Gadis Naik Bujang (part 2)

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Gadis Naik Bujang (part 2)

 

DI PULAU HARAPAN

Karya : Shanti Agustiani

 

Burung besi mendarat, Meridian tiba dengan selamat di sebuah pulau yang penduduknya sangat padat, tidak seperti di kampungnya yang jarak rumah satu dengan lainnya lebih dari dua meter. Rumah-rumah di pulau itu nampak dari kejauhan olehnya dari balik jendela burung besi, sangatlah mepet satu sama lain, halaman mereka sempit dan banyak kendaraan roda empat dan roda dua lalu-lalang di jalan raya. Nama pulau itu adalah pulau Harapan, apakah pulau Harapan memberi harapan baru untuk dirinya? Meridian melamun, ia turun dari tangga burung besi, sendirian, namun ia tetap kuat hati dan berani.
Meri tidak tahu setelah ini mau ke mana melangkahkan kaki.  Ia hanya mencari-cari tempat yang lebih sepi, jauh dari keramaian. Di kejauhan sana ia melihat sedikit hamparan sawah, Meri menyeberang dengan pikiran yang masih penuh lamunan, hampir-hampir ia tertabrak mobil yang melaju sangat kencang di jalan raya itu. Meridian kaget, seketika orang dari dalam mobil itu membuka jendela mobil dan membentaknya, ”Matamu taruh di mana, hah?!”
Meri sangat kaget, ia tidak terbiasa menyeberang jalan di tengah keramaian. Di kampungnya paling-paling hanya ada kendaraan sepeda motor satu atau dua, selebihnya orang kampung  berjalan kaki atau naik kereta kuda jika hendak membawa barang yang cukup banyak. Ia ingat suatu hari pernah ia berjalan kaki dari kampung satu ke kampung lainya hanya untuk menyampaikan undangan pesta naik bujang dirinya, mungkin sudah ribuan kilometer ia tempuh hanya dengan jalan kaki tanpa alas, makanya kaki-kakinya menjadi sangat kokoh dan kuat.
Meri terus berjalan hingga nyaris senja, ia tidak tahu ke mana hatinya menuntun perjalanan mencari jati diri di pulau Harapan ini. Ia terus berjalan mengikuti mata batin. Sesekali ia bertanya, pada orang-orang yang ditemuinya di jalan, “Apakah di sini ada penginapan?” Orang-orang itu menggeleng dan acuh tak acuh padanya.  “Pulau Harapan yang tidak ramah”, gumamnya. Beberapa kali ia kelelahan dan berhenti membeli makanan dan minuman dengan koin yang disiapkan ibundanya. Lalu ia berjalan lagi… nampak olehnya wajah-wajah manusia pulau Harapan yang nampak serius. Asyik memegang telepon genggam dan tak berbicara satu sama lain. Mereka berjalan cepat, menunduk, dan enggan saling menyapa, pulau Harapan dengan orang-orang yang seolah tanpa harapan!
Meri penasaran dan hendak melihat lebih dekat seperti apa bentuk alat komunikasi genggam yang mereka bawa. Di kampungnya tidak ada yang menggunakan alat itu. Di sebuah halte ketika ia melongokkan kepala pada seseorang yang sedang duduk menunggu bis sembari menulis sesuatu pada alat komunikasi itu, lagi-lagi ia mendapat bentakan yang membuatnya terloncat mundur ke belakang, “Heh dekil…. kamu…. apa kamu mau merampok?!”
“Ti... tidak…! Hanya aku belum pernah melihat benda itu di kampungku.… terus terang aku penasaran”, ujar Meridian tergagap.
 Orang itu tertawa sinis, “dasar orang udik!”, umpatnya kepada Meridian.
