Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 20 Agustus 2016   02:24 WIB
Tiga Makam

                                                           

TIGA MAKAM

Oleh: Shanti Agustiani

Senja hari itu diantar hujan gerimis, seorang lelaki menghampiri makam-makam yang baru saja digali anak buahnya, tiga makam baru, dengan nama fiktif, dan peti mati kosong di dalamnya.  Tiga makam itu adalah pesanan seorang pengusaha muda kaya bernama Bram. Lelaki tua penjaga makam selama 20 tahun itu mengerti akan konsekuensi dari perbuatannya. Tetapi apa boleh buat, pengusaha muda itu memiliki banyak kenalan ‘orang penting’ dan mengancam bahwa ia akan kehilangan pekerjaan jika permintaan Bram tidak dipenuhi, bahkan si pengusaha kaya merogoh kocek puluhan juta untuk menyiapkan makam fiktif itu.

 

Bram adalah seorang pengusaha muda yang dengan cepat meraih sukses seperti almarhum bapaknya, Soemaryanto yang lebih dulu dimakamkan pada area makam elite “Taman Melati”.  Tahun 2011 bapaknya meninggal karena penyakit kronis dan sebelum meninggal berpesan kepada Bram agar kelak keluarganya disemayamkan di tempat yang sama dengannya. Karena area taman makam tersebut semakin lama semakin sempit berhimpitan dengan gedung-gedung pencakar langit maka ia putuskan untuk membeli tiga lubang makam bagi dirinya sendiri, istrinya dan satu lagi untuk anaknya.

 

Pada mulanya sang lelaki penjaga makam bernama Pak Saleh itu menolak uang dari Bram, namun anak buahnya memaksa, karena Bram ‘orang penting’ yang bisa menendang mereka semua dengan mudahnya dari pekerjaan selama ini. Maka Pak Saleh pun akhirnya menyetujui pembelian makam fiktif atas nama keluarga Bram, meski pun dengan hati was-was khawatir akan dosa-dosanya membiarkan orang lain berbuat curang. Ia pandangi terus ke tiga makam itu sembari menghabiskan sisa senja dan sesekali mencabuti rerumputan. Ia terus mengamati tempat peristirahatan mewah yang telah dipasangi keramik dan diberi nisan dengan nama palsu.

 

Lima hari kemudian Bram tiba-tiba meninggal dunia, entah karena sebab apa Pak Saleh tidak tahu. Lelaki muda itu begitu gagah dan sehat, gerakannya lincah, selincah gerak bisnisnya yang terus melaju menghasilkan uang milyaran rupiah yang tak habis dimakan tujuh turunan. Tetapi tiba-tiba saja ia  jatuh, dinyatakan meninggal dan dihantarkan menuju lubang pesanannya.

Pak Saleh berusaha memberikan yang terbaik kepada Bram di peristirahatan terakhirnya, semua anak buahnya dikerahkan agar dengan cepat membongkar makam fiktif yang kini akan menjadi makam sungguhan. Bahkan ia turun ke liang lahat itu untuk menghadapkan mayit Bram pada kiblat dan membuka ikatan kainnya.  Namun pada saat penguburan entah kenapa jiwa pak Saleh seperti  tetap di bawah, tidak bergeming sedikit pun dari liang lahat tersebut. Ada yang memanggilnya “Saleh…diamlah di sini dan tengok dia!” kata suara itu yang ia tidak tahu dari mana sumbernya.

 

Setelah pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, maka datanglah malaikat Munkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut. Pak Saleh menyadari siapa yang datang maka ia segera agak menjauhkan diri dari jenazah Bram. Inilah saatnya Bram diinterogasi oleh malaikat Munkar dan Nakir. Tetapi yg terjadi malah sebaliknya, malaikat Munkar dan Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, “Apa yang kau buat di sini?” Betapa kaget Pak Saleh karena malaikat Munkar dan Nakir memergoki dirinya. Dia menjawab dengan terbata-bata, “A…aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku tak bergeming dan menetap di liang lahat ini”

 

“Itu artinya kau punya dosa yang terikut dengan orang mati ini. Apa kiranya dosamu?”

