TOGA BUAT AYAH

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juli 2016
TOGA BUAT AYAH

TOGA BUAT AYAH

Karya: Shanti Agustiani

Ananda mengayuh sepeda, setiap hari, sepanjang tahun, setiap kali itu pula semangatnya berkobar-kobar. Tak ada lelah dan mengeluh. Meski menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk sampai ke kampus, dalam benaknya selalu terbayang ayahnya dulu, menarik becak berpeluh, setiap hari demi anak istri, demi kelangsungan pendidikan Ananda dan adik-adiknya…bahkan sampai kini.

Ingatannya kembali ke masa lalu, ketika ia jatuh dari sepedanya, terserempet sepeda motor yang melaju dari sisinya. Ayah yang sedang mengantar penumpang cepat-cepat menurunkan penumpangnya untuk membawa Ananda ke rumah sakit “Becak ayah terseok-seok membawaku, dengan tangan gemetaran dan wajah pucat ia mengantarku, tak tega melihat tubuhku berdarah-darah. Kami tak mampu memanggil ambulance sedangkan tetangga kami yang kaya raya tak dapat kami pinjam mobilnya, barangkali takut ternoda oleh darahku yang berceceran” ungkapnya kepada sahabatnya ketika ia menceritakan masa lalu.

“Maaf ya pak Darno, saya kebetulan lagi mau menjemput keluarga yang datang dari jauh jadi tidak bisa meminjamkan mobil,” begitu  Ananda dengar sayup-sayup suara tetangga setelah ayah mengetuk-ngetuk pintunya. Pintu kayu jati itu pun ditutup rapat. Segera ayah sadar diri dan mengayuh becaknya dengan keras tanpa menoleh kiri kanan lagi. Setibanya di rumah sakit waktu itu darah Ananda telah terkuras cukup banyak dan memerlukan donor darah, ayah Ananda juga dengan rela hati mendonorkan darahnya yang sama dengan golongan darah Ananda.

Jadi tak heran semangat Ayah Darno selalu membara di hati Ananda, meski pergi kuliah hanya menggunakan sepeda, ditertawakan teman-temannya yang kaya raya tak membuat semangatnya surut dan larut, tak membuat arah tujuannya terhanyut oleh pernak-pernik gelimang kaum muda yang keblinger update gaya hidup duniawi. Bahkan Ananda masih setia mengendarai sepeda ontelnya untuk pulang-pergi ke kampus tanpa peduli cibiran rekannya yang berkelas roda empat.

Sewaktu ia kecil dan baru sembuh dari sakit, ayah Darno pernah menasihatinya, “Anakku jadilah orang yang mampu dan mau berjuang, sebab hidup ini tak butuh orang yang tidak mau berjuang, dan jika berjuang jangan sikut kiri kanan. Pemenang yang baik dalam hidup ini adalah orang yang mampu mengayomi dan jujur semenjak dalam hati”

Nasehat ayah selalu Ananda camkan semenjak kecil hingga kini Ananda menjadi pribadi yang jujur bersahaja, sederhana dan anti menghalalkan segala cara demi tujuan duniawi, anti membisikkan hal-hal buruk tentang orang lain.

Ayah Darno ternyata memilki penyakit ginjal, dan tak memiliki uang lebih untuk cuci darah dan mengobati drinya secara utin ke dokter. Ayah Darno hanya menabung dan menabung untuk kelanjutan pendidikan kedua anaknya, Ananda dan Adinda. Ibundanya seorang penjahit yang juga bekerja keras demi keluarga ini, Ananda dan Adinda terdidik semenjak kecil menjadi pekerja keras dan teguh hati.

“Percayalah nak…Tuhan ada di mana-mana, jangan pernah putus harapan meski engkau berada di jurang yang paling dalam” itu juga kata-kata Ayah Darno yang selalu terngiang di hati Ananda ketika ia mulai putus harapan dan merasa sudah di tepi jurang.

