Manusia-Manusia Plastik

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Agustus 2016
Manusia-Manusia Plastik

MANUSIA-MANUSIA PLASTIK

Oleh: Shanti Agustiani
 
Mendaur ulang sampah plastik memang sangat urgen, mengingat negara kita termasuk negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Tetapi jika manusia di daur ulang menjadi manusia plastik, kira-kira bagaimana ya? Ya itu hanya pemikiran Rhino, seorang pemuda dari desa yang lugu dengan wajah pas-pasan dan merasa tak cukup pantas untuk mendapatkan cinta seorang gadis yang dikaguminya, Laksmi, anak teater dengan wajah mirip artis korea Kim Tae Hee hanya kulitnya lebih gelap sedikit. Rhino berpikir minimal ia harus dipermak jadi mirip Rain aktor korea kekasih Kim, agar hati Laksmi tertambat padanya. Untuk itu dagu kotaknya harus dipangkas, matanya diperlebar, rahang majunya dipotong, hidung diperuncing dan jidat jenongnya diamplas sampai rata.
Pada pementasan teater “Rembulan” malam minggu itu, Rhino mendapat tamparan keras di hatinya, saat ia memberanikan diri menghampiri panggung dan menyalami Laksmi, setelah selama 7 bulan 7 hari hanya berani menatap wajahnya dari tempat duduk terdepan. Rhino dengan tangan gemetaran mengulurkan tangan dan meminta tanda tangan Laksmi, yang disambut tawa berderai-derai sembari memperlihatkan sederet gigi putih cemerlang, ”Ha…ha…ha… Jadi namamu Rhino ya... wajahmu lucu ya… mirip Hanoman, tapi jangan tersinggung ya… Hanoman itu baik hati!” katanya tertawa lepas.
Mungkin gadis manis itu memang tidak bermaksud mengejek Rhino, tetapi bersamaan dengan ucapan Laksmi itu hatinya terluka seperti berdarah-darah, terngiang kembali ejekan teman-temannya saat SD yang mengatainya dengan sebutan si buruk rupa, “E e…ada Anoman Kobong… Anoman Kobong! Belum lagi nasibnya hampir sama buruknya, berkali-kali melamar ia hanya mendapatkan pekerjaan sebagai OB, tak ada peningkatan, malah harus berpindah-pindah tempat beberapa kali karena ada pengurangan pegawai.  Ah, mungkin setelah operasi plastik semua itu akan berubah!
Berbekal tabungan selama 10 tahun dan uang hasil penjualan sawah warisan orangtuanya yang sudah meninggal. Akhirnya Rhino nekad operasi plastik, dipilhnya sebuah klinik ternama kelas internasional. Semua prosedur ia jalani dengan baik, rahang diiris, Rhino meringis, kelopak mata ditarik dan jidat jenongnya diratakan. Sakit? Ya itu sudah pasti, bahkan rasanya seperti orang sekarat, ia pun sudah tahu apabila operasinya gagal maka ia akan mengalami petaka terburuk dalam hidupnya tetapi semua itu rela ia jalani demi sebuah perubahan  masa depan karir dan asmara.
Tadinya Rhino berniat cuti satu bulan dari pekerjaanya namun ditolak bos besar, akhirnya dengan berat hati ia mengundurkan diri dan berharap akan mendapatkan pekerjaan baru setelah memperbaiki wajahnya. Rhino pulang kampung ke desanya yang sejuk dan jauh dari keramaian, desa di kaki gunung semeru, di sana masih ada Si mbah yang setia menjaga kambing-kambing dan sepetak sawah. Si mbah kaget ketika melihat cucunya pulang dengan wajah penuh balutan perban seperti habis kecelakaan. Ia segera memeluk Rhino dengan tangisan, “Kamu kenapa le… habis kecelakaan?”
“Ndak mbah… aku ndak apa-apa kok…Ini sebentar lagi juga sembuh. Si Mbah ndak usah khawatir ya… Jangan pedulikan aku yang akan menyendiri dikamar, cukup kirimi makanan saja, “ pesan Rhino kepada si mbah-nya yang masih menangis sedih.
