SUDAHKAH KITA IKHLAS?

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Renungan
dipublikasikan 19 Juli 2016
SUDAHKAH KITA IKHLAS?

SUDAHKAH KITA IKHLAS?

Pernahkah Anda memiliki sebuah cita-cita kemudian Anda berusaha mewujudkannya, namun ketika hal yang diimpikan itu sudah di hadapan mata, Anda harus melepaskannya? Bagaimana perasaan Anda saat itu? Seseorang sebutlah Rahmi menghadapi hal tersebut ketika ia harus melepas apa yang ia cita-citakan selama hidupnya. Yakni memperoleh kesempatan meneruskan di sebuah Perguruan Tinggi Negeri ketika ia lulus dari seleksi raport SNMPTN. Ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ibundanya sakit keras dan sebagai orangtua tunggal beliau tidak sanggup mencari nafkah untuk menopang keluarga, dan mata pencaharian sebagai penjahit terpaksa ditinggalkan. Rahmi mengerti kondisi keluarganya; adik-adik dan ibunya membutuhkannya untuk menggantikan peran sebagai tulang punggung keluarga. Maka cita-cita untuk melanjutkan kuliah dikubur pelan-pelan.

Langkah selanjutnya ia tempuh dengan mengabdikan dirinya pada keluarga dan meneruskan usaha menjahit yang selama ini dipegang ibunya. Tidak ada raut wajah mengeluh di wajahnya, lelah ketika bekerja senantiasa tergantikan dengan wajah sumringah adik-adiknya dan senyum sedih ibundanya yang terbaring lemah. "Maafkan ibu karena sakit parah dan menjadi bebanmu, nduk..." begitu lirih ibunya menyapanya saat malam hari Rahmi sibuk dengan mesin jahitnya, membuat dirinya tersentak dan merasa sangat bersalah jikalau suara mesin jahit itulah yang membangunkan ibunya.

"Kenapa ibu bicara seperti itu? Rahmi InshaaAllah ikhlas ibu...asalkan ibu sehat, adik-adik bisa makan dan sekolah, doakan saja Rahmi agar selalu bisa mencari rizki yang halal"

Rahmi bertutur bahwa hatinya telah ikhlas, semoga lisannya memang benar sehingga keikhlasannya menjadi nilai khusus di mata Allah SWT.  Maka kemudian, bertahun-tahun berikutnya Rahmi terus mengabdikan diri dan berkorban demi ibu dan adik-adiknya, ia asyik menjahit dan menjahit bahkan asa akan masa depan masih terus dirajutnya di antara jalinan benang yang dijahitnya. Meski kadang terasa berat, ia tetapkan hati dalam panduan istikharah. Ia berharap jika hal tersebut dianggap sebagai sebuah pengorbanan, segala apa pun bentuk “pengorbanan” yang dilakukan seseorang, akan terasa ringan jika semuanya dibingkai dengan keikhlasan. Tentu saja, karena Allah sang penggenggam hati sangat senang pada hamba-hamba yang melakukan sesuatu dengan ikhlas, hanya mengharap keridhaanNya. Dengan demikian Allah akan memberikan rasa lapang di hati, hal yang menjadikan segala sesuatu tak terasa berat dikerjakan.

Pada surat  Ath-tholaq, Allah berfirman :

“...barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya) ..... dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” ( Ath-tholaq : 2-4)

Dari petikan surat tersebut tersampaikanlah bahwa Allah akan memeberikan jalan keluar, rizki, serta kecukupan dari arah yang tidak disangka-sangka oleh manusia. Allah mengisyaratkan semua kemudahan tersebut asalkan si manusia bertakwa, sedangkan modal takwa yang utama adalah ikhlas menjalani setiap cobaan dalam hidup atau pun dalam berkorban.

Ikhlas, kata yang sangat mudah diucapkan, namun sangat menguji diri kita ketika mengamalkannya. Tetapi kita memang harus selalu berusaha menghiasi hari dan membingkai amal-amal kita termasuk yang kita sebut sebagai pengorbanan hanya dengan satu kata, ikhlas.

Sudahkah kita ikhlas dalam  melakukan kebaikan dan dalam berkorban?