Menjalani Kehidupan Sebagai Seorang Pengecut

Sagita Resstiani
Karya Sagita Resstiani Kategori Psikologi
dipublikasikan 11 Juni 2017
Menjalani Kehidupan Sebagai Seorang Pengecut

 
Dalam hidup ini pernahkah kalian bermasalah dengan seseorang?
Lalu menjadi berlarut-larut karena dia ternyata seorang pengecut?
 
 
Kalo kata Raisa "Semua serba salah".
 
 
Kehidupan kadang mempertemukan kita dengan orang-orang yang menguji mental dan kesabaran kita. Mereka masuk ke dalam kehidupan kita atas dasar izin Allah dengan berbagai alasan. Apakah untuk menguji kita, meningkatkan derajat hidup kita, ataupun memetik pelajaran berharga darinya.
 
 
Bermasalah dengannya, kemudian sudah minta bicara empat mata baik-baik agar masalah bisa diselesaikan saat itu juga. Tapi si dia malah menghindar, mengulur waktu, ditambah berkoar-koar di media sosial supaya semua orang tahu betapa malang hidupnya (mencari simpati orang), mengajak banyak orang yang bahkan tidak mengenal orang yang bermasalah dengannya agar sama-sama memusuhi orang itu (tidak gentle), selalu mencari pembenaran bukan bicara kebenaran, mencari-cari alasan, nyinyir teriak nyinyir, dan yang terakhir selalu playing victim hingga kita yang tidak salah malah disudutkan dan dijadikan penjahatnya (memutar balikan fakta). Pernahkah kalian bermasalah dengan orang seperti itu?
 
 
Kalau aku pernah. Dan rasanya? Mantap sekali sakitnya TT_____TT. Tenggorokan terasa tercekat, perut melilit, kepala pening terasa berat memikirkannya. Ketika semua orang telah termakan omongannya, sedangkan kamu hanya bisa diam tidak membalas perbuatannya dengan cara yang sama karena kamu tak ingin jadi sepertinya. Tapi di lubuk hati terdalam rasanya ingin sekali meyakinkan semua orang "hey aku loh korbannyaaaaaaaa, bukan dia T^T" dan berharap keadilan ditegakkan. Ingin rasanya membuktikan akulah yang terdzolimi, kamulah pelakunya, ingin rasanya berkoar-koar juga hingga mulut berbusa, menunjukkan semua kesalahannya dan membela diri. Tapi apa daya, menang tetap jadi arang dan kalah jadi abu. Tak ada yang berwujud baik. Dan ketika mengharapkan keadilan itu dari pihak ketiga agar bisa menengahi secara adil, tapi ternyata ia tetaplah manusia biasa yang masih bisa terhasut dengan mudahnya. Akhirnya yang kita dapat hanyalah rasa capek karena butuh effort yang menguras tenaga, pikiran dan waktu untuk melakukannya. Lalu ujung-ujungnya tersakiti lagi dan lagi karena hasilnya tak sesuai harapan. 
 
 
Hal terakhir yang bisa dilakukan hanyalah menyerahkan segalanya dan menggantungkan harapan hanya pada Sang Pencipta diriku, dirinya dan juga manusia lainnya. Karena keadilan Allah itu jauh berbeda dengan adilnya manusia. Karena Allahlah yang menciptakan kami, yang mampu membolak-balikkan hati kami, yang mampu membuka kebenaran dan kebohongan tanpa adanya intervensi dari pihak manapun. Jika Allah berkehendak maka kun fa yakun (jadilah). Disitulah kesabaran dan mental manusia itu diuji. Mempercayakan semua hanya pada Allah disaat yang sama harus bisa tahan emosi dengan berbagai perlakuan buruk orang tersebut yang masih harus terus kita dapatkan seiring berjalannya waktu. Menunggu dan menunggu dengan sabar berharap Allah segera memperlihatkan kuasaNya, karena aku sudah tidak tahan dengan keadaan ini.
 
 
Terdengar agak memaksa memang, tapi siapa yang tahan?
 
 
Ada yang bilang sebenarnya orang yang kuat itu bukanlah orang yang berbadan besar yang mampu mengangkat beban berkilo-kilo. Tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menyembunyikan kesedihannya dari hadapan publik, tetap menjalani kehidupannya dengan baik, terlihat adem ayem seolah tak punya musuh dan lurus sekali hidupnya. Orang luar hanya akan melihat senyum dan tawa bahagia orang tersebut sehingga mereka iri akan kehidupan orang tersebut. Padahal mereka tak pernah tahu betapa hati orang itu sedang hancur berkeping-keping, menyimpan derita yang amat dalam, kesakitan dan harus tetap survive dengan hidupnya. Senyum dan tawa bahagia itu hanyalah kamuflase, hanyalah alat untuk melindungi dirinya dari prasangka orang, dari rasa kasihan orang, dan dari orang-orang yang hanya ingin tahu tapi sebenarnya tidak bisa membantu apapun.
 
 
Pada akhirnya satu-satunya hal yang bijak yang bisa aku sarankan bila kalian menemui keadaan seperti ini dalam hidup kalian hanyalah "LEPASKAN!"
 
