Ranjang Tak Bertepi

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Agustus 2016
Ranjang Tak Bertepi

RANJANG TAK BERTEPI

Oleh: Shanti Agustiani

 

Citra mengukur centi demi centi bibir ranjangnya, ia heran mengapa ranjangnya semakin luas, luas tak bertepi. Ia mulai meraung menangis sesunggukan karena khawatir esok hari ranjang pengantinnya akan bertambah luas lagi. Citra memukul-mukul ranjang itu lalu memukul-mukul dirinya sendiri. Kejadian ini dimulai pada pagi hari yang sama di tahun lalu.

 

Pagi itu seperti pagi biasanya saat suaminya berangkat kerja, Citra mulai berkutat dengan laptopnya ditemani secangkir kopi dan dua lembar roti lapis mayonese. Sementara si kecil Katrina yang masih berusia satu tahun diasuh oleh suster yang telah bekerja seusia anak itu dengan apik dan cukup betah menemani Citra dan Katrina di rumah.

 

Ah benar saja, ada banyak notifikasi di facebook-nya dan lagi-lagi ada surat cinta dari si ganteng Mr. Brian, lelaki Inggris yang tergila-gila pada wanita jawa seperti dirinya. “Hello pretty, how are you? I miss you so much!”, begitu chating-an si bule ganteng itu kepadanya yang segera dibalasnya dengan hati berbunga-bunga. Tiga bulan sudah ia mengenal si bule ganteng itu, tadinya ia hanya iseng, sekalian memperlancar bahasa Inggrisnya yang masih belepotan sehingga mau menerima permintaan berteman dari Brian. Lelaki itu dalam profile picture-nya bertampang lembut sekaligus gagah seperti Nicholas Cage.

 

Katanya dia pengusaha restaurant. Benar saja di beberapa postingannya ada foto Brian di dalam rumah makan mewah yang menyediakan aneka ragam masakan tradisional Inggris ada muffin, keju cheddar, Lancashire Hotpot, dan yang paling mengundang selera Citra adalah Roast Meats yakni daging panggang yang dimasak di oven selama lebih dari dua jam. Mr. Brian berjanji akan memasak sendiri Roast Meats untuk Citra jika Citra bersedia mengunjungi negaranya di Windsor, Beckshire, Inggris.  Si bule memang nekad, padahal Citra sudah mengatakan dengan terus terang bahwa ia sudah bersuami dan punya anak, tapi chating-an si bule semakin hari semakin mesra, intensitasnya semakin dalam menjangkau hati Citra yang paling tersembunyi.

 

Mas Jatmiko, suaminya sering mengurusi proyek batu bara di luar kota dan sangat jarang mengajaknya ngobrol dari hati ke hati. Apalagi mengajaknya jalan-jalan! Hmmm… Citra jadi ingin sekali menyusuri sungai Thames berlayar menemui pangerannya di Windsor Castle.

 

Mengenai acara jalan-jalan, Citra pernah terang-terangan marah kepada Jatmiko karena dalam setahun belum tentu mereka sempat jalan-jalan, selalu saja ada proyek-proyek mendesak yang harus dikerjakan suaminya seolah dunia ini hanyalah rutinitas pelaksanaan proyek batu bara yang membuat lelaki itu sering bolak-balik Yogya-Kalimantan.  Jatmiko hanya menjawab dengan janji, “Tahun depan kita jalan-jalan ya… lagipula Katrina kan masih kecil”, mendengar ucapan itu Citra hanya diam dan enggan protes lagi karena jawaban sama terus berulang membuatnya bosan. 

 

Jadi apa salahnya jika kini Citra sedikit menghibur diri dari rutinitas mengurus anak, mencuci, dan menyetrika baju setumpuk yang setiap hari dikerjakannya di dalam sangkar emas rumah KPR itu? Terlebih lelaki gentle dari Inggris itu sangat pandai merayu hati Citra, membuat puisi, bahkan membuatkan lagu khusus untuk Citra. Citra pernah bertanya kepada lelaki  Inggris itu, “Kenapa kamu memilih saya untuk jatuh cinta?” Lelaki itu menjawab, “Love is blind but I am not blind. Regardless of the possibility that I’m conceived once more, I need to take a gander at just you until the end of time. Just because of you, beautiful princess of Java.”

