GLADYS DAN ANGKA 13

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juli 2016
GLADYS DAN ANGKA 13

GLADYS DAN ANGKA 13

Sebuah rumah sederhana, dengan tiga gadis manis di dalamnya serta kedua orangtua yang penuh kasih sayang belum menjamin kebahagiaan bagi penghuninya, demikianlah Gladys di usianya yang ke-13 tahun masa remajanya dipenuhi dengan kegalauan. Ia berfoto di tengah-tengah diapit oleh kakak dan adiknya sembari meniup lilin ulang tahunnya. Teman-temannya mulai berkomentar usil, “ Yaa ampuun Gladys… kenapa juga sih kamu foto di tengah, biasanya kematian akan segera menghampiri orang yang berfoto di tengah, makanya kalau foto jangan bertiga!” celetuk teman sekelasnya Madita yang paling sering meledek dirinya, entah kenapa, sadis!

Berikutnya, di kelas VIII Gladys ternyata  mendapat urutan nomor absen 13, dan Madita kembali komentar pedas ketika nama Gladys dipanggil di urutan ke 13. “Dasar si angka sial!” tukas Madita dengan suara perlahan agar tidak di dengar ibu guru yang sedang mengabsen di depan. Namun suaranya terdengar jelas di hati Gladys, mengiris. Dalam hatinya mulai mempercayai bahwa dirinya memang benar-benar menanggung beban kesialan. Bukti itu semakin terpatri ketika menyadari bahwa kakak Gladys yang bernama Azkia selalu juara kelas, demikain pula adiknya Karina minimal 5 besar diraihnya, tetapi Gladys tidak pernah menunjukkan prestasi yang menonjol, syukur-syukur masih dapat urutan rangking ke-13, lagi-lagi 13!

 Satu kejadian yang paling memalukan ketika beberapa hari lalu ketika Gladys baru sampai di sekolah sesuatu yang tidak diharapkannya kembali terjadi, entah mengapa pada saat sepedanya menuju halaman sekolah yang menurun remnya blong dan tiba-tiba dari arah berlawanan ada mobil menuju keluar, Gladys kaget tidak bisa mengerem, maka sepedanya yang melaju dirobohkannya oleng ke kiri menghindari agar tidak terserempet mobil itu, eh…malah kecemplung kali! Alangkah malunya Gladys saat itu dan lagi-lagi Madita datang bukan untuk memberi pertolongan melainkan bersama tiga anggota gang Famous-ya meledek,”Nah lho, terbukti lagi kan betapa sialnya dia!” ujar Madita sambal melengos, berkacak pinggang dan berlalu begitu saja. Di rumah akhirnya Gladys menyampaikan uneg-unegnya kepada mama ketika sepulang sekolah mama menyapa Gladys, “Ada apa Gladys, kok wajahmu pucat begitu?”

“Mama harus melahirkan lagi, aku minta adik!” ujar Gladys sembari menghempaskan diri ke sofa. Mama terbengong-bengong melihat Gladys berucap keinginan seperti itu, mama bahkan latah memegangi perutnya dan tersenyum sendiri, dan duduk di sebelah Gladys “memang Mama masih bisa punya anak? Kan rahim Mama sudah diangkat karena terdeteksi ada tumor?!” Mama geleng-geleng kepala dan memeluk Gladys…”Ada apa sih anak Mama ini?”

Lalu dengan terisak Gladys menceritakan kejadian-kejadian yang dialaminya sebagai anak tengah yang lahir pada tanggal 13, bahwa ia juga pernah membaca buku ramalan bahwa posisi sebagai anak tengah yang lahir pada tanggal 13 akan terus menerus ditimpa nasib sial selama hidupnya, termasuk tentang sindiran dan label sial dari gang ‘famous’ yang diketuai Madita. Mama manggut-manggut menyimak derita batin anak tengahnya.

 “Dan kenapa Mama melahirkan aku di tanggal 13 September? Seharusnya mama tunda dulu sampai tanggal 14 atau dimajukan tanggal 12? Akibatnya begini nih…hidupku selalu menemui nasib sial di mana pun aku berada!”Gladys cemberut tetapi mama memeluknya dengan erat. Ia menjelaskan sambil tersenyum bahwa kesialan tentang posisi foto di tengah, anak tengah serta angka 13 itu cuma mitos yang diabadikan hingga sekarang. Mitos itu seperti dongeng, ia tidak nyata tetapi banyak dipercaya orang, Jika Gladys ikut-ikutan percaya ngapaian mama sekolahin Gladys tinggi-tinggi….nggak akan ada manfaatnya karena Gladys lebih tanggap hal-hal yang tidak nyata…”

“Tapi Ma….faktanya kegagalan dan kekecewaan selalu ngikutin hidup Gladys, ada lagi waktu pas olahraga kasti, Gladys cuma disuruh jadi anak bawang karena tidak pandai melempar dan menangkap bola. Banyak lagi fakta lainnya yang nggak bisa Gladys ceritakan satu per satu ke mama”, sahut Gladys sambal menitikkan air mata.

