GALUH DAN NANANG

GALUH DAN NANANG

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Juli 2016
GALUH DAN NANANG

GALUH DAN NANANG

Karya: Shanti Agustiani
Alkisah di sebuah kampung Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tersebutlah sebuah keluarga kaya raya yang memiliki toko permata terbesar di kampung itu.  Mereka memiliki anak gadis yang kecantikannya tersohor di seantero kampung. Anak gadis itu bernama Galuh Banjar, sayang sekali Galuh manja dan terbiasa hidup mewah bahkan ada sepuluh pembantu di rumahnya yang besar yang siap melayaninya bak puteri raja. Galuh tidak pernah mau belajar mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan jika dinasihati orangtua ia menggampangkan hal itu.
Ketika Galuh sudah dewasa, banyak laki-laki yang mencoba melamar Galuh, tetapi pilihan orangtua yang juga disetujui Galuh jatuh kepada Nanang, sebab Nanang seorang pemahat intan dan permata yang sangat mahir, orangtua Galuh sangat senang bekerjasama dengan pemuda yang santun itu dan dianggap mampu membesarkan usaha keluarga. Di samping itu, tersiar kabar yang sampai di telinga orangtua Galuh bahwa Nanang memiliki cermin ajaib di rumahnya, yaitu cermin yang bisa mengubah sifat buruk seseorang.  
Maka menikahlah Nanang dan Galuh dalam sebuah peseta besar-besaran nan meriah. Semua orang berbisik-bisik mengagumi kecantikan pengantin yang memakai baju adat Banjarmasin busana pengantin Babaju Kun Galung Pacinan, dengan hiasan kalung rantai dari emas dan permata, serta cincin bermata satu dari zamrud. Semua orang memuji pesta pernikahan itu. Usai pesta pernikahan besar-besaran itu, dibawalah Galuh ke rumah Nanang yang jaraknya cukup jauh dengan rumah orangtua Galuh. Meskipun mereka hidup berkecukupan, namun Nanang meminta Galuh mengurus rumah tangga, terutama memasak makanan untuk suaminya, bukan orang lain. Apalagi mereka toh belum punya anak jadi tak terlalu repot bagi Galuh untuk sekedar menyiapkan masakan.
Maka Nanang pun berkata merayu istrinya, “Istriku cantik Galuh tersayang, boleh lah hari ini kakanda pulang, menyantap masakan adinda tersayang, tepat pukul 12 siang”
Galuh tertunduk malu, ia cepat menjawab suaminya ”Suamiku kakanda Nanang tersayang, boleh saja kakanda cicipi, masakan adinda tak kalah ahli, dengan lezatnya masakan koki.” Galuh tertawa senang bisa membalas pantun suaminya namun hatinya kecut juga, ia sendiri tak yakin bisa memasak makanan yang lezat, namun ia gengsi mengatakan hal itu.
Ketika suaminya berangkat bekerja gelisah rasa hati Galuh, ingin rasanya ia minta tolong orangtua tapi rumahnya kini berjauhan dan malu juga rasanya Galuh karena ia sudah menyanggupi dan meyakinkan suaminya bahwa ia bisa menyiapkan masakan yang paling enak. Maka pergilah Galuh ke pasar membeli ikan tongkol sesuai pesanan suaminya untuk dimasak menjadi gangan asam iwak tungkul. Namun ia sangat bingung, ikan tongkol yang dibelinya itu sangat panjang sementara pancinya tak muat ikan sebesar itu. Maka kembali lah Galuh ke pasar untuk mencari panci yang panjang. Untung jarak rumahnya dengan pasar hanya beberpa meter saja.
“Di mana ada dijual panci yang bentuknya panjang?” tanyanya kepada penjual panci, sebab semua panci yang dilihatnya berbentuk bulat dan kecil. “Kira-kira yang bisa muat ikan tongkol sebesar ini,” lanjutnya sambil merentangkan tangan. Para pedagang yang duduk di sekitar penjual panci itu berbisik-bisik dan tertawa, menertawakan kebodohan Galuh
Untunglah ibu tua penjual panci itu baik hatinya dan memberi arahan pada Galuh, “Nak…kalau mau masak ikan tongkol sebesar itu bisasanya ikannya dipotong-potong dulu jadi panci biasa pun pasti muat. Panci yang panjang tidak ada nak…”
