Gadis Naik Bujang (part 3)

Gadis Naik Bujang (part 3)

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 September 2016
Gadis Naik Bujang  (part 3)

HARI PERTAMA DI SEKOLAH MENENGAH

 

Karya :Shanti Agustiani

 

Meridian bangun demi mencium harum roti bakar buatan nenek Sumi. Ia sangat malu karena kesiangan dan segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membantu nenek Sumi menyiapkan sarapan. “Maaf nek, Meri telat bangun!” Nenek Sumi merupakan pensiunan pegawai negeri dan mempunyai uang tabungan hari tua yang cukup memadai. Sehingga tak masalah baginya untuk membiayai sandang, pangan dan pendidikan Meridian. Ia justru sangat terhibur karena di hari tuanya telah datang seorang anak gadis cantik dan pintar yang bisa membantunya mengurus rumah kecil birunya. Kini ia tidak kesepian lagi.

“Tak apa sayang. Nenek tahu kamu sangat kelelahan dan perjalananmu kemarin memang sangat jauh.” Ujar nenek sembari tersenyum,” Sarapan dulu yuk, kita akan ke sekolah barumu!”

Meridian mengangguk senang, dengan cepat dan lahap ia habiskan sarapan roti bakar selai strawberry itu, glek…glek…glek…satu gelas besar susu yang disediakan nenek Sumi pun habis tandas. Nenek Sumi tertawa senang melihat Meri yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri sangat lahap menyantap sarapan hingga tak bersisa.

Lalu mereka berdua pun berangkat, menunggu di halte busway pertama kali yang akan dikendarai Meri. Busway itu penuh sesak dengan penumpang, namun seorang pemuda yang baik hati memberikan tempat duduk buat Nenek Sumi, tetapi tidak ada yang menawari tempat duduk buat Meridian. Alhasil Meri rela bergelentungan dari satu bus ke bus lain karena mereka harus berganti bus tiga kali, dan Meri tetap tidak mendapat tempat duduk. Namun Meri tidak mengeluh, dia gadis yang kuat, sarapan dua tangkup roti bakar selai strawberry dengan segelas besar susu tadi pagi rupanya sudah cukup memberikan energi yang tak habis-habis buat Meri sehingga gadis itu tetap menikmati perjalanan dengan busway yang penuh sesak menuju ke sekolah baru. Di sepanjang perjalanan itu ia menyanyi dengan lirih lagu dari kampung halamannya, “Walaupun saya…pergi jauh…namun tanah airku s’lalu di hati…”

Orang-orang di bus beberapa melirik kepada Meridian yang dengan cueknya menyanyi sambil bergelantungan. Meri celingak-celinguk ditatap oleh beberapa pasang mata penumpang bus. “Mmm…nek…apakah sekolahku masih jauh?”tanyanya kepada Nenek Sumi yang duduk di sampingnya.

 “Ah tidak juga…tinggal satu halte lagi!” jawab Nenek Sumi.

Benar saja di halte ke- 4 mereka berdua turun dan melanjutkan perjalanan ke area sekolah sekitar 200 meter lagi. Dari kejauhan Meri membaca papan nama sekolah itu, “SMP Lintas Budaya”. Meridian takjub melihat halaman sekolah yang cukup luas dengan beberapa gedung bertingkat di dalamnya. Di kampungnya sekolah negeri hanya satu, dan gurunya hanya dua orang yaitu Mak Bere dan kakak Wita. Mereka lah yang mengajar murid sejumlah 27 orang murid mulai dari TK sampai kelas 6 SD. Hebatnya lagi dua orang guru itu mengampu semua mata pelajaran mulai dari  membaca, berhitung, prakarya menganyam tas, hingga mengajari olahraga menunggang kuda. Tetapi sekolah baru ini jauh berbeda, gurunya sangat banyak dan siswanya….wow…luar biasa banyaknya nampak dari gedung bertingkat yang dipenuhi remaja-remaja tanggung. Beberapa di antara mereka melihat kedatangan Meri dan Nenek Sumi. Sesampainya di halaman sekolah SMP Lintas Budaya, nenek Sumi terlihat menggah-menggah kelelahan. Meri merasa kasihan, “Nek… mulai besok aku berani kok berangkat sekolah sendirian”

 “Benarkah? Kamu kan baru satu kali ke sini…”

“Tenanglah nek…aku ini penghafal jalan…Itulah sebabnya aku disuruh ratu Ode untuk terus berjalan hingga menemukan jati diriku.”