Mama menyahuti Gladys dengan sabar dan kasih sayang, “Gladys... Allah itu menciptakan manusia lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Apabila kita fokus pada kelebihan kita, anugerah kita untuk terus dikembangkan dan menambal segala kekurangan kita dengan perbaikan sikap hidup, Inshaa Allah hidup kita berkah dan selamat dunia-akhirat!” Mama dengan sabar terus meyakinkan Gladys, bahwa suatu saat ia akan mampu membangun kesuksesan dan itu akan diiikuti dengan kesuksesan lainnya, semua bergantung pada kepercayaan diri dan keyakinan akan kuasa Allah Yang Maha Kuasa. Tetapi Gladys tetap tidak percaya, gadis manis itu masih yakin bahwa dirinya si anak tengah pembawa nasib sial di antara anggota keluarga yang nampak sempurna ini.

Suatu hari datang team karnaval dan sirkus di kota Gladys, dia bersama teman-temannya gang gadis-gadis terpinggir, tidak cantik dan tidak berprestasi seperti dirinya, akhirnya  bikin acara ‘Girls Out Day’ tersendiri biar tidak kalah gaul sama gang Famous! Papa dan mama Gladys sudah menijinkan rencana tersebut. Karnaval dan sirkus itu akan menampilkan hewan-hewan ajaib yang pandai beratraksi, pertunjukan sulap, akrobat dan tak ketinggalan badut-badut yang lucu yang siap diajak selfie.

Tibalah hari itu, Gladys, Aminah, dan Laila pergi mengunjungi karnaval dan sirkus, mereka terpana karena dekorasi tenda yang sangat megah, penuh warna dan lampu-lampu kecil berwarna-warni dan berkelap-kelip. Pakaian para pemin sirkus juga sangat indah dan penuh warna, mereka bergerak lincah diiringi irama musik yang rancak. Di kala Gladys dan teman-temannya asyik menonton atraksi akrobat yang pemainnya bergelantungan lompat dari tali satu ke tali lainnya, seseorang berjubah hitam membagi-bagikan brosur kepada pengunjung, termasuk Gladys. Ternyata itu brosur penawaran dari paranormal, jargonnya “Ubah masa depanmu sekarang juga, dan nasib baik akan selalu datang padamu!” Gladys penasaran, ia mengikuti lelaki berjubah hitam itu, orang itu nampak menyeramkan dengan topeng Limbad yang ia kenakan. Meski sedikit takut Gladys memberanikan diri minta diramal masa depannya dan lelaki topeng Limbad itu memintanya menjulurkan telapak tangan kanannya.

“Hidupmu akan baik-baik saja dan bahagia” tak terduga tetapi kata-kata paranormal itu terdengar mustahil di telinga Gladys.

‘Tapi Om…saya selalu ditimpa kesialan” sahut Gladys.

“Kan saya belum selesai ngomong!” tukas sang paranormal dengan nada membentak yang membuat Gladys kaget.  Si topeng Limbad melanjutkan kalimatnya, “hidupmu akan baik-baik saja dalam waktu dekat ini asalkan kau segera melakukan tiga hal ini dalam hitungan hari, yakni;

  1. Nikmati dan lakukan hobimu!
  2. Setiap bercermin katakan ‘aku bisa’!
  3. Minum ramuan yang saya berikan!

“Jangan lupa segala sesuatu mesti dimulai dengan niat bersih, maka do’anya ya jangan ketinggalan!” tambah lelaki misterius itu. “ Dan ingat! Jika kau terlambat satu hari saja melakukan ini…..maka kesialan demi kesialan akan menghampirimu kembali! Mengerti tidak?!” tanyanya membuat jantung Gladys deg-degan.