 

Leleh hati Citra membacanya, meskipun bahasa Inggrisnya pas-pasan tetapi ia paham dan menjiwai romantisme yang diciptakan sang pangeran bule Inggris dengan bantuan google translate. Dan selanjutnya rayu-merayu itu berlanjut sampai pada permintaan sang pangeran agar princess of java itu mengirimkan foto-fotonya dengan busana yang ‘agak seksi’. Citra yang sedang mabuk kepayang memenuhi keinginan lelaki dunia maya itu dengan ringan. Ia duduk di depan laptopnya dan membaca dengan seksama surat ke- 15 dari Mr. Brian:

“Hi pretty,

How are you doing there? thanks so much for your message and pictures at here, wow…wonderful! I am so sorry for my late respond, I have been busy so much at work since morning. You know today is monday, we always have a lot to do...what have you done today? Please can  I  have  once more a picture from you tonight? I will be very happy to see that from you. I wish you a lovely morning and take good care of your self.... Kisses and hug for you ….”

 

Citra terhanyut cinta jarak jauh yang memesona. Cinta main-main yang semula diniatkannya “just for fun” kini benar-benar dihayatinya. Hati Cinderella-nya terpanah pangeran tampan dari negeri orang yang berjanji akan menyelamatkan hidupnya dari rutinitas yang membosankan. Mr. Brian akan menjemputnya dan anaknya, dan lelaki itu akan selalu ada waktu untuk menghiburnya, mengajaknya menyusuri sungai Thames dan mengunjungi istana Buckingham, suatu saat nanti.

 

Pada minggu pagi, Jatmiko berpamitan keluar kota lagi, dan Citra tak merengek minta dibelikan oleh-oleh, ia hanya mengangguk dan mencium tangan suaminya itu. Lalu beberapa saat setelah suaminya pergi, dengan perasaaan rindu ia membuka laptopnya untuk sekedar bercanda dengan Mr. Brian. Tetapi alangkah tidak mujurnya Citra hari itu, suamimya tiba-tiba kembali lagi ke rumah mengambil tiket pesawat yang ketinggalan. Jatmiko menangkap basah dirinya sedang chating dengan Brian, laptopnya masih menyala, jemari lentiknya masih mengetik kata-kata mesra dan manja kepada lelaki Inggris kekasihnya itu. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, terkesiap merasakan pundaknya dicengkeram dengan kuat oleh Jatmiko, sembari berkata, “Aku ketinggalan tiketku, tapi aku tidak mau merepotkanmu, ternyata benar kamu sangat amat repot di rumah ini!”

 

Citra pucat pasi, “Mas…itu… cuma teman biasa…” ujar nya lemah sembari menutup laptopnya tanpa mematikannya. Jatmiko dengan cepat merebut laptop dan membaca semua chating-an istrinya dengan lelaki asing itu. Bahkan Jatmiko melihat foto-foto seksi yang dikirimkan istrinya lewat inbox. Amarah dan kebencian tiba-tiba menyelimuti wajah pria yang biasanya kalem dan pendiam itu.

 

“Baik kalau itu maumu, suruh bule itu menemuimu dan menikahimu, kita cerai!” ujar Jatmiko sambil bergegas pergi meninggalkan Citra. Belum pernah Jatmiko berteriak sekeras itu, sampai-sampai suster pengasuh dan Katrina kaget, Katrina menangis keras dan segera digendong oleh ibunya., “Cup Katrin sayang… maafkan mama ya nak”, ujar Citra sambil sesunggukan. Bagaimanapun ia kaget dan sangat kehilangan sosok Jatmiko yang lembut meski tak romantis, lelaki ayah Katrina itu adalah bagian dalam tubuhnya, pikirannya, hatinya, sayang sekali, baru ia sadari hal ini ketika lelaki itu pergi memisahkan diri dari hidupnya, bahkan dari ranjang pengantinnya yang Jatmiko beli dengan cash .

 

Sepulang dari urusan proyek itu Jatmiko tidak kembali ke rumah. Entah di mana lelaki itu tinggal, Citra tidak tahu. Berulang kali Citra menelpon Jatmiko tapi tak pernah diangkat. Bbm, WA semuanya tidak aktif, dan suaminya tidak meiliki akun facebook. Citra hanya bisa terhenyak menyesali diri, terlebih setelah tahu bahwa Mr.Brian hanyalah akun scammer penipu berkedok cinta. Hal ini disadarinya setelah membaca surat terakhir dari Brian, yang meminta uang tebusan kepada Citra jika foto-fotonya yang seksi tidak ingin disebarluaskan. Tak ada pangeran cinta yang akan menyelamatkan dirinya...

 

Citra menghapus semua fotonya, dan menutup akun facebook-nya. Laptop itu dibantingnya keras-keras. “Brakkk!!!” Setiap malam ia tak bisa lagi tidur nyenyak dan keseokan paginya ia selalu melihat ranjang pengantinnya semakin luas. Luas tak bertepi.

Terinspirasi dari : www.facebook.com/WaspadaPenipu/