Gadis Naik Bujang (part 5) . Episode Luka Lana

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 September 2016
Gadis Naik Bujang (part 5) . Episode Luka Lana

EPISODE LUKA LANA

Karya : Shanti Agustiani

 

Sendiran Lana di hari minggu di rumahnya yang sepi, betapa ia merindukan Meridian padahal baru beberapa hari Meridian sakit. Kemungkinan besok pun sudah ketemu. Ia tidak tahu mengapa ia tertarik ngemong bocah itu, mungkin karena usianya memang lebih dewasa satu tahun, mungkin karena teringat adik kandung perempuannya yang terpisah bertahun-tahun yang lalu. Mungkin pula karena sebab lain yang ia sendiri tidak tahu.

Dahulu, ya dahulu 7 tahun yang lalu, rumah besar ini tidaklah sesepi ini. Masih ada Melisa adik yang suka mengajaknya bermain, Melisa lebih feminin, rambutnya panjang dan hitam, matanya pun hitam, kelam, menyembunyikan duka. Waktu itu papa dan mama Lana memang sudah sering bertengkar. Mama merasa tidak pernah diberi perhatian yang cukup, sedangkan papa memang selalu sibuk dengan urusan kantor dan harus sering pergi ke luar negeri. Setelah mama memergoki sms mesra dari seorang wanita, serta melihat foto-foto kemesraan papa dan wanita itu yang tersimpan di file data handphone papa. Mama semakin mengamuk dan semakin marah pada papa. Sementara papa semakin menjauh, menghindari kebisingan rumah dari lemparan benda-benda dapur yang melayang ke arahnya. Pada kepergiannya dalam waktu lama yang terakhir, papa mengajak Milana dan Melisa untuk ikut bersamanya. Melisa mengangguk dengan bulir air mata yang berjatuhan sembari memeluk Milana yang sudah tak punya air mata lagi, Lana lebih memilih menjaga mama. Mama depresi, sampai sekarang, mama lebih sering menyendiri di kamarnya, tahan tak mengobrol dengan siapa pun berhari-hari, meskipun Lana sudah berusaha mengajaknya bicara.

“Mama….sampai kapan Mama diam mematung seperti ini? Apakah Mama tidak sayang Lana? Lana bertahan di rumah ini hanya karena Mama...” ucap Lana pada suatu hari pada mama yang sedang memandang lurus ke luar jendela. Mama tidak menjawab, hanya diam dan tetap lurus kaku seperti sedang memandangi sesuatu di sana, mungkin yang dipandanginya itu masa lalunya. Sampai kini papa masih mengirimi mereka uang untuk kebutuhan sehari-hari termasuk uang keperluan sekolah Lana, tetapi papa tidak pernah menginjakkan kakinya lagi ke rumah ini dan Lana tidak pernah bertemu Melisa lagi.  Lana bahkan tidak bertanya di mana mereka tinggal, atau bagaimana ibu tiri Melisa. Lana membenci keegoisan papa. Tetapi ia sendiri harus merasa tangguh seperti pria agar tidak mendapat perlakuan yang sama seperti mama.

“Kakak Lana, Melisa pergi dulu ya ikut Papa, kasihan Papa mau bawa anak juga. Kata Papa biar adil... Nanti kalau Kakak mau ketemu Meli, Kakak telponin Papa ya...” begitu kata-kata Melisa di hari perpisahan itu. Lana hanya mengangguk dan memeluk adiknya. Ia tidak menangis, karena dulu sudah terlalu sering menangis, mungkin persediaan air matanya sudah habis. Lana tidak menelepon papanya dan papa pun tidak menghubunginya, setelah beberapa kali menelepon diabaikan oleh Lana. Lana menyimpan luka hati mama dan luka hatinya sendiri sebagai anak. Luka itu disimpan rapi dalam sikap penuh hati-hati dan kecurigaan terhadap laki-laki, di satu sisi penampilan Lana menunjukkan hal yang sebaliknya. Ia sangat tomboy dan teman-teman lelakinya tidak ada yang berani mengganggunya.

“Hallo...selamat pagi, apakah saya bisa bicara dengan Meri?” Lana akhirnya memutar nomor telepon rumah nenek Sumi yang sempat dicatatkan Meridian di buku alamat.

“Ya sebentar ...ini dari siapa ya nak?”

“Ini Lana nek...teman sekolah Meri...”