“Apa benar ia juga akan bisa mengalami kebahagiaan dan bisa sedikit bangga terhadap dirinya sendiri?”batinnya, tetapi Gladys dengan cepat mengangguk di hadapan paranormal itu, “ I…iyyyaaa ehh…baik…akan saya laksanakan! Te te.. rimakasih Om…” sambungnya seraya mengambil uang lima puluh ribuan dari saku celana kulotnya. Uang tersebut adalah tabungan uang jajan Gladys selama seminggu dan kini dengan rela ia berikan sebagai upah berbagi tips perbaikan masa depannya. Jika ramalan paranormal itu terbukti tentulah jumlah uang itu tidak seberapa. Sang paranormal menerima uang dari Gladys, kemudian ia memberikan satu botol minuman yang harus diminumnya setiap malam hendak tidur. Gladys menerima saja botol minuman itu.

Sepulang ke rumah, Gladys teringat kata-kata om paranormal itu bahwa semua syarat mesti dilakukan mulai dari sekarang, tidak boleh terlambat satu hari pun. Jadi yang pertama-tama ia lakukan adalah bercermin, dan mengatakan kepada dirinya sendiri, “Aku bisa! Yes!” Gladys tersenyum sendiri dan merasakan pantulan wajahnya di cermin nampak lebih manis dari biasanya. Berhubung sudah malam, Gladys ingat ia belum sholat Isya, maka sholatlah ia supaya batinnya bersih siap menerima perubahan perbaikan nasib, dan sebelum tidur tak lupa ia meminum cairan yang ternyata pahit tersebut,”uhhhh pahitnya…” serasa ingin ia muntahkan cairan itu, namun ia berpikir, “Ah mungkin ini pahit yang harus kurasakan lebih dulu untuk selanjutnya mersakan manisnya seluruh episode hidupku selanjutnya!” Kemudian di peraduan malam menjelang tidur ia mengingat-ingat hobi yang hampir dilupakannya, ya…melukis! Esok ia akan mulai melukis. Maka demikianlah, kebiasaan itu berlanjut setiap hari karena Gladys bertekad untuk berhasil memperbaiki nasib sial angka 13 yang melekat di dirinya.

Sepulang sekolah, setelah makan sebentar dan sholat, Gladys menyelinap ke gudang dan membersihkan alat-alat lukisnya, untunglah ia masih memilki beberapa kanvas kosong, selanjutnya imajinasinya yang akan menuntunnya menggoreskan keindahan demi keindahan hidup yang diharapkannya selama ini. Ia melukis dan melukis, menghabisan  cat minyak yang sudah mulai kering. Di kanvas itu ia tumpahkan semua deritanya selama ini, serta harapan-harapan terbaik bagi masa depannya, di goresan warnanya ada cinta, benci,  sedih, pasrah dan semangat yang dipadu-padankan dengan teknik gradasi. Pada saat SD dulu, guru kesenian sering memuji hasil lukisannya. Kali ini Gladys berharap lebih daripada sekedar pujian!

Setelah beberapa hari melaksanakan ‘syarat’ sang paranormal, entah kenapa Gladys mulai merasakan perubahan yang sangat berarti pada dirinya, tubuhnya terasa makin sehat, ringan dan bersemangat, beban dan nasib sial mulai berkurang satu per satu, dan kepercayaan dirinya semakin bertambah. “Sungguh hebat paranormal itu, batin Gladys sembari tersenyum simpul, baru kali ini ia merasa nyaman dengan menjadi dirinya sendiri, tidak berpura-pura, dan tidak mudah iri hati serta tersinggung. Bahkan Gladys lebih Pe-de melempar dan menangkap bola, sehingga lebih tepat sasaran, ia pun dipilih sebagai pemain team inti di sekolahnya. Menyaksikan hal itu Madita dan gang-nya merasa heran sekaligus sinis.

Gladys memang semakin bahagia….. Ia menambah lagi koleksi lukisannya di sela-sela waktu luang, jarang ia jalan-jalan keluar rumah karena merasa ada target menyelesaikan karya lukisnya.  Lukisannya harus selesai hanya dalam beberapa hari saja, sehingga semakin lama koleksinya semakin bertambah. Rupanya papa memperhatikan hal itu, suatu saat ia mengikut Gladys menuju gudang yang hanya dibatasi sekat dinding beton, Gudang berukuran 8 x 5 meter itu memuat tumpukan barang bekas, dan papa sangat kaget, ketika menemukan Gladys bersama 10 koleksi lukisannya yang sangat indah di gudang itu. “ Wah…Gladys….ini sangat menakjubkan nak!” seru papa yang juga menyukai karya seni, hanya papa selama ini lebih memilih koleksi aneka furniture dan barang antik ukiran kayu Jepara. Papa mengamati lukisan Gladys satu per satu, “ semua lukisanmu ini memiliki jiwa dan pesan yang mendalam!”

