BUKAN BERARTI

Sagita Resstiani
Karya Sagita Resstiani Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Juni 2017
BUKAN BERARTI

BUKAN BERARTI...
 
 
Ya, bukan berarti
 
 
Bukan berarti orang yang berkoar-koar dan pintar berdebat itu berani
Bukan berarti orang yang sulit meminta maaf itu benar
Bukan berarti orang yang gaul itu bisa merendahkan orang lain
Bukan berarti orang yang banyak teman itu lebih bijaksana
Bukan berarti orang yang sering bersosialisasi itu berpikiran terbuka
Bukan berarti orang yang sering ngobrol dan sharing itu tahu segalanya
Bukan berarti orang yang sering shopping, liburan dan hidup mewah itu bahagia
Bukan berarti orang yang sering menemui masalah di kehidupannya selalu belajar
Bukan berarti orang yang terlihat manis di luar itu memiliki tata krama
 
 
 
Dan 
 
 
 
Bukan berarti orang yang diam itu takut
Bukan berarti orang yang meminta maaf duluan itu salah
Bukan berarti orang yang banyak diam di rumah itu kuper
Bukan berarti orang yang jarang shopping dan liburan itu tidak punya uang dan tidak bahagia
Bukan berarti orang yang jarang kongkow dengan teman itu tidak punya teman
Bukan berarti orang yang jarang sharing dengan orang lain pikirannya tidak terbuka
Bukan berarti orang yang jarang ngobrol tidak bisa mendapat informasi
Bukan berarti orang yang jarang bermasalah dengan orang lain itu tidak pernah belajar
Bukan berarti orang yang memperhatikan hal-hal sepele itu membesar-besarkan masalah
 
 
Dari ilustrasi di atas apa yang bisa kita cermati?
 
Ya ini tentang 2 sosok dengan kepribadian yang berbeda.
 
Tuhan memang menciptakan manusia dengan beragam rupa, sifat, perilaku dan kepribadian. Kehidupan yang Tuhan berikan pun dijalani dengan pola pikir dan cara mereka masing-masing. Tapi sangat menyebalkan bila ada salah satu yang merasa paling benar dalam menjalani hidup dengan menyepelekan yang lain.
 
 
 
 
*Pribadi sosok di ilustrasi pertama
 
Orang yang pintar berdebat bukanlah orang yang berani..., berani mengakui kesalahannya. Mungkin dia memang berani tapi dalam artian berani adu mulut walau akhirnya menang, dia tetap jadi arang. Orang yang dia kalahkan pun tetap tak akan respek padanya, karena nafsu menjatuhkan lawannya hingga tak lagi mementingkan pendapat dan perasaan lawan bicaranya. Padahal suatu keadaan dari sudut pandang orang yang berbeda itu bagaikan 2 sisi mata uang koin, tergantung darimana arah kita memandangnya. Dalam islam pun sebenarnya juga melarang orang mukmin untuk debat kusir. Karena tidak ada manfaatnya. Belum tentu orang yang diajak bicara bisa langsung mengerti sudut pandang kita, karena dia juga memiliki opini yang dia anggap benar. Satu-satunya cara untuk membungkam mulut orang yang pintar berdebat dan berkoar-koar hanyalah pembuktian di kehidupan nyata melalui cara hidup kita dan kebaikan yang kita dapatkan dari cara hidup kita itu. Karena jika kita tetap bisa hidup dengan baik, dengan cara yang baik lalu menghasilkan sesuatu yang baik, maka itu menjadi bukti bahwa pendapat kita benar tanpa perlu berkata-kata namun beraksi nyata. 
 
Sudah bisa dipastikan bila dia tidak berani mengakui kesalahannya, selanjutnya pasti akan sulit baginya untuk meminta maaf. Kalaupun kata maaf keluar dari mulutnya, pasti akan disertai dengan pembenaran-pembenaran perilakunya. Orang yang gentle tidak akan pernah merasa berat mengakui kesalahan dan meminta maaf. Karena meminta maaf tidak selalu berarti kalah baginya. Melainkan dia menang melawan egonya.
 