Satu bulan kemudian proses penyembuhan luka Rhino  sudah mulai menampakkan hasil.  Ia kini mulai berani menatap wajahnya di cermin yang sudah pudar tergantung di sisi meja. Rhino terbelalak, ditatapnya wajah itu, ia takjub, itu wajah tampan, itu wajah Rain!”
Rhino membuka kamarnya dan si Mbah terbelalak. “Le…kamu ini siapa, Rhino dimana?
“Ini Rhino cucumu Mbah…”, ujar Rhino sambil tersenyum tipis. Si Mbah pingsan.
Usai meyakinkan si Mbah bahwa ia memang Rhino dan bahwa ia baik-baik saja, Rhino memutuskan untuk berpamitan. Si Mbah tetap tidak rela cucunya berganti wajah dan tiba-tiba pergi lagi darinya. Namun ia harus segera mencari pekerjaan baru dan menemui Laksmi, Kim Tae Hee-nya.
Di tempat duduk paling depan, seperti biasanya Rhino menonton pementasan teater “Rembulan”, ia tunggu pementasan itu sampai selesai. Dan mencari celah-celah waktu di mana ia hanya berduaan dengan Laksmi. Ada hal penting yang ingin disampaikannya.
“Laksmi, ini Rhino…kita berkenalan sebulan lalu…. Yang katamu mirip Hanoman…” ujar Rhino setengah berbisik setelah berhasil mendekati gadis yang sedang sibuk berkemas di belakang panggung itu.
“Apa? Apa benar ini Rhino, mana wajah Hanoman-mu?
“Sudah kubuang, kini aku pakai wajah baru…”
“Kamu oplas?”
“Iya… ini demi kamu…”
“Demi aku?”
“Iya  Laksmi… Sejujurnya aku jatuh cinta sama Laksmi semenjak pertama kali nonton pementasan teater di sini, aku selalu duduk paling depan. Hanya aku tidak percaya diri dengan wajahku waktu itu. Makanya…
“Ya ampun Rhino…”
“Tapi aku lebih suka wajah Hanoman-mu… dan aku tidak suka kepalsuan yang berulang…” ujar Laksmi lirih.
“Maksudmu?”
“Sejujurmya aku juga melakukan oplas dua tahun yang lalu Rhino…. Ini wajah asliku”, Laksmi mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetnya, wajah oval hitam manis dengan  hidung besar dan bibir yang tidak simetris.
“Tidak terlalu buruk… wajah aslimu itu…”
'Ya aku menyesal… kenapa aku harus oplas… itu seperti menipu diri dan orang lain dan tanda kurang bersyukur.  Makanya aku cari jodoh dengan wajah asli bukan KW seperti diriku.  Apa jadinya anak-anak yang kulahirkan nanti jika orangtuanya KW semua? Yang ada hanyalah mereka akan merasa sebagai anak pungut dan jadi bahan tertawaan orang-orang. Karena wajah mereka tidak sesimetris wajah kita… sementara orangtuanya tebar pesona dengan kepalsuan…” ujar Laksmi lagi sambil merunduk sedih, “Bahkan dulu aku tega menggunakan uang yang harusnya untuk biaya kuliah jadi digunakan untuk operasi itu… Akhirnya aku D.O dan mengecewakan orangtua…” Laksmi menerawang dan airmatanya menetes bagai permata ditimpa sinar bulan.
“Jadi…kamu tidak bisa?” Rhino mulai mengambil kesimpulan Laksmi menolak dirinya.
“Ya… kita tidak bisa… maafkan aku Rhino, Andaikan kamu tidak oplas…bisa saja aku jatuh hati padamu…", tutup Laksmi di akhir pembicaraan, di ujung malam bulan purnama.
Rhino berbalik, tak ada lagi harapan. Laksmi yang juga ternyata hasil oplas menolaknya. Bahkan rasa rindu dan cintanya seseungguhnya juga telah surut mendadak begitu gadis yang cantiknya mengalahkan bulan purnama itu berterus terang mengenai oplas yang telah dilakukannya. Ia melangkah gontai perlahan menyusuri jalan di trotoar. Di antara sinar bulan, ia melihat wajah-wajah orang yang lewat terlihat sama persis satu sama lain, wajah simetris, berkelopak ganda, rahang runcing, mulut mungil dan dahi rata. Sangat susah membedakan mereka satu sama lain. Apa ini mimpi? Mereka semuanya plastik?
 
***
 
 
 
 
 
 

  • view 377