ANAK TANGGA MENUJU BINTANG

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 19 Juli 2016
ANAK TANGGA MENUJU BINTANG

ANAK TANGGA MENUJU BINTANG

Siang itu dengan bersemangat saya menuju kelas menyampaikan berita yang baru kubaca di website resmi, bahwa pendaftaran online perguruan tinggi negeri akan dimulai. Mereka semua anak-anak kelas XII dapat mendaftar gratis  Perguruan Tinggi Negeri, Politeknik Negeri, dan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri hanya dengan meng-upload nilai-nilai raport dari semester 1 sampai 5.  Dan jika mereka lolos pada tahap ini, maka tahap selanjutnya mereka tinggal melengkapi berkas pendaftaran tanpa harus mengikuti tes tertulis lagi!

Wajah-wajah remaja pertengahan itu sangat antusias menyimak penjelasanku. Mereka bertanya, “Ibu saya mau daftar di UGM bisa? Bagaimana kalau di ITB? Bagaimana kalau saya ingin mendaftar semuanya di tiga jalur SNMPTN, PTAIN dan Politeknik Negeri? Bagaimana cara memperoleh beasiswanya bu? Tak sabar mereka bertanya dan menyela pertanyaan teman lainnya.  Pertanyaan mereka kujawab satu per satu, bahwa mereka bisa mendaftar di mana pun universitas yang diinginkan dengan memperhatikan kuota dan passing grade-nya, bahwa mereka bisa mendaftar sekaligus tiga jalur tersebut, dan bahwa sekolah siap membantu pendaftaran online beasiswa Bidikmisi bagi mereka.  Namun beberapa lainnya menyiratkan wajah ragu namun tak bergeming, tak bertanya dan tak pula memalingkan pandangan dari penjelasannku, sesekali wajah ragu itu menundukkan kepala. Namun saya tidak menyinggung perilakunya, pertemuan di kelas itu saya cukupkan dengan harapan mereka akan aktif mencari informasi sendiri,  “ Oke anak-anakku,  para calon ustadz dan ustadzah…..”

“Amiiin” sahut mereka ….

“Ibu cukupkan sampai di sini dulu penjelasan Ibu, jika ada di antara kalian yang ingin konsultasi lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran perguruan tinggi ataupun konseling ingin mencari jalan keluar bagi hambatan menuju cita-cita. Silahkan berkunjung ke ruangan Ibu, kita akan membahasnya di ruang Bimbingan Konseling,”

Ruang Bimbingan Konseling kami, yang hanya merupakan bilik kecil memang seringkali menjadi bilik curhat bagi remaja-remaja anak asuh kami. Mereka bukan hanya bercerita mengenai belajar dan mengajar di sekolah ini tetapi juga bebas bercerita tentang harapan, perasaan dan ketakutan tersembunyi yang menjadi rahasia di antara kami. Saya tidak ingin melanggengkan citra BK sebagai polisi sekolah yang hanya menegur dan menasehati siswa apalagi menghukum tanpa proses mencoba memahami cara berpikir dan bagaimana mereka berperasaan. Saya mencoba memakai kacamata sudut pandang mereka yang patut dihargai, dan pada akhirnya menghargai proses pendewasaan mereka yang ditandai dengan kemampuan untuk merumuskan sendiri pemecahan masalah yang tengah mereka alami.  Seringkali kita sebagai guru mengetahui kesalahan siswa yang tidak mau mengerjakan PR ataupun sering membolos sekolah, tetapi pernahkan kita berusaha untuk tahu apa latar belakang mereka, permasalahan yang mereka alami ketika hendak mengerajkan PR atau perilaku indisipliner lainnya? Serta mencoba menggali faktor lain yang mungkin saja merupakan masalah utama dibalik suatu tindakan tersebut? Apakah kita merasa sukses jika kita berhasil menelanjangi kesalahan siswa dengan membuka helai demi helai kesalahan demi kesalahannya saja? Dan mengapa kita lebih memasang strategi dengan landasan sikap curiga daripada sikap percaya? Lalu apa makna pendidikan yang sesungguhnya sedang kita amalkan terhadap peserta didik kita?

