TERCABIKNYA HIJAB PEREMPUAN

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Juli 2016
TERCABIKNYA HIJAB PEREMPUAN

Tercabiknya Hijab Perempuan

 Karya: Shanti Agustiani

 

Tak terasa sudah sepuluh tahun Karlina menjalani hidup tak menentu dengan suaminya, dan di tahun ke sepuluh ini Karlina mendapat kado pernikahan yang telak, Ia terusir di rumahnya sendri oleh lelaki itu, ”Sudah, pergi saja dari sini, aku tak butuh wanita munafik seperti kamu! Katanya jualan, tak tahunya kau jual dirimu sekalian!” hardik lelaki itu dengan muka merah padam dan matanya yang kejam menusuk hati, “Hai pelacur! Kuceraikan kau berkali-kali masih saja kau mengemis tempat tinggalku ini!” lanjutnya tanpa perasaan, “Pergi…sekarang juga!”
Karlina diam, kali ini Baskoro sudah sangat keterlaluan, ia tak memiliki sisa air mata lagi untuk menangis menghiba di depan lelaki yang telah menjadi suaminya selama sepuluh tahun itu. Ia lantas mengambil tas dan beberapa helai baju dan tak ketinggalan busana kain hijabnya. Baskoro diam ketika Karlina mengambil si bungsu namun ketika ia mengajak Khadijah, putri sulung mereka yang sedang sesunggukan mengusap air mata dengan ujung baju dan rambut panjangnya, Baskoro berteriak,“biar dia di sini bersamaku!”
Khadijah menangis, “Bundaa …jangan tinggalkan Khadijah…!” tetapi Karlina terus melangkah, bersama Ragil di gendongannya, ia sempat memberikan ciuman dan saputangan bersulam gambar hati yang dijahitnya sendiri untuk Khadijah. Karlina pergi tanpa memalingkan wajah lagi. Sepuluh tahun usia pernikahan dengan Baskoro, lima tahun pertama bagaikan surga, lima tahun terakhir bagai neraka. Tak pernah terbayangkan ia mampu melewati episode itu tanpa banyak mengeluh dan protes kepada Allah yang telah memberinya petunjuk Rahmatan lil Alamin.
Saat Karlina masih gadis, Karlina sangat penasaran dengan lantunan ayat suci Al Qur’an yang sering didengarnya dari musholla di kampungnya. Terlebih lagi ia sangat terpesona dengan gaya wanita muslimah yang menutup rambutnya dengan kain hijab yang lebar, mereka nampak aman terjaga oleh penampilannya, tertawan hati mau diajak teman gadisnya belajar Al Qur’an dan mulai menghayati makna Islam sebagai agama yang damai dan bersahaja. Sampai suatu saat Pak Haji datang ke pengajian bersama seorang pemuda yang bernama Baskoro, hati Karlina tak dapat menolaknya ketika Baskoro menyatakan jatuh cinta dan hendak melamarnya. Apalagi penampilan Baskoro waktu itu layaknya pemuda sholeh, gadis mana yang tidak terpesona dengan datangnya imam penunjuk jalan kedamaian? Menikahlah mereka dan di saat itulah Karlina mengucap dua kalimat syahadat untuk pertama kalinya.
Saat itu semuanya berjalan baik-baik saja sampai datang hari di mana kebakaran besar terjadi melalap toko keluarga besar Pak Haji Makmur, bahkan menyebabkan Pak Haji wafat terkurung api. Betapa terpukulnya mereka sekeluarga dengan tragedi memilukan itu, terlebih Baskoro yang ternyata selama ini lebih mengandalkan ayahnya dalam segala hal. Saat itu Karlina mencoba menenangkan,“Aku tahu rasanya kehilangan. Bahkan kehilanganku lebih parah karena aku diusir orangtuaku sendiri sewaktu mereka tahu aku pindah agama, tetapi lihatlah… aku lebih sabar atas cobaan Allah daripada kamu Baskoro!”
Baskoro marah, ia tersinggung, “Apa-apaan kamu Karlina! Sudah berani pula kamu nasihati suamimu! Baru belajar agama sedikit saja sudah merasa kau lebih hebat!” Rupanya pengaruh minuman keras ikut mempengaruhi daya nalar Baskoro menjadi semakin picik. Tak ada lagi tasbih di tangannya, berganti dengan pil ecstasy dan botol whisky. Tak ada lagi surban di kepalanya, berganti dengan kerasnya batu yang bebal seolah tiada pernah terbasuh percikan air wudhu yang sejuk.
Semenjak itulah rumah tangga mereka diwarnai dengan pertengkaran demi pertengkaran. Lima tahun lalu Karlina masih berusaha sabar, sampai suatu ketika ada pelanggan lelaki pelanggan setia jualan Karlina dijadikan kambing hitam tuduhan perselingkuhan. Karlina saat itu masih ingin menyelamatkan keluarga ini. Namun kini ia sudah tak tahan lagi, Ia meminta maaf pada Khadijah seraya membisikkan, “Bunda akan datang menjemputmu ketika Bunda sudah punya rumah untukmu.” Kata-kata itulah yang membuat Khadijah sedikit tenang dan menghentikan isak tangisnya.
