Gadis Naik Bujang (part 6). Surat dari Kampung

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 September 2016
Gadis Naik Bujang (part 6). Surat dari Kampung

Surat dari Kampung

 

Karya : Shanti Agustiani

 

Tak terasa sudah sebulan lamanya Meridian tinggal di kota Asa, di Pulau Harapan. Rindu juga rasanya pada kampung halamannya, pada mamak dan ayahnya, pada ibu guru Mak Bere dan Kak Wita, pada kawan-kawannya di hutan Cemara, pada Ratu Ode pujaaan rakyat pulau Hutan Cemara. Ternyata kerinduannya cepat terjawab. Baru saja Meri hendak menutup jendelanya sore itu, datanglah seeokor burung merpati. Merpati itu kawan Meridian dari Hutan Cemara, pada paruhnya merpati membawa sepucuk surat. Meridian menyambut kawan lamanya dengan sangat gembira.
“Hai apa kabar Merpati Hutan Cemara!” Sapa Meri  sembil mmebelai sayap kawannya itu. Si Merpati merundukkan paruhnya lantas menyerahkan sepucuk surat yang ternyata berasal dari mamak di kampung.

“Meridian sayang, apa kabar putri cantikku?

Kami semua di sini sangat merindukanmu. Mamak yakin semenjak Ratu Ode mengutusmu ke kota, kau pasti akan dibutuhkan kembali ke kampung ini. Memimpin kami, bahkan mungkin menggantikan kedudukan Ratu Ode jika beliau pensiun. Wanita juga bisa menjadi pemimpin, apalagi wanita seperti Meri yang lembut hati namun sangat berani menjaga kebenaran.

Untuk menjadi pemimpin yang hebat, belajarlah terus di sana! Mamak masih punya sabar menunggumu hingga dewasa. Dalam belajar, ingatlah sewaktu kau kuajari menanam benih. Jika lahanmu kurang subur, gemburkanlah dulu dan suburkan dengan pupuk baru kau tanam benih di tanah yang subur. Jangan menanam di tanah yang keras dan tidak subur. Sia-sia!

Semoga engkau mengerti maksud Mamak, beruntung Merpati Hutan Cemara mau mengantarkan surat ini. Berterimakasihlah padanya dan berikan rotimu untuknya!”

 

