Gadis Naik Bujang (part 4). Menarche dan Tarian Fimbria

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 September 2016
Gadis Naik Bujang (part 4). Menarche dan Tarian Fimbria

Menarche dan Tarian Fimbria

 

Karya : Shanti Agustiani

“Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali pada seorang wanita yang sedang menginjak dewasa. Usia remaja putri pada waktu mengalami menarche berbeda-beda, sebab hal itu tergantung kepada faktor genetik (keturunan), bentuk tubuh, serta gizi seseorang.. Fimbria adalah jumbai-jumbai luar dari oviduk (tuba fallopi) dekat ovari; struktur pada tuba falopi berbentuk seperti jari-jari, yang berada di atas permukaan indung telur dan sangat penting untuk perjalanan telur pada saat ovulasi”. Meri membaca ulang buku dan leaflet kesehatan reproduksi remaja yang dipinjamnya dari Lana. Sampai-sampai ia ketiduran dan bermimpi mendengar genderang musik dari dalam dirinya, jauh sekali dan dalam dari jari-jari Fimbria yang sedang menari.
Musik yang ditimbulkan tarian Fimbria itu begitu indahnya, sehingga sel telur mungil yang sedang asyik tertidur di dalam ovarium mulai tergugah, dirinya semakin matang merekah dengan irama musik penggugah itu dan jari-jari Fimbria memanggil-manggilnya hendak menangkap si mungil sel telur, mengajaknya memulai petualangan takdir. Sel telur bulat mungil itu bernama Ovum.
“Ayo cepat keluar mungil….kau akan menemui takdirmu di luar sana!” Fimbria memanggil sekali lagi dan merentangkan jari-jarinya dengan lebar. Ovum akhirnya keluar, menggeliat sebentar dan huff...! Melompatlah ia ke dalam tangkapan Fimbria, gemelitik jemari Fimbria membuatnya tertawa. “Dan inilah roller coaster-mu!” seru Fimbria sembari mendorongnya ke saluran Tuba Falopii.
“Yipie…Asyikk!” seru Ovum kegirangan, roller coaster Tuba Falopii itu mendorongnya perlahan-lahan menuju rahim. Di lorong berkelok yang meluncur menuju rahim itu pula ia akan menemui takdirnya, apakah akan bertemu pujaan hatinya sel sperma yang paling tangguh dan paling keren? Jika ya, akan terjadi pembuahan yang membentuk Zigot sang calon janin, jika tidak maka si bulat mungil Ovum itu akan luruh bersamaan dengan dinding rahim yang bernama Endometrium, terjadilah perdarahan yang disebut menstruasi.
Terulang lagi bacaan-bacaan di buku kesehatan reproduksi remaja itu yang baru dibacanya ke dalam mimpi, “Nyeri haid yang muncul disebabkan oleh dinding otot rahim yang berkontraksi sehingga menekan pembuluh darah di sekitarnya. Akibatnya, pasokan oksigen ke dalam rahim terhambat dan memicu munculnya rasa nyeri yang dialami. Seperti rahim perempuan itu sedang diremas-remas, apalagi pas hari pertama. Nah ketika perempuan kesakitan begitu, ada pihak-pihak yang tidak mau memahami, malah muncul komentar berbagai komentar miring.
”Itu sakit karena manja, ibu saya aja tidak seperti itu!”
Ada lagi suara, “Ribet ya jadi perempuan, dikit-dikit ngeluh sakit datang bulan!” seru seseorang tak dikenal.
“Perempuan itu banyak setannya makanya dia mengeluarkan darah kotor dan jadi mirip-mirip orang kerasukan setan”, ucap komentar asal seorang lelaki jangkung.
Mendengar suara-suara itu Meridian geram, mendadak ia jadi Hulk yang berubah warna menjadi hijau, digamparnya semua yang di depan mata terutama mulut-mulut yang tadi melecehkan dismenore (nyeri haid) perempuan. “Bak..buk..brakkkk!” dalam tidurnya Meri menggampar guling dan bantal yang ada di dekatnya sampai-sampai satu bantal jebol karenanya. Bantal kapuk itu pun berhamburan dan salah satu sulur kapuknya mendarat di hidung Meri, “Haaatchi…” Meri bersin-bersin dan terbangun dari mimpi.
Dari luar kamar terdengar nenek Sumi mengetuk pintu sambil berteriak,” Meri…bangun…makan dulu!”
Meri terbangun gelagapan menjawab nenek Sumi, “I..iiya nek… aku….”. Meri serta merta bangkit membersihkan bulu-bulu kapuk yang berhamburan. Tetapi nenek Sumi cepat membuka pintu dan kaget meilhat keadaan kasur Meri. Bahkan rambutnya yang ikal itu dipenuhi kapuk,
 “Ada apa ini Meri?”
