ISI TAS NURHANA

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juli 2016
ISI TAS NURHANA

Isi Tas Nurhana

Oleh: Shanti Agustiani


Seperti biasa pagi ini hiruk-pikuk di sekolah menjelang pengumuman remedial ulangan semester memenuhi udara sekolah kami. Ketika pengumuman tersebut ditempelkan di mading, keriuhan bertambah karena banyak sekali di antara kami yang mendapatkan nilai rendah. Aku senyum-senyum sendiri melihat berbagai ekspresi teman-teman, sungguh suatu hal yang menggelikan apabila mereka berharap nilai tinggi tetapi tidak pernah mencicil belajar minimal satu jam sehari.  Sedangkan aku cukup berpuas hati dengan nilai yang cukup meski bukan yang tertinggi, nilai tertinggi diraih oleh seorang gadis sederhana, Nurhana namanya, hampir semua pelajaran ia mendapatkan angka sempurna. Wow keren!

Sebagai teman aku sangat mengaguminya, kerja kerasnya dan juga kesederhanaannya. Rumahnya ada berkilo-kilometer dari sekolah, dan setiap hari ia menempuhnya dengan bersepeda. Tak pernah mengeluh dan juga tidak terlalu banyak bicara. Aku ingin sekali dekat dengannya dan mempelajari cara hidupnya, tetapi dia sangat pendiam, tak terjangkau. Sedangkan teman-temanku yang lain banyak yang jengkel padanya. Sebab dia terkenal pelit ketika ulangan, tidak pernah mau membagi hasil jawabannya kepada teman yang berbisik-bisik padanya. Itulah sebabnya mereka membenci gadis teguh hati bernama Nurhana itu.

NURHANA, aku sama sekali tidak membencinya, justru aku kagum padanya. Anak ini selalu berangkat ke sekolah setiap hari dengan disiplin tanpa pernah mengenal lelah. Sebenarnya ia juga juga bukanlah seorang siswa yang terlalu menonjol dalam kelas. Tapi ia selalu berusaha keras mengerahkan kemampuannya untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Gadis kecil ini benar-benar berjuang hingga batas puncak kemampuannya dan ternyata dia berhasil!

Sebaliknya aku sedih dengan kebiasaaan teman-teman yang mengandalkan contekan demi nilai tinggi, sama saja hal itu dengan menghalalkan kebohongan, kepalsuan dan memupuk sikap korupsi. Mungkin itu sebabnya negeri ini tak pernah bisa bebas dari yang namanya korupsi, sebab generasi muda tunas bangsa ini sudah terbiasa dan menganggap lumrah sikap membanggakan hasil tanpa proses yang benar, budaya mencontek, budaya instan, budaya sogok sana-sini mengakar kuat dari generasi ke generasi, akankah ada akhirnya? Mungkin ada saatnya yaitu ketika kiamat menjemput kita semua. Fuhhh… kuharap tidak seburuk itu manusia ciptaan Allah di muka bumi ini.

Senin pagi itu seperti biasanya kami apel upacara bendera, yang lain dari biasanya adalah pengumuman setelah upacara kami tidak diperkenankan masuk kelas. Ada tim ketertiban masuk ke setiap kelas dan memeriksa tas kami.

“Anak-anak hari ini kalian tidak diperkenankan masuk kelas dulu, karena tim ketertiban sekolah akan memerisa tas kalian, merazia HP, komik, atau benda-benda lain yang tidak diperkenankan dibawa ke sekolah” demikan Ibu Kepala Sekolah kami menjelaskan.

Rupanya razia mendadak ini berdasarkan laporan dari siswa yang melihat temannya sedang menonton video yang tak pantas kami tonton, adapula tukang bersih-bersih sekolah yang melihat kejanggalan pada salah satu siswa yang selalu membawa tas penuh dengan barang bawaan. Hmm ... benar-benar mencurigakan!

Benar saja beberapa barang disita, dan tasnya ditinggal, hanya satu tas yang dibawa ke kantor guru. Dan tas situ berisi penuh barang bawaan. “tas siapa sih itu?” kami berbisik-bisik satu sama lain sembari memperhatikan tas yang dibawa oleh tim ketertiban sekolah.  Tas berwarna biru itu memang kelihatan penuh, koyak sedikit pada bagian resletingnya. Aku mengenali tas itu, “Astagfirullah…. Itu kan tas Hana!” seruku keceplosan. Teman-teman lain memperhatikan ucapanku dan mulailah kicauan gossip tentang Hana.

“Memang anak miskin hobinya nggak jauh-jauh dari mencuri!” seru Alissya

“Heh tahu apa kau tentang Hana!” seruku. “Belum tentu juga dia mencuri.  Memangnya kamu tahu tas itu berisi apa?”