Demikian surat dari Mamak, dibacanya dengan penuh haru dan linang air mata Meri yang tak tertahan lagi. Namun karena Merpati Hutan Cemara menunggu ia cepat-cepat membalas surat mamak dengan satu kalimat, “Iya Mamak, Meri pasti mengerti, Meri juga rindu dengan Mamak dan seisi kampung halaman Meri.” Lalu diberikannya roti hadiah bagi burung merpati pengantar surat itu, “Terima kasih kawan, aku masih rindu padamu tapi apa boleh buat kau pasti sedang ditunggu mamak dan ratu Ode, cepatlah pulang sebelum matahari tenggelam!” Merpati itu menurut dan segera mengepakkan sayapnya terbang menuju Pulau Hutan Cemara nun jauh di sana.
Usai merpati itu pergi, Meridan membaca ulang kata-kata Mamak tentang benih itu. Tanah yang subur, tanah yang tidak subur. Ladang bakat dan ladang manfaat adalah tanah yang subur. Ladang kegiatan yang tidak manfaat, serta ketidakbisaan yang menetap adalah ladang tanah yang tidak subur. Fokus pada kesuburan, dari situlah pohon pembelajaran hidup akan bertumbuh, bertunas dan berkembang! Cepat-cepat diambilnya spidol dan kertas, digambarnya deskripsi tanah subur dan tanah tidak subur itu. Esok di sekolah ia harus mengatakan pada Lana mengenai hal ini. Lana jangan fokus ke masa lalu, ke masalah, kepada ketidakbisaan yang terus membatasi langkahnya. Lana harus fokus pada bakat, pada mengasah kebisaan, pada masa depan yang lebih cemerlang. Sebab Meridian paling tidak suka melihat kesedihan yang mendalam di mata Lana, meskipun gadis tomboy itu tidak pernah terlihat menangis. Meridian tetap jeli menangkap duka terpendam, sebagaimana ia jeli menangkap kunang-kunang di gelapnya malam Hutan Cemara saat bermain malam hari di kampungnya.
Esok hari di sekolah, Meri menyerahkan gambar itu kepada Lana dan ia menjelaskan tentang rumus tanah subur-tanah tidak subur di saat jam istrirahat.
“Lana kau jangan mengingat-ingat masa lalu ya...” pinta Meri. Meridian akhirnya mengerti bahwa kedua orangtua Lana telah bercerai dan adiknya telah terpisah dengannya bertahun-tahun lamannya.
“Ah ya...tentu saja...bagus juga rumus itu ya, harusnya aku bisa bahagia tanpa syarat!”
“Ya bahagia dan berkembanglah tanpa syarat, kamu hanya harus menggemburkan lahan bakatmu, dan tanam benihmu di sana. Kita bekerja untuk masa depan!”
“Kita belajar dan bekerja untuk masa depan!” Lana menambahkan. Mereka berdua tersenyum sepakat.
“Ok pekerjaanmu sebagi detektif mesti harus dilanjutkan ya! Kukira Meri berbakat dalam hal itu!
“Asyikk... kapan Lana ke rumah nenek Sumi lagi?” Meridian berbinar-binar bersemangat.
“Minggu”
“Ya minggu... kita mencari si gadis misterius yang sempat tertunda waktu itu karena Boss Lana ditunggu-tunggu tidak datang juga. Akhirnya Detektif Meri kurang semangat!”
“he he he...iya maaf...sebenarnya ingin ke sana tapi minggu lalu aku ada jadwal mengantar mama ke psikiater.  Nah, minggu ini aku free!”
“Horee!” Meridian kegirangan berteiak sangat keras. Terdengar suara Badu mengomel dari belakang bangku mereka berdua.
“Berisik amat sih!” Badu melotot ke arah Meri.
Seketika Lana berdiri dan langsung maju ke arah Badu sembari melinting lengan bajunya. “Badu....sekali lagi kuingatkan, jangan ganggu Meri, dia adikku!”
“Adik...Adik dari Hongkong? Dia kan anak baru...kamu aja baru kenal sekarang di sekolah ini.”
“Dia adikku yang hilang Badu...jangan banyak kepo dengan kami ya!” seru Lana lagi, “Yang penting dia adiku, TITIK!” Lana maju selangkah dan merenggut kerah baju Badu, tetapi segera dilerai Meri, “Sudah...cukup! Lana sayang...ingat jangan fokus pada masalah, dia sejenis tanah yang kurang subur!”, bisik Meridian ke telinga Lana. Lana pun berusaha meredam emosinya. Sementara Badu lari ke luar membebaskan dirinya. Meski banyak tingkah begitu, mentalnya cemen juga!
“Badu peace- ya...damai!” seru Meri sambil tersenyum kepada Badu. Sama sekali tak terbesit dendam di wajahnya.
“Ya sudahlah... Maaf dan damai ya!" Seru Badu sembari merentangkan jari telunjuk dan jari tengahnya, tanda berdamai, setelah itu ia berlari menghambur keluar kelas takut sama pelototannya Lana. Biar bagaimana pun perkelahian di sekolah termasuk pelanggaran tingkat berat yang bisa membuat mereka tidak naik kelas. Rupanya Meri dan Badu memahami konsekuensi itu dan sepakat berdamai, begitu juga Lana akhirnya ikut-ikutan berdamai. Semenjak itu Badu tidak pernah lagi berani mengganggu Meridian, malah semakin lama Badu dan Meri semakin akrab. Tanah kering yang luluh oleh air dan pupuk yang dibagi Meridian kepadanya. Seorang Badu, sebadung-badungnya juga berhak untuk menyuburkan bakatnya dan menjadi pribadi yang lebih berkembang. Badu kuat lari, kemana-mana ia cenderung berlari, termasuk melarikan diri dari masalah seperti tadi. Itulah bakat Badu yang perlu dikembangkan, siapa tahu ia menjadi atlet lari nomor wahid di kota ini. Bukankah Tuhan menciptakan setiap diri manusia tidak dengan kesia-siaan? Pasti ada sisi lahan subur yang bisa digali, pasti ada kebaikan yang patut diperhatikan dan dirawat dengan baik agar kebaikan itu bertumbuh dan berkembang untuk memberikan manfaatnya di dunia ini.

 

***