“Ohh iya ya… saya lupa… makasih Bu…, “ sahut Galuh sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia kesal karena hal sepele seperti itu tidak terpikir olehnya. Lalu ia kembali ke rumah, untunglah jarak rumah Galuh dengan pasar hanya beberapa meter saja sehingga tak masalah baginya bolak-balik ke pasar, yang masalah adalah rasa malunya sibuknya ia seperti mau melaksanakan hajatan saja padahal hanya mau masak ikan tongkol untuk dua orang.
 Sesampainya di rumah Galuh lupa bumbu apa saja yang harus ia siapkan untuk masakan pesanan suaminya itu. Namun sifat Galuh yang suka gengsi itu menghalanginya untuk bertanya, ia memutuskan untuk memasukkan semua bumbu ke dalam panci berisi kuah ikan tongkol itu. Mulai dari lengkuas, serai, garam, merica, cabai, tomat, bawang prei, bawang bombay, pala, tomat, cabai merah, ketumbar, jintan, kunyit, gula merah, lengkuas semuanya dimasukkan ke dalam panci. Pikirnya semakin lengkap bumbu, masakan akan semakin enak.
Galuh mengaduk-aduk masakannya dengan hati resah, sesekali ia mencicipi kuahnya, terasa aneh, ia pun menambahkan bumbu penyedap, namun rasa aneh itu tak kunjung bisa hilang, malah makin menjadi-jadi. Galuh kebingungan, lalu dibuangnya kuah aneh itu, dan ia coba lagi dengan kuah yang baru. Tak terasa sudah jam 12 siang dan masakan Galuh baru jadi, itu pun jadi karena terpaksa, Jika ia terus menerus mengaduk, iwak tungkul bisa berubah jadi bubur tungkul, aduhhhh…, jam segini suaminya sudah akan pulang istirahat dan  makan bersamanya. Galuh berkeringat dan tensinya naik melihat hasil masakannya sendiri, namun masakan itu mau tak mau harus dihidangkan di atas meja makan, sudah jam 12 siang.
Tak lama pintu diketuk, “Asalamu’alaikum… istriku…ni Kakanda datang!”
“Wa’alaikumkumsalam…, Galuh gemetaran dan sangat kuatir suaminya akan kecewa melihat hasil masakannya.
“Duh.. lapar betul perut Kakanda ini ding ai…, sudah siap kah masakan istriku?” tanya Nanang sambil melepaskan topinya.
“Ssss..su…sudah Kakanda…eh…tadi di toko permata Kakanda tidak makan di warung?” tanya Galuh berharap suaminya membatalkan niat makan bersamanya.
“Tidak lah …Kakanda kalau sudah berjanji itu sudah pasti ditepati… kan tadi hendak makan masakan Adinda sayang…, “ sahut Nanang sedikit heran dengan jawaban istrinya.
Lalu demi melihat tongkol berkuah di meja makan, Nanang merasa heran karena belum pernah ia melihat gangan asam iwak tungkul semeriah itu, dengan aneka bumbu beragam di dalam kuahnya. “Wuih…wuih…. Meriahnya ai masakan istriku ini lah…belum pernah rasanya kakanda melihat gangan asam tungkul seramai ini!”, serunya sambil tersenyum kepada Galuh yang pucat pasi.
“Eh..iii..iya lah suamiku…demi dikau saja aku masak semeriah ini…”, ujar Galuh terbata-bata.
Lalu mulailah suaminya mengambil sepotong tongkol bersama kuahnya, melihat itu wajah Galuh semakin pucat.
“Kenapa istriku, ayo makan temani Kakanda!”, lalu suaminya mengambilkan nasi dan tongkol untuk Galuh. Galuh pun mau tak mau berpura-pura makan, padahal ia cuma makan nasi saja, ikannya hanya dipotong-potong tak karuan. Ketika suaminya mulai menyuap, wajah suaminya nampak bekerut sedikit, lalu memejamkan mata. Galuh yang melihat ekspresi suaminya, ikut-ikutan memejamkan mata untuk beberapa saat, tak bisa ia bayangkan bagaimana lidah suaminya itu merasakan daging tongkol yang sudah merasuk dengan kuah antah berantah itu. Tapi anehnya ketika Galuh menbuka matanya.suaminya masih menikmati ikan tongkol itu sampai habis ludes tak bersisa.
Galuh menunduk tak berani mendengar komentar suaminya.
Lho…Galuh istriku, kenapa tak kau makan bagianmu?” tanya Nanang santai, seolah tak merasakan keanehan dalam masakan itu.
“Ta…tapi masakanku…” Galuh menunggu komentar suaminya.
