Gadis Naik Bujang

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Juli 2016
Gadis Naik Bujang

GADIS NAIK BUJANG

Karya : Shanti Agustiani

 

Nama gadis itu Meridian. It's beautiful name? Dalam geografi, meridian berarti sebuah garis khayal pada permukaan bumi yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan. Meridies, juga berarti "tengah hari" atau "midday". Ia memang sedang dalam usia pertengahan remaja sekarang ini. Dan harus menjalani upacara naik bujang yang telah menjadi tradisi turun-temurun di daerahnya.

Meri atau Dian panggilannya, di usianya yang ke-13 tahun, Meri akan menjalani serangkaian upacara adat yang akan diberkati oleh ratu penjaga hutan kampungnya,  ratu itu bernama Ode dan diyakini orangtuanya akan mendatangi mimpinya di suatu malam di bulan purnama.

“Nak, bersiaplah engkau menyambut Ratu Ode, dia memang agak menyeramkan, rambutnya panjang, dan matanya kelabu, tetapi ia sangat baik jika kamu menuruti kata-kata petuahnya, ia hanya memintamu menjadi gadis penurut,” ujar mamak menasihati putri semata wayangnya.

“Memangnya berjasa apa Ode itu, Mak? Mengapa aku harus menurut padanya?” Meridian bingung dengan takluknya mamak serta orang-orang di desa itu kepada ratu Ode. Dan rasanya ia enggan menjadi dewasa jika terlalu banyak syarat seperti ini. Menjadi anak-anak ternyata lebih bahagia, mereka dapat bermain dan bersenang-senang sesuai keinginan mereka dan merasa dimanjakan sepanjang waktu. Anak-anak pinggiran hutan tak dibebani banyak syarat dan tidak harus menantikan ketemuan dengan Ode, si peri hutan atau hantu yang kabarnya menyeramkan itu. Mamak tak menjawab pertanyaan Meridian, ia sibuk memitas dengan keras kutu-kutu yang ditemukannya di rambut Meridian yang panjang dan hitam lebat, seolah jengkel dengan pertanyaan kritis anak gadis itu.

Di hari upacara naik bujang, bahkan demi menyenangkan hati Ode, Meridian harus rela didandani dengan cat warna-warni di sekujur tubuhnya, dan ditepung-tawari dengan beras kuning yang dihamburkan ke seluruh tubuhnya bersatu padu  dengan cat tubuh yang lengket, yang dibuat dari campuran tepung terigu dan pewarna makanan berwarna-warni: ungu, merah, kuning, hijau, dan hitam. Bersamaan dengan itu pula, tua kampungnya memutarkan rentetan lagu pengantar naik bujang dari piringan hitam yang sedikit mirip iramanya dengan lagu pengantar kematian, membuat bulu kuduk Meridian berdiri, “Ini mau naik bujang apa mau mati sih? “ pikir gadis itu dengan risau yang berkecamuk.

Demikianlah usai upacara itu Meridian dipingit, ia tak boleh pegi jauh-jauh dari halaman rumahnya, dan setiap kali Meri bangun tidur, mamak selalu bertanya” Apa Ratu Ode sudah menemuimu?”

“Belum”

Esoknya lagi mamak menanyakan hal yang sama, ”Apa Ratu menemuimu semalam?”

“Tidak Mak… Mungkin dia sibuk dengan gadis lain yang sedang dipingit seperti aku , toh bukan cuma aku saja yang sedang naik bujang dan harus bikin perjanjian rumit dengannya kan?” ujar Meridian sembari melengos jengkel dan mengambil keranjangnya. Ia hanya boleh keluar jika hendak mengumpulkan bahan kayu bakar di pinggiran hutan, di situ pula ia sempatkan bertemu dengan sahabat-sahabat hutannya, ada kijang yang malu-malu, ada si bekantan tampan, ada pula merak yang cantik, si kumbang, serangga kecil serta burung-burung dari benua lain yang selalu mampir ke hutannya pada bulan Agustus, hanya mampir. Selanjutnya mereka akan terbang lagi ke negeri lain yang tak pernah diketahuinya, ingin rasanya ia mengikuti kawanan burung itu, terbang ke mana pun ia suka.