Satu semester yang lalu, Ananda mengalami lagi cobaan. Ibunda yang selama ini bekerja sebagai penjahit mulai sakit-sakitan, diabetes dan tekanan. Perawatan ibu di rumah sakit ternyata menyisakan tagihan yang membengkak. Ibu sebanarnya minta dipulangkan tetapi Ananda bersikeras agar ibunya tetap menjalani perawatan seperti yang disarankan dokter. Ananda meyakinkan kepada ibunda bahwa ia memiliki tabungan dan berusaha menenangkan hati orangtua yang tinggal satu-satunya itu. Padahal tabungannya hanya beberapa juta saja sementara tagihan rumahsakit sekian puluh juta.

Di saat saat seperti itu ia berusaha mengenang dan mengingat lekat-lekat sosok ayah Darno, meski ia sadar Ayah Darno telah tiada, ia tetap menghayati jejak semangat hidupnya hingga kini. Maka dibongkarlah isi gudang, yang menyimpan becak Ayah Darno, tampak rodanya telah ringsek, dan catnya telah terkupas pucat. Ananda mulai memperbaiknya dan di sela-sela waktu luang ia menarik becak.  Becaknya laris karena dilengkapi service layanan mendengarkan radio sepanjang jalan sehingga penumpang tidak larut dalam lamunan. Namun penghasilan menarik becak belum bisa menutupi biaya rumah sakit.  Namun hal itu tetap menjadikan jiwanya tenang dan bersemangat menarik becaknya bahkan hingga larut malam.

Saat itu ia mengantar seorang bapak tua dengan tongkatnya, bapak itu lupa jalan menuju pulang. “Bapak mau ke mana? Tanya Ananda setelah mengamati cukup lama seorang bapak lansia  yang nampak kebingungan, ia teringat akan ayahnya “mungkin ayahku sudah setua ini jika masih hidup sekarng” batinnya.

“Mau pulang Nak…tapi Bapak lupa ke mana arahnya, ke kiri atau kanan ya,” sahut bapak itu.

“Mari saya bantu antarkan Pak… mohon saya pinjam dulu KTP Bapak supaya bisa tahu alamat bapak. Maka lelaki tua itu pun menyodorkan KTP-nya dengan penuh harap.  Bahkan Ananda tak segan-segan menyebrang jalan Pak Tua menuju seberang, ke rumahnya.

Bapak tua itu sangat senang dan berterimakasih, “Nak…temani bapak ngobrol dulu ya” pinta si bapak tua. Mulanya Ananda ragu-ragu karena ia masih harus kejar target penghasilan becaknya hari ini. Namun demi melihat tatap penuh harap sang bapak yang renta maka Ananda mengiyakan, “Baik Pak, tapi maafkan saya hanya waktu beberapa menit untuk menemani bapak, karena saya harus bekerja dan juga mengerjakan tugas kuliah saya.”

“Tidak apa-apa, nak, sebentar saja.…” sahut lelaki tua itu lirih sembari tersenyum gembira. Mereka berdua masuk dan duduk di beranda rumah lelaki tua itu. Tak lama Pak Tua memanggil asisten rumah tangganya untuk membawakan teh dan makanan. Obrolan mereka pun semakin akrab.

“Bapak di sini tinggal sama siapa?”tanya Ananda.

“Bapak sendirian, istri  sudah tiada….ada mbok Mar tadi yang juga tetangga bapak yang membantu menyiapkan kebutuhan Bapak, tetapi ia pun punya keluarga dan rumah sendiri.” Sahut Pak Tua.

“Anak-anaknya di mana Pak?” tanya Ananda penasaran

‘Mereka semua memiliki keluarga dan rumah sendiri-sendiri”. Mata Pak Tua nampak berkaca-kaca ketika menceritakan hal itu. Lalu balik Pak Tua menanyakan keadaan keluarga Ananda. Usai menyimak penuturan serta merta Pak Tua masuk ke dalam rumahnya dan keluar sambal membawa segepong uang di dalam amplop yang disodorkannya ke tangan Ananda.

“Lho Bapak…ini buat apa?” tanya Ananda kebingungan. Ia tak terbiasa menerima uang dari orang lain, apalagi sebanyak itu.

Ini buat biaya berobat ibumu”, ujar Pak Tua tersenyum ikhlas.