 “Masa iya Pa?” tanya Gladys dengan matanya yang lebar, binar mata itu menyiratkan rasa bangga. Bangga atas talenta  yang diberikan Allah Yang Maha Kasih dan Sayang atas dirinya, “Sungguh tak sia-sia setiap apa yang diciptakan-Nya, termasuk diriku ini”  Gladys bersyukur dalam hati.

“Iyalah…gini-gini Papamu ini jiwa seninya tinggi juga, makanya menurun ke Gladys!” Papa tertawa sembari mengusap rambut Gladys yang agak kriwil keriting, persis rambut papa. “Gimana kalau Papa daftarin koleksi luksianmu pada acara pemeran seni budaya  pekan depan, dan itu akan sangat luar biasa!”

Gladys mengangguk senang, ia memeluk papanya dan merasakan kebahagian akan bertambah dalam hidupnya. Dan apa yang dirasakannya itu memang menjadi kenyataan ketika tiba hari ‘H’ saat lukisannya setelah melalui selesksi yang cukup ketat, akhirnya diijinkan untuk menjadi peserta pameran seni budaya. Ternyata even itu juga memberikan penghargaan kepada 3 pelukis terbaik dengan hadiah sertifikat, thropy dan uang pembinaan.  Tak dinyana tak diduga, Gladys yang bersaing dengan peserta pameran lain yang rata-rata berusia dewasa, ternyata dialah yang terpilih mendapatkan penghargaan sebagai 3 terbaik! Bukan main senangnya Gladys, papa dan mama serta kedua saudaranya ikut berbahagia, mereka merayakan hari kemenagan itu dengan piknik keluarga, dan kebahagian baru akan bertambah dan bertambah lagi! Mama menanggapi  di sela-sela piknik bersama mereka “Tuh kan… apa Mama bilang, Gladys pasti memiliki anugerah yang bisa dikembangkan dan bisa berprestasi seperti yang lainnya juga kan…” Mama mengingatkan kata-katanya tempo hari.

“ya Ma…Gladys minta maaf ya karena lebih percaya kata-kata teman daripada kata-kata Mama dan Papa…” ucap Gladys sembari mencium kening mamanya. Tak mau kalah papa dan kedua saudaranya ikut mencium kening mama. Kali ini Gladys sadar bahwa mereka memang benar-benar keluarga yang sempurna tanpa satu orang pun anggota yang mesti dijadikan korban nasib sial. Semoga begitu untuk seterusnya!

Di sekolah, karena ramai media memberitakan, maka prestasi Gladys menjadi trending topic dalam gossip di antara teman-temannya. Ada yang bangga, ada yang salut, ada juga yang bertambah iri dengkinya, yaitu Madita yang melengos dan masih saja menyentil Gladys, ”Ah Cuma lukisan aku juga bisa!” kali ini di antara teman gang Famousnya ada menimpali,” Mad, setahuku gambar telur bebekmu kemaren dikira batu belah oleh  bu Guru…ujar Karin yang disambut tertawaan dari seluruh penjuru kelas.

Demikianlah Gladys, semakin ia percaya diri maka semakin bertambah kebahagiaan baru yang mampu diciptakannya, ternyata bahagia itu ada di mana-mana. Dan semua ini tentu saja berkat tips jitu dari paranormal bertopeng Limbad yang ditemuinya pada Karnaval dan Sirkus beberapa bulan lalu. Gladys bertekad akan menemui kembali paranormal itu jika rombongan mereka mengunjungi kota Gladys lagi. Ia ingin berterima kasih dan memberikan sebagian uang hasil lomba yang dimenangkannya. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan paranormal yang selalu serius itu.

Harapan Gladys hampir manjadi kenyataan ketika suatu saat ia menemukan selebaran rombongan karnaval dan sirkus ‘BIG BANG’ akan menghibur kota ini lagi. Segera ia bersiap-siap ke sana, dan kali ini ia pergi sendirian! Namun alangkah kecewanya Gladys menyadari bahwa di dalam tenda seluas lapangan sepak bola itu, ia tak menemukan satu pun stand yang menunjukkan keberadaan si topeng Limbad, Tidak ada yang bertuliskan “PERBAIKI NASIB ANDA, SEKARANG!” Akhirnya setelah berputar-putar mencari, Gladys memberanikan diri bertanya pda pihak manajemen tentang keberadaan paranormal itu.