“Maaf nek... aku bermimpi buruk…Eh…. bantalnya….. nanti aku jahit kok...” kata Meridian sembari bangun sempoyongan dan terus mengumpulkan bulu-bulu kapuk itu sembari terus bersin-bersin. Nenek Sumi menggeleng-gelangkan kepalanya, tetapi nenek tidak marah. Ia justru masuk dan membantu Meri membersihkan kasurnya. Lantas mata nenek yang awas melihat kutu sedang berjalan-jalan di antara berapa helai rambut Meri yang rontok di atas kasur itu.
“Ya ampun Meri…rambut kamu berkutu ya?!” seru nenek kaget.
“Eh iya nek…maaf kutuku suka jalan-jalan ke kasur”
“Duh…ya harus segera diobati dong Meri!”
“Biar kutunya sehat?” tanya Meri sekenanya.
“Biar rambut dan kepala kamu sehat!” seru nenek sembari berbalik ke kamarnya mengambil sesuatu. Usai beres-beres kasur, nenek Sumi menyuruh Meridian berbaring, ditumpahkannya cairan merah muda dari botol kecil ke kepala Meridan.
 “Apa itu nek?’
 “Oh... ini racun pembunuh kutu, diam saja ya kepalanya biar nenek urut dengan ini..”
“Tapi di kampung kami malah asyik cari-carian kutu lho nek…. Bahkan kadang mamak menghisap darah kutu itu biar dikembalikan ke manusia, jadi darahnya nggak terbuang sia-sia!”
“Ah itu kan kebiasaan kampungmu…jangan dilestarikan! Nanti lama-lama darah di kepalamu habis dihisap kutu-kutu itu. Mulai sekarang kamu harus menjaga keberihan rambutmu. Keramas dengan shampoo minimal 2 hari sekali. Biar kutu-kutu nggak ada yang betah di rambutmu. Sekarang biar nenek urut kepalamu…”
Meri menikmati urutan nenek Meridian, tadinya kepalanya memang terasa sakit dan perutnya terasa kram karena mengalami dismenore. Di sela-sela pijatan nenek yang meringankan kepala dan syaraf-syarafnya, Meri teringat akan rencananya mencari kerja agar nenek Sumi tidak terbebani oleh kehadirannya, apalagi seorang gadis seperti dirinya masih akan memerlukan banyak pembalut di bulan-bulan menstruasi. Maka Meri pun menceritakan niatnya itu kepada nenek.
“Meri, itu tidak perlu... kau fokus belajar dan berbuat baik saja itu sudah cukup! Meri kan sudah nenek anggap sebagai cucu sendiri. Kalau hanya menambah jatah belanja untuk beli pembalut nenek masih sanggup kok!” Ujar nenek sembari tertawa, biar setua ini nenek masih punya penghasilan sendiri kok sayang...”
“Tapi Meri nggak enak merepotkan nenek...padahal tadinya Meri kan orang asing, bukan cucu nenek yang sebenarnya!”
“Stop kata-kata itu Meri, nenek tidak suka jika Meri masih menganggap diri nenek sebagai orang lain. Persaudaraan dan cinta kasih itu tidak ada hubungannya dengan hubungan darah! Melainkan dari sikap saling memahami dan saling menyesuaikan diri satu sama lain, serta suka cita dalam kebersamaan sehari-hari. Itulah sebabnya nenek sekolahkan kamu di Sekolah Menengah Lintas Budaya, supaya kamu mengenal persaudaraan tanpa batas ras, agama dan hubungan darah.”
“Oh...iya nek...he he.... Meri minta maaf ya...”
Meri mencermati kata-kata nenek dalam hati. Ia tak menyangka nenek Sumi sangat bijaksana. Tak seberapa lama Meri kembali mengantuk dan tertidur lagi. Nenek Sumi membiarkannya dan mengamati perubahan di wajah Meridian yang mulai ditumbuhi jerawat kecil-kecil. Nenek Sumi akhirnya paham bahwa gadis ini sedang pubertas. Diamatinya lagi bagian belakang rok sekolah Meri yang masih tergeletak di kursi, ada noda bercak merah, nenek pun mengetahui bahwa kemungkinan Meridian mengalami menarche, menstruasi yang pertama kali. Nenek Sumi berniat membelikan satu pak pembalut wanita untuk cucu tercintanya.
Mimpi Meridian berlanjut. Si bulat mungil Ovum ternyata tak bertemu sel sperma, ya iyalah kan masih gadis, belum boleh berhubungan dengan lelaki sehingga Ovum dan Sperma pun belum bisa ketemuan, belum cukup umur lho. Kan idealnya perempuan menikah pada usia yang cukup matang, minimal 21 tahun dan pria minimal usia 25 tahun. Dengan usia yang cukup matang, diharapkan pernikahan akan siap secara lahir dan batin baik dari segi kesehatan, finansial, psikologis, dan kematangan beragama.  Untuk saat ini, si Ovum terima nasib, luruh bersamaan dindng rahim (endometrium) yang rontok sedikit demi sedikit. Tiba-tiba ada kutu yang lewat minta ketemuan sama Ovum, “Nggak bisa…enak saja kamu! Kalian nggak se-level tau!” seru Meridian mengigau. Nenek Sumi meraba dahi Meri yang terasa hangat lalu buru-buru ia mengompres dahi Meri. Ssst... Biarlah kita biarkan Meridian istirahat sejenak ya...siapa tahu kisah Meri esok akan lebih seru lagi!

 

  ***

 

 

 

  • view 348