Sementara mamak semakin cemas, jika putrinya tidak ditemui Ode berarti jiwanya masih belum suci, dan jalan keluar untuk mensucikan hatinya hanyalah pernikahan dengan pemegang adat di kampung ini, itu yang akan membuat Meridian menjadi perempuan suci dan penurut. Hal itu akhirnya dibicarakan mamak dengan abah Meridian, yang juga salah satu tetua adat. Dan seperti angin, bisikan itu sepoi-sepoi sampai juga ke telinga Meridian, membuatnya takut setengah mati.

Betapa kalut hati Meri mendengar rencana orangtuanya, bahkan hal itu lebih menyeramkan daripada bayangan hantu Ode yang berjumlah seribu kali lipat pun! Bagaimana mungkin ia akan dipaksa menikah dengan lelaki pemangku adat yang sudah memiliki dua istri dan akan menjadikannya istri ke tiga? Lalu ia akan tinggal berbagi rumah panjang dengan dua istri sebelumnya, membantu memasak setiap hari, melayani suami, beranak-pinak, dan tidak boleh berbicara keras atau membantah sedikit pun perkataan lelaki itu. Oh tidak! Sementara kawanan burung di hutan sana memanggil-manggil namanya untuk turut terbang ke angkasa. Apakah tidak boleh seorang perempuan yang beranjak dewasa menikmati kebebasan berekspresi dan berpetualang seperti kawanan burung itu?  Matanya berkaca-kaca, Meridian bertekad menemui Ratu Ode secepat mungkin, kalau bisa malam ini juga.

Maka sebelum tidur ia pejamkan matanya, ia panggil nama Ode dengan segenap hati dan ucapannya, “Wahai Ratu Ode... kesayangan rakyat pinggir hutan, datanglah padaku malam ini juga, sebab esok , jika kau tak datang sekarang, aku akan dijodohkan dengan lelaki yang bukan pilihanku sendiri….”Ratu Ode yang agung…datanglah… datanglah kepadaku….” Begitu terus ucapan Meridian sehingga ia tertidur dan terbangun tengah malam, mendadak seketika setelah merasakan hembusan angin dingin dari luar jendela kamar.

Lalu sekelebat kabut putih menyusup ke kamarnya, kabut putih yang perlahan-lahan menjelma menjadi seorang perempuan bersayap yang duduk di sisi ranjangnya. Mata Meridian terbuka dan merasa sangat ketakutan, ia ingin beranjak dari tempat tidurnya dan berlari. Tapi entah kenapa rasanya tubuhnya tak berkutik, bola matanya memang bergerak-gerak. Namun kaki, tangan dan seluruh sendi-sendi tubuhnya begitu berat untuk digerakkan, seperti terkunci. Sementara jelmaan perempuan itu semakin nyata menampakan bentuknya… yang sangat… cantik memukau! Tidak seperti dugaan Meridian selama ini ternyata Ratu Ode seorang peri yang indah.

“Maaf aku datang terlambat” ujar Ratu Ode sembari tersenyum tipis. Pancaran mata abu-abunya begitu teduh dan damai, sedamai pepohonan hutan.

“Tak apa…”, sahut Meridian yang gemetarannya semakin berkurang ketika menyadari sosok Ratu Ode yang sangat cantik dan lembut.

“Jadi apa petuah apa yang kaubutuhkan gadis manis?” tanya Ratu Ode

“Cubitlah aku dulu…!” pinta  Meridian, “Apa kau sunguh ada?”

Ratu Ode mencubit pipi gadis itu perlahan dan Meri merasakan sentuhan tangan yang sangat sejuk seperi embun pagi yang sering menyapanya di hutan.

