Gadis Naik Bujang (part 7) - Pertemuan Tragis

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 September 2016
Gadis Naik Bujang (part 7) - Pertemuan Tragis

PERTEMUAN TRAGIS

Karya:  Shanti Agustiani

Hari minggu Lana bersepeda menemui Meridian di rumah nenek  Sumi. Milana dan Meri akan melanjutkan permaianan detektif menebak seorang gadis misterius yang sering muncul di danau tempo hari.
“Lana....apa kau melintasi jalan pintas negeri awan sehingga ketika bersepeda rasanya kau lebih cepat sampai melesat kemari?”, tanya Meri terheran-heran melihat sosok Lana yang tiba-tiba muncul di halaman rumahnya dengan celana training dan kaos t-shirt yang lengket penuh dengan keringat turun dari sepeda balap Polygon.
“Ya tentu dong, siapa dulu yang kau jumpa, pembalap sepeda!”, ujar Lana sambil mengelap keringat yang bercucuran di kepala dan hampir seluruh tubuhnya dengan sehelai handuk kecil. Baru saja turun dari sepeda dan hendak meminum air mineral bekalnya, nenek Sumi sudah berteriak-teriak dari dalam rumah, “Ayo....pada minum teh dulu, nenek baru saja rebus ubi dan jagung!”
Seperti biasa Lana dan Meri masuk lebih dulu ke rumah nenek Sumi dan berusaha menyenangkan hati nenek sambil bercanda dan menikmati suguhan sore itu. Lana kekenyangan, tiga potong ubi rebus dan  satu jagung rebus telah tandas dilahapnya lengkap dengan teh manis. Hampir saja Lana tertidur di depan televisi ketika Meridian menjawilnya, “Bosss...jadi nggak nangkap target hari ini!”
“Oya... ya,,,jadi dong ngapain jauh-jauh ke sini kalau nggak menangkap target!”, ujar Lana segera bangkit sembari menarik lengan Meridian. Usai mempersiapkan peralatan detektif berupa buku catatan dan kaca pembesar. Mereka berdua berjalan mengendap-endap menuju danau. Terlebih setelah melihat dari kejauhan bahwa target mereka sedang mendekat ke arah danau. Langkah mereka semakin pelan tanpa suara. Dari balik semak-semak mereka mengintip gadis berambut panjang itu sedang meletakkan sebuah perahu origami di atas aliran air danau yang tenang, perahu itu lalu hanyut perlahan. Usai melayarkan perahunya gadis itu beranjak pulang, dengan dibuntuti dua orang detektif amatir.
Hari ini penyelidikan mereka membuahkan hasil, memang benar tebakan detektif Meridian sebelumnya bahwa rumah Lana memang gedung dengan cat abu-abu pucat itu. Mereka sesekali berhenti untuk membiarkan gadis itu merasa aman dengan langkah gontainya. Si gadis masuk pagar, menutupnya. Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil, lalu pagar kembali dibuka oleh satpam.
Dua detektif itu baru akan pulang ketika tiba-tiba mobil hitam yang baru keluar dari rumah itu membunyikan klakson. Demi melihat dua orang gadis yang sedang berdiri di dekat pagar rumahnya, pria dari dalam mobil itu membuka jendela, “Ada apa? Kalian temannya Melisa?”
Lana gemetar, lelaki itu sangat dikenal nya di masa kecil, lelaki yang meninggalkan ia dan mamanya tanpa pesan dan pendampingan selama ini. Lana tak menyangka, sangat terkejut, ia tak siap, lukanya kembali berdarah. Ia segera mengambil sepeda dan mengayuhnya dengan cepat meninggalkan Meridian yang kebingungan melihat adegan itu.
“Lana...apa yang terjadi...kamu mau ke mana?”
“Maaf Meri aku duluan!” sahut Lana tanpa menoleh dan mengayuh sepedanya sekencang angin di sore yang bergelayut mendung itu. Ia tak peduli lagi dengan Meridian yang terus memanggil-manggil namanya dengan wajah cemas.
Papa Lana menanyai Meri tentang apa yang terjadi dan Meri menjawab kemungkinan sahabatnya mengenal lelaki itu. Papa Lana memang hampir melupakan wajah Lana apalagi ia sudah tumbuh menjadi gadis remaja tetapi masih lekat dalam ingatannya saat ia meninggalkan anak itu dengan wajah mungilnya yang memberengut, tangan terlipat, dan rahang kotaknya nampak kokoh. Tak ada air mata yang menangisi kepergian mereka dari gadis berambut cepak itu, yang membuat Lana kecil seperti anak lelaki yang sedang mengusir dirinya dari rumah. Anak sulung pembela mama. Lelaki setengah baya itu akhirnya paham bahwa gadis itu adalah anak yang ditinggalkannya sejak kecil.
Papa Lana turun dari mobilnya dan memanggil Melisa yang terbengong-bengong di balkon loteng rumahnya. “Lisa... turunlah nak, kita akan mencari kakakmu!”
Meridian merinding mendengar kata-kata itu Rupanya benar, memang pria itu sangat dikenal Lana, mereka adalah papa kandung Lana dan gadis misterius yang menjadi target mereka selama ini adalah Melisa, adik kandung Lana yang selama ini sangat dirindukan gadis tomboy itu.