“Nggak tahu sih, tapi apa lagi coba kalau bukan barang curian. Pikir aja lu dia berangkat tasnya tipis, tiba-tiba menggelembung kayak gitu … ya pastilah barang curian, apa lagi?!” sahut Alysia sekenanya. Dia memang paling sirk sama Hana. Sebab musababnya tak lain karena berkal-kali Alysia tidak diberi contekan oleh Hana ketika dia minta, pas saat itu ketahuan minta contekan, si Alysia dapat hukuman membersihkan wc dari guru pengawas. Aku diam saja, malas menimpali ucapan fitnahnya, “ Kita lihat saja nanti” ucapku mengakhiri pembicaraan sambil pergi meninggalkannya. Kuliahat dia langsung update gosip terbaru dengan segerombolan teman.

Nurhana dipanggil ke kantor, aku mengintip dari balik jendela, prihatin dengan nasibnya. Kulihat guru-guru tidak memarahinya, bahkan beberapa guru perempuan memeluknya dengan kasih sayang serta berlinangan air mata. Ada apa ‘sih? Pikirku dengan perasaan was-was. Akhirnya ketika Kepala Sekolah keluar ruangan menuju lapangan upacara lantas berbicara kepada kami semua. “Anak-anakku sekalian.  Kadang-kadang kita perlu belajar dari hal-hal kecil. Hari ini ibu kaget, sekaligus bangga pada salah satu murid ibu yang selama ini juga menunjukkan prestasi akademik yang membanggakan.”

Kami berbisik-bisik satu sama lain dan sangat penasaran pada kata-kata Ibu Kepala Sekolah barusan. Pasti membicarakan Hana, pikirku, aku menyimak kata-kata ibu Kepsek sampai pada kalimat yang jelas bagi kami semua bahwa fitnah Alysia memang omong kosong, “ Nurhana ternyata selama ini mengumpulkan sampah-sampah plastik dan remah-remah roti untuk dijadikan bahan daur ulang.”

Ahh … lega rasanya mendengarkan penjelasan dan Kepala Sekolah. Teman-teman lain manggut-manggut dan gugurlah semua fitnah mereka. Alhamdulillah… Sepulang sekolah aku mengikuti sepeda Hana, dia pulang dengan terburu-buru “ Hana….tunggu!” seruku sembri berlari kecil.

“Laila, ada apa?” sahutnya.

“Kenapa kok buru-buru?” tanyaku

“Aku harus memberi makan burung-burung merpati”

Hm … rupanya dengan remah-remah roti itu dia memberi makan burung merpati.

“Aku mau ikut!” aku menimpali dan akhirnya gadis manis itu memperbolehkanku membonceng sepedanya. Kami berhenti di halaman rumah Hana yang cukup luas penuh dengan merpati yang menyambutnya dengan cuitan selamat datang. Kami segera memberi makan merpati-merpati itu dengan riang. Aku melihat Hana menyimpan roti yang masih bagus.

“Untuk siapa roti itu?”

“He  he he … untuk adik-adikku” katanya malu-malu. “Laila, kami keluarga miskin tetapi adikku banyak, ada empat orang yang selalu meminta oleh-oleh sepulang aku sekolah” ujarnya lagi dengan wajah merah padam. “dan hanya ini oleh-oleh yang bisa aku berikan, ucapannya terakhir terdengar sangat lirih.

Tak terasa aku menitikkan air mata, tak lama kudengar riuh rendah suara anak-anak kecil menyambut Nurhana, mereka dengan gembira menerima oleh-oleh Nurhana sambil tertawa dan berterima kasih. Sungguh anak-anak yang polos dan suci. Dan Nurhana berhasil memberi teladan akhlak bagi adik-adiknya.  Orangtua mereka belum pulang dari ladang.

Ternyata roti hasil memunggut sisa-sia yang dipungutnya di sekolah itu juga dimakan oleh adik-adiknya. “Maaf Laila, aku bukannya sombong selama ini kamu berusaha mendekatiku, tetapi inilah keadaan kami, sesungguhya aku malu”

“Kau tidak perlu malu Hana, mulai kini kita bersahabat ya, aku memeluknya erat, kami sama-sama menitikkan air mata. Begitu berat perjuangan hidup bagi orang seperti Nurhana, tetapi ia menjaga nilai hidup dengan apik. Dan tak pernah menyerah dengan kerasnya hidup yang ia hadapi.

Suatu saat ketika aku ada rezeki , aku bawakan makanan untuk keluarga  Nurhana. Kami juga membuat aneka kerajinan tangan dari plastik–plastik bekas yang dikumpulkan Nurhana. Kami membuat tas, dompet, bunga plastic lalu bersama-sama kami menjualnya di pasar. Dan uang hasil kerja kami digunakan untuk tabungan masa depan, terutama untuk adik-adik Hana, agar mereka tak perlu makan roti bekas digigit orang lain.

Satu hal lagi yang harus kita ingat adalah jangan mudah berprasangka buruk pada orang lain, apalagi menyebar fitnah. Sesungguhnya berbaik sangka itu lebih baik, membuat hidup tenang dan kawan pun ikut senang.

****

  • view 212