AKU DAN EGO

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juli 2016
AKU DAN EGO

AKU DAN EGO

Karya: Shanti Agustiani

 

Aku sudah muak dengan tingkah lakunya, ia selalu saja mementingkan dirinya sendiri. Suatu malam nanti akan kubunuh dia, pelan tapi pasti!
Di saat kami masih berjalan beriringan seperti ini selalu saja ada hal kontradiksi dalam hidup kami. Pernah suatu kali aku bertemu dengan seorang pengemis tua, ingin aku memberi pengemis itu sisa uang belanja di kantungku, namun Ego menahannya, ia berkata kepadaku, ”Jangan… kebiasaan memberi pengemis uang itu tidak baik, hanya memelihara sifat malasnya!” Ego berteriak terlalu keras sehingga telingaku pekak karenanya. Jadi aku diam saja dan berlalu di hadapan pengemis tua renta yang menengadahkan tangannya kepadaku, daripada ribut!
Bahkan sebelumnya, sewaktu kami di pasar dan membeli sesuatu, kami tahu bahwa uang kembalian kami lebih seribu, tetapi Ego menahanku untuk tidak memberitahukan hal itu kepada sang penjual makanan, “Ssst,… biar saja, toh kita tadi tidak menawar barang dagangannya, harusnya kita bisa dapat harga lebih murah dari itu, anggap saja ini memang hak kita…” Begitu bisikan Ego di telingaku yang sesungguhnya membuatku merasa muak dan jijik dengan sikap pelitnya ini.
Sesungguhnya sudah  sekian lama aku ingin berpisah dengannya, namun apa daya, kami ini kembar siam. Siang malam kami lewati bersama, makan, tidur, dan mandi pun kami lakukan bersama. Seharusnya kami akur kan? Tapi nyatanya tidak, kami selalu bertentangan hampir setiap saat. Namun selalu saja Ego yang memenangkan pertentangan kami, sebab teriakannya selalu lebih nyaring dari suaraku sendiri.
Kami ini si kembar siam, sulung dalam keluarga yang semestinya sudah bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri, tidak meminta-meminta lagi dan menyusahkan orangtua, tetapi lamaran kami selalu ditolak gara-gara perilaku si Ego yang membuyarkan presentasi terbaikku. Ego selalu membubuhkan kata-kata penuh kesombongan yang membanggakan dirinya secara berlebihan. Di suatu perkenalan dia berkata, ”Kami ini sebenarnya keluarga kaya-raya, harta kami tak habis dimakan tujuh turunan, tetapi jika kami tidak bekerja, orang lain nanti menyangka kami main santet untuk mendapat kekayaan, jadi ndak apa-apalah jika kami melamar di perusahaan ini.”
Bayangkan betapa bombastisnya dia…. Saat itu ingin rasanya aku menampar wajahnya dan mencekiknya kuat-kuat. Tapi lagi-lagi kutahan tangan dan emosiku, gemeretak rasanya gigiku menahan geram atas kelakuannya yang sangat memalukan. Tentu saja orang-orang yang mewawancarai kami menolak mentah-mentah semua CV kami.
Pulang dari wira-wiri mencari pekerjaan itu membuat hatiku semakin menangis, dan sangat menyesal kenapa hidupku harus berdampingan dengan Ego yang sangat sombong dan egois seperti ini. Orangtua kami mengerti hal itu. Kemudian ayah yang sudah sepuh dan sakit komplikasi berinisiatif memberikan surat wasiat karena beliau memperkirakan usianya tidak akan lama lagi, surat wasiat itu tentang pembagian harta gono-gini bagi kami anak-anaknya. Kami si kembar siam ini mendapatkan bagian berupa tanah 1 hektar dengan perkebunan kelapa sawit di atasnya yang bisa kami kelola bersama, sedangkan adik kami yang masih SD, Dwi Lanang memperoleh bagian 1 hektar tanah tanpa kebun, namun dengan rumah keluarga 3 tingkat di atas tanah tersebut. Sebenarnya itu sudah adil, tetapi entah kenapa si Ego lagi-lagi bikin ulah, ia marah-marah kepada ayah, ujarnya, “Ayah ini bagaimana, rumah ini kalau dijual laku 4 Milyar, tapi kebun sawit itu harus dikelola dulu baru menghasilkan duit, seharusnya kami juga dapat jatah atas tanah rumah ini!”
“Nak…si Dwi Lanang kan masih SD… dia belum bisa bekerja seperti kalian. Jadi kalianlah yang seharusnya mengelola kebun sawit itu… Daripada kalian keliling cari kerja di perusahaan lain dan  pingin jadi orang kantoran, tapi toh tidak ada yang menerima!” Sahut ayah sembari terbatuk-batuk, sebenarnya aku tidak tega melihat ayah seperti itu. Beliau sudah mengusahakan keadilan bagi anak-anaknya namun tetap saja yang bernama Ego serakah itu menyangsikan niat baiknya.
Ego tetap tidak terima dengan keputusan ayah yang tidak berubah. Setiap hari ia mendesak ayah untuk mengubah surat wasiatnya, namun ayah yang lemah berbaring juga tiada bergeming, matanya berkaca-kaca melihat kelakuan Ego yang tak pernah puas dengan materi.
Kali ini kesabaranku sudah habis  menghadapi Ego yang  semakin ngelunjak , tak lama lagi ayah akan mati dalam kesengsaraan jika dia terus menerus merongsong seperti ini. Maka malam ini juga bulat sudah tekadku merencanakan pembunuhan kepada Ego, tak kuperkenankan ia membaca pikiranku meskipun bersisian dengan kepalanya. Aku siapkan belati, kutunggu sampai dia ngorok dan akan kugorok dia dengan kejam! Sekejam dia memperlakukan kedaulatanku selama ini.  Nah, jika esok kalian lihat aku ikut mati bersamanya, tolong kabarkan pada dunia, bahwa Ego yang serakah sudah tiada….

 

***

 

 

 

 

 

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Yang kuat dari tulisan ini adalah si penulis total dalam menyuarakan kebencian dan kemuakan tokoh utama terhadap saudaranya sendiri, Ego. Agar emosi yang ia rasakan bisa tak tanggung-tanggung membuncah dan menjangkau siapa pun yang membacanya, Shanti menerapkan teknik yang langsung ke pokok masalah, tanpa metafora. Walhasil, segala perasaan bisa ikut dicicipi oleh pembaca secara maksimal. Poin umum sekaligus menarik dari cerpen ini adalah membuka mata kita bahwa tidak semua saudara sama baik, memiliki visi dan misi hidup yang sama walau pun lahir dari rahim yang sama. Kembar siam sekali pun. Bahwa pada akhirnya si tokoh utama memilih akan menghabisi saudara kembarnya sendiri merupakan hal yang membuka tafsir penerimaan berbeda-beda bagi tiap orang. Setuju atau tidak itu adalah hal yang lumrah, yang paling penting adalah mengambil pelajaran dari kisah yang diangkat di sini.

    • Lihat 1 Respon

  • Dinil Qaiyimah
    Dinil Qaiyimah
    1 tahun yang lalu.
    Cerpennya tepat sasaran mba, serasa masuk ke dalam cerita dan menjadi tokoh utama...

  • Trias Abdullah
    Trias Abdullah
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan ini jadi semacam alat jewer yang perih tapi menyembuhkan untuk saya pribadi, dan mungkin juga kita semua. Keren *jempol*

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Syukur Alhamdulillah, senang sekali bisa belajar dengan teman-teman yang inspiratif di sini

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Terima kasih untuk apresiasi dan masukannya atas mini cerpen ini....