Tak lama kemudian ada suara yang dihafalnya di seberang sana, itu suara Meridian yang riang, “Hai Lana, aku sudah sembuh kok. Besok aku masuk sekolah...eh main yuk ke rumah nenek, tadi nenek Sumi bilang supaya ajak Lana main ke sini, biar nggak suntuk di rumah terus!”

Lana akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Meridian dan nenek Sumi. Tak sulit mencari alamat mereka karena rumah biru nenek Sumi letaknya sangat dekat dengan bandara serta berada di pinggiran danau terindah di kotanya. Rumah nenek Sumi juga dekat dengan perumahan elite  dengan pagar tembok tinggi dan halaman yang cukup luas.

Sesampainya di rumah biru, Meridian sudah menunggu dengan manis di depan pintu, memegang pancingan ikan dua buah. “Ayo kita mancing di danau! Kata nenek di sana ikannya besar-besar!”, seru Meridian dengan riang.

Nenek yang datang menyambut Lana belakangan tersenyum pada lebar memperlihatkan giginya yang ompong, “Cu...biar temanmu masuk dulu, minum dan makan kueh yang sudah nenek sediakan di meja. Rumahnya kan jauh!”

Demi menghormati nenek Milana masuk dan mencium tangan nenek Sumi. Meridian mempersilahkan Lana mencicipi kue serabi buatan nenek dengan segelas teh hangat manis. Setelah puas menikmati hidangan dari nenek Sumi mereka berdua bergegas ke danau di belakang rumah nenek Sumi. Meridian ingat sewaktu datang ke rumah nenek, danau itulah yang dipandanginya dari jendela, saat itu ia sekilas melihat seorang gadis seperti sedang menangis sesunggukan di danau itu. Namun karena kelelahan Meridian tertidur dan melupakan gadis itu.

Kini mereka berdua melihat kembali gadis itu dari jauh, dan tiba-tiba sang gadis misterius berlari dan menghilang di antara gedung-gedung perumahan elite, menghindari Meridian dan Lana.

“Siapa sih dia kok ngumpet-ngumpet begitu?” tanya Lana.

“Entahlah Lana... aku juga baru dua kali melihatnya, pertama kali saat baru datang aku lihat dia dari jendela kamar dan kini kali ke duanya.”

“Ya sudah jangan hiraukan... ayo kita siapkan alat pancingnya!” Mereka berdua sibuk menyiapkan pancing dan umpan buat ikan-ikan di danau itu. Lama mereka memancing sambil sesekali mengobrol tapi umpan mereka berdua tak kunjung dimakan. Akhirnya mereka bosan dan memutuskan untuk bermain detektif-detektifan.

“Aku punya tugas untukmu detektif Meri, temukan gadis misterius itu dan temukan juga rumahnya!”

“Okay... aku sambut tantanganmu Boss!” ujar Meri sembari berpura-pura membawa kaca pembesar dan buku catatan, ia sibuk mencatat jejak-jelak gadis misterius itu. Lana tertawa sangat keras sampai perutnya sakit, kerena gaya Meri memerankan dekektif itu sangat lucu, lebih mirip orang-orang di rumah sakit jiwa yang kadang ditemui Lana, ketika mengantar mamanya berkonsultasi dengan psikiater.

Mereka memutari kawasan perumahan elite  itu dan tetap tidak menemukan sang gadis misterius.

“Aku yakin yang ini rumahnya!” ujar Meridan sok tahu sambil menunjuk rumah besar berwarna abu-abu pucat dengan pagar yang sedikit terbuka. “Buktinya pagar ini sedikit terbuka yang menandakan orang yang terakhir masuk pastilah sangat terburu-buru.... ditambah lagi aku menemukan daun ini di dekat pagar!” seru Meri dengan mata membesar seolah-olah argumennya telah didukung data yang kuat..

“Daun apa ini? “ tanya Lana mengambil bukti daun itu.

“Itu daun kumis kucing!” Cuma ada di danau tadi. Di sini tidak ada yang menanam pohon bunga kumis kucing!”

“OK lah Detektif!” untuk kali ini sudah cukup, besok jika ada waktu kita buktikan kebenarannya!”

“Ya siapa takut?!” Meridian mendelik dan tersenyum puas. Sebagai detektif kerjanya cukup berhasil hari ini.

Hari sudah senja ketika mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah. Meridian sudah sangat sehat dan bahagia ditemani oleh Lana. Begitu juga Lana tidak pernah ia merasa seriang itu dalam hidupnya. Mereka sahabat yang saling membutuhkan.

 

***

 

  • view 235