“Ah baiklah cucu…. Bawa peta ya, jadi kalau lupa cucu bisa lihat peta atau bertanya kepada petugas karcis busway…”

“Ok nek,… Nenek terlalu baik… Aku tidak mau merepotkan nenek terlalu banyak!”

Nenek Sumi memeluk Meri dengan erat, air mata haru mengalir dari kedua pipinya yang kuyu. Nenek Sumi yakin Meri tak akan pernah tersesat, sebab nenek melihat mata hati Meridian bersih dan bening seperti embun pagi. Gadis seperti itu diyakininya dapat memilih ke kiri atau ke kanan serta membedakan mana yang benar dan salah berdasarkan intuisi dan imajinasinya. Toh ia telah sangat jauh menempuh perjalanan menuju kedewasaannya, hingga akhirnya ia sampai ke Pulau Harapan ini.

Ibu kepala sekolah menyambut kedatangan mereka dengan hangat, rupanya nenek sudah menelpon lebih dulu ibu Kepsek, dan rupanya ibu Kepsek itu dulu sewaktu kecil pernah diasuh oleh Nenek Sumi. Jadi singkat cerita, Meri langsung diterima dan disuruh memperkenalkan dirinya di depan kelas.

“Perkenalkan namaku Meridian. Aku berasal dari Pulau Hutan Cemara dan aku diutus oleh ratu Ode untuk melanjutkan perjalanan hidup di Pulau  Harapan ini. “

“Hutan Cemara, kok tidak ada di peta?” tanya seorang anak lelaki jangkung yang duduk nomor dua dari belakang.

“Ah mungkin peta kalian belum canggih sehingga tidak bisa melihat pulau seindah itu.” Jawab Meri sekenanya.

“Aha…jadi kamu orang hutan ya… Apakah rambut belangmu itu tanda lahir sebagai keturunan kera di hutanmu?” celetuk seseorang yang membuat seisi kelas tertawa geli. Meri sangat marah dan malu, tetapi ia menahan diri. Untunglah Pak Guru segera datang dan memarahi mereka yang mengolok-olok Meridian, “Anak-anak ingatlah tujuan kita bersekolah di sini adalah untuk memahami dan saling toleransi terhadap keanekaragaman budaya, bukannya justru saling menghina, jaga sikap kalian!” Seru Pak Guru  Yuka Kitaro yang keturunan Jepang itu.

Mereka terdiam tapi sebagian masih ada yang senyum-senyum sembari berbisik-bisik satu sama lain. Tetapi Meri tidak peduli lagi, ia hafal ciri-ciri anak usil seperti itu di kampungnya, biasanya mereka pemuda-pemudi canggung yang menutupi kekurangannya sendiri dengan menghina orang lain. Hanya seorang saja di kelas itu yang tidak menertawakan Meri, yaitu gadis yang duduk paling belakang. Gadis berambut pendek potongan lelaki itu dengan ramah mempersilahkan Meri duduk di sampingnya. Sungguh hari perkenalan yang menyedihkan tetapi tetap harus disyukuri sebab masih ada si gadis tomboy yang mau berbaik hati padanya, gadis itu bernama Lana. Lana dengan nama panjang Milana, tetapi ia lebih suka dipangil Lana, entah kenapa.… Mungkin dengan nama dan potongan rambut seperti itu tak ada lelaki yang berani mengganggunya.

Pelajaran hari itu dimulai dengan pelajaran Bahasa Jepang dan Meri mulai jatuh cinta pada huruf-huruf kanji yang ditulis Pak Guru di papan tulis, sungguh indah dan menakjubkan rangkaian huruf itu!

“Teet…teet…” Bel istirahat berbunyi. Meri baru saja hendak mengikuti Lana yang mengajaknya ke kantin. Namun ketika ia berdiri, Meri merasa ada sesuatu yang basah dan tidak nyaman di rok dalamnya, Ia menengok ke belakang roknya dan nampak sedikit noda merah di sana.

“Ya ampuun ... Meri, kamu mens… ya? “ Bisik Lana sambil dengan sigap mengambil tas untuk menutupi bagian belakang rok Meri.

“Mmm… apa itu mens? Pantas kepalaku agak pusing….rupanya aku terluka ya Lana… Mungkin pantatku tadi tersenggol tiang busway itu hingga bisulnya pecah…”

“Memangnya kamu bisulan?”

“Ah…. sudah pecah sih minggu lalu, kukira minggu ini tidak lagi…”

“Nah…berarti itu darah menstruasi. Apa kamu baru mengalaminya?