Jangan Pak… lebih baik ini buat anak-anak Bapak….,” wajah Ananda tampak pucat dan khawatir jikalau Pak Tua ini salah langkah.

“Jangan halangi Bapak untuk berbuat baik padamu setelah kamu berbuat sangat baik buat Bapak” Bapak nampak marah dengan penolakan Ananda, “Anak-anak Bapak semuanya punya usaha yang menjamin hidup mereka dan mereka tidak pernah menghalangi Bapak untuk bersedekah kepada siapa saja, di sisa-sisa umur Bapak ini, Bapak ingin sekali menolong orang-orang yang memerlukan…agar dosa-dosa Bapak di masa lalu dapat diampuni Allah…” Bapak tua itu melanjutkan kalimatnya dengan menitikkan air mata, “dan Nak bagus ini adalah salah satu orang yang tepat yang dikirimkan Tuhan….”

Ananda berlinang air mata, ia memeluk tubuh ringkih bapak tua itu sembari tersedu sedan. Ia terkenang lagi ucapan Ayah Darno, Tuhan ada di mana-mana… Bahkan di dalam jiwa lelaki renta yang tiba-tiba menolongnya di saat ia dalam kesulitan.

Ananda berjanji dalam hati akan senantiasa mengunjungi bapak tua yang sangat kesepian itu. Membantunya melakukan apa pun yang diinginkannya, baginya membalas budi baik itu suatu kewajiban. Saban hari dia sempatkan menolong atau pun sekedar ngobrol dengan Pak Tua yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.

Akhirnya coban demi cobaan itu memilki jawaban, masalah silih berganti bukan utuk ditangisi atau disesali melainkan untuk dihadapi dengan percaya diri serta keyakinan bahwa Allah Swt akan menunjukkan jalan keluarnya. Ibunda nya pun kini sudah semakin sehat dan boleh rawat jalan kembali pulang ke rumah.

Hari berganti-hari semester berganti semester, Alhamdulillah skripsi Ananda kelar juga setelah mengalami perbaikan di sana-sini. Tibalah saat itu hari wisuda  yang dinantikan dan digadang-gandang Ayah Darno dulu sebagai hari kemenangan Ananda dan juga hari kebanggan orangtua. Ananda lulus dengan IPK 3,85 Cum Laude. Bahkan ia mendapakan beasiswa dari perusahan asing untuk melanjutkan S2 sekaligus magang di perusahaan tersebut, untuk selanjutnya akan diperkerjakan sebagai teknisi dan karyawan tetap perusahaan dengan teknologi perakitan mobil ramah lingkungan tersebut

Ibunda datang dengan kursi rodanya bersama adiknya Adinda, menghadiri acara wisuda Ananda dengan senyuman mereka yang terindah, dua wanita tercantik di hati Ananda ini dipeluknya dengan kasih sayang. Namun serasa ada yang kurang di hati Ananda. Ia membisikkan sesuatu kepada ibundanya yang diikuti anggukan dan meminta Adinda untuk sejenak tinggal bersama ibunya Dengan secepat kilat ia mengayuh sepedanya sangat laju dan sangat bersemangat, tak dihiraukannya teman-teman yang memanggilnya mengajak berfoto sabagai kenang-kenangan, ia terus melaju sampai ke Tempat Pemakanam Umum, di sana Ananda menghampiri makam ayahnya, dan dipindahkannya toga ke atas batu nisan Ayah Darno, ”Ayah ini Ananda berikan hadiah untuk ayah, hadiah kelulusan dengan nilai yang sangat memuaskan, seperti yang selalu Ayah doakan, semoga Ayah bangga” ucapnya lirih sembari berlinangan air mata.

Usai dari berziarah ke makam ayahnya, Ananda melanjutkan perjalanan menjemput Pak Tua, ayah kedua baginya. Pak Tua mengenakan toga ikut tertawa bahagia, Ya, perjuangan ini telah Ananda lalui, mungkin cobaan lain akan datang menghadang, tetapi ia tak kutir lagi pada tantangan seberat apa pun, karena Tuhan ada di mana-mana, di keramahan matahari siang itu, di tawa bahagia Pak Tua, di wajah dan senyum indah ibunda dan adiknya…