 
Ya lepaskan...LET IT GOOOO seperti kata Elsa Frozen
 
 
Walau berat, walau sakit, walau tidak sesuai dengan harapanmu, tapi perasaan yang timbul dari rasa pedih ini ibarat sebuah baju besi yang kamu kenakan kemanapun. Bila tidak kamu lepaskan, maka selamanya akan membuatmu sulit untuk bergerak melangkah maju (move on). Fisikmu pun takkan sanggup menahan beban yang dipikul terus menerus tanpa henti. Penyakit psikosomatis bisa saja membayangimu karena stress depresi, menyimpan sakit dan dendam bisa berakibat buruk pada tubuhmu. Jiwamu yang sakit tapi ragamu yang terkena imbasnya. Bukankah di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat? Semua harus dimulai dengan keseimbangan jiwa dan raga.
 
 
Kalau kita sakit, lalu dia? ........... Dia akan merasa menang dan puas terhadap apa yang menimpa kita. Tak ada untungnya bagi kita dan dia malah semakin senang menginjak-injak kita. 
 
 
Hidup bukan hanya berputar di situ-situ terus dan di masa depan nanti masalah bukan hanya datang dari dia saja. Sembuhkanlah jiwa ragamu dengan melepaskan rasa sakit di pikiran dan hatimu. Dan bila ada tahapan yang lebih tinggi untukmu agar bisa naik derajat sebagai manusia yang mulia di hadapan Sang Pencipta, maka "MAAFKANLAH"
 
 
Ya Maafkan :') walau semua butuh proses..tapi cobalah..tak ada salahnya belajar menjadi jiwa yang kuat. 
 
 
Biarlah dia hidup dalam opininya, biarlah dia terbuai dengan orang-orang yang ada disisinya, biarlah dia menempuh cara hidup seperti itu dengan segala resikonya, biarlah dia menjalani kehidupan sebagai seorang pengecut. 
 
 
Asal jangan kita..., kita punya Tuhan kan? 
 
 
Waktu kita tak banyak, manakala esok kita sudah tak bernyawa, mati datang sewaktu-waktu, isilah hari-hari dengan amalan baik yang lebih positif dan bermanfaat. Raga kita tak selalu muda, seiring waktu berjalan kita semakin tua, renta tak berdaya kehilangan kekuatannya, sayang sekali bila harus menanggung beban pikiran. Orang yang sayang pada kita pun tak sedikit, hargai keberadaan mereka, daripada hanya memikirkan orang yang bahkan tidak peduli bagaimana perasaanmu dan hatimu.
 
 
Tak perlulah kita capek-capek mencari simpati orang lain, yang seharusnya kita dapatkan simpatinya adalah pencipta mereka yang Maha membolak-balikkan hati. Allah Maha Melihat, Maha Adil, Maha Pengasih dan Penyayang. Kita takkan diuji melebihi kemampuan kita dan Allah yang paling tahu batasan kita. Apalagi doa orang yang terdzolimi pasti takkan tertolak. Kita hanya perlu berdoa, menunggu, duduk manis dan menyaksikan. Ya saksikan saja dari jauh..
 
 
Menunggu sistem "apa yang kau tabur itulah yang kau tuai" dari Allah bekerja. Melalui hukum alam semesta yang saling tarik menarik. Barangsiapa berbuat buruk di atas muka bumi maka semesta akan membantu menarik semua hal-hal negatif tertuju pada dirinya, begitupun sebaliknya pada orang yang berbuat baik. Tetaplah optimis dalam menjalani hidup karena masih ada hari esok yang sangat layak untuk diperjuangkan. Karena kebenaran pasti akan selalu menemukan jalannya. Walau itu sedetik, semenit, sejam, sehari, sebulan, setahun atau bahkan selama kita hidup di bumi kebenaran belum terungkap, masih ada hari dimana tangan kaki berkata dan mulut terkunci. Di hari itulah mulut sudah tak dapat lagi berdusta, kebenaran dibeberkan dan keadilan ditegakkan. 
 
 
Tak perlu takut pihak ketiga tak adil dalam menghukumi. Karena Allah SWT yang Maha Adil sendirilah yang akan turun tangan. Dan tak ada satu manusiapun yang mampu melawan hukumnya. 
 
 
Selama ini dia yang berkoar-koar playing victim menjelekkan orang lain, berdusta memutar balikkan fakta bisa merasa aman melakukan aksinya karena Allah menutupi aib-aibnya. Tapi bila Allah sudah berkehendak untuk melucuti semuanya, maka takkan pernah ada selembar kulitpun yang mampu menutupi boroknya. Nistalah sudah dia di hadapan Rabbnya.
 
 
Kuatkanlah diri kita, walau gunung kehidupan ini terasa sulit untuk didaki, tapi bila sudah ada di puncaknya, takkan terasa segala luka, peluh dan air mata yang kita korbankan ternyata hanya untuk waktu yang sebentar itu. Roda hidup terus berputar kadang diatas kadang dibawah, tak selamanya kita senang dan tak selamanya kita sedih. Selalu ada hadiah terbaik bagi orang-orang yang sabar. 
 
 

 

  • view 63