AKU DAN CAHAYA

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juli 2016
AKU DAN CAHAYA

AKU DAN CAHAYA

Sebulan sudah aku tinggal di sini tanpa ayah dan bunda, dan aku tanpa siapa-siapa di pondok, hanya bersama keluarga baru, mereka yang aku kenal di pondok pesantren ini sudahku anggap seperti keluargaku sendiri. Beberapa hari lagi umat Islam merayakan tahun baru Islam. Aku memohon untuk tegar dan sejenak melupakan keluarga juga kampung halaman. Kucoba untuk memenuhi pikiranku dengan tugas-tugas dan diktat karena sebentar lagi kami ujian tengah semester.

Seperti anak baru lainnya, mula-mula aku tak betah tinggal di pondok ini. Saat itu pertama kali tiba di pondok ini, kami santri baru dikumpulkan di musholla menyimak tausiah dari Pak Ustadz, "Tahun Baru Hijriyah adalah tahun yang ditentukan Allah sebagai tahun yang dipakai dalam penentuan waktu dalam menjalankan syariat Islam. Dulu Nabi Muhammad SAW dan sahabat hijrah atau pindah dari Mekah ke Madinah pada awal Tahun Hijriyah, yang membawa perubahan besar terhadap peradaban umat manusia, dari kehidupan yang tidak memiliki peradaban ke arah kehidupan yang penuh rahmat ampunan dan kasih”.

 ”Terus, bagaimana cara kita umat Islam memaknai tahun baru Islam ini pak?", tanya seorang santri.

"Setiap tahun kita selalu diingatkan akan peristiwa besar ini, dan setiap tahun juga semangat Hijriyah diharapkan mampu menjadi semangat baru bagi umat Islam dalam memulai sejarah hidupnya pada detik ini dan pada masa selanjutnya. Makna Hijriyah harus meresap pada diri kita masing-masing yang kemudian diolah menjadi sikap luhur dalam menata diri yang lebih baik. Berbuat yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya, dan diawali dari diri sendiri itu kunci utamanya nak...", ujar Pak Ustadz, yang diikuti anggukan-anggukan halus para santri. Demikian pula aku yang baru menyadari makna hakiki Tahun Baru Hijriah. Ceramah singkat itu terasa membosankan meskipun kata-kata Pak Ustadz juga aku serap dengan baik.

 “Bagaimana Nining kabarmu? Kok tadi aku melihat genangan air mata?” celetuk Aini salah seorang santri di sini.  Ia melihat mataku berkaca-kaca karena emak dan abah yang menngantarku ke pondok ini sudah pulang sejak tadi pagi.

“Tidak apa-apa Aini… tadi kita sudah diingatkan agar membawa semangat baru akan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW”, teringat kembali aku tentang makna Tahun Baru Hijriah yang dijelaskan oleh Pak Ustadz tadi.

 “Aku yakin …. Nining hanya perlu menyesuaikan diri. Pasti Nining bisa mengganti sedih berpisah dengan orangtua dengan semangat baru yakni kemandirian!”. Aku pun tersenyum pada Aini mungkin dialah calon sahabat sejatiku.

“Bisakah Aini…? Hmmmm...mungkin aku harus belajar banyak darimu”

 “Oya pastinya…, Ayuk Ning, aku punya program apotik hijau nih di halaman pondok kita. Mau kan bantu aku?” sahut Aini.

Maka kami pun mulai hunting aneka tanaman-tanaman rempah yang bisa dijadikan obat tradisonal.  Kami minta bibit dari para tetangga, teman, temannya teman, keluarganya teman, semuanya! Begitulah awal perkenalanku dengan Aini sahabatku beberapa bulan yang lalu. Kini sahabat itu telah pergi di saat aku mulai betah di pondok pesantren ini.

Ya, kesedihan baru kembali muncul karena Aini sakit dan tak lama setelah dirawat di rumah sakit Aini pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya.  Ternyata ia seorang pengidap kanker ganas, dan selama ini ia menyembunyikan sakit dan deritanya kepada kami, tak pernah sedikit pun ia terlihat mengeluhkan penyakitnya. Aini meninggal dunia gara-gara kanker otak yang tak kunjung sembuh meskipun sudah beberapa kali dilakukan therapy baik oleh rumah sakit mau pun therapis herbal yang menjanjikan kesembuhan. Mungkin akibat makanan jajanan yang tidak sehat, bakso mengandung boraks, sosis dengan pewarna tekstil, bahkan asal muasal dagingnya pun tak jelas! Menjijikan, itulah biang kerok yang membuat Aini sahabatku baru meninggal dunia karena kanker otak! Semua makanan instant itu membuatku muak hingga saat ini! Dokter mendiagnosis sel-sel kanker yang ada Aini berkembang begitu cepat. Daya tahan tubuhnya juga lemah. Ditambah lagi Aini tidak suka makan sayur-sayuran dan buah-buahan.