“Ya…begitulah…Ibuku kadang-kadang berdarah juga seperti ini. Tetapi ia tidak pernah menceritakannya kepadaku. Setiap kali aku tanya hanya dijawab, “Kamu akan tahu sendiri Meri…Oh…sekarang rupanya aku harus mengalaminya juga!” ujar Meri dengan wajah pucat-pasi ketakutan.

“Cepat pakai tas kamu…kita ijin ke rumahku…untung rumahku dekat sekolah” ajak Lana sambil terus menutupi rok belakang Meri dengan tas. Mereka lantas meminta ijin kepada guru piket dan berlari-lari kecil ke rumah Lana yang jaraknya hanya bebarapa meter dari sekolah. Di lorong menuju halaman mereka bertemu Badu, anak lelaki jangkung yang mengolok-olok Meri di saat perkenalan tadi pagi rupanya ia melihat sekilas bercak darah di rok putih Meridian dan berucap, "Heh anak baru dari hutan, kamu pecah perawan ya?". Lana melotot kepada Badu, "Diam kau idiot, tubuh jangkung tapi otakmu idiot!" ujar Lana sambil mengepalkan tangan. Badu hanya tertawa-tawa dan berlari menuju kelas. Lana dan Meri bergegas pergi.

Sesampainya di rumah Lana, Meri merasa sangat lega, ia diberi pembalut dan diajari bagaimana cara menggunakan pembalut itu oleh Lana. “Meri… kau harus sering-sering ganti pembalut, apalagi pas banyak-banyaknya darah keluar, minimal kamu ganti tiap 3 jam sekali, biar nggak kena bakteri, virus atau biangnya keputihan!”

“Apa maksudnya itu semua Lana?” tanya Meri semakin ketakutan.

“Aduuhh Meri…ini baca! Sahut Lana sambil memberikan flyer informasi tentang menstruasi yang diperolehnya dari LSM Hak Reproduksi Wanita. Meri membaca dengan seksama flyer itu: “Haid merupakan hal yang alamiah bagi wanita yang sehat. Dimana pada setiap bulannya seorang wanita akan mengalami perdarahan yang disebut menstruasi. Proses menstruasi adalah peluruhan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan terjadinya perdarahan. Proses menstruasi umumnya tidak terjadi pada ibu hamil. Menstruasi biasanya akan  terjadi setelah terjadinya perubahan pada fisik di masa pubertas yang ditandai dengan payudara mulai membesar, rambut tumbuh di seputar alat kemaluan dan vagina mengeluarkan cairan keputih-putihan.

Meri mendongak, “Apa itu cairan putih?” tanyanya pada Lana, “Kayaknya aku pernah mengalami ini, cuma aku nggak yakin…” Lana tertawa dan meminta Meri meneruskan bacaannya. “Siklus haid yang normal berkisar antara 28 - 29 hari. Ada beberapa perempuan yang masa siklusnya berlangsung dari 20 sampai 35 hari masih dianggap normal. Ada pula yang mengalami siklus pendek 20 - 25 hari. Menstruasi bervariasi bagi setiap wanita dan hampir 90% wanita memiliki siklus haid 25-35 hari  dan sekitar 10-15 % yang memilki siklus haid 28 hari. Namun, beberapa wanita memilki siklus yang tidak teratur dan hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah kesuburan. Menstruasi ini merupakan siklus yang berulang-ulang pada organ reproduksi perempuan. Normalnya menstruasi berlangsung selama 3 - 7 hari."  Meri mengernyitkan dahi dengan senyum kecut, “Ulala…semoga aku kena siklus terpanjang 35 hari sekali dan berlangsung hanya dalam waktu 3 hari…rasanya nggak nyaman sih! Dan bayangkan berapa pembalut yang harus aku gunakan jika setiap 3 jam sekali aku harus ganti…? Aku belum punya pekerjaan Lana…. Mana mungkin aku minta uang sama nenek Sumi terus!”

“Ayo kita cari pekerjaan!”, sahut Lana

“Serius nih?!”

“Iya serius… Besok sepulang sekolah kita akan cari kerja! Tapi kamu harus ijin dulu sama nenek!”

Peristiwa hari pertama di sekolah itu membuat Meri dan Lana cepat akrab. Sungguh tak disangka-sangkanya, gadis tomboy itu ternyata berjiwa penolong dan mengetahui seluk-beluk dunia dalaman perempuan daripada dirinya.  Semenjak hari itu Lana dan Meri bersahabat karib.

 

***

  • view 369