“Begini…aku akan dikawinkan dengan lelaki pemangku adat dan menjadi istri ke tiga jika kau belum menemuiku”

“Tapi aku menemuimu….” Sahut Ratu Ode sambil tersenyum penuh arti dan mengerti akan kegalauan gadis  naik bujang itu,

“Nah iya… terimakasih atas kedatanganmu. Emmmm… adakah petuah lain untukku?”

“Ada, terbanglah bersama burung-burung itu… lihat duniamu lebih luas!” tukas Ratu Ode sembari mengalungkan selendang hijau darinya, “ini tanda terima kasih karena kau telah menjaga hutanku selama ini…” ujar Ratu Ode, ”Bahkan kau berani mengusir komplotan penebang liar, percayalah aku melihatmu selama ini…. Perempuan pemberani memang tidak layak dibatasi dengan kebodohan dan keterbelakangan! Jadi terbanglah!” Usai ucapannya itu, Ratu Ode menghilang bersamaan kabut yang semakin menipis dari kamarnya.

Meridian terkesima, ternyata Ratu Ode selama ini memperhatikannya di hutan, terlebih saat aksinya mengusir komplotan penebang liar. Saat itu ia berpura-pura jadi hantu dengan cara melumuri tubuhnya dengan lumpur dan membunyikan suara-suara aneh lalu menyumpit mereka satu per satu, sampai para pengecut itu lari tunggang-langgang.

Pagi itu… terasa sangat cerah. Meridian begitu bangun langsung menemui mamak dan abah untuk menceritakan pertemuannya dengan sang Ratu Ode. Tak ketinggalan ia tunjukkan selendang hijau pemberian ratu sebagai bukti. Sebenarnya tanpa itu pun orangtua Meridian percaya kepada putri mereka karena selama ini Meri memang tidak pernah berbohong pada orangtua.

“Ratu Ode menyuruhku terbang bersama burung-burung ke mana pun aku suka…” ucap Meridian dengan mata yang penuh harap.

“Apakah kamu akan pergi meninggalkan mamak dan kampung ini?” Mamak nampak sedih dengan petuah sang Ratu kali ini.

“Maafkan aku Mak…Abah… tapi aku berjanji akan kembali lagi ke sini membangun kampung ini, setelah aku mampu menetapkan tujuan hidupku sendiri di luar sana!”

Abah lantas menimpali, “Sudahlah…kalau itu memang petuah Ratu Ode, ijinkan saja dia,  dia akan aman bersama restu orangtua dan selendang perlindungan Ratu Ode, “Nak, kamu boleh pergi ke mana pun kau suka untuk temukan tujuan hidup yang sebenarnya!” Abah berkata tegas, meski diiringi dengan tangisan mamak dan pelukan Meridian kepada orangtuanya.

Abah juga yang mengantarkan putrinya kepada burung besi yang akan membawanya ke angkasa, mamak membekalinya dengan pundi-pundi perhiasan dan makanan seadanya. Sedangkan Meridian siap terbang tanpa rasa takut ia akan terbang bersama burung-burung untuk menemukan tujuan hidupnya yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Perempuan pemberani tak layak dibatasi dengan kebodohan dan keterbelakangan, Jadi terbanglah ia!

Dari atas burung besi itu, Meridian melihat angkasa lebih luas, melihat daratan kampung halamannya semakin lama semakin kecil, dan hutan hijau yang dicintainya itu, ah sangat indah di lihat dari atas. Tak terasa air mata harunya menetes, kekuatan dari dalam dirinyalah yang membuatnya berani melakukan perjalanan ini, meninggalkan adat lama, dan mencari sendiri tujuan dan makna hidup yang baru. Gadis naik bujang semakin percaya diri dan percaya akan kekuasaan Tuhan yang lebih besar dan agung daripada Ratu Ode.  Kemana dia terbang? Mungkin ke kutub utara, menyusuri garis lintang khayali meridiannya.

***