Setiap anak adalah unik, pendidikan yang baik seharusnya mendukung perkembangan individual peserta didik sesuai dengan keunikan bakat dan minat mereka masing-masing. Oleh karena itu upaya Bimbingan Konseling adalah upaya kolaborasi dnegan guru mata pelajaran , yang mencoba men-support kebutuhan psikologis tiap anak untuk dimengerti dan difasilitasi sesuai kebutuhan dan keunikan mereka. Di kelas dan di ruang bilik kecil BK ini mereka berhak didengarkan dengan seksama, bukan melulu harus mendengarkan dan mendengarkan petuah atau nasehat yang sebenarnya mereka sudah tahu. Ibarat gelas yang telah terisi air jika terus menerus diisi air tanpa berkesempatan menumpakan pikiran dan persasaannya yang unik, maka gelas tersebut akan tak mampu lagi menampung air sehingga harus tumpah, luber ke mana-mana! Inilah ruang kami, bilik curhat dan penjagaan privacy kami yang tidak boleh diganggu gugat! Selama mereka telah mendapatkan dispensasi konseling/konsultasi maka mereka berhak menuntaskan percakapan hingga tuntas, hingga menemukan akar permasalahan dan menemukan sendiri jalan keluar bagi permasalaahn yang mereka alami. Sebagai konselor/guru pembimbing kami bukanlah dewa, bukan dukun, apalagi hakim, kami lebih menempatkan diri sebagai fasilitator yang mendengarkan, meneguhkan, membantu mencarikan alternatif bagi rencana-rencana hidup mereka selanjutnya.

Lalu siang itu mulailah mereka berdatangan satu per satu, ada yang sekedar konsultasi, tes bakat-minat, ada pula yang meminta bantuan untuk browsing perguruan tinggi yang diminati untuk mencari tahu perihal lokasi, biaya pendaftaran dan prospek lulusan. Sampai beberapa hari kemudian, wajah ragu-ragu itu kutemui di depan pintu bilik kecil kami, ia berdiri terpaku, namun saya mempersilahkannya masuk meski dia sempat ragu dan hendak berbalik lari meninggalkan ruangan.

Saya tatap dia sembari tersenyum namun gadis remaja itu tak bergeming. Saya memberikan sejumlah buku dan brosur tentang perguruan tinggi, “Bacalah, siapa tahu di antara brosur itu ada yang membuatmu tertarik!”

Jemarinya mulai bergerak membuka helai demi helai buku dan brosur yang kuperlihatkan, ia asyik dengan bacaannya dan saya pun asyik menlanjutkan pekerjaanku di laptop. “Apakah ada yang membuatmu tertarik?”

Dia menatapku dan mengangguk pelan, “Sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah bu, tetapi… apakah orang tidak mampu seperti saya ini juga dapat melajutkan kuliah? Sedangkan untuk makan saja kami sudah susah…”

Saya terhenyak menatap gadis itu dalam-dalam dan duduk di sebelahnya, “Rima… tak ada segala seuatu yang tak mungkin jika kita mau berusaha. Memangnya…Apa maksud Rima dengan kata-kata ‘untuk makan saja susah?’ Apakah Rima sehari-hari harus bekerja keras untuk memperoleh sekedar makanan?”

“Yang bekerja keras itu kakak Rima bu, dia kan cuma buruh bangunan. Kalau ada proyek kami makan dan bisa sedikit menabung, nah kalau tidak ada proyek kami menghabiskan tabungan yang sedikit itu untuk makan, bahkan seringkali kami harus berpuasa jika tidak ada lagi sisa tabungan kami,” ujarnya pelan seolah tidak ingin didengar orang lain.

Orangtua Rima memang sudah meninggal, ayahnya sudah lebih dulu meninggal pada saat Rima berusia 5 tahun karena kecelakaan kerja sedangkan ibunya menyusul genap setahun lalu karena penyakit typhus yang dideritanya. Kini Rima tinggal bersama kakaknya yang juga sudah berkeluarga, bisa kumengerti betapa susahnya membagi gaji buruh yang pas-pasan untuk makan sekeluarga dan untuk Rima. Terlebih jika pekerjaanya hanya menunggu proyek bangunan yang tidak menerima gaji tetap. Saya menyentuh pundaknya dan bibir kering itu hanya diam terkatup dengan tatap mata kosong tanpa harapan.  

“Bisakah kau tersenyum, nak?” tanyaku karena kuperhatikan wajahnya memang jarang sekali tersenyum.

“Ah ibu… bisa lah bu…”, sahutnya mulai tersenyum tipis dan malu-malu.

“Ibu sangat menghargai keberanian Rima mau terbuka cerita apa adanya kepada ibu saat ini, apalagi jika Rima mau banyak tersenyum seperti tadi. Ketahuilah bahwa wajahmu lebih manis jika tersenyum,” Rima semakin melebarkan senyumnya dan memberanikan pandangannya untuk menjaga kontak mata yang lebih akrab di antara kami. Dia mempelajari isi hatiku, sebagaimana saya mempelajari isi hatinya saat ini. “Tersenyumlah terus, atas apa pun yang kamu hadapi saat ini, tersenyum karena Allah menganugerahkan panca indera yang sehat kepadamu, tersenyum dan bersyukur karena masih ada kakak yang berjuang untuk menghidupimu, sehingga kamu tidak menjadi gelandangan yang mengais makanan dari tempat sampah…” Rima terhenyak mengangguk. “Senyum adalah bentuk rasa syukur. Jika kita terus mensyukuri anugerah Allah, maka Allah akan menambah rahmat-Nya dengan kebaikan demi kebaikan yang bertambah setiap hari”.

