PUSARA CINTA

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juli 2016
PUSARA CINTA

PUSARA CINTA

Pagi ini ada upacara pemakaman lagi, setelah beberapa kali terjadi dalam bulan ini, aku merasa sangat aneh. Apakah menjelang puasa sampai ba’da lebaran  merupakan masa terbaik untuk pergi ke peristirahatan terakhir, atau memang kebetulan saja aku alami? Kebetulan yang disebabkan karena rumah kosku berada di belakang area pemakaman umum, bahkan kuburan sudah bukan lagi jadi tempat yang menyeramkan bagiku. Alah bisa karena biasa, yang tadinya pengecut mau tak mau menjadi pemberani melintasi pusara demi pusara menuju kampus tercinta, terlebih karena hanya di kosan inilah yang paling murah-meriah bagi kantong mahasiswa seperti aku.

Aku mengamati dari kejauhan upacara pemakaman itu, sepertinya dari kalangan menengah ke atas, seorang wanita berusia sekitar 40 tahun palling sesunggukan di makam yang masih merah itu. Mungkin suaminya yang dimakamkan di sana. Saat melintasi keramaian itu kudengar mereka berbisik-bisik, “Almarhum Pak Prana…kasihan, rupanya hipetensinya kumat kemarin saat acara halal bi halal”

Yang lain menyahut, “Beliau kepala sekolah yang sangat baik, nyaris bersih dari segala tindakan korup…”

Aha rupanya almarhum adalah seorang kepala sekolah, pantas tadi di antara pengunjung makam ada beberapa yang masih mengenakan baju dinas. Ya sudahlah…bukan seseorang yang signifikan dalam hidupku, karenanya aku cuek saja bergegas menjinjing lapotop dan buku menuju kampus tercinta yang terletak beberapa kilo meter dari area pemakaman ini.

Di kelas aku segera menyapu pandangan ke seluruh penjuru, mengabsen satu per satu mahasiswa yang hadir, biasanya usai libur lebaran ada saja mahasiswa yang membolos dengan alasan tidap dapat tiketlah, masih suasana lebaran lah, atau yang lebih parah lagi karena masih malas dan sakit perut setelah terus menerus menggasak ketupat lebaran dan opor ayam sisa lebaran.  Tapi tidak demikian dengan Anggie, sahabatku itu biasanya rajin dari semester ke semester, tetapi anehnya dia termasuk mahasiswa yang absen kuliah kali ini. Apakah dia sakit?

Di antara mahasiswa putri lain, memang Anggie yang paling tekun dan selalu bertoleransi pada keterlambatan dosen yang mengajar tidak tepat waktu atau berlebihan waktu, sosoknya sabar dan sampai sekarang IPK-nya memang yang tertinggi, walaupuan ia juga bekerja sebagai guru honor di sebuah sekolah tetapi ia belum pernah membolos perkuliahan. Aku penasaran apa yang terjadi pada Anggie, handphone-nya pun tidak aktif. Walaupuan 2 tahun ini aku lumayan dekat dengannya, sampai sekarang aku belum pernah mengunjugi tempat tinggalnya. Kami hanya dekat pada saat di kampus, cufhat-curhat pun di kampus di sela-sela waktu kosong menunggu dosen atau pun di kantin.

Ketika aku bertanya resep sukses belajarnya, Anggie selalu tidak banyak cakap, “biasa aja kok Ris, yah…hanya saja memang ada motivator utama dalam hidupku.”

“Siapa? Ehm…cowok ya…kenalin dong!”

 Anggie hanya senyum-senyum menangggapi aku, walaupun banyak curhat, sebenarnya lebih banyak lagi hal-hal yang ditutup-tutupinya, kata Sigmund Frued, hanya puncak hunung es yang bisa kita lihat dari sosok kepribadian manusia, dan contoh nyata itu adalah gunung es yang disembunyikan Anggie, padahal aku sudah buka-bukaan soal siapa cowokku, tapi dia masih merahasiakannya, “nanti kalau waktunya tiba, pasti kuperkenalkan padamu,” begitu selalu jawabnya.

