Lelaki Perahu

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Lelaki Perahu

LELAKI PERAHU

Oleh: Shanti Agustiani

 

Seandainya bisa kuputar mundur jam waktu. Aku ingin mengulang masa-masa bersamamu. Masa kecilmu yang sering kau lalui di atas perahuku. Namun telah kuabaikan dalam diam tak terperi, tanpa bahasa cinta, seolah kehabisan ekspresi. Kini kau hilang ditelan lautan. Namun sampai larut malam bahkan bulan berganti bulan aku masih mencarimu. Harapku kau berubah menjadi manusia ikan yang memanggilku, "Ayah..!" Dan aku akan mengumbar sejuta ekspresi kasih sayang untukmu, yang selama ini aku sembunyikan.... Maafkan aku, nak!

 

Sekian puluh tahun hidupku dalam perahu, bukan hanya menangkap ikan tujuanku, melainkan melepaskan beban hidup yang terasa lebih berat ketika aku berada di daratan dan setengah mati mencoba melupakan kenangan. Di sebuah kampung pinggir pantai, dulu aku dan istriku yang cantik tinggal di sana dengan jutaan harapan. Alangkah bahagia hatiku ketika mengetahui kehamilan istriku. Namun karena pikiran kami masih kolot, sangat jarang aku membawa istriku memeriksakan perkembangan kandungannya, terlebih karena kampung kami sangat jauh dari pelayanan medis. Dan hari yang paling buruk pun terjadi, usai 9 bulan 14 hari istriku melahirkan bayi besar, beberapa menit kemudian dengan wajah pucat dan sesungging senyum, ia meninggalkan kami karena kehilangan banyak darah. Istriku meninggal di samping seorang dukun bayi. Bayi kami selamat, dialah Rangga, anak yang kusayang sekaligus sempat kusesali karena kehadirannya telah menghilangkan seorang wanita yang paling kucintai.

 

Rangga kecil diasuh oleh neneknya, dan ketika ia sudah cukup besar ia selalu ikut di perahuku. Ia bermain di perahu ini menemaniku, terkadang dia belajar menebar jala atau sekedar memancing ikan. Aku menyayanginya, tetapi entah kenapa sekaligus juga ada rasa sesal atas kehadirannya. Sehingga aku tak punya banyak kata sayang untuknya. Aku sangat diam, tanpa ekspresi dan kehangatan seorang Ayah. Aku bahkan sering membentak anak lelaki itu.

 

“Rangga, bagaimana bisa kau hilangkan hasil tangkapanku! Jadi kau lelaki pecundang!“, kataku dengan nada yang keras dan bergetar. Aku sangat marah ketika mengetahui sebagian ikanku raib ketika aku tertidur, ternyata Rangga melepaskan satu demi satu ikan yang masih hidup.

 

“Maafkan Rangga ayah, Rangga kasihan melihat ikan-ikan itu menangis di hadapan Rangga minta dilepaskan! Ucapnya polos, ketika itu ia masih berusia 5 tahun. Anak itu sengaja tidak aku sekolahkan, bukan karena kurang biaya, tetapi karena di alam nyata ia belajar tentang hidup yang sebenarnya dan aku yakin dia toh nantinya akan menjadi nelayan sepertiku.

 

Aku tidak peduli dengan ucapan polos Rangga waktu itu, kuambil tali tambang dan kupecut tubuh kecilnya hingga lebam, anak itu hanya menangis dan kemudian menelungkup, memeluk sebuah karung yang dibuatnya seperti guling, “Ibu….aku rindu ibu…” katanya lirih sembari tertidur di buritan perahu. Aku tetap tak bergeming, kubiarkan ia tidur di sana tanpa selimut, pikirku dia harus belajar menghadapi kerasnya alam dan dia harus menjadi lelaki sejati.

 

Aku tak pernah menyangka bahwa tidurnya adalah tidur yang terakhir di perahuku. Tiba-tiba langit kelam, guntur sahut-menyahut, kilat menyambar-nyambar, dan perahu kami oleng tak keruan. Badai menjelmakan tarian ganasnya di tengah lautan lepas, di antara langit kelam dan hitam pekat. Perahu kecil kami terus oleng ke sana - ke mari dihantam ombak dan diayun oleh gelombang yang sangat besar. Namun anehnya Rangga tetap terlelap di buritan kapal.

 

Saking sibuknya aku mengendalikan perahu motor kami agar tetap stabil aku lupa membopong tubuh anakku yang sedang tertidur itu ke dalam kamar kecil perahu kami.  Aku hendak berlari ke buritan menyelamatkan Rangga ketika ombak yang sangat besar menghampiri, namun kiranya terlambat.

 

Usai badai reda aku berharap masih ada Rangga di perahuku ini. Aku mencari Rangga di setiap sudut perahu, siapa tahu dia bersembunyi di bawah bangku-bangku kecil, di kamar mandi. Tak ada Rangga. Aku terpukul. Anak itu, perpanjangan kasih sayang istriku, yang telah aku abaikan, pergi meninggalkanku sendirian. Akulah Ayah yang tak tahu diri, yang tak bersyukur akan anugerah amanah terindah dari Allah. Akulah pecundang yang sebenarnya. Aku terduduk lemas di buritan perahu, meraung meminta Allah untuk mengembalikan anak semata wayangku. Tetapi ia sudah lenyap!

 

Kini aku masih setia mengarungi lautan tak berbatas, tak peduli lagi pada ombak dan badai yang menghempas. Sesekali aku menengok ke dasar laut, berharap menemukan Rangga dan berharap dia memanggilku, “Ayah...”

 

Ayo nak, temuilah ayahmu ini dan ayah akan memelukmu dengan pelukan paling hangat serta menceritakan dongeng laut untukmu. Ada banyak kata cinta untukmu… Ayah akan selalu mencarimu, siap tinggal di lautan selamanya denganmu, lelaki kecil berhati kuat!

 

 ***