Sampai di Mana Level PD-mu?

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Agustus 2016
Sampai di Mana Level PD-mu?

Sampai di mana Level PD-mu?

Maslow (dalam Alwisol, 2004:24), mengatakan bahwa kepercayaan diri itu diawali oleh konsep diri. Kiranya pendapat Centi (1993:9) mengenai konsep diri melengkapinya, menurutnya konsep diri adalah gagasan seseorang tentang diri sendiri, yang memberikan gambaran kepada seseorang mengenai dirinya sendiri. Sullivan menambahkan (dalam Bastaman, 1995:123) mengatakan bahwa ada dua macam konsep diri yaitu, konsep diri positif dan konsep diri negatif. Konsep diri yang positif terbentuk karena seseorang secara terus menerus sejak lama menerima umpan balik yang positif berupa pujian dan penghargaan. Sedangkan konsep diri yang negatif dikaitkan dengan umpan balik negatif seperti ejekan dan perendahan. Lauster menggambarkan bahwa orang yang mempunyai kepercayaan diri memiliki ciri-ciri tidak mementingkan diri sendiri (toleransi), dan tidak membutuhkan dorongan orang lain untuk merasa optimis dan gembira.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa percaya diri (Self confidence) merupakan adanya sikap individu yakin akan kemampuannya sendiri untuk bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkannya sebagai suatu perasaan yang yakin pada tindakannya, bertanggung jawab terhadap tindakannya dan tidak terpengaruh oleh orang lain. Orang yang memiliki kepercayaan diri mempunyai ciri-ciri: toleransi, tidak memerlukan dukungan orang lain dalam setiap mengambil keputusan atau mengerjakan tugas, selalu bersikap optimis dan dinamis, serta memiliki dorongan prestasi yang kuat

Allah SWT berfirman dalan Qs Yusuf ayat 78, Artinya:

Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”(Q.S Yusuf: 87)

Berdasakan kutipan surah Yusuf tersebut, jelas dan nyata bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah, dan senantiasa meminta kita untuk percaya diri sebab esensi percaya diri adalah juga percaya pada kebaikan yang melekat dalam diri tiap manusia sebagai karunia Allah, di samping kelemahan yang juga melekat dalam diri tiap manusia. Kita semua pernah salah, khilaf dan alpa, tetapi semakin hari kita harus memupuk keyakinan diri bahwa masa lalu adalah guru terbaik bagi keberhasilan di masa depan, baik dalam peningkatan iman dan kebermanfaatan eksistensi kita di dunia ini.

Firman Allah yang lain:

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran” (An-Najm: 28).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus khusnudzhon pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya.

Kepada siapakah Allah memberi perintah agar percaya diri dan tidak putus asa? Tentu kepada kita semua, yang percaya bahwa lahir dan batin kita ini tercipta karena kuasa dan kebaikan Allah, dan tugas kita pula memuliakan lahir dan batin ini menjadi seseuatu yang berarti, bermanfaat. Senantiasa berkhusnudzon dan berbenah menyingkirkan segala kelemahan selagi bisa, dan menyuburkan berbagai karunia talenta di lahan perhatian dan perkembangan, dengan pupuk iman dan takwa.  Mawar yang mekar, padi yang bernas, adalah dari lahan yang selalu dijaga agar subur, fokus pada talenta yang positif. Niscaya PD-mu meningkat!

  • view 245