Aku masih temenung ketika kembali melintasi area pemakaman sepulang kuliah, menengok kembali pusara yang tadi pagi ramai, dan merasa heran ketika aku  masih melihat sesosok wanita dengan kerudung hitam bersulam hijau daun sedang berdoa di makam itu. Dari kejauhan jelas aku bisa membedakan bahwa wanita ini bukanlah wanita yang sesunggukan tadi pagi.  Mengapa dia masih di sana? Sendirian pula? Ah apa peduli ku, barangkali itu kerabat almarhum yang masih belum sempat melayat tadi pagi. Karena hari sudah senja, aku bergegas melintasi pemakaman itu sambil sesekali melompat dari tepi makam satu  ke makam lain, karena bagiku pantangan jika sampai menginjak gundukan tanah makam, mereka memang sudah tiada, tetapi setidaknya rasa hormatku masih ada buat mereka.

Ketika sudah hampir sampai ke tempat kosku dan pada lompatanku yang terakhir kakiku terpeleset, brukk…ambruk lah aku di antara makam, “aduh…maafkan aku wahai penghuni makam!”, aku segera berdiri dan membersihkan baju dan tasku yang kotor, ternyata wanita tadi memperhatikanku dari kejauhan, wanita berkerudung hitam bersulam hijau daun itu menoleh dan mendekatiku beberapa langkah,

“Risma…”

“Anggie…!”

Aku kaget sekali ternyata wanita itu tidak lain adalah Anggie sahabatku. Nampaknya Anggie ragu mendekatiku tetapi karena sudah kepalang tanggung ia akhirnya mendekatiku. Matanya sembab, kelihatan jelas kesedihan yang tak mampu dibendungnya. Aku bergegas menarik tangannya dan menggenggam erat tangannya,

“Anggie….turut berduka cita ya? Saudaramu ya Nggie…pantesan tadi nggak masuk kuliah…”

Anggie masih diam dan ketika kuajak masuk ke kamar kosku dia menurut saja. Setelah itu aku segera membersihkan diri dan mengajak Anggie mengambil air wudhlu untuk sholat maghrib berjama’ah. Usai maghrib kami mencari makan di warung terdekat sambil mengobrol, Anggie mulai bercerita,

“Dia bukan saudara kandungku,  tetapi dia  sudah kuanggap sebagai kakak bagiku Ris…”

“Kudengar beliau seorang kepala sekolah?”

 “Iya benar, kepala sekolah di tempat aku bekerja sebagai guru honor”

“Begitu berartikah beliau bagimu Anggie?

“Banget…”

Anggie terseyum getir…”bahkan aku takut ketika menyadari bahwa aku sangat mencintainya.”

“Hmmm…maksudmu apa Nggie? Cinta yang seperti apa?”

Anggie melanjutkan ceritanya ketika kami sudah tiba kembali di kosan dia memutuskan untuk menginap setelah kubujuk dan akhirnya ia menelepon ibunya dan beralasan ada tugas kelompok sehingga harus menginap di kosku.

“Ingatkah kamu Ris saat kukatakan bahwa suatu saat aku akan mengenalkan lelaki yang kucintai?”

“Ya…apakah dia orangnya Nggie?”

 Anggie mengangguk, “Mungkin memang sekaranglah waktu yang tepat untuk mengatakannya karena jika kukatakan ketika beliau hidup dulu aku takut kau akan marah padaku dengan embel-embel nasehat untuk menjauhi dia karena dia sudah beristri dan beranak, aku pasti kau tuduh sebagai perebut suami orang lain”

“Ah kau ini belum tentulah aku bersikap seperti itu….emangnya aku malaikat yang suci? Sehingga berani menghakimi manusia lain?”

“Ya deh…percaya…Tapi kau tahu kini aku tidak bisa memiliki hatinya lagi, karena Allah telah menjemputnya lebih dulu, aku tidak bisa merebutnya dari siapa pun”

“Astagfirullah Anggie…kamu masih muda…pasti masih banyak pria bujangan yang akan memberi kebahagiaan padamu”

“Risma, mungkin kamu tidak percaya, tapi kami memang tidak ‘pacaran’ seperti yang kamu duga”

“Bagaimana…?”