“Oh...iya saya ingat, bapak itu tinggal di sekitar sini kok…namanya siapa ya? Aduh lupa tapi ini ada kok alamatnya,” ucap sekretaris manajer sirkus seraya menyodorkan kertas yang sudah lusuh dan sobek .” Alangkah kagetnya Gladys ketika membaca huruf demi huruf yang tertera di kertas itu adalah alamat rumahnya sendiri! Sungguh sangat membingungkan. Segera ia bertemikasih dan berlari melesat keluar tenda itu untuk pulang. Di depan tirai tenda hampir saja ia bertabrakan dengan seseorang yang sangat dikenalnya, “Papa!!!” seru Gladys kaget.

“Gladys…kamu di sni rupanya! Seisi rumah mencarimu nak dan ternyata benar dugaan Papa…kamu pergi ke sini diam-diam!” seru papa. Mereka bersama-sama menuju rumah, namun Gladys meminta papa untuk duduk sebentar di bangku taman. Ada sesuatu yang ingin ditanyakannya. Lalu Gladys menceritakan seluruh pengalamannya pada papa, semenjak pertemuannya dengan paranormal itu sampai ketika ia kembali mencari si topeng Limbad dan akhirnya mendapatkan alamatnya sendiri sebagai jawaban.

 “Ya benar itu memang alamat kita, “ kata papa. “Dan mungkin juga itu alamat paranormal itu!”

“Maksud papa?” Gladys semakin bingung.

“Gladys sayang anak Papa… ketahuilah bahwa Papalah yang telah menyamar  menjadi si topeng Limbad! Tandas papa. Gladys terhenyak…pantas saja …ia baru menyadari bahwa sosok paranormal itu tubuhnya setinggi tubuh papa, tetapi suaranya agak berbeda, karena si topeng Limbad bersuara serak. Kemudian papa menirukan suara serak itu.Ya memang benar-benar persis. “Apa Gladys lupa Papa pernah cerita kalo Papa ini pas jaman SMA anak teater juga…”

Ya ampuuun Papa!” Gladys menitikkan air mata demi menyadari usaha papa yang luar biasa untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya, dan usaha itu 200 % berhasil. Gladys menyadari kini ia merasa sebagai gadis yang berbeda dari beberapa bulan lalu. Disandarkannya kepalanya ke bahu papa, ia mendengar papanya meminta maaf karena harus berpura-pura menjadi Paranormal. Gladys tertawa saja mengenang kebodohannya waktu itu seandainya yang ditemuinya dulu untuk berkonsultasi tentang nasib baik bukan papanya, bisa jadi orang itu justru menyesatkannya.

“Jadi minuman apa yang Papa berikan ke Gladys waktu itu? Tanya Gladys seusai menyimak kisah pengakuan papanya.

“Itu ekstrak buah mengkudu dan kunyit putih, mama membuat ramuan jamu itu  untuk kamu lebih sehat dan lebih aktif bergerak” kata papa sambal tertawa.  Gladys ikut tertawa berderai-derai terbayang ekspresi kecut dan pahitnya setelah meminum ramuan itu pertama kali, hampir saja ia muntah-muntah waktu itu. “Mama ternyata juga paham dan terliibat dalam skenario ini!” batin Gladys terharu. Selama ini ia memamng paling susah disuruh minum jamu dari bahan herbal dan buah-buahan alami yang diramu mama.

Mulai saat ini dan seterusnya Gladys berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan lagi mudah terpengaruh omongan teman-temannya, apalagi omongan menyesatkan dari orang-orang yang dengki kepadanya. Gladys kini lebih terbuka kepada kedua orangtuanya, yang harus lebih dipercayainya dibanding orang lain. Gladys percaya kebaikan Tuhan, Allah yang Maha Pemurah itu senantiasa akan meridhai langkah kita jika ingin hijrah menuju perubahan nasib yang lebih baik dan tentu saja harus berusaha keras. Seusai sholat di margrib hari itu Gladys membaca kitab suci Al Qur’an ia mencoba memahami ayat demi ayat, dan ia mengerti kini makna firman Allah dalam surat QS. Ar Ra’d: 11 , yang berbunyi “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”.

Tak ada lagi mitos sialnya si anak tengah dan angka 13!

  • view 269