“Nak ikutlah bersama kami!” Papa mengajak Meri dan membukakan pintu belakang mobilnya. Meridian mengangguk, sekilas Meridian bertatapan dengan Melisa. Alangkah berbedanya kedua kakak beradik itu , Melisa berambut panjang, wajahnya melankolis, matanya cekung hitam dan sunyi, sesunyi danau yang sering dikunjunginya di sore hari menjelang senja. Kulitnya putih bahkan sangat pucat, pertanda jarang terkena sinar matahari atau terlalu dibatasi keluar rumah. Sedangkan Lana sangat coklat dan sangat tomboy, si coklat yang menantang matahari atau siapa pun yang mengajaknya berkelahi. Meskipun kadang-kadang sinar matanya redup lelah menyinari dirinya sendiri agar tak terlihat lemah.
“Jadi  nak Meri ini sudah lama berteman dengan Lana?”
“Ya...sudah dua bulan ini... Bahkan Lana sudah saya anggap sebagai saudara sendiri!”ujar Meridian, kata-kata yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menyinggung, tetapi cukup menusuk hati Papa Lana. Mata lelaki itu nampak serius mematung menatap jauh ke depan seolah mengenang masa lalu mereka.
Tiba di perempatan jalan menuju jalan raya mereka mendengar kegaduhan dan keramaian di seberang sana. Reflek mobil Papa Lana mendekati kerumunan itu, ia merapatkan mobilnya dan mereka semua turun. Meridian menggandeng tangan Melisa yang terkulai lemas ,“Kakak Lana ...’ suaranya lirih terdengar. Meridian mengenggamnya lebih erat. Mereka memang menemukan Lana tak lama berselang, dikerumuni banyak orang. Lana terserempet truk yang melaju kencang ketika hendak menyeberang jalan raya dengan sepeda anginnya. Sepeda polygon itu terhempas di trotoar jalan raya. Lana bersimbah darah.
“Kakak Lana!” seru Melisa menangis menjadi-jadi. Meridian menenangkan Melisa yang histeris.
“Anakku...itu anakku...tolong angkat dia ke mobilku!” seru Papa berteriak kepada orang-orang yang mengerumuni gadis itu. Maka mereka pun membopong Lana ke mobil. Papa segera melarikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Tiba di UGD, Lana segera mendapatkan pertolongan dokter dan perawat rumah sakit. Lana mengalami pendarahan di hidungnya dan luka-luka di lengan dan kakinya. Lana belum sadar hingga beberapa jam kemudian, luka-lukanya sudah ditangani, ada beberapa jahitan pada lengan dan kakinya.
Ketika Lana sadar, kelopak mata gadis tomboy itu mulai membuka. Ia heran mengapa setelah membuka mata yang ada di sekitarnya hanyalah kegelapan, kelam, hitam, dan menakutkan. “Di mana aku? Apa aku sudah mati?” tanyanya lemah menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya terdengar suara sedu sedan Melisa dan terasa genggaman tangan Meridian yang sangat dihafalnya.
“Maaf Lana...ujar suara berat di ujung sana. “Kata dokter kornea mata Lana terkena serpihan benda tajam...” itu suara Papa Lana.
“Meri...lihatlah aku, aku buta! Aku tak punya masa depan!” Lana berteriak mengguncang tangan Meridian yang sedang menggenggamnya.
“Tidak Lana...masa depan bukanlah selebar padangan matamu....Masa depan tetap ada selama mata hatimu masih ada!” ujar Meridian menenangkan. Melisa menangis sesunggukan, meringkuk di tepi ranjang pesakitan.
 “Melisa apakah kau di sana? Sudahlah hentikan tangismu! Bukankah kita sudah bertemu kembali setelah sekian tahun terpisah?”, Lana mengingatkan adiknya. Lalu Melisa merengkuh tubuh kurus tinggi kakak yang dirindukannya, ”Kakak... Kenapa kita bertemu dalam keadaan seperti ini?”
“Biar bagaimana pun adikku... pertemuan tetap lebih indah daripada perpisahan, meskipun di hari perpisahan itu dunia masih terang-benderang.” Milana mengatakan itu sambil tersenyum menenangkan adiknya dan dirinya sendiri.  Melisa menganguk, ia mengusap pipi kakaknya yang tirus dan kotak itu, menciumi dahi Lana dengan kepasrahan. Bisiknya, “Aku adikmu, aku akan berikan hari-hari yang terbaik untukmu, menebus keterpisahan kita selama ini!” ujarnya lirih.
Meridian terharu menitikkan embun air matanya menyaksikan hal itu. Papa Lana menghampiri kedua gadisnya. “Kalian anak-anak Papa...jangan sampai terpisah lagi ya... Maafkan  Papa ya Lana...Tolong maafkan!”
“Bukan aku yang terluka hati Pa... Tapi Mama... aku hanya kadang-kadang menghayati luka hati mama supaya ia tidak sendirian di muka bumi ini.”, sahut Milana datar.
Papa sedih tertunduk terpekur oleh masa lalu dan rasa bersalahnya. Ia memeluk kedua putrinya erat-erat. Di luar sana mulai turun hujan yang sangat deras, seolah turut berduka atas peristiwa yang dialami Milana. Sang hujan sebenarnya juga merupakan pertanda  rahmat Tuhan bagi jiwa yang mensyukuri pertemuan itu.
 
***
 

  • view 221