“Ya ini hanya babak baru bagi hidupku ketika aku menemukan pencerahan demi pencerahan darinya, ketika aku hampir putus asa dan melihatnya membawakan pelita untuk menemukan diri dan kebanggaanku.”

“Betapa pelita itu telah menerangi hatimu…”

“Kau tahu Ris…aku pernah ditinggalkan dua lelaki dalam hidupku, pertama adalah ayahku yang pergi meninggalkan kami dan memiliki keluarga baru, kedua adalah calon suamiku yang pergi membatalkan pernikahan kami oleh sebab yang tidak aku ketahui, semenjak itulah aku kehilangan kepercayaan diri dan takut memulai hubungan baru. Anggie terdiam sejenak sembari memandang ke langit-langit kamar, “tapi sejak aku bertemu Prana…dia yang selalu memuji caraku mengajar, hasil karyaku, pendapatku, dia bahkan mencuri puisi yang kubuat diam-diam dan dengan diam-diam juga dia membaca dan menyimak serta menghargai hasil karyaku…,” mata Anggie berbinar-binar.

Oh Tuhan, gunung es itu rupanya kini mulai meleleh dan menyatakan jati dirnya kepadaku. Aku sama sekali tidak menyalahkannya, dan aku memeluknya untuk mengatakan bahwa dia tidak bersalah karena mencintai lelaki itu, dia melanjutkan ceritanya.

“Prana hadir bukan hanya menyapaku tetapi juga sedikit demi sedikit menemukan kembali serpihan hatiku, dia meyakinkan aku akan betapa berartinya hidupku di dunia ini dan terutama bagi dirinya.

“Apakah dia mengatakan bahwa dia mencintaimu?”

“Tidak…dia selalu meyakinkan bahwa aku adalah adik baginya, karena itulah kukatakan sekali lagi bahwa aku tidak pernah ‘pacaran’. Hati kami menolak tetapi sekaligus hati kami ingin lebur jadi satu, sekarang dia pergi Ris…pergi untuk selamanya, tidak ada lagi pertentangan dalam batinku untuk meneruskan atau memutuskan hubunganku dengannya”

Ingatan Anggie mengembara pada kenangan yang manis, bahwa tahun lalu ketika Anggie berulang tahun yang ke-24, Prana mengungkapkan perhatiannya lewat sms.

“Anggie adikku tersayang, selamat ultah ya…. Semoga hari-harimu semakin banyak senyum dan keyakinan sebagaimana yang kuyakini juga bahwa kamu sungguh menghiasi dunia ini dengan keindahan, kecerdasan dan kebaikan hati tentunya.”

Prana selau baik dan perhatian pada Anggie, tetapi ia selalu menjaga sikapnya agar setiap orang yang melihat juga menganggap kebaikan itu sebagai sesuatu yang wajar, Walaupun pandangan matanya selalu menembus ke hati Anggie, semuanya harus dikembalikan kepada posisi yang seharusnya, yaitu sebagai kakak dan sebagai adik, tidak boleh lebih dari itu, kesepakatan itu, hanya mereka yang tahu. Tidak ada rayuan, tidak ada sentuhan fisik, tetapi batin Anggie dan Prana bagai tak terpisahkan waktu demi waktu. Selama bertahun-tahun kekuatan cinta dan kekuatan komitmen untuk tidak mengeksperesikan cinta terus menerus Anggi dan Prana pertahankan, sampai saat ini, hari ini, di pusara ini.

Esok hari Risma dan Anggie berjalan menyusuri taman pemakaman menuju kampus. Sejenak Anggie berhenti di pusara Prana, dan menebarkan segenggam bunga melati yang sengaja ia petik di pekarangan kosan tadi.  Pelita itu masih ada dalam diri Anggie, tidak akan padam dan tetap memberi tahu bahwa hidupnya harus lebih memberi arti bagi dunia. Cinta tak pernah mati, dari dalam pusara sekalipun. Dan Tuhan pula yang menanamkan kebaikan lelaki itu padanya, orang yang memotivasinya untuk tetap percaya diri dan percaya kebesaran Tuhan, Allah semesta alam.

  • view 236