Orang yang banyak bergaul, ngobrol dan sharing dengan orang lain, tidak lantas dia bisa menjadi pribadi yang superior, merasa paling tahu segalanya sehingga bisa merendahkan orang lain. Karena seharusnya bila dia memang lebih berwawasan luas daripada orang lain, bukankah seharusnya dia hidup seperti ilmu padi, "semakin berisi semakin menunduk", lebih bersahaja, hidup berhati-hati dan bijaksana. Tapi tidak semua orang masa kini nampaknya paham dengan arti kata bergaul. Gaul yang bagaimana dulu? Gaulnya dengan siapa? Gaulnya positif atau tidak? Karena pemikiran-pemikiran orang-orang yang bergaul dengan kita suatu saat akan menjadi pemikiran kita juga. Maka dari itu hati-hatilah dalam memilih teman sepergaulan. Karena teman bergaulmu adalah cerminan dirimu. Ngga mungkin kan orang mukmin soleh solehah bergaul dengan yang ibadah saja tidak, yang berkerudung saja tidak, yang gaya hidupnya saja hedonis, yang diobrolin seputar nyinyirin orang, hidup hanya berpusat pada seberapa banyak materi yang mereka dapat dan punya, lalu berlomba-lomba hidup bermewah-mewah tak ingin kalah satu sama lain. Jika ingin masuk surga maka bertemanlah dengan para ahli surga bukan dengan ahli neraka.
 
Hidup bermewah-mewah, melihat rumput tetangga selalu lebih hijau, iri ingin hidup seperti orang itu hingga menghalalkan segala cara agar bisa mendapat keuntungan, tidak sadar diri dengan kemampuannya, keinginan dan kebutuhan besar pasak daripada tiang, padahal rizki Allah yang menentukan. Sebanyak apapun dia mengambil air di lautan yang luas, tapi bila rizkinya hanya sebesar gelas, maka air yang terambil hanyalah sebesar gelas. Bila kekayaan dan jabatan adalah satu-satunya alasan agar hidup dipandang tinggi derajatnya, apakah lantas saat mati semua itu dibawa? Apakah dengan seluruh kekayaan itu dapat membeli pahala dan rahmat Allah untuk masuk ke surgaNya? Apakah puas dan rela hanya hidup bergelimang harta dan kesenangan duniawi yang sesaat tapi menderita di akherat karena dulu lupa terlalu semangat mengejar harta? Apakah waktu bisa diputar kembali, dengan cara dan di jalan apa kau habiskan hartamu? Apakah itu definisi bahagia?   
 
Apalagi dari pengalaman yang dirasakan secara langsung, pelajaran dan hikmahnya pasti akan lebih terasa. Memiliki banyak kenalan bisa berarti banyak terbuka kesempatan baik, tapi juga membuka kesempatan terjadinya masalah baru yang harus dihadapi karena berurusan dengan berbagai macam pribadi orang. Seharusnya itu menjadikan orang yang pandai bergaul bisa belajar sebaik-baiknya karena lebih besar kemungkinan merasakan masalah secara langsung. Tapi ternyata tak semua orang yang pandai bersosialisasi itu belajar dari pengalamannya, bila dalam dirinya tak ada sifat mawas diri. Selamanya introspeksi hanya menjadi wacana dalam hidupnya. Seringkali mereka banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya yang tidak mengenakkan namun tak banyak juga yang mereka pelajari karena tak pernah introspeksi, sehingga mereka berpotensi untuk jatuh ke lubang yang sama berkali-kali.
 
Jatuh ke lubang yang sama berkali-kali adalah salah satu contoh akibat dari meremehkan hal yang sepele. Baginya sepele, tapi bagi orang lain belum tentu. Terkadang tampak manis bukan hanya harus di luar saja, kalau ternyata dalamnya pahit dan busuk. Contohnya adalah kejujuran. Hidup orang jujur walau pahit tapi aman. Hidup seorang pembohong walau saat ini dia selamat, suatu saat pasti terbongkar. Tidak semua orang yang manis bertata krama, bila hal sepele seperti kejujuran, mawas diri, menghargai, dan menghormati orang lain tidak ada dalam dirinya. Terkadang kita perlu memposisikan diri menjadi orang lain, agar kita juga tahu bagaimana perasaan orang itu bila kita melakukan sesuatu padanya. Bila kita merasa sedih, sama halnya dengan orang itu. Bila kita merasa senang, maka sama halnya pula dengan orang itu. Semua manusia punya respon yang sama terhadap rasa sedih dan senang. Jangan menyenggol bila tak ingin disenggol. Introspeksi dirilah sebelum playing victim. Simple!
 