“Benarkah itu bu?”

“Ya Inshaa Allah… rejeki Allah itu ada di mana-mana jika kita mempercayainya kita akan yakin ke mana pun kita melangkah, asalkan dengan memohon ridha Allah dan dengan niat baik, pastilah kita akan memperoleh kemudahan dalam mencapai rizki itu, dan hanya orang yang benar-benar berusaha dan senantias bersyukur yang akan memperolehnya.”

“Ya ibu Rima mengerti, Rima jadi teringat pesan almarhumah ibu Rima bahwa Allah itu sebaik prasangkamu dan upayamu mengenal bentuk-bentuk kasih sayang Allah” Rima berkata sembari berkaca-kaca mengenang  almarhumah ibundanya.

“Nah, Rima mengerti sekarang, bahkan pesan almarhumah ibunda Rima masih melekat dalam ingatan dan pemahaman Rima akan rasa syukur dan usaha yang keras untuk memperoleh ridha dan rizki dari Allah. Maka itu janganlah khawatir Rima, Ibu akan menunjukkan cara-cara memperoleh beasiswa dan kita tetap akan merencanakan perkuliahanmu sebagaimana angan-anganmu, bukan kah cita-citamu ingin menjadi seorang guru?”

Lalu kami pun asyik membicarakan soal cita-cita dan dengan bersemangat ia meminta dicarikan alternatif PTN atau PTAIN terbaik yang akan mendukung cita-citanya. Kami pun mulai browsing internet dan mendaftarkan Rima beasiswa Bidikmisi. Yah begitulah faktanya kehidupan, peluang yang sama jarang muncul dua kali. Betapa menyesalnya mereka yang menyia-nyiakan peluang. Lalu pada akhirnya memohon-mohon meminta ulang peluang yang sama pada Empu-Nya kehidupan. Rasa , logika, dan perhitungan yang matang mesti disinkronkan agar anak-anak bangsa ini mampu membangun anak tangga yang kokok bagi masa depannya yang cemerlang.

Pertemuan ke tiga kami bertambah akrab. Terucap dari bibirnya, “Bisakah saya menganggap ibu, ibu saya?”sahutku,”Ya kenapa tidak…. Toh semua anak-anak semua anak-anak yang bimbingan ibu sudah ibu angggap sebagai anak sendiri”.

Matanya berkaca-kaca….,” Terimakasih ibu…”

Saya memeluknya dan meyakinkannya , “Percayalah Rima, Allah mendengarkan doamu dan pasti Allah memberi ganjaran setimpal atas usahamu, carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang beasiswa yang bisa kamu peroleh, sehingga semakin banyak peluang bagimu untuk meringankan biaya kuliahmu nanti.”

Selain Rima, berbagai curahan hati dan harapan serta petanyaan bermunculan bergantian dari bilik kecil kami,

“Ibu, saya ingin kuliah di luar negeri!”

“Ibu, dapatkah saya kuliah sambal belajar?”

“Saya belum pernah belajar bidang ini, apa saya bisa diterima ya bu?”

“Orangtua saya menghendaki saya memilih jurusan kedokteran tetapi saya merasa tidak sanggup bu, otak saya pas-pasan nih, gimana ya Bu?”

Memang perlu ekstra sabar menghadapi berbagai pertanyaan yang kadang sudah berulang kali dijelaskan. Terlebih kami memerlukan jam tambahan agar siswa yang mendaftar bisa menyelesaikan proses pendaftaran pada waktunya sebelum deadline yang telah ditentukan.

Beberapa bulan kemudian tibalah hari pengumuman itu , memang tidak serentak, SNMPTN lebih dulu kemudian pengumuman Politeknik Negeri, yang terakhir pengumuman dari PTAIN.  Syukur Alhamdulllah, upaya kami tidak sia-sia, sebanyak 35 siswa lolos SNMPTN, 15 siswa lolos di Politeknik Negeri, dan 45 siswa lolos masuk PTAIN. Betapa bahagianya mengumumkan berita ini kepada mereka, disambut dengan tepuk tangan dan ucap syukur tiada terkira. Tidak terkecuali Rima, yang kini senyumnya sering menghiasi wajah dan bertambah sumringah ketika namanya diumumkan sebagai peserta yang lolos pendaftaran SNMPTN dan PTAIN, ya Rima lolos di dua jalur, ia tinggal memilih mana jurusan yang paling sesuai dengan bakat dan minatnya dan memungkinkan untuk menerima beasiswa.

Demikanlah, kisah Rima dan kawan-kawan yang memulai memperkokoh fondasi tangga-tangga kecil menuju cita-cita, menuju bintang harapan yang dipilihnya sendiri. Semoga mereka berhasil memetik bintang terbaik dalam hidup mereka kelak!

 

****