SURAT KEPADA RUMAH CINTA

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Renungan
dipublikasikan 18 Juli 2016
SURAT KEPADA RUMAH CINTA

SURAT KEPADA RUMAH CINTA

MAAFKAN AKU KARENA MEMBANGKANG

Tak terasa sudah belasan tahun pernikahan kita! Di bawah janji suci, disuratkan takdir Illahi. Dalam perjalanannya telah banyak suka dan duka yang telah kita lalui. Suka yang teramat sangat adalah hadirnya dua orang anak yang sangat berbakat menemani hidup kita. Si sulung lahir pada malam hari jam sembilan malam, si bungsu lebih larut lagi jam sebelas malam. Betapa bahagianya saat pertama kali melihat buah hati kita yang sehat, imut, dan menggemaskan. Tak terasa lagi sakit dan perihnya proses persalinan yang cukup panjang. Kini mereka menjelma menjadi gadis cantik remaja tanggung, yang masih kelihatan canggung dengan sikap hidup pergaulan., namun penuh dengan kreasi. Si bungsu pun sudah semakin tampan dan akan beranjak remaja sebentar lagi meski masih asyik bermain fantasi dengan aksi super hero-nya menandakan imajinasinya sangat tinggi.

Duka yang teramat sangat adalah ketika kita melalui banyak perpisahan karena engkau harus bertugas di kota yang berbeda. Cinta kita yang kurang signal menyebabkan komunikasi di antara kita putus-nyambung, mengantarkan kita untuk saling curiga, saling meng-klaim kebenaran. Pertengkaran demi pertengkaran tak mampu dihindari, tiada pemecahan, jalan yang kau ambil hanya diam dan pada akhirnya mengusulkan perpisahan yang tadinya juga mau kusetujui!

Tetapi nyatanya kita duduk berhenti di persimpangan jalan ini dan terus bertanya ke dalam diri apakah kita masih akan meneruskan perjalanan ini bersama? Aku yang terkadang terjebak rasa putus asa, kadangkala melimpahkan kekesalan demi kekesalan kepada dua buah hati kita, mereka terkena sasaran omelanku yang tengah beranggapan bahwa hidup begitu melelahkan meskipun akhirnya aku juga yang berurai air mata menyesal bersama tangis mereka. Namun di persimpangan ini pula aku mulai menghela nafas dan merasakan nikmatnya udara yang aku hirup, sekedar lantunan doa, sekedar makanan dan minuman yang tiada berkurangan. Seringkali dalam hening kita menemukan sudut pandang yang berbeda dan itulah yang aku alami, sekian lama diam aku sampailah aku pada satu keputusan, bahwa aku harus membangkang!

Ya…. Kini aku memilih membangkang dari keinginanmu untuk berpisah dan jalan sendiri-sendiri! Itu karena aku mengingat di saat awal pernikahan, ucapanmu sangat jelas dan terang, “Seandainya nanti kita bertengkar, hadapilah dengan santai dan tak pelu diambil hati. Semua persoalan itu tak ada yang berat selama kita ikhlas menjalani, jangan sampai ada perceraian!” Pada saat itu wajahmu terang seperti bermandikan cahaya, sorot matamu penuh cinta. Sedangkan pada saat kau menginginkan perpisahan wajahmu tertunduk, matamu nanar mengalihkan pandangan.

Maka aku meyakini kebenaran cahaya daripada gelapnya persembunyian. Aku meyakini persimpangan ini bukanlah titik perpisahan, melainkan titik introspeksi agar semakin matang. Akan kukumpulkan apa pun di persimpangan jalan ini untuk bekal perjalanan kita nanti, akan kupetik bunga-bunga kesabaran, kurangkai sebagai tangga ke surga bersama kita, rumah terakhir kita nanti!

 

RUMAH CINTA

Hidup memang fana

Namun cinta berkekalan

Yang menyatukan jiwa dengan jiwa

Tanpa penyekat fisik

Juga sakit yang kadang mendera

 

Cinta-lah rumah jiwa

Kepadanya kita datang

Kepadanya kita selalu pulang

Kepadanya kita beristirahat

Dari perjalanan hidup

Yang penuh liku dan curam

 

Rumah yang akan selalu kita perbaiki bersama

Rumah di mana kita menetap

Dan akan tinggal selamanya....

 

With Everlasting Love

  • view 166