METODE DISIPLIN DENGAN KEKERASAN, MASIHKAH JADI ANDALAN PROSES PENDIDIKAN?

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 Juli 2016
METODE DISIPLIN DENGAN KEKERASAN, MASIHKAH JADI ANDALAN PROSES PENDIDIKAN?

METODE DISIPLIN DENGAN KEKERASAN, MASIHKAH JADI ANDALAN PROSES PENDIDIKAN?

Sebagai salah seorang pendidik, dengan spesialisasi jabatan Konselor Sekolah, saya termasuk salah seorang yang menentang pendidikan dengan metode kekerasan. Apa pun alasannya metode disiplin dengan kekerasan fisik mau pun psikis tidak layak disebut pendidikan. Seorang pengajar bertugas untuk mengajar bukan menghajar, seorang konselor bertugas untuk mendampingi perkembangan psikologis siswa bukan menguping dan mencari kambing hitam. Semua stakeholder di sekolah bertugas menciptakan suasana yang kondusif bagi berlangsungnya peristiwa transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan atau bahasa singkatnya KBM.

Driyarkara mendefinisikan bahwa pendidikan diartikan sebagai suatu upaya dalam memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf yang insani (Driyarkara,1980).  Dasar pengertian harafiah pendidikan sama sekali tidak mengandung unsur kekerasan melainkan  arahan, bimbingan dan panduan yang mampu memfasilitasi perkembangan manusia muda menemukan sisi kemanusiaannya yang paripurna. Demikan pula bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara yang konsepnya sangat membumi dan berakar pada budaya nusantara. Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman siswa yang berperan menyokong peserta didik tumbuh dan berkembang atas kodratnya sendiri. Pengajaran di Taman siswa mendidik anak didik agar menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya. Menurut pola pikir Ki Hajar Dewantara tiap-tiap guru adalah abdi sang peserta didik dan bukan penguasa jiwa mereka (Sudarto, 2008). Dari kedua pakar pendidikan dan filsafat tersebut kita sudah bisa menyimpulkan bahwa stigma disiplin dengan kekerasan tidak bisa disebut sebagai upaya proses pendidikan.

Proses belajar mengajar yang efektif harus memberi pengalaman kurikulum yang menyenangkan, menghargai individualitas peserta didik dalam cara belajar serta talenta yang berbeda-beda. Lalu mengapa proses pendidikan harus menyenangkan? Karena ternyata belajar dalam keadaaan tertekan dan keterpaksaan itu tidak akan menghasilkan ilmu yang nyantol di kepala, bahkan cenderung cepat dilupakan karena tiadanya kesan. Kesan itulah yang hadir ketika proses belajar-mengajar dilakukan dengan cara yang menyenangkan, membahagiakan.  Perumpamaan yang nyata adalah ketika kita membaca novel yang kita sukai dan membaca buku pelajaran yang tebalnya sama dengan novel tersebut, ilmu pada novel yang kita baca lebih cepat kita pahami dan lebih mudah kita ceritakan kembali karena adanya kesan. Perasaan senang melihat gambar atau karakter tokoh pada novel tersebut memperkuat ingatan dan pemahaman daripada harus memahami buku pelajaran yang sama tebalnya dan menceritakan kembali isinya, apalagi  jika buku tersebut tidak dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik. Selain itu… catatan harus rapi jali tanpa coretan, duduk manis tanpa boleh toleh sana-sini selama  2 jam atau lebih (hmm, anak kreatif mana tahan…).

Otak manusia mengandung sekitar 100 milyar sel mikroskopis yang disebut neuron.  Pada saat manusia menangkap kesan mendalam, makna dari pengetahuan yang diperolehnya dengan senang hati dan sukarela,  maka hubungan antara neuron itu akan semakin aktif. Bagaikan arus listrik yang sambung-menyambung menerangi seluruh dunia. Tentu saja dalam keadaan terang benderang itulah pengetahuan dan keterampilan baru mudah diadopsi, bahkan jangkauannya bisa diperluas dengan kreativitas masing-masing individu pembelajar yang merasa bebas berkreasi, tak terkekang. Menjadi pengetahuan baru, penemuan baru, inovasi baru.

Sebaliknya jika manusia dipaksa belajar sesuatu dalam keadaan tertekan dan terpaksa, bahkan disertai dengan tindak kekerasan fisik dan psikis, yang terjadi adalah putusnya sambungan sinapsis neuron-neuron tadi. Alhasil belajarnya syukur-syukur hanya bisa sampai pada taraf kognisi, hafalan, itu pun cepat dilupakan. Hal inilah di antaranya yang mengakibatkan mutu pendidikan di Indonesia semakin menurun. Repubika.co.id mencatat bahwa minimnya rasa bahagia saat siswa belajar di sekolah ditengarai membuat mutu pendidikan semakin menurun.

Ya, sebagai seorang  pendidik masa kini yang mengerti hakekat pendidikan dituntut agar mampu menjadi fasilitator dan motivator terbaik bagi siswa-siswinya. Ia harus mengakui bahwa dirinya bukanlah satu-satunya sumber ilmu melainkan orang yang memfasilitasi peserta didik agar mencari jawaban sumber pengetahuan dari berbagai sumber lain yang lebih luas. Tentu saja dengan metode yang menarik serta tidak membosankan, yang mampu menstimulus beragam karakter belajar siswa yang secara umum dibagi menjadi pembelajar audio, visual dan kinestetik, serta menghargai keragaman bakat yang mereka miliki.

Dalam hal ini guru fasilitator tidak menjadikannya berkarakter lembek atau submissive melainkan guru yang memiliki karakter yang asertif, tegas namun tidak menyeramkan. Artinya dia tetap berhak menegakkan aturan yang telah disepakati bersama siswa, dengan sanksi yang mendidik dan tidak menghina seluruh kepribadiannya dari satu atau lebih kesalahan yang nampak oleh pendidik, yang mungkin saja tidak nampak oleh pendidik yang lain (dan jika ini terjadi, siswa tersebut menjadi bulan-bulanan label negatif para pendidik, maka inilah wujud pembunuhan karakter siswa). Setiap siswa yang menerima sanksi harus merefleksikan kembali apa kesalahannya dan apa yang ia pelajari dari kesalahan tersebut, agar taraf jati diri kemanusiaanya semakin terangkat, bukannya terpuruk oleh hinaan dan hukuman fisik. Dengan begini, tak perlu lagi saling cubit dan tuntut di antara guru dengan siswa gara-gara penerapan kedisiplinan dengan kekerasan fisik dan psikis yang selalu menimbulkan kontradiksi.

Berkaca pada surah Al Imran [3:159] Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

 

 Dikutip dari berbagai sumber:

  1. Driyarkara tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Kanisius, 1980 hal : 24)
  2. http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/01/5-fakta-mencengangkan-tentang-otak-manusia
  3. http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/15/05/17/nohe5z-mendikbud-ingin-bentuk-gerakan-sekolah-menyenangkan
  4. http://ayahkita.blogspot.co.id/2009/06/mungkin-anak-kita-bukan-bodoh-atau.html

 

 


  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Trims bang Fahd Pahdepie sdh ikutan baca corat-coret saya

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Selalu ada cara yang lebih mendidik dalam menerapkan sanksi, dan semestinya harus disertai reward pula untuk perilaku yang sudah baik, atau semakin baik. reward tidak harus berupa materi, pujian atau stiker bintang pun cukup....sekolah mesti membahagiakan!

    • Lihat 1 Respon

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    siap Anick Ht, salam inspirasi!

  • Anick Ht
    Anick Ht
    1 tahun yang lalu.
    *penting*