengan Meridian. Meri pun tersenyum  sembari menyelipkan sekuntum Kamboja ke telinga Milana, “Wow Lana, ternyata kamu cantik juga kalau pakai bunga di telinga, mirip cewek sungguhan!”
“Jadi kau kira selama ini aku bukan cewek?!” tanya Lana sambil tertawa cukup keras. Sampai-sampai perawat di ruang sebelah mengintip mereka berdua.
“Sini mana kamera HP-mu aku pinjam buat motret kamu ya...”Meridian mengambil HP dari tangan Lana dan “Cekrek ...Cekrek ...” dua kali ia mengambil pose si gadis tomboy yang sedang memakai bunga Kamboja di telinga.  Tak seberapa lama HP tersebut berdering oleh nada panggil dari Papa Lana. Meridian segera mengembalikannya ke tangan Lana
“Maafkan Papa ...sore ini Papa urus adikmu dulu, sakit leukemianya kambuh!” ujar suara di seberang sana. Kemudian Papa Lana meminta berbicara dengan Meridian, “Baik Om...biar saya yang menjaga Lana di sini, jadi di mana Melisa dirawat?”
 “Adikku sakit Mer...” ujar Lana pelan
“Ya...leukemia itu kanker darah ya?”, sahut Meri mengingat-ingat kembali tentang nama penyakit yang masih kedengaran asing baginya.
Ya...kukira memang begitu, kanker darah .... makanya wajahnya pucat dan lemah...” Milana mengingat-ingat bagaimana terakhir ia melihat Melisa, terbersit rasa takut kehilangan adiknya mengingat penyakit itu cukup berat dan seringkali berujung pada kematian.
Malam itu juga Melisa dirawat di rumah sakit yang sama dengan Milana, di bangsal yang berbeda. Meridian pun mengunjungi bangsal Melisa. Pada saat hendak mengunjungi Melisa itulah Meri bertemu Papa Lana yang sedang berbincang-bincang serius dengan seorang dokter bedah mata.
“Jadi penglihatan anak saya masih bisa pulih dokter?” tanya papa Lana
 “Kami akan mencarikan donor itu, kalau perlu biar saya sendiri yang mejadi donornya dokter”
“Semua pendonor harus diperiksa lebih dulu kecocokannya,” ujar dokter tersebut menjelaskan, “Tidak asal bongkar pasang yang bisa mengakibatkan penolakan, ini bukan permainan Lego!”
“Ya saya paham dokter....” ujar Papa. Kemudian lelaki itu menengok Lana sebentar dan kembali ke ruang Anyelir 1 tempat Melisa terbaring ditunggui oleh mama tirinya.
Di ruang itu mereka memperbincangkan soal kemungkinan donor mata itu, mama tiri Lana nampak tidak rela jika suaminya sampai mendonorkan matanya, “Gila, bagaimana kamu hidup tanpa kornea?” Mereka pikir Melisa sedang tidur dan tak mendengarkan percakapan itu. Ternyata Melisa menyimak baik-baik dan tengah mengambil sebuah keputusan yang penting dalam hidupnya. Ia membuka matanya dan berucap “Apakah mereka membutuhkan donor mata untuk kakak Lana? Ambilah mataku... toh aku merasa hidupku tak akan lama lagi...“
“Lisa jangan begitu. Kau akan medapatkan perwatan terbaik, kau akan segera sembuh nak!” seru Papa yang terkejut dengan kata-kata Melisa.
“Tidak Pa... kalau Papa ingin aku bahagia, ijinkan aku memeriksakan mataku apakah layak buat kakak Lana. Aku ingin menjadi bagian dalam hidupnya selamanya. Sudah banyak tahun kami lewatkan dengan perpisahan dan air mata, kami ingin saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Donor kornea mata adalah satu-satunya kesempatanku untuk menebus banyak tahun yang melelahkan jiwa itu. Jangan halangi aku kali ini Pa... jangan...lebih baik aku mati sekarang jika kalian tidak menijinkan aku. Walaupun bagianku hanya sebesar kornea, tetapi aku akan melihat dunia yang sama indahnya dengan dunia kakak Lana. Please Papa...ijinkan aku!”  Melisa meyakinkan papanya yang tak rela anaknya berkorban sedemikan rupa buat kakak yang sangat dicintainya, tetapi ia juga tak sanggup menolak harapan yang paling diinginkan Melisa di hari-hari terakhir hidupnya. Seandainya memang ini merupakan firasat kepergian anak bungsunya untuk selamanya.