 
 
 
*Pribadi sosok di ilustrasi kedua
 
Orang yang tidak banyak bicara seringkali menyimpan banyak emosi di dalamnya tanpa orang lain ketahui. Dia memilih diam tak berarti acuh, takut ataupun tak peduli. Terkadang orang pendiam itu hanya malas berdebat dan sabar menunggu situasi yang tepat untuk bicara, bukan berarti hatinya juga tidak merasakan sakit. Namun sekalinya dia terusik cukup dalam, dia bisa saja mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini dipendamnya tanpa peduli lagi dengan apapun. Namun disaat dia tahu lawan bicaranya bukanlah orang yang mau mengakui kesalahan, selalu mencari pembenaran dan selalu mencari kesalahannya, terkadang hal terakhir yang bisa dilakukan hanyalah dengan meminta maaf duluan. Bukan karena dia salah, bukan karena lawan bicaranya benar. Tapi karena dia tahu berdebat dengan orang yang selalu playing victim itu takkan pernah ada ujungnya. Dia hanya mengalah untuk menang.
 
Beberapa orang bilang "keluarlah, main dong, jangan di rumah terus, memangnya kamu nggak bosan?, nggak punya uang ya?, nggak punya teman ya?, banyak-banyak ngobrol, sharing biar nggak kaku, biar belajar menghadapi kerasnya kehidupan luar, hal sepele kenapa dibesar-besarin?"
  
Jangan pernah kamu tanyakan, semua orang pasti ingin hidup enak, mewah bergelimang harta, liburan, belanja-belenji, tinggal keluarin duit, semua barang bisa dibeli dan seolah tak punya masalah seperti kehidupan inces syahrini. Uang memang bisa membeli barang-barang, tapi takkan bisa membeli kepuasan manusia. Kodrat manusia selalu ingin lebih dan lebih lagi, takkan pernah ada habisnya. Jika kamu memang menganggap bahwa liburan, shopping dll adalah kebutuhan primer yang harus kamu lakukan setiap minggu, itu tidaklah sama dengan orang lain. Bagi mereka mungkin hal itu adalah kebutuhan nomor sekian dan bukanlah prioritas utama. Bila memang ada cicilan dan hutang yang harus didahulukan, bukankah lebih baik daripada shopping terus tapi hutang menumpuk? Hingga suatu saat kamu bisa saja terheran-heran, "darimana dia dapat mobil itu?, darimana dia dapat rumah itu? padahal hidupnya kelihatan sederhana, biasa-biasa saja". Jawabannya tanyakanlah pada gaya hidupmu sendiri. 
 
Orang yang jarang terlihat bersosialisasi dan kongkow dengan teman bukanlah orang yang kuper. Kehidupan tak selalu memberikan kita waktu untuk sering-sering temu kangen dengan teman-teman. Siapa tahu teman-teman kuliahnya semasa dulu kebanyakan orang luar kota atau teman-teman sekolahnya sudah berpencar mengejar tujuan hidup mereka masing-masing. Setiap orang punya jalan kehidupannya sendiri, di saat kita dewasa dan dihadapkan dengan pernikahan, hidup kita akan dihabiskan hampir 80% dengan keluarga kita masing-masing. Ada yang sangat terbelenggu dan ada yang masih longgar tergantung keadaan rumah tangganya. Kehidupan pernikahan dan masa-masa single tidaklah sama. Kita harus paham betul konsep itu. Karena setiap manusia ada saatnya harus naik ke jenjang kehidupan yang lebih tinggi lagi. Mana bisa kita memaksa? Tapi bukan berarti semua jadi dibuat sulit. Zaman sudah canggih, "say hello" bisa tetap dilakukan lewat berbagai aplikasi gadget. Kita tetap bisa chat mereka, lihat aktivitas mereka lewat akun medsos mereka, dan tetap keep in touch dengan mereka. Bersyukurlah untuk kalian yang masih bisa sering bertemu dengan teman dan sahabat kalian karena masih satu kota.
 