 

“Aku tak tahu.… Mmm…mungkin karena aku mengijinkan orang ini membeli kuburan untuknya dan keluarganya padahal mereka belum mati dan tak memberi kesempatan kepada janazah lain untuk disemayamkan di sini,” jawab Pak Saleh ketakutan.

 

“Baik tunggu saja giliranmu nanti pada saat kau mati,”  usai mengatakan itu Malaikat Munkar dan Nakir menanyai Bram yang tiba-tiba terbangun mengenai amal sholehnya selama hidup di dunia. Mereka berlalu usai menanyai Bram dengan jawaban yang disalahkan oleh panca indera Bram sendiri. Tiba-tiba saja kegelapan menyelimuti makam itu, suara gemuruh menggelegar memekakkan telinga. Dan tiba-tiba longsorlah gundukan tanah dari tiga makam kesemuanya menindih jasad Bram. “Inilah aku, tanah yang kau ambil paksa dengan memanfaatkan uangmu sebagai tanda keserakahan,” ujar gundukan tanah itu dengan bisikan yang menyakitkan telinga Bram dan juga Pak Saleh.

 

“Aku membayar tanah ini dengan uang hasil keringatku sendiri…”, kata Bram membela diri

“Apa kau juga mampu membayar surgamu?” tanya tanah itu

“Tentu saja tidak”, sahut Bram lirih.

“Kini kau membayar sifat serakah dan sombongmu yang merasa semua hal dapat dibeli dengan uang,” ujar tanah itu lagi. “Apa kau tidak mau tahu pada seorang ayah yang tergopoh-gopoh membawa jenazah putrinya ke desa yang letaknya ribuan kilo jaraknya dari sini hanya karena taman makam ini penuh dengan makam palsu? Apa kau tidak mau tahu pada si miskin yang menindih makam ibunya padahal tanah kuburan ibunya belum kering? Apa kau tidak mau tahu pada lelaki tua yang kau ancam tak punya pekerjaan jika tidak mau menerima suapmu atas tiga makam pesananmu itu? Sementara ia menanggungkan dosa dan ketakutan karena ulahmu?"

Bram mulai menangis, “Tidak….aku tidak sejahat itu!”

“Kau kini harus membayar itu semua dengan siksa yang berlipat  ganda!”

“Oh tolong jangan lagi… Aku sungguh tidak tahu hal itu!”

Bram terus saja berteriak-teriak dan menangis seperti bayi, tetapi gundukan tanah itu tak peduli dan terus menghantam jasad Bram yang kemudian hancur, lalu bersatu kembali, lalu hancur lagi, bertubi-tubi dan terus-menerus.

 

Pak Saleh yang menyaksikan hal itu ikut histeris dan menangisi dirinya sendiri, “Ampuni kami ya Robb!”, Pak Saleh sesunggukan, tiba-tiba ada yang mengguncang pundaknya, istrinya. Ternyata hanya mimpi, rupanya ia ketiduran usai menengok makam senja tadi. Istrinya kaget melihat suaminya menangis sesunggukan dan membangunkannya.

 

Di tempat yang berbeda, di sebuah rumah mewah dengan pendingin ruangan, tubuh Bram mengucurkan keringat yang deras dalam tidurnya, sebentar-sebentar ia menangis kemudian berteriak histeris. Bram mengalami mimpi buruk yang sama persis dengan yang dialami Pak Saleh.

 

Esok hari Bram sekeluarga datang menemui Pak Saleh yang sedang sakit, sama seperti dirinya tiba-tiba mengalami demam dan menggigil usai mengalami mimpi buruk itu.  Ia membatalkan pesanan makamnya dan menghibahkan fasilitas yang telah dibuatnya untuk siapa pun yang meninggal lebih dahulu.  Bram mendermakan uang suap itu menjadi hibah, tetapi Pak Saleh yang merasa bersalah memberikan uang Bram kepada yatim-piatu.

 

 

 

Karya : Shanti Agustiani