Cinta Sejati Tulus Murni, Ada nggak ya?

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Motivasi
dipublikasikan 21 Juli 2016
Cinta Sejati Tulus Murni, Ada nggak ya?

Cinta Sejati Tulus Murni, Ada nggak ya?

Makna ‘cinta sejati” terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Jika dirimu saat ini sedang jatuh cinta, cinta model apakah yang sedang melandamu? Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.

Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).

Kesimpulannya, kita tidak akan lama merasakan indahnya cinta dengan si dia, serta betapa bahagianya mencintai seseorang, seiring dengan waktu hal itu akan semakin berkurang, sehingga membuat seseorang yang telah terikat pernikahan selama bertahun-tahun merasa membutuhkan tantangan baru untuk dapat jatuh cinta lagi.  Apalagi jika kamu mencintai si dia hanya karena kecantikan atau ketampanannya, maka jika saat ini engkau membayangkan bahwa hanya si dia lah orang tercantik atau tertampan di dunia ini, lama kelamaan bayangan itu luntur seiring berjalannya waktu. Bila dahulu rasa cintamu kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka mungkin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler. Bila rasa cintamu bersemi karena ia adalah orang yang terkenal/populer, maka mungkin saat ini kilaunya tidak lagi secerah yang dahulu menyilaukan pandanganmu.

Nah... jika terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, ada baiknya bila kamu menguji kadar cintamu lebih dulu. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cintamu padanya. Cobalah duduk sejenak, pejamkan matamu, bayangkan kekasihmu dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reyot, jalan pun sudah tak lagi tegap malah cenderung bongkok.  Akankah rasa cintamu padanya masih menggemuruh sedahsyat yang kamu rasakan saat ini?

Faktanya adalah, Ketika hubungan antara kamu dan si dia masih belum syah, terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat kalian berdua sehingga mudah hanyut oleh badai asmara. Karena dirimu hanyut dalam badai asmara haram, maka mata menjadi buta dan telinga menjadi tuli, sehingga muncul semboyan: Cinta itu buta.

Akan tetapi setelah hubungan antara kalian berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian.

Jadi bagaimana harus bersikap? Bersikaplah wajar sajalah, tidak usah lebay dalam mencintai seseorang, apalagi sampai mau mengorbankan iman dan prinsip hidupmu hanya demi cinta. Semoga Allah melindungi kita dari bisikan para penggoda atas nama cinta entah itu berupa setan, jin atau manusia. cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput. Hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta karena Allah.

Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.”  Yang demikian itu karena cinta tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku. Jadi sekali lagi refleksikanlah, benarkah cintamu adalah cinta suci, cinta sejati? Buktikan!

Catatan: 

Yahya bin Muadz Ar-Razi menimba ilmu di Ray, Syairaz, Marwa dan Balkh, kemudian menetap dan mengajar masyarakat di kota Naisabur sampai ia wafat pada bulan Jumadil Ula 258 H.

Untaian-untaian nasehatnya sangat indah, menggugah dan penuh hikmah. Itulah sebabnya ia dijuluki hakim (orang bijaksana) dan wa’izh (sang pemberi nasehat). Salah satu nasehatnya tentang ‘lima obat penyakit hati’ di atas menjadi bukti bahwa nasehatnya tetap abadi, diingat dan diamalkan oleh kaum muslimin sampai hari ini, meski sang pemberi nasehat telah dimakamkan sejak 1175 tahun yang lalu!

Berikut ini sebagian di antara nasehat-nasehatnya yang singkat namun penuh hikmah: "Obat penyakit hati itu ada lima perkara; membaca Al-Qur’an dengan merenungkan maknanya, berpuasa, shalat malam, meminta ampunan Allah di waktu sahur dan berteman dengan orang-orang ”

-See more at: https://www.arrahmah.com/read/2012/07/28/21960-mutiara-hikmah-dari-panggung-sejarah-islam-9-petuah-rohani-sang-ulama-robbani.html#sthash.rKcumHRI.dpuf

 

  • view 455