Ironis memang di satu sisi ia menggerakkan apotek hidup di pondok kami,  di sisi lain ia tak suka menkonsumsi sayur-sayuran dan buah tapi itulah kenyataannya. Tenyata kesadaran Aini akan makanan sehat sudah terlambat, karena kanker stadium empat sudah menggerogotinya. Aku bersedih kehilangan sahabat sebaik Aini.

“Eh neng.. sudah jangan berlarut-latut sedihnya,” kata Yani mendekatiku “Kan masih ada si cantik Yani yang siap menjadi sohib kamu.…asalkan Aini bisa diajak kompak…!” ujar Yani tersenyum mencoba menghibur dengan lawakannya yang tak lucu. Keningku berkerut mendengar ujung kalimatnya yang mensyaratkan ‘kompak’, “Hmmmm kompak dalam hal apa? Dalam hal bolos mata pelajaran hafalan Qur’an seperti yang sering Yani cs lakukan?”

 “Kamu atau siapa pun tidak akan bisa menggantikan Aini, Yani!”, emosiku semakin meluap, “Aku sangat menyayangi Aini, wajar kalau aku sedih atas kepergiannya!”

“Tapi kamu tu sudah keterlaluan, Ning…. Kamu menjadi sangat berbeda. Akhir –akhir ini kamu begitu emosian, suka menyendiri, pembangkang, dan sangat tertutup. Kamu bukan Nining yang aku kenal!”, tukas Yani.

“Terserah!”, aku benar-benar sebal dengan kata-kata Yani yang sok tahu. Ishh! Memangnya dia tahu apa tentang hidupku? Menyebalkan! Luka hatiku saja belum sembuh benar atas kehilangan Aini. Dia adalah sahabat terbaikku, selalu bersamaku, kami berbagi suka dan duka. Yani itu tidak tahu apa-apa. Seharusnya dia tak perlu ikut campur urusanku!  Aku sangat bosan dinasihati mereka, dan memutuskan untuk cepat-cepat pulang ketika libur Ramadhan tiba. Aku sudah memesan tiket bus kota, meskipun akhirnya hanya dapat tiket kelas ekonomi, aku tetap bertekad pulang sekarang juga! Aroma khas dari keringat para pemudik bus kota itu merasuki hidungku membuat hatiku semakin kesal. Para pedagang dan pengamen pun lalu-lalang menambah kebisingan. Ahhh ….izinkan aku pingsan!!!

Setelah sekian jam berdesak-desakan di bus kota. Aku bergegas turun himpitan manusia yang menyesakkan dada itu. Aku mencari tempat yang nyaman di trotoar untuk duduk sejenak, merapikan ikatan sepatuku yang tadi sempat terinjak–injak. Lalu, membenarkan letak tas punggungku. Kebetulan, tepat di pinggiran trotoar itu ada penjual cermin yang cukup besar, tentu saja aku numpang berkaca sebentar sembari berpura-pura menayakan harga cermin itu, Betapa terkejutnya aku menatap wajahku sendiri seperti kepiting goreng, direbus, dicabein, digoreng lagi, lalu hangus! Gosong dan kucel tak keruan, “Oh…pemudik kelas ekonomi, nasibmu memang harus begini!”ujarku kepada diri sendiri.

Setelah puas melihat bentuk wajahku yang tak karuan dan memperbaiki sedikit penampilanku, aku kembali berjalan menuju halte berikutnya. Namun, tiba -tiba saja mataku terfokus pada satu titik di seberang sana. Aku melihat seorang gadis kecil sedang mengais-ngais tong sampah yang ada di dekatnya, di sebelah restaurant cepat saji. Lalu gadis itu berjalan ke gerbong kereta tua yang sudah tidak terpakai lagi. Langsung saja sirene tanda bahaya di otakku mulai berbunyi,”tulalit…tulalit… makanan rusak… makanan racun!” Tadinya aku hendak berlalu begitu saja, namun getaran aneh di hati ini mencegahku. Getaran yang membuat hatiku tergerak untuk berinisiatif memberikan bekalku yang belum sempat kumakan.

“Apa susahnya? Toh, hanya memberinya dua potong roti,” gumamku dalam hati. Aku menyeberangi jalan dan menghampiri gadis kecil itu. Aku pun mendekatinya dengan tampang jijik. Tapi sejurus kemudian sirna saat melihat wajah mungil itu. Ada guratan-guratan ketegaran terpancar dari wajahnya, ada cahaya yang bersinar ketika aku menatap mata teduhnya.  