“Masakanmu enak kok…belum pernah kakanda makan gangan asam iwak tungkul yang meriah seperti ini!“ ujar Nanang sembari tersenyum penuh arti. Lalu Nanang berpamitan melanjutkan pekerjaannya di toko permata.
Begitu suaminya pergi Galuh merasa heran suaminya dapat sangat menikmati masakannya. Maka ia kembali menghampiri meja makan dan memakan sedikit daging ikan tongkol itu, Uhuk….Huekkk”, Galuh pusing tujuh keliling, rasa mau muntah, rasa mau demam, rasanya seperti makan sampah.
Segera dibuangnya sisa tongkol yang di atas meja dan ia kembali ke pasar membeli masakan yang sudah matang untuk nanti malam. Tetapi sepulang bekerja suaminya mengetahui hal itu dan mengatakan bahwa ia lebih senang masakan istrinya karena pasti dimasak dengan bumbu cinta.“Adinda Galuh sayang, bagaimana pun jadinya masakanmu asalkan kau buat dengan cinta pastilah Kakanda suka, jangan lagi hidangkan masakan orang lain ya…!” pinta Nanang dengan lembut.
Galuh menangis sesunggukan, dia pun meminta maaf kepada suaminya yang sangat sabar itu, Galuh mengakui bahwa ia tidak pernah mau belajar masak selama ini karena terbiasa dilayani bak puteri raja. Nanang tentu saja memaafkan dan meminta Galuh untuk lebih teliti lagi pada saat bercermin mematutkan diri. Kata-kata Nanang itu bagai kiasan tapi Galuh sungguh-sungguh mengikuti saran suaminya agar lebih teliti pada saat bercermin.
Begitu Galuh bercermin, sesuai anjuran suaminya ia meneliti wajahnya, dan menatap mata yang terpantul di cermin besar di dalam kamarnya. Ternyata cermin itulah yang disebut cermin ajaib perubah sifat. Setiap kali Galuh menatap matanya dalam-dalam di pantulan kacanya, cermin itu berkata, ”Oi…Galuh Banjar… kamu cantik tapi bodoh, masak masakan sederhana untuk suamimu pun kau tak bisa!” ujar cermin itu membuat tangis Galuh semakin menjadi-jadi. Ia mengadukan cermin ajaib itu kepada suaminya. Nanang tersenyum dan berkata,”Sesungguhnya cermin itu hanya memantulkan kata hatimu….jadi perbaikilah kata hatimu, beri kalimat yang baik untuk dirimu sendiri dulu!”
Galuh pun mengangguk, ia paham sekarang, jika hatinya mengatakan ia bodoh maka cermin itu pun mengatakan hal yang sama. Maka kini ia belajar menyayangi dirinya sendiri, lalu menyusun kalimat yang baik sebagai pantulan kata hati, “Oi…Galuh cantik..semakin bijak semakin baik, tak lagi gengsi belajar masak, istri bijak disayang suami…!”Kata-kata itu dicamkannya dalam hati, dan kini cermin ajaib pun mengucapkan hal yang sama ketika Galuh menatap matanya dalam-dalam di sana.
Ajaib, setiap kali mendengar kembali pantulan suara hatinya di cermin itu, Galuh kini memang semakin bijak dan tak segan bertanya resep-resep masakan kesukaaan suaminya. Kepada tetangga, kepada tukang sayur, ia tak gengsi lagi mengakui bahwa ia perlu banyak belajar dari mereka dan ternyata banyak tetangga yang mau mengajari Galuh dengan senang hati. Sehingga kian hari masakan Galuh menjadi semakin enak, membuat suaminya semakin bertambah sayang dan mesra kepadanya.
Galuh kini mengerti, selama ia mengatakan hal yang baik bagi dirinya sendiri dan orang lain, maka kebaikan itu akan kembali kepadanya. Dan sebenarnya cermin itu cermin biasa, hanya pantulan suara hati Galuh yang begitu terngiang membuatnya nampak seolah ajaib. Begitulah, ketika anak-anaknya lahir, mereka dididik oleh orangtua bijaksana yang selalu mengatakan kalimat positif pembangun jiwa, sehingga membuat anak-anak itu tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri dan percaya diri.
 “Dekat terjerat, jauh terkenang
Ucapan tajam bagai belati…
Ini kesah Galuh dan Nanang
Ingatkan pendidikan suara hati….   “                       
 
                                                                                     
 
****