Betapa sedih hati Meri, negeri ini ternyata penuh dengan orang-orang yang tidak ramah terhadap pendatang. Teringat kembali negerinya yang damai, ibu dan ayahnya yang penyayang, dan para tetangga yang suka bergantian mencari kutu, air matanya mulai menitik satu-satu. Namun Meri yakin akan ada harapan baru yang bisa di bangun di pulau ini. Jika kata hatinya mengatakan begitu, itu pasti benar, karena kata hati seringkali berasal dari sumber informasi tertinggi, lebih tinggi dan lebih agung daripada Ratu Ode. Meri terus berjalan sampai menemukan sebuah rumah mungil berwarna biru di tepi danau yang cukup sepi, jauh dari keramaian.
“Masuklah nak…” tiba-tiba ia mendengar suara dari arah daun pintu yang mulai terbuka lebar untuknya. Ada seorang nenek tua, dengan senyum lebar dan gigi ompong menyambutnya. Nenek itu seperti sudah tahu akan kedatangan Meridian ke pulau itu, ke rumah birunya.
Meridian melangkah masuk dengan ragu-ragu, ia duduk di kursi tua bersebelahan dengan si nenek yang masih tersenyum kepadanya, “Kamu gadis yang cantik!” kata nenek itu kagum. Mungkin si nenek kagum pada rambut ikal Meridian dengan satu kepang serta segenggam rambut poni yang berwarna putih di belahan kanannya. Selain rambut itu wajahnya biasa-biasa saja, hidungnya tidak mancung, matanya tidak belo, dan dagunya tidak lancip. Seringkali rambut putih itulah yang menjadi sumber ejekan sekaligus sumber pujian orang-orang tertentu. Orang yang memuji rata-rata orang-orang nyentrik yang menyukai alunan musik dan tari-tarian lebih dari apa pun, orang yang mengejek atau menganggap aneh biasanya adalah sekelompok orang normal. Jadi Meridian tidak lagi merasa tersanjung pada pujian itu, ia yakin si nenek ini juga tergolong kaum nyentrik.
Meridian mulai tersenyum kepada sang nenek, “Apa nenek sudah tahu kedatangan saya?”
“Oh ya ... ya… Maksud nenek, nenek baru saja bermimpi semalam ada seseorang yang berpesan pada nenek agar menerima gadis yang datang sendirian, dengan tanda rambut putih di bagian poninya, dan aku yakin itu kamu nak”, ujar sang nenek lagi, “Tinggallah di sini menemani nenek, Nenek sendirian di sini…. bahkan nenek tidak memiliki anak dan cucu, jadi kalau kau tidak keberatan, nenek akan mengangkatmu sebagai cucu…”
“Ah nenek…. tentu saja aku tidak keberatan. Aku justru merasa bahagia dan sangat berterimakasih. Aku pun sendirian…alangkah bahagia jika aku punya keluarga baru di pulau ini…Terima kasih nenek…”, Meri sangat senang dan ia mencium tangan nenek itu yang wangi daun sirih.  Ah gadis itu teringat akan neneknya yang di kampung yang suka menginang dan mengunyah daun-daunan. Sang nenek memperkenalkan dirinya,, "panggil aku Nenek Sumi”.
“Baik nenek Sumi’… namaku Meridian atau singkatnya Meri…”
“Nah Meri... beristriahatlah, kau pasti sangat lelah! Besok kita akan mencari sekolah menengah untukmu!” tukas nenek Sumi mengejutkan Meri.
  “Sekolah?”
 “Iya… wanita harus sekolah biar tidak selalu dinomor dua kan!”
“Iya nek..” Meri takjub dengan jalan pikiran nenek Sumi yang modern itu. Nenek Sumi mengantarkannya ke sebuah kamar. Di kamar yang menghadap sebuah danau itu, ia melihat dari jendela seorang gadis berambut panjang menjuntai sedang duduk di tepi danau itu. Sepertinya gadis yang mungkin seusia dirinya itu sedang sedih dan menangis sesunggukan. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu dan sekedar menghiburnya. Namun karena perjalanannya sangat melelahkan Meridian tertidur di kasur kapuknya, dengan mimpi yang berwarna-warni penuh kilatan-kilatan perjalanan dan petualangan baru.
 ***