Karlina tak tahu ke mana harus melangkah, orangtuanya sendiri telah mencoretnya dari daftar keluarga. Sesampainya di sebuah masjid, Karlina mendapat pertolongan dari seorang Ustadz yang tinggal di sebelah masjid tempat mereka beristirahat.
“Tinggallah di sini” ujar Ustadz Mansour nama beliau, menyuruh Karlina tidur di sebuah bilik gudang. Istri Ustadz nampak kurang suka, ia cemburu, apalagi setelah mendengar gunjingan para tetangga, “Wah kalau ada perempuan lain di rumah, biasanya tanda-tanda setan penggoda maksiat mulai mendekat, hati-hati!” begitulah gunjingan tetangga yang membuat Maimunah, istri ustadz Mansour semakin panas dan mengancam Ustadz Mansour. Karlina kembali terusir.
Setelah jauh berjalan barulah Karlina menemukan tempat tinggal sebuah kolong jembatan yang ia tutupi dengan sekedar kayu triplek dari tempat sampah. Bahkan ia mendapat hadiah kasur kapuk dari seorang pemulung. Sungguh hadiah yang tak ternilai di saat-saat mereka berdua, anak beranak itu merasa sangat lelah.
Ketika anaknya Ragil Sulaiman menangis kelaparan, sementara ia tak punya makanan lain kecuali air susunya yang mulai mengerinng, Ia melepaskan kain panjang hijabnya, merobeknya menjadi persegi panjang dan mengikat ujung kiri-kanan kain itu di tiang-tiang kolong jembatan untuk dijadikan ayunan. Ia korbankan Burqa-nya yang tinggal selembar itu demi anak yang sangat dicintainya. Bisik dalam hatinya, “Biarlah kini aku menjadi wanita yang biasa seperti para pemulung itu, karena ternyata menjadi wanita yang luar biasa pun aku tak bisa tak terjaga, bahkan tercampakkan. Tugas kain hijabku kini, untuk lelapnya tidur si buah hati, mungkin lebih mulia daripada menjaga diriku sendiri!”
Waktu demi waktu berjalan, alangkah terpukulnya hati Karlina setelah setahun lewat, Karlina mendapat kabar duka dari sahabat pemulungnya. Anak sulungnya meninggal karena sakit demam berdarah. Senja sepi kala Karlina melangkah ke tanah makam putri sulungnya sembari menangis sesunggukan. Kini Khadijah telah tiada, bukan hanya fisiknya yang sehat ceria, senyum berlesung pipi telah pergi untuk selamanya. Namun ia mungkin kehilangan kasih dan rindu Khadijah pada belaian ibu kandung yang telah mengabaikannya setahun lewat. Bahkan di saat Khadijah sekarat, ibundanya tak ada disampingnya untuk mengantarkan ruh Khadijah menghadap sang Khalik. Jiwa yang selalu menanti ibundanya di setiap saat mata kecil berbinar itu menengok ke luar jendela di depan rumahnya. Karlina takut di alam hari kemudian, binar mata Khadijah tak mau lagi mengenali wajah Karlina. Itu pun jika Allah mengijinkannya bertemu anak perempuannya.
Karlina pulang dengan gontai dan lemah, hampir jatuh namun teringat Ragil hatinya dikuatkan, ia kembali berdiri dan melangkah. Ke mana pun ia melangkah, Karlina mencoba meyakinkan diri, bahwa derita dunia yang dialaminya hanyalah sebagai persinggahan sementara. Dia pulang kepada rumah tak berpalang, tanpa hijab penjagaan.
PEREMPUAN DI SIMPANG JALAN
Berjalan tertatih seorang perempuan
Ia masih muda namun di pundaknya berjuta beban
Lirih ia bertanya
Ke mana lagi aku akan pergi?
Sebab di seluruh mata angin
Menghembuskan nafas yang dingin
Apa lagi yang mampu kututupi?
Sebab purdah dan hijab t'lah robek di sana-sini
Dikoyak-koyak hedonisme bertopeng kebajikan
Yang menghadang di setiap sudut jalanan
Rumah tempat ia berlindung
Sudah tak lagi aman
Atapnya roboh oleh kebodohan
Dindingnya koyak oleh kemunafikan
Bahkan fondasinya retak kurang akhlak
Negeri tempat ia mencari keadilan
Tak kunjung berpihak
Melanggengkan politik balas dendam
Sakit hati 70 turunan
Maka sang perempuan memilih pergi..
Ke arah tanah tak bertuan
Tanpa perang kekuasaan
Di mana harga diri perempuan
tak mungkin dikorbankan...
Negeri antah berantah
Yang hanya ada dalam khayalan
Negeri tanpa bisikan hasutan mata angin
Negeri tanpa politik sinis nan dingin

 

  • view 276