“Emmm.. Ada yang bisa Cahaya bantu, Kak?” tanya gadis itu setelah sekian lama menatapku yang menghampiri dirinya. Sambil membalikkan badannya ke arahku, ia pun tersenyum manis.

Aku tak banyak berkata, dan langsung memberikan roti isi lapis keju dan selada itu kepadanya, yang tak lupa kubalut tissue agar cukup higienis. Gadis cilik itu menerima roti pemberianku dengan sangat girang. Rasanya ada kepuasan batin tersendiri di hatiku.

“Jangan kau makan yang dari tong sampah itu ya Dek, bahaya, bisa sakit kamu!” ujarku sembari memperhatikannya makan roti yang kuberikan. Ia hanya menangguk dan meneruskan makan dengan lahap layaknya benar-benar kelaparan, mungkin sudah berhari-hari tak makan.

 “Terima kasih, ya, kak. Kakak baik sekali. Pasti Allah sayang sama kakak.” Kata gadis itu setelah rotinya habis ludes.

“Emmm,” aku menggigit bibir sembari berpikir agak keras. “Allah? Sayang denganku? Benarkah? Cobaan untukku kok tak berkesudahan ya?”

“Cahaya sendirian?” tanyaku mulai berbasa-basi padanya.

“Iya. Kakak tidak lihat? Tidak ada orang lain bersama Cahaya selain kakak disini.”

“Bukan.” Hmmm … pintar juga anak ini. “Maksud kakak, di mana orang tua Cahaya?  Kok Cahaya sampai mencari makan di tong sampah itu?”

Gadis bernama Cahaya itu pun menunduk, tampak jelas ekspresi sedih di wajahnya. Ia kemudian menggeleng. Ia mengatakan dengan lirih, “Allah sayang Cahaya karenanya Allah mengajari Cahaya untuk mandiri. Kedua orangtua Cahaya telah meninggal dunia. Kini Cahaya sendirian, jika tidak ada uang hasil mengamen… Cahaya mencari makanan di tong sampah sebelah restaurant, siapa tahu masih ada makanan sehat yang tersisa di sana.”

Aku menitikkan air mata mendengar penuturannya. Allah telah mengambil Aini dari sisiku sebagai pelajaran untuk lebih menghargai mereka yang masih bersama kita selagi masih hidup, ketika sudah tiada, maka ungkapan cinta dan kasih sayang hanyalah sampai di batas do’a. Allah telah menyediakan banyak kasih sayang dan perhatian di sekitarku untuk menghiburku, banyak sahabat yang bersimpati tetapi telah aku sia-siakan karena menganggap hanya Aini yang sempurna sebagai sahabat penyemangat, tetapi bahkan dari orang-orang yang kita anggap tidak sempurna pun sesungguhnya kita bisa memperoleh berkah dan saling melengkapi, sebab pemilik kesempurnaan sejati hanyalah Allah, dan cara kita untuk menjadi lebih sempurna adalah dengan saling berbagi dan saling melengkapi. Dan kini Allah mempertemukanku dengan gadis ini, cahaya yang memberi hidayah baru pada orang hina sepertiku ini.

“Astagfirullahalazim….”, aku istigfar menyadari kekeliruan cara pandangku selama ini.  Aku memeluk Cahaya tanpa rasa jijik meskipun tubuhnya kotor dan hitam tapi hatinya seputih salju, cobaan gadis ini lebih berat dari yang kuterima, namun masih saja ia bersyukur dan berprasangka baik pada ketatapan Allah. Aku? Di mana rasa syukurku selama ini? Muncullah rasa kagum dan kasih sayang pada gadis kecil itu, seperti rasa sayangku pada Aini. Tanpa pikir panjang segera Cahaya kuajak ke pondok menemui Ustadz pimpinan pondok pesantren kami dan setelah menceritakan keadaan Cahaya panjang-lebar. Ustadz akhirnya mengijinkan Cahaya tinggal di pondok dengan gratis.  Ternyata, ketika aku menolongnya, tanpa sadar aku pun sesungguhnya telah menolong jiwaku sendiri, semakin banyak yang kita beri, semakin banyak pula yang kita terima. Nikmat apa lagi yang mampu aku dustakan? Aku tak jadi pulang cepat, lebaran masih lama, jadi aku menemani dulu Cahaya agar ia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan peraturan di Pondok.  Allah Maha Pemurah dengan semua hikmah di balik setiap cobaanNya.

  • view 196