Akhirnya Melisa diijinkan menjalani tes kelayakan sebagai calon pendonor kornea mata. Semua orang merahasiakan hal itu dari Lana. Lana hanya diberi tahu papanya bahwa matanya akan dioperasi untuk proses penyembuhan. Meridian pun mengetahui hal itu, dia punya banyak telinga di mana-mana, namun ia tutup mulut khawatir Lana akan mengambil tindakan nekad jika mengetahui niat Melisa tersebut. Sementara kanker darah Melisa dinyatakan sudah sangat parah menggerogoti fisiknya yang semakin lemah. Beberapa hari kemudian Melisa yang sudah tak dapat berbicara apa-apa lagi menyempatkan diri menulis surat di atas secarik kertas yang dimintanya dari Meridian, “Jangan lupa berikan kornea mataku pada kakak Lana, aku akan menyambung hidup bersama sepasang mata indahnya...”Begitu kata-kata pada surat itu disampaikan Meri kepada Papa Lana. Tak lama kemudian, diiringi doa dan sesungging senyum di wajah lembut Melisa, ia dijemput kereta kematian yang indah. Kematian yang membawa faedah bagi orang yang dicintainya. Demi menjalankan amanah, team dokter dikerahkan untuk menjalankan prosedur transplantasi kornea mata Melisa kepada kakaknya, Milana.
Ada banyak tahap yang harus dilalui Milana sesudah operasi itu. Matanya masih diperban ketika teman-teman sekelasnya datang menjenguk, termasuk Badu yang beranjak menjadi remaja pria yang matang. Ia berlari lebih dulu membawa buket bunga buat Milana.
“Milana, hari ini aku persembahkan bunga untukmu, dengan harapan kau cepat sembuh dan kembali melihat ketampananku.....”bual Badu berusaha membuat Lana tersenyum. Teman-teman lain menimpali,”Huuu...Badu tampan? Jika mata Lana berubah menjadi mata 4 dimensi pun kukira ia tak akan tahan melihat wajahmu...”
“Karena silau gitu?” tanya Badu.
“Ya silau ngelihat gigimu Badu... kau permak dulu gigi bemo itu, baru kau bisa dibilang lumayan tampan!” ujar Baihaki menimpali.
Riuh rendah mereka tertawa, namun hati Milana teras sunyi karena ia belum bertemu Melisa lagi semenjak adiknya itu dirawat. Sepulang teman-teman sekelasnya, Papa Lana datang menjenguknya. Sore itu perban mata Milana sudah boleh dibuka.
Silau, lampu rumah sakit teramat silau ketika perban itu mulai dibuka dan Lana membuka pelan-pelan kelopak matanya. Di ujung ranjang ia melihat Meridian yang setia menungguinya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ada papa dan mama tirinya di sana. Tetapi ia belum melihat Melisa. “Di mana adikku?”
“Maaf kami baru memberi tahu, adik kamu sudah dijemput Tuhan satu hari sebelum operasi matamu” ujar Papa tergagap...”Lana... kami takut operasimu bisa kacau jika kamu mengetahui hal ini!”
“Melisa!”
“Ya Mellisa sudah tiada, ia menitipkan kornea matanya untuk dirawat Lana”
“Maksud Papa?”
“Ya nak...Melisa mendonorkan kornea matanya bagi kesembuhan kakak yang sangat dicintainya. Itu amanahnya sebelum meninggal dunia...”
“Ya Tuhan... anak itu.... bahkan kami belum tuntas melepas rindu Pa...kenapa dia...kenapa harus dia?”
“Sudahlah nak, ikhlaskan jiwanya... Melisa telah damai di alam sana. Ia jutsru merasa bangga bisa menolong kesembuhan kakaknya di saat-sat terakhir hidupnya”
Milana terpukul, Meridian menghampiri sahabatnya dan memeluknya erat sembari memperlihatkan sepucuk surat terakhir dali Melisa. “Dia menitipkan kornea matanya untukmu Lana...”
“Tapi...aku masih kangen dia Meri....” ucap Lana sembari menitikkan air mata pertamanya seusai operasi.
Meridian cepat-cepat mengusap air mata itu dengan tissue khawatir bening embun di mata Lana itu akan membuatnya perih. Meridian pernah mendengar dokter mewanti-wanti soal mata Lana yang masih rentan pasca operasi.  “Lana dengar, ini kornea mata yang sangat berharga, tolong jangan lukai hati Melisa di alam sana atau jika dia sedang memantau lewat kornea yang istimewa ini. Jadikanlah hadiah terakhirnya ini bermakna, karena engkau adalah perpanjangan hidupnya, perpanjangan harapannya!” ujar Meridian menegur Lana yang terus menyesali kepergian adiknya. “Melisa sedang berbahagia sekarang dan ia bangga kakak tercintanya bisa melihat dunia kembali...”
“Meri....kau benar....ia bahagia bersama Tuhan!” ucap Lana lirih.
Lana akhirnya menerima kenyataan pahit itu, ia mengikhlaskan kepergian Melisa untuk selamanya. Lana berjanji akan menjaga mata itu baik-baik. Melihat hal–hal baik dengan cinta bukan dengan kebencian apalagi dendam. Papa, Mama, Meri dan sahabat-sahabat lainnya terlebih Melisa yang telah mendonorkan kornea mata buat hidupnya kini dipandangnya bagaikan sayap-sayap dari Tuhan, yang bisa membuat cakrawala berpikirnya terbang lebih tinggi daripada biasanya.
 
***
 

  • view 294