Jarang mengobrol dan sharing dengan orang lain secara langsung bukan berarti minim informasi, tidak berpikiran terbuka dan tidak pernah belajar. Saat ini informasi bisa dengan mudah ditemukan dari berbagai sumber. Bisa googling, membaca buku atau berkomunikasi dengan teman lewat medsos dan chatting, semua yang ditanyakan keluar jawabannya. Terkadang tak perlu kenal tokoh-tokoh besar secara langsung untuk tahu pengalaman dan pemikiran-pemikirannya. Cukup dengan membaca buku biografinya dan ambil pelajaran dari pengalaman hidup yang ia tuliskan lewat bukunya. Belajar juga bisa dengan menonton film & drama, membaca kisah - kisah para nabi di dalam Qur'an dan Hadits, membaca novel ataupun blog-blog orang yang menginspirasi. Karena pengalaman tak selalu harus kita rasakan secara langsung. Lewat curhatan orang lain dan lewat kejadian yang menimpa orang lain, kita masih bisa belajar dan mengambil hikmah. Banyak orang dikaruniai kemampuan analisa yang baik terhadap suatu permasalahan sekalipun ia belum pernah merasakannya secara langsung. Melihat kejadian buruk yang terjadi pada orang terdekat atau orang lain yang kita tahu, mana mungkin kita juga mau berada di posisi orang itu dan mengalaminya. Sudah secara refleks, kita sebagai manusia lebih senang disayangi dan dihargai daripada disakiti. Dan kita belajar untuk tidak menyakiti orang lain karena disakiti itu rasanya tidak mengenakkan.
 
Orang yang jarang bersosialisasi, belanja, dan liburan itu bukanlah orang yang tidak bahagia. Bahagia bisa kita dapatkan bahkan hanya dari hal-hal yang sepele. Seperti bertemu orang yang baik dalam keadaan sengaja atau tidak sengaja, orang yang punya tata krama, sopan santun dan cara bicara yang baik, tidak menyakitkan, saat dalam keadaan susah masih ada yang mau menolong walau tidak saling kenal, membuat hati terasa hangat, ternyata masih ada orang sebaik ini yang peduli. Kemudian mempunyai suami yang pengertian, penuh cinta kasih, bertanggung jawab terhadap keluarga, pekerja keras dan sigap menjadi tameng keluarga. Anak yang lucu, penurut, soleh dan solehah yang menjadi penghibur hati orang tuanya. Menonton film dan drama sambil berleyeh-leyeh di kamar. Baca novel dan komik kesukaan. Main game favorit. Makan makanan enak. Melakukan hobi, menulis, menggambar, memasak, berkebun dll yang bahkan bisa mendatangkan rizki. Menghormati orang tua dan selalu meletakkan senyum diatas wajah mereka. Memperbaiki ibadah kita, karena mencari amal pahala tidaklah serumit yang dibayangkan. Hidup jujur dan berintegritas (punya prinsip dalam hidup).  Itu hal-hal sepele yang jarang sekali kita sadari dan syukuri. 
 
 
 
Pada akhirnya manusia itu sendiri adalah makhluk hidup yang menempati satu tempat yang sama yaitu bumi, sehingga harus sama-sama saling, saling berbagi, saling menghormati, saling mengerti. Kalau kita bersikap superior merasa paling berkuasa, paling benar, paling bisa, paling merasa lebih atas segala sesuatu dan merendahkan yang lainnya, bukankah itu artinya kita tidak memanusiakan manusia? Dimana sisi manusiawinya? Di saat hewan saja yang tak punya akal, punya insting melindungi dan menghargai sesamanya. Masa kita yang punya akal tidak bisa? 
 
Hidup bukan sekedar menjadi yang paling baik, sudah merasa sempurna. Tapi bagaimana kita bisa terus belajar dari kesalahan dan menjadi lebih baik. Karena tak ada manusia yang sempurna. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka dari itu kita belajar untuk memahami satu sama lain. Karena hidup seseorang seperti itu, bisa bermacam-macam interpretasinya, dan bukan berarti..........................mutlak seperti yang